author-banner
Fatmah Azzahra
Fatmah Azzahra
Author

Novel-novel oleh Fatmah Azzahra

Ku Pinang Kau Dengan Syahadat

Ku Pinang Kau Dengan Syahadat

Okahara Nami menyukai kakak kelasnya yang bernama Juniansyah alias Juun, siswa pertukaran pelajar antara Indonesia dan Jepang sejak mereka masih SMU hingga menjadi dokter residen di rumah sakit Tokyo. Namun, tembok tinggi diantara mereka membuat perasaan cinta itu sulit menemukan ujung dermaganya. Akankah Nami berhasil menjadi mualaf agar bisa bersama sang pujaan hati ataukah gagal karena masa lalunya menghalangi?
Baca
Chapter: KPKDS-34
Juun akhirnya menjelaskan semuanya tanpa satupun yang tertinggal. Sementara Abi Rahmat, hanya bungkam seribu bahasa, enggan menginterupsi sedikitpun. Hanya hela napas berat bersama gumam istighfar yang senantiasa lolos dari bibirnya sebagai respon atas semua berita buruk ini. Juun akhirnya ikut terdiam setelah sekian lama berucap. Ia ikut menghela napas pendek, pasrah akan keputusan sang ayah. Abi Rahmat berjalan perlahan ke arah tembok kawat yang ada di rooftop hingga angin senja meniup rambut pendeknya yang sudah dipenuhi uban. Matanya menatap lurus ke arah matahari tenggelam di antara gedung-gedung yang berseberangan dengan rumah sakit. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ian?" tanya Abi Rahmat tanpa menoleh pada sang putra yang kini ikut berdiri di samping kirinya, Juun ikut mengarahkan pandangan kemana ayahnya memandang. "Aku mencintainya, Abi. Tapi, jika Abi tidak berkenan? Aku —""Apa kamu akan berhenti berjuang?!" tegur Abi
Terakhir Diperbarui: 2024-07-31
Chapter: KPKDS-33
Ummi Fatimah pun terpaksa menceritakan semua yang terjadi pada suaminya, di ma a lelaki itu hanya bisa bungkam seribu bahasa. Sesekali terdengar ucapan istighfar lolos dari celah bibirnya yang kini mulai tertutupi dengan kumis. "Bagaimana menurut, Akang?" tanya Ummi Fatimah cemas. "Panggil Ian kemari. Tapi, sebelum itu..., Akang mau melihat keadaan Nami. Neng mau ikut?" ajak Abi Rahmat seraya mengulurkan tangan kanannya disertai tatapan lurus menghujam mata. "Iya, Kang. Neng ikut!" tukas Ummi Fatimah bersemangat sambil menerima uluran tangan. Keduanya lantas berjalan bersisian ke arah luar guna mencari ruangan Nami dirawat. "Oh ya, Akang mengerti, ya, isi pembicaraan orang-orang?" tanya Ummi Fatimah setelah suaminya bertanya pada salah seorang petugas keamanan mengenai ruang rawat Nami yang baru. "Sedikit-sedikit, Sayang. Akang diam-diam setiap malam belajar Bahasa Jepang, biar gak bingung saat diajak berinteraksi dengan calon besan
Terakhir Diperbarui: 2024-07-24
Chapter: KPKDS-32
Nami enggan menjawab, ia justru segera berjalan cepat ke arah jendela hingga membuat Ummi Fatimah semakin terkejut saat melihat Nami membuka kaca, lalu melompat ke bawah. "NAMI!" Ummi Fatimah berteriak kencang d bersama degup jantung berdetak kencang seraya berlari ke arah jendela. Wanita itu segera melongok ke bawah bersama seluruh perasaan takut mendera. Namun, akhirnya ia bisa bernapas lega saat melihat di bawah sana sang putra tengah memeluk Nami yang lemas dalam dekapan. Ummi Fatimah bahkan tanpa sadar mengucap syukur karena Nami selamat. Sementara itu, Juun segera menggendong Nami ala bridal, lalu meletakkannya di atas brankar yang segera didorong oleh para perawat menuju ruang perawatan. Salah seorang dokter, rekan sejawatnya bahkan segera menepuk pundak Juun seraya berujar dengan nada menguatkan, "Kamu harus kuat, Dokter Juun. Hanya kamu yang bisa menguatkan Dokter Nami saat ini. Lagipula kami semua men
