เข้าสู่ระบบ[Sudut Pandang Raditya]Jalanan aspal yang membelah hutan pinus di pinggiran Munich telah sepenuhnya tertutup lapisan es tipis dan tumpukan salju. Aku menatap layar pelacak di tabletku dengan mata menyipit tajam. Titik merah yang menunjukkan posisi mobil Dr. Felix Wagner melaju dengan kecepatan sedang, berjarak kurang dari satu kilometer dari posisiku saat ini."Klaus, bersiaplah. Target akan melewati tikungan ini dalam waktu tiga puluh detik," ucapku melalui sambungan penyuara telinga."Mobil van sudah memblokir jalan, Kawan. Dia sama sekali tidak akan punya ruang untuk kabur," sahut Klaus dari ujung jalan sana.Aku menghembuskan napas yang membentuk kepulan asap tipis di udara beku. Tepat sesuai perhitungan matematikaku, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam muncul dari balik tikungan tajam. Melihat sebuah van logistik mogok melintang di tengah jalan sempit yang licin, pengemudi sedan itu terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Ban mobiln
Udara sedingin es menyapu wajah pucatku untuk pertama kalinya sejak aku disekap di benua ini. Mataku berkedip pelan, menatap kosong pada deretan pasukan bersenjata laras panjang yang membentuk barikade berlapis di sepanjang lorong sayap timur. Suara langkah sepatu bot militer mereka menggema seirama dengan derit kursi roda yang kunaiki.Aditya mendorong kursi rodaku dengan napas memburu dan rahang mengeras. Tangan kirinya tak pernah melepaskan cengkraman dari bahuku, seolah takut aku akan menguap tertiup angin badai musim dingin."Bertahanlah, Sayang. Kita akan menemui dokter ahli sekarang. Kau pasti akan segera sembuh," bisiknya di dekat telingaku. Nada suaranya bergetar, sebuah perpaduan antara ketakutan kehilangan pewaris yang ada di rahimku dan kemarahan karena harus menyerah pada situasi yang di luar kendalinya.Aku hanya membisu, menatap kosong lurus ke depan. Kebebasan sesaat ini sama sekali tak memberiku setitik pun kebahagiaan. Duniaku sudah
Nampan perak berisi bubur gandum dan susu hangat itu kembali tak tersentuh. Asapnya sudah lama menghilang, menyisakan makanan dingin yang membeku sejalan dengan matinya jiwaku."Nyonya Sarah, kumohon makanlah dua suap saja. Tuan Aditya bisa murka besar jika melihat Anda tidak menyentuh makanan ini seharian penuh," bujuk perawat wanita itu dengan wajah pucat pasi. Ia menyodorkan sendok tepat ke depan bibirku.Aku hanya menggeleng pelan. "Bawa pergi. Aku tidak mau.""Tapi Anda bahkan belum meminum setetes air pun sejak pagi tadi, Nyonya!""Aku bilang bawa pergi!" desisku parau. Suaraku terlampau lemah hingga nyaris menyerupai bisikan angin.Aku kembali membuang muka, menatap hamparan salju di luar jendela dengan tatapan kosong. Menolak makan dan minum bukanlah sebuah rencana pelarian yang kususun matang. Ini murni karena tubuhku menolak kehidupan. Rasa lapar dan haus itu seolah mati rasa, digantikan oleh kekosongan pekat yang mencengke
Hari-hari berikutnya berlalu seperti bayangan abu-abu. Waktu tak lagi memiliki makna di dalam ruang rawat VVIP bersalju ini. Ancaman Aditya tentang nyawa ibuku sukses besar membunuh sisa-sisa perlawananku.Aku tak lagi menangis, tak lagi meronta, dan tak lagi memohon. Kewarasanku telah hancur berkeping-keping, menyisakan cangkang kosong yang bernapas hanya demi satu hal: memastikan ibuku tetap hidup di paviliun sana.Pintu kamarku terbuka. Aditya melangkah masuk dengan senyum lebar yang terlihat begitu memuakkan, membawa sebuah gaun sutra berwarna pastel di tangannya."Lihat apa yang Mas bawakan untukmu hari ini, Sayang," sapa Aditya riang, seolah tak pernah ada luka mental yang ia torehkan padaku. Ia meletakkan gaun itu di pangkuanku. "Cobalah. Kau pasti terlihat sangat cantik mengenakannya.""Terima kasih, Mas," jawabku datar.Suaraku terdengar sangat serak, tanpa intonasi, tanpa emosi. Sama persis seperti robot yang diprogram
Raditya Wardhana memundurkan langkahnya secara perlahan, menyembunyikan troli linennya ke dalam sebuah ruang pantri kecil di sudut lorong yang tak terjangkau oleh kamera pengawas.Rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol kaku.Barikade belasan tentara bayaran elit dan keberadaan Bara di depan pintu kamar VVIP itu benar-benar menjadi tembok baja yang mustahil ditembus hanya dengan tangan kosong.Namun, Raditya bukanlah pria bodoh yang akan menyerah pada keputusasaan begitu saja. Sebagai seorang peretas kelas dunia, ia selalu memiliki jalan belakang.Dengan gerakan cepat, ia merogoh saku seragam medis curiannya dan mengeluarkan sebuah tablet tipis berwarna hitam pekat.Jari-jarinya yang terlatih menari kilat di atas layar sentuh, meretas jaringan intranet rumah sakit swasta tersebut dalam hitungan detik.Mengabaikan sistem keamanan luar, Raditya langsung menargetkan frekuensi kamera pengawas internal yang
Tatapanku kosong menembus jendela kaca tebal di samping ranjang. Salju Munich terus turun tanpa henti, memutihkan segala sesuatu di luar sana. Warnanya persis seperti ruang rawat VVIP ini yang perlahan namun pasti menguras habis seluruh sisa kewarasanku.Sudah berminggu-minggu aku terkurung di dalam sangkar emas ini tanpa sedikit pun celah cahaya. Rasa sepi dan putus asa yang selama ini mengendap, kini telah bermutasi menjadi depresi pekat yang merobek kewarasanku berkeping-keping.Aku lupa kapan terakhir kali bibirku membentuk lengkungan tulus. Nafsu makanku menguap, jam tidurku hancur berantakan, dan setiap tarikan napasku terasa begitu menyakitkan."Kenapa buahnya sama sekali tidak kau sentuh, Sayang?"Suara bariton yang teramat familier itu memecah keheningan yang menyiksa. Aditya melangkah masuk ke dalam kamar, tampil sempurna dengan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku."Aku tidak berselera, Mas," bisikku data







