Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI

Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI

last updateZuletzt aktualisiert : 08.08.2026
Von:  Fatmah AzzahraGerade aktualisiert
Sprache: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
9 Bewertungen. 9 Rezensionen
9Kapitel
46Aufrufe
Lesen
Zur Bibliothek hinzufügen

Teilen:  

Melden
Übersicht
Katalog
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN

Zusammenfassung

Dewasa

Identitas Tersembunyi

Arogan

Miliarder

Membalikkan Keadaan

Reinkarnasi

Happy Ending

Dark Romance

POV 1

Tidak kuat menjadi budak s3x sang mantan, Sarah memilih mengakhiri hidupnya. Namun, apa jadinya jika ia harus terlahir kembali di hari ia mengetahui kehamilannya? Akankah Sarah terjatuh di lubang yang sama atau justru berhasil membalikkan keadaan? SPIN OFF DARI NOVEL : OBSESI MANTAN SUAMI, NAMUN VERSI REBIRTH!

Mehr anzeigen

Kapitel 1

Bagian 1 - Pantulan yang Berbeda

Jarum pentul itu nyaris menusuk kulit pinggangku saat aku tanpa sadar menahan napas terlalu lama.

"Maaf, Mbak Sarah. Terlalu ketat, ya?" tegur pegawai butik itu. Ia tengah berlutut merapikan ujung gaun pengantin putih yang kukenakan.

"Sedikit, Mbak. Tolong longgarkan bagian perutnya," balasku datar.

"Oh, baik, Mbak. Sebentar, ya. Kalau bagian dadanya bagaimana? Sudah pas?"

"Sudah. Tidak perlu diubah lagi."

Aku mengerjap, lalu menatap pantulanku di cermin besar di hadapanku. Leherku masih mulus tanpa bekas sayatan, dan mataku belum kehilangan cahaya karena keputusasaan.

Aku masih hidup.

Waktu telah berputar mundur tiga tahun. Tepat satu minggu sebelum hari pernikahanku dengan Aditya Wardhana.

Pernikahan yang dulu kuanggap sebagai jalan keluar untuk melunasi biaya pengobatan ibuku, tetapi justru menjadi awal dari kehidupan yang lebih buruk daripada neraka.

Di kehidupan sebelumnya, aku mengakhiri hidupku dengan menggorok leherku sendiri setelah tak lagi sanggup bertahan sebagai istri Aditya.

Seandainya saat itu aku tahu menikah dengannya akan membuatku lebih hina daripada seorang pelacur, aku pasti akan menolak pernikahan itu.

Aku bahkan tak akan peduli jika saat itu Satria telah tumbuh di dalam rahimku. Aku pasti lebih memilih menggugurkan kandunganku daripada membiarkan putraku hidup bersama ayah bajingan seperti Aditya Wardhana.

Suara dering lonceng pintu butik membuyarkan lamunanku. Melalui pantulan cermin, aku melihat sosok pria tinggi tegap dengan kemeja hitam berjalan masuk.

Aditya.

"Sudah selesai?" Suara bariton Aditya memecah keheningan butik. Ia berdiri tepat di belakangku.

Aku menatap lurus ke pantulan matanya di cermin. "Tinggal merapikan bagian bawahnya saja, Mas."

Aditya terlihat sedikit terkejut. Alis kanannya terangkat. "Hanya itu? Kamu tidak mau bertanya pendapatku soal gaun ini?"

Aku bungkam, enggan menjawab sepatah katapun.

Ingatan tentang masa sebelum kematianku, membuat lidahku tiba-tiba kelu.

Aku bahkan bisa merasakan darah mulai surut di wajahku.

Pria itu melangkah maju. Tangannya terulur, hendak menyentuh pinggangku dari belakang. Secara refleks, aku melangkah sedikit ke samping. Tangannya mengambang di udara.

"Hati-hati, Mas. Di pinggangku masih banyak jarum pentul, nanti jarimu tertusuk," ucapku dengan nada suara yang kelewat tenang.

Aditya perlahan menarik tangannya kembali. Rahangnya mengeras. Ia melangkah ke samping agar bisa melihat wajahku secara langsung. "Kamu sakit?"

"Tidak. Aku sehat."

"Lalu kenapa wajahmu pucat begitu? Kamu tidak suka gaunnya?" Aditya menyipitkan mata.

"Gaunnya bagus, Mas. Sesuai pesanan," jawabku singkat. Aku menoleh ke arah pegawai butik. "Mbak, fitting-nya sudah cukup. Tolong bantu saya lepaskan gaun ini."

"B-baik, Mbak Sarah," jawab pegawai itu dengan gugup, menyadari ketegangan di antara kami.