Terakhir Diperbarui: 2024-07-24
Chapter: KPKDS-31
Nami bungkam seribu bahasa. Kepalanya bahkan tertunduk dalam, tidak berani mengatakan isi hatinya yang kini tidak berbentuk lagi akibat peristiwa buruk yang telah terjadi padanya. Ummi Fatimah pun berusaha mengerti. Ia ikut bungkam, membiarkan Nami berkutat dalam lamunan. Hanya jemarinya yang menggenggam sebagai bentuk jika dirinya perduli pada sang calon menantu. Nami perlahan mengangkat kepala, menatap wajah teduh Ummi Fatimah yang kini melepaskan niqab miliknya. Sementara Juun dan Abi Rahmat pergi keluar guna bicara empat mata. "Ummi, apakah saya boleh mengatakan sesuatu?" ujarnya meminta dengan sopan, meskipun suaranya terdengar serak."Katakan saja, Nak! Apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar Ummi Fatimah, mengijinkan. Nami terdiam, kesedihannya terasa mencekam. Ummi Fatimah mengangguk sambil tersenyum hangat. "Katakanlah, Nak."
Terakhir Diperbarui: 2024-07-24
Chapter: KPKDS-30
Juun terdiam. Matanya menatap tajam pada Nami yang balas menatapnya datar. "Omong kosong apa yang baru saja kamu ucapkan, Nami Chan?" tanyanya geram.Nami tersenyum sinis. Ia membalas tatapan itu tidak kalah dingin. "Ba yi sia lan itu, Juun. Apa dia sudah ma ti?"Juun menggebrak tepi brankar hingga membuat Nami terkejut setengah mati. Jantungnya terdengar berdetak kencang, namun gadis itu berusaha untuk tidak menjerit. Ia bahkan semakin menatap dingin pada sang kekasih."Aku rasa otakmu perlu dicuci hingga bersih agar berhenti mengatakan sebuah omong kosong." Suara Juun terdengar berdesis kuat. Ia tidak mampu lagi menahan emosinya hingga tanpa sadar mengatakan sesuatu yang buruk."Ya, tentu saja." Nami menyahut dengan santai, terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun."Agar otakku tidak mengingat kembali jika ja nin sia lan itu masih bersarang di rahimku." Nami melanjutkan ucapannya.Juun menggeram. Ia bahkan melepaskan pegangan tangannya dengan sedikit kasar hingga Nami pun semakin te
Terakhir Diperbarui: 2024-05-05
Chapter: KPKDS-29
Baju Juun penuh dengan da rah yang tentu saja berasal dari Nami. Sementara gadis itu kini telah berada di dalam ruang operasi tempat mereka bekerja guna menyelamatkan nyawanya.Dirinya tidak diijinkan ikut serta karena semua teman-temannya khawatir lelaki itu tidak bisa bertindak profesional. Apalagi saat melihat wajah panik juga lolongan histeris yang ia berikan beberapa saat yang lalu.Juun duduk di atas kursi tunggu sembari mengacak-acak rambutnya hingga berantakan dengan kepala tertunduk dalam. Sementara Aisyah ikut duduk di samping kanannya, mengusap punggung sang kakak guna memberikan dukungan."Abang," panggil Aisyah lirih sembari membersit hidungnya yang mampet dari balik niqab yang ia kenakan."Hmmm," sahut Juun menggumam, enggan mengangkat kepala. "Abang yang tenang, ya," pinta Aisyah, kembali sesenggukan.Juun tersentak. Ia lantas dengan cepat menoleh pada sang adik dengan tatapan menuntut jawaban.Aisyah lan
Terakhir Diperbarui: 2024-05-05
OBSESI MANTAN SUAMI

OBSESI MANTAN SUAMI

MATURE CONTENT! KHUSUS DEWASA 21+ Sarah diceraikan Aditya karena sebuah fitnah. Saat Sarah berusaha moveon, Aditya justru kembali untuk memporakporandakan diri dan hatinya karena tidak rela wanita itu disukai oleh orang lain, bahkan mengklaim Sarah sebagai gak milik untuk selamanya. Mampukah Sarah terbebas dari jerat obsesi Aditya yang mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya?
