LOGINKeheningan kembali menyelimuti meja jamuan. Tidak ada lagi yang berbicara selama beberapa saat.Hanya suara angin yang menggesek dedaunan dan denting pelan cangkir teh yang sesekali terdengar.Helena perlahan mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.Lady Celestine mengangkat cangkir tehnya dengan anggun. Senyum di wajahnya masih terlihat lembut, tetapi sorot matanya berubah sedikit lebih tajam."Putri Mirra benar. Semua orang memang memulai dari belajar."Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-kata terbaik."Hanya saja... tidak semua orang memiliki tujuan belajar yang sama."Tatapan Celestine perlahan beralih kepada Helena."Ada yang belajar demi mengembangkan diri.""Ada pula yang belajar demi memperoleh sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya."Suasana di meja kembali menegang. Kalimat itu begitu halus. Namun cukup jelas untuk dipahami.Ryo langsung menutup wajahnya.Helena tetap mempertahankan senyumnya.Ia tidak terburu-buru menjawab. Justru ia mengangkat cangkir tehnya lebih
Keesokan paginyaHelena terbangun lebih awal dari biasanya. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamar, menerangi ruangan dengan cahaya hangat. Debu-debu kecil beterbangan di udara, kelihatan jelas di sela cahaya.[Bos, apakah kau gugup?] "Sangat gugup." Ryo mengangguk lesu. [Aku juga.]Tak lama kemudian, Dayang Clara datang menjemput Helena menuju taman istana. Langkah Helena terasa lebih berat dari biasanya. Setiap langkah di koridor marmer terdengar menggema.Taman kerajaan di pagi hari terlihat sangat indah. Udara pagi sejuk dan segar, tapi tidak cukup untuk meredakan keringat dingin di telapak tangan Helena. Di tengah taman, Ratu Elara telah duduk di sebuah paviliun terbuka dengan meja kecil di hadapannya. "Salam hormat, Yang Mulia.""Selamat pagi, Nona Helena. Duduklah." Nada Ratu datar. Helena duduk dengan tenang. Punggungnya tegak, tapi lututnya bergetar di bawah meja.Beberapa saat, hanya suara burung dan desir angin yang terdengar. Jantung Helena terdengar lebih ke
Ruang Mawar kembali dipenuhi keheningan yang tenang.Sunyi. Tidak ada suara piring beradu. Kursi pun tidak diseret. Para pelayan meletakkan makanan satu per satu. Sup. Roti. Daging. Gerakannya rapi dan tanpa suara. Meja itu panjang, sampai Raja di ujung sana terlihat kecil. Tapi Ratu di sisi kanan tidak pernah memalingkan muka dari Helena. Dan itu terasa lebih dekat dari siapa pun.Helena duduk tegak. Sistem memang menaruh aturan etiket di kepalanya. Gerakan tangan, urutan garpu, kapan harus menunggu. Semua ada di sana. Tapi aturan di kepala tidak bisa menghentikan tangannya yang dingin. Karena satu kesalahan kecil di meja ini, bisa jadi bahan gosip seluruh istana besok pagi.Ruangan besar ini dipenuhi tekanan kuat yang dapat Helena rasakan dengan jelas. Perlahan, perasaan tak nyaman menyusup di hatinya.Di ujung sana, Raja Alistair bersandar santai. Ia tersenyum ke semua orang seperti ini cuma makan malam biasa. Tidak ada aura mengintimidasi. Tapi justru itu yang bikin Helena nggak
Langkah kaki Helena dan Kael bergema pelan di sepanjang lorong istana. Di belakang mereka, Dayang Clara dan beberapa pelayan menjaga jarak dengan sopan, membiarkan keduanya berjalan lebih dahulu. Cahaya keemasan dari lampu kristal yang tergantung di langit-langit memantul di lantai marmer putih, menciptakan suasana hangat sekaligus megah. Helena berjalan dengan tenang di samping Kael, namun di balik ketenangan itu, jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. Semakin dekat mereka dengan Ruang Mawar, rasa gugup di dalam dirinya semakin sulit diabaikan. Malam ini adalah pertemuan pertamanya dengan Raja dan Ratu. Dan yang paling membuatnya gugup adalah kenyataan bahwa ia akan bertemu dengan ibu Kael. Di sisi lain, Kael yang biasanya selalu tampak tenang justru terlihat jauh lebih diam dari biasanya. Tatapannya lurus ke depan, langkahnya tetap mantap, tetapi pikirannya sama sekali tidak setenang yang terlihat. Ini adalah pertama kalinya ia membawa seorang wanita ke i