Aku melangkah turun dari podium, berniat menuju ruang ganti. Namun, Aditya mencekal pergelangan tanganku dengan kuat.

"Tunggu, Sarah. Ada yang salah denganmu hari ini."

Aku menoleh, menatap matanya. "Apanya yang salah?"

"Sikapmu!" desis Aditya tertahan. "Biasanya kamu banyak bicara. Biasanya kamu tersenyum dan bermanja-manja saat aku datang. Sekarang? Kamu bahkan enggan menatap mataku. Apa ada yang mengatakan sesuatu yang buruk padamu sebelum aku datang?"

"Kamu terlalu banyak berpikir, Mas. Aku hanya lelah mengurus jadwal rumah sakit Ibu dan persiapan pernikahan ini," balasku tenang. Aku dengan halus menarik tanganku dari cekalan jari-jarinya.

"Kalau lelah, istirahat! Jangan tunjukkan wajah masam itu di depanku," ucapnya dingin. "Aku tidak mau kolega bisnisku nanti berpikir aku menikahi patung hidup."

"Baik. Kalau begitu, aku akan pulang dan beristirahat sekarang. Aku ganti baju dulu."

Tanpa menunggu persetujuannya, aku berbalik masuk ke ruang ganti dan menutup pintu. Di dalam, aku menyandarkan punggungku, menghembuskan napas panjang. Biarkan dia menebak-nebak perubahanku.

Tok! Tok! Tok!

Gedoran keras di pintu ruang ganti membuatku mendongak.

"Sarah! Buka pintunya. Kita belum selesai bicara!" Suara Aditya terdengar mendesak dari luar.

"Aku sedang ganti baju, Mas!" balasku lantang.

"Buka, atau aku yang akan mendobraknya!" ancamnya.

Typical Aditya. Selalu memaksakan kehendak. Aku segera melepaskan gaun pengantin itu, menggantinya dengan kemeja dan celana jeans lamaku secepat mungkin. Begitu rapi, aku membuka pintu.

Aditya berdiri di sana dengan raut wajah gelap.

"Ada apa lagi, Mas? Aku sudah bilang aku pusing," ujarku, memilin jari-jariku di depan perut.

"Kamu pikir aku bodoh?" Aditya melangkah maju, memaksaku mundur selangkah. "Perubahan sikapmu ini bukan sekadar karena pusing. Katakan, apa kamu mulai ragu dengan pernikahan ini?"

"Bukan begitu, Mas?" balasku cepat, menggeleng kecil, yang tentu saja sebuah kebohongan, "Aku benar-benar hanya merasa pusing dan lelah."

Bisa kudengar hela napas berat darinya.

"Baiklah. Mas mengerti jika kamu lelah. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Nanti Mas akan nyusul setelah urusan Mas selesai---" Aditya menatap ke arah jam tangan Rolex hitam miliknya, lalu kembali menatap wajahku, "30 menit lagi, Mas ada meeting dengan kolega bisnis."

Aku mengangguk sebagai jawaban. Kupaksakan seulas senyum tipis terukir di bibir.

Beruntung Aditya tidak mengkonfrontasi, hanya senyum tipis yang ia sunggingkan hingga Aku tidak perlu kembali berbohong.

"Ayo, Mas antar sampai mobil!" ajaknya sambil mengulurkan tangan, yang gegas kusambut.

Aku tidak boleh terlihat ketakutan, bukan?

Kami lantas berjalan beriringan. Namun, ucapannya saat kami melewati pintu keluar, justru berhasil membuat jantungku berdegup kencang.

"Sayang, kenapa tanganmu gemetar dan juga terasa dingin? Apa kamu sakit?"

Erweitern
Nächstes Kapitel
Herunterladen

Aktuellstes Kapitel

Weitere Kapitel

An die Leser

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

RezensionenMehr

Seruling Emas
Seruling Emas
Weehh.. ini cerita dewasa cuyy.. asseekk ...
2026-08-08 19:17:15
0
0
Lucky Kurniawati
Lucky Kurniawati
perjalanan Sarah bakal up and down, deg2an bacanya
2026-08-08 17:24:02
0
0
Marsalsa
Marsalsa
Jangan mau diinjak-injak lagi ya mbak, saatnya balikkan keadaan dan bikin mantan nyesel. Ditunggu kelanjutannya
2026-08-08 09:55:12
1
0
Mrs.B
Mrs.B
mantap ka, aku suka tema kelahiran kembali.. lanjut update babnya
2026-08-07 18:44:12
1
0
Rosa Rasyidin
Rosa Rasyidin
semangat kejar mantannya, jangan lupa target ambil hartanya
2026-08-07 18:26:02
1
0
9 Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status