Baca
Chapter: Lebih Baik Mati
Raditya melajukan motornya dengan kencang. Sebuah pistol bahkan ia selipkan di pinggang. Wajahnya terlihat menahan murka yang teramat sangat. Suara mesin motornya meraung-raung membelah jalanan, menuju bandara. Ia lantas menghentikan laju motor begitu tiba dan beberapa petugas dengan sigap menyapanya. "Tuan!" "Siapkan penerbangan untukku sekarang juga!" "Baik, Tuan." Orang-orang itu segera melaksanakan perintah dan tak menunggu lama, Raditya telah berada di dalam kabin pesawat, tengah berusaha merilekskan tubuh sambil memejamkan mata. Kilasan kejadian beberapa saat yang lalu terlintas di benaknya, dimulai dari Chelsea yang, merecoki hingga Ia terpaksa melepaskan sebuah tembakan ke arah kepala gadis itu dan membiarkan mayatnya berada di sana. Namun, Ia menyempatkan diri menghubungi orang-orangnya agar membereskan kekacauan itu. Tanpa terasa perjalanan yang memakan waktu 12 jam pun berakhir. R
Terakhir Diperbarui: 2024-12-26
Chapter: Patah Hati
Aditya kembali berdecak kesal karena sosok si penelepon nampak tidak menyerah juga. Terbukti dengan banyaknya panggilan tidak terjawab di ponsel miliknya. Lelaki itupun meraih ponselnya, lalu menggeser layarnya ke ke kiri, baru setelahnya meletakkan di depan telinga kirinya. "Mo ngapain Lo nelpon gue?!" sapanya sarkas. Aditya lantas mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar."Lo nyulik Sarah kan!" tuding sosok di seberangnya. Suaranya terdengar berburu.Aditya sedikit tersentak, namun tidak menghentikan langkahnya. "Cih! Dapat info darimana Lo?!""Lo gak perlu tau gue dapat info darimana. Yang jelas info ini pasti valid. Jadi Lo gak bisa bohongin gue, Mas. Sekarang jawab dengan jujur, Sarah sama Lo kan?!" desak sosok tersebut kembali. "Lo gak jawab. Gue kirim virus baru ciptaan gue ke jaringan punya Lo, biar sekalian Lo gak bisa kerja selama sebulan."Aditya kembali berdecak kesal, sadar jika sosok yang tak lain adalah adik kembarnya itu mulai me
Terakhir Diperbarui: 2024-12-23
Chapter: Dia Milikku, Bukan Milikmu
"Sudah selesai, belum?" tanya Aditya untuk yang ke sekian kalinya. Lelaki itu terlihat semakin gusar karena dirinya menilai jika Sarah sengaja berlama-lama memerah ASI nya."Belum, Mas. Sabar ken— argh!" Sarah memekik keras saat Aditya yang tiba-tiba berdiri, menarik kedua kakinya agar turun ke tepi ranjang, lalu membukanya lebar-lebar hingga Sarah terpaksa menumpukan kedua siku nya dengan posisi setengah berbaring, membuat alat pumping tidak bisa bekerja sempurna."Aku gak bisa menunggu lagi!" maki Aditya dengan wajah mengeras, dirinya lantas menyatukan diri dengan satu kali hentak."MAS! ARGH!" Sarah memekik kuat seiring hujaman demi hujaman yang Aditya lakukan terasa kembali meluluhlantakan tubuhnya.***Di tempat lain.Pintu kamar terbuka dari luar, lalu disusul seorang laki-laki paruh baya bertubuh atletis yang dibalut kemeja pas badan berwarna hitam masuk ke dalam kamar. Tak lupa lelaki itu menutup pintu perlahan, dimana ta
Terakhir Diperbarui: 2024-12-22
Chapter: Pumping
"Gak mikirin apa-apa, kok," elak Sarah. Wanita itu beringsut duduk saat Aditya berguling ke kiri hingga batang kejantanannya yang terkulai, terlihat jelas. "aku mau mandi dulu, ya, Mas," pinta nya sembari berdiri. Lalu berjalan ke arah kamar mandi saat melihat anggukan yang Aditya berikan.Aditya gegas ikut bangkit lalu menyusul langkah kaki Sarah dari belakang. "Aku mau ikut, jika kamu bertanya," ungkapnya menjelaskan saat dirinya melihat Sarah menatapnya dengan raut heran."Terserah," sahut Sarah pasrah. "bakal ada ronde kedua ini namanya kalau dia ikut," gumamnya di dalam hati sembari mengesah lelah. Namun tetap melangkah menuju kamar mandi.Sarah gegas masuk ke dalam, begitupula dengan Aditya yang menyusul di belakangnya, tak lupa lelaki itu menutup pintu dan mengunci nya. Sementara Sarah gegas duduk di atas toilet duduk, kemudian menuntaskan hasrat alaminya di sana.Dirinya segera bangkit berdiri, lalu hendak berjalan melewati Aditya yang men
Terakhir Diperbarui: 2024-12-21
Chapter: Ketagihan
"Mulai hari ini kita bertiga akan tinggal di sini," tukas Aditya, menyilakan Sarah masuk ke dalam apartemen yang telah ia buka pintunya lebar-lebar."Iya, Mas." Sarah pun bergegas masuk ke dalam, disusul Aditya baru setelahnya Gissele yang menggendong Satria, boc@h itu terlihat tertidur pulas dengan mulut dijejalkan botol dot berisi susu formula yang kini tersisa seperempat saja. "Hmmm ... Satria dan Gissele tidur dimana?" tanyanya sembari berbalik, saat dirinya telah berada di tengah-tengah ruang tamu."Satria di kamar sebelah bersama Gissele untuk sementara waktu sampai kita mendapatkan b@by sitter yang sesuai untuknya. Setelah itu, Gissele akan tinggal di unit sebelah. Jadi dia bisa jagain kalian berdua," terang Aditya, kedua tangannya ia daratkan pada kedua pundak Sarah."La-lalu aku tidur dimana?" tanya Sarah kembali dengan gugup.Aditya terkekeh kecil mendengarnya, lelaki itu gegas mengangkat tangan kanannya ke atas lalu menjentikkan jarinya
Terakhir Diperbarui: 2024-12-20
Chapter: Lepaskan Aku!
"Apa yang aku dapatkan jika bersedia memenuhi permintaan, Mas Adit?" tanya Sarah, menawar. Meskipun dirinya kini berada dalam pelukan Aditya."Apa yang kamu mau?" tanya Aditya balik."Bebaskan aku dan Satria," sahut Sarah lugas. Tidak perduli jika Aditya murka sekalipun."Kecuali yang satu itu, Sayang. Kamu bisa bebas meminta yang lainnya, karena sampai matipun aku gak bakal ngelepasin kamu dan Satria lagi. Cukup satu kali kebodohanku yang membuatku kehilangan dirimu dan anak kita. Aku tidak mau mengulang kebodohan yang sama untuk yang kedua kalinya," tolak Aditya sembari mengeratkan pelukannya."Maksud, Mas, apa?" tanya Sarah penasaran."Aku pengen kita rujuk lagi. Gak mungkin kan, kita terus-terusan berbuat dosa seperti ini. Yah ... meskipun ini adalah dosa ternikmat yang pernah aku rasakan. Karena bercinta denganmu adalah candu bagiku," ungkap Aditya, mengaku.Sarah tercekat. "Apa yang barusan itu, benar-benar hanya sebuah mim
Terakhir Diperbarui: 2024-12-18
DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA

DIBUANG SUAMI, DIRATUKAN AKTOR TERNAMA

Dipaksa menggugurkan kandungan saat perceraian baru saja terjadi, membuat Alisha nekat melarikan diri. Namun, apa jadinya jika hal itu justru membuatnya kembali bertemu dengan masa lalu yang telah ia lupakan. Tetapi, masih menyimpan dendam padanya? Akankah Alisha menemukan bahagia?
Baca
Chapter: 18
'Apa Dia bilang? Anak haram?! Siapa yang Dia panggil anak haram?!'Aku menggeram marah. Suara gemeletuk gigiku terdengar beradu.Kesal! Aku teramat kesal. Terlebih saat menyadari tubuh Marissa bergetar dengan raut pucat pasi. Gegas kutarik lembut tangannya, membuatnya mendongak dengan sorot berkaca-kaca. Aku lantas memberikan senyum teduh yang kurasa bisa menguatkan dirinya."Jangan khawatir! Mommy akan melindungi kamu," bisikku. Gadis kecil itu, yang semula kulihat terpana, akhirnya mengangguk kuat sambil tersenyum lebar, tampak merasa senang karena mendapatkan perlindungan dariku. Ia bahkan mengulas senyum bahagia, yang tentu saja ikut menular padaku. "Mommy," panggilnya pelan sambil menggoyangkan ujung jaket ku. "Ya, Sayang," sahut ku lembut. "Icha takut," rengeknya sambil merapatkan tubuh padaku, membuatku merasa sedih sekaligus bertekad untuk melindunginya, apapun y
Terakhir Diperbarui: 2026-06-08
Chapter: 17
Richard terdiam. Bingung dan enggan memberikan penjelasan. Ia justru bergegas pergi tanpa sepatah katapun terucap. Aku yang melihat kepergiannya, hanya bisa menghela napas berat. Jujur saja aku merasa sedih. Namun, apa yang bisa kulakukan sekarang, jika dia tidak mau memberikan penjelasan. Aku lantas menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh pada Bik Ratmi yang balas menatapku teduh. "Kenapa Dia tidak mau menjawab pertanyaanku, Bik?" Bik Ratmi menepuk pelan pundak kiriku. "Tuan sedang sibuk mempersiapkan tour ke Jepang bulan depan, Neng. Jadi, mungkin karena itu Beliau belum bisa menjawab pertanyaan Neng Lisha." Mendengar hal itu, aku terpaksa mengangguk kecil, berusaha mengerti meskipun beribu pertanyaan kini mengganjal di lubuk hati. Terlebih kala teringat pertemuan dengan wanita yang mengaku sebagai ibunya itu di ruang makan. "Sudah larut malam. Sebaiknya Neng Lisha beristirahat. Besok Neng akan mulai bertugas mengantar jemput Nona Marissa sekolah, bukan?" Suara Bik
Terakhir Diperbarui: 2026-06-03
Chapter: 16
Ruangan itu terasa lebih hening dan menyesakkan, hanya detak jarum jam yang membuat suasana sedikit lebih hidup. Richard bahkan terlihat menunduk enggan menoleh ataupun bersuara sepatah katapun. Membuat sosok yang kini tengah duduk di seberangnya mendengkus keras pertanda kesal diabaikan. "Jelasin sama mama, Ri! Kenapa wanita sialan itu ada di luar?" Suara Nadhira berdesis dengan urat-urat wajah sedikit menonjol di balik wajah keriput nya. Bagaimanapun juga ia sekarang berusia 67 tahun, sementara Richard adalah putra bungsu kesayangannya. "Mama apain Dia?" Bukannya menjawab, Richard justru balik bertanya sambil mengangkat pandangan, balas menatap lurus sang bunda. Sorot matanya terlihat tajam, seolah-olah tengah membangun perisai guna melindungi sesuatu atau seseorang. "See?! Kamu gak berubah, Ri." Nadhira terlihat kecewa karena lagi-lagi sang putra tercinta berani melawannya karena orang yang sama. Ia sama sekali tidak berusaha menutupi wajah sedihnya itu, justru memperlih
Terakhir Diperbarui: 2026-06-02
Chapter: 15
Suasana tiba-tiba terasa hangat dan intim, bahkan kami tanpa sadar mendekatkan wajah masing-masing. Namun, dering ponsel yang terdengar nyaring membuyarkan momen tersebut, sekaligus membuat kami berdua seketika memasang raut kikuk. Wajahku bahkan memerah, kutundukkan kepala. Sementara Richard, aku tidak tahu. Aku hanya mendengar pria itu berdehem sebentar, lalu tanpa sepatah kata pun terucap, ia menjauh. Bertepatan dengan langkah kaki terdengar semakin kecil, ku beranikan diri mendongak. Napas yang semula kutahan, seketika ku hembuskan sembari mengusap dada, guna menenangkan debaran jantung yang menggila. "Ya Tuhan, barusan apa?" batinku menggumam. Tangan kananku terkepal, mengetuk kepala bagian samping kanan bersama decak sebal keluar dari celah bibir. Suasana pun kembali hening. Hanya bunyi jarum jam yang terdengar di tengah kesunyian. Aku lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mataku tertumbuk pada sebuah pigura berukuran besar yang terpasang di dinding ru
Terakhir Diperbarui: 2025-09-09
Chapter: 14
Baik aku maupun Richard sama-sama menegang, merasa gugup seolah-olah takut kepergok, terlebih aku yang kini sudah pucat pasi juga berkeringat dingin, merasa takut sekaligus kebingungan harus berbuat apa. Richard sepertinya menyadari ketakutan yang aku tunjukkan. Ia lantas menghela napas pendek sebelum meraih tangan kiri ku yang bergetar. Aku tersentak kaget, lalu menoleh cepat pada Richard dengan sorot bertanya. "Kamu sembunyi di kamar dulu. Nanti aku beritahu jika sudah aman," ujar Richard menjelaskan dan bergegas menarik tanganku agar berjalan mengikutinya. Aku yang terkejut, tentu saja tidak sempat menolak. Begitu diriku tersadar, aku justru telah berada di dalam kamar yang penuh dengan aura maskulin dengan seprai abu-abu gradasi hitam, juga dinding dicat warna kelabu yang sebahagian dibiarkan berwarna putih, tampak polos tanpa hiasan apapun termasuk photo. Aku memindai sekeliling ruangan. Tanpa sadar berjalan mendekati ranjang. "Rapi," gumamku tanpa sadar, "wangi jug
Terakhir Diperbarui: 2025-07-30
Chapter: 13
Mobil yang membawa kami akhirnya tiba di basement. Pria itu yang memperkenalkan diri sebagai Richard, lantas mengajakku naik ke atas menggunakan lift dan begitu tiba di tempat tujuan, ia perlahan membuka pintu dan menyilakanku masuk, baru setelahnya ikut serta. "Duduklah!" titahnya berusaha santai saat melihatku celingukan memindai sekeliling ruangan dengan sorot takjub. "Biar kita bisa segera membicarakan perihal apa saja tugasmu setiap hari." Aku berbalik, menyelipkan sebagian anak rambut ke balik telinga kiri. "Terima kasih, Mas," sahutku kikuk, tanpa sadar merasa malu dan terpesona kala menatap balik wajah Richard yang tidak tertutup masker dan topi. Aku lantas duduk di sofa saat melihat tangan dan tatapan Richard memaksaku menurut. Begitu diriku duduk, Richard pun mengikuti, duduk di seberang. Hening tercipta seolah-olah kami tengah menilai satu sama lain. "Anu—" Kami seketika tegang, lalu terkekeh bersamaan, merasa sangat lucu dengan momen barusan. "Wanita duluan!
Terakhir Diperbarui: 2025-07-29
Anda juga akan menyukai
Crazy Rich Baby
Crazy Rich Baby
Romansa · Adinasya Mahila
170.1K Dibaca
Kenikmatan Terlarang Keponakan Suami
Kenikmatan Terlarang Keponakan Suami
Romansa · Zizara Geoveldy
169.0K Dibaca
SEBELUM BERPISAH
SEBELUM BERPISAH
Romansa · Lis Susanawati
167.4K Dibaca
Kekasih Rahasia CEO
Kekasih Rahasia CEO
Romansa · Zizara Geoveldy
166.6K Dibaca
Sekretarisku Jilbaber
Sekretarisku Jilbaber
Romansa · yanticeudah
165.9K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status