Ding!Kotak hadiah berwarna emas itu melayang tepat di depan Helena, memancarkan cahaya lembut yang perlahan menerangi seluruh kamar. Kilauan keemasannya memantul di dinding, lantai marmer, hingga tirai sutra yang bergoyang pelan tertiup angin dari balkon.Helena yang semula berbaring santai di atas ranjang langsung bangkit dan duduk tegak. Rasa lelah akibat perjalanan panjang hilang dalam sekejap..Di sampingnya, Ryo yang sebelumnya melayang santai di udara langsung mendekat dengan mata berbinar.Helena menatap kotak tersebut beberapa saat.Setiap kali sistem memberinya hadiah, hasilnya selalu di luar dugaan. Mulai dari ramuan kecantikan, hingga berbagai benda aneh yang terkadang sangat membantu dan terkadang justru membuatnya sakit kepala."Apa ini?"[Bukalah dulu. Aku juga penasaran.]Helena mengulurkan tangannya dan menyentuh kotak tersebut. Kotak itu terbuka perlahan.Cahaya keemasan yang jauh lebih terang dibanding sebelumnya langsung memenuhi ruangan, membuat Helena refleks me
Kereta kerajaan melaju melewati gerbang utama istana dengan tenang.Begitu memasuki kawasan istana, Helena kembali dibuat terdiam.Jalanan batu putih yang membentang luas terlihat begitu bersih hingga hampir memantulkan cahaya matahari. Di kedua sisinya berdiri taman-taman megah yang dipenuhi berbagai bunga berwarna-warni, dipangkas dengan rapi hingga membentuk pola-pola indah. Air mancur marmer menghiasi beberapa sudut halaman, sementara para pelayan dan kesatria kerajaan berlalu-lalang menjalankan tugas mereka dengan tertib.Semuanya tampak begitu megah.Begitu jauh berbeda dibandingkan Desa Arva.[Wow...]Bahkan Ryo pun hanya bisa melongo.[Jika warung Bos dijual seratus kali pun, mungkin belum tentu cukup untuk membeli satu taman di sini.]"Terima kasih atas pengingat yang sangat tidak berguna itu."Kereta akhirnya berhenti tepat di depan bangunan utama istana.Begitu pintu kereta dibuka, seorang kepala pelayan tua dengan rambut yang mulai memutih telah berdiri menunggu bersama b
Helena mengangkut dua mesin cuci di halaman depan rumahnya. Jika orang banyak menginginkan mesin ini, baru ia keluarkan sisanya.Orang orang menatap mesin itu dengan heran, bingung juga takut. Alat apa ini, aneh sekali."Ayo bapak bapak dan ibu ibu sekalian. Silahkan mampir untuk melihat lihat, say
Menjelang malam, warung Helena semakin penuh oleh pelanggan yang kelaparan. Banyak diantaranya rela datang dari jauh untuk mencoba masakan yang katanya enak ini. Helena bergerak cepat dari satu meja ke meja lain, pelipisnya dibasahi oleh keringat. Celemeknya tampak kotor dan menguning akibat bumb
Api tungku berderak lirih, hampir padam, namun Helena masih duduk di depannya seperti penjaga yang menolak pergi. Di atas meja kayu sederhana, tiga benda kecil berkilau diam — terlalu indah, terlalu rapi, terlalu “mahal” untuk rumah seorang gadis desa.Sebongkah sabun pucat bertabur kelopak mawar.
Helena terus berjalan tanpa arah, tidak ada petunjuk yang dapat membantunya. Sistem tidak mampu membantunya karena level yang rendah. Peta pemberian sistem juga tidak mampu untuk memberikan arah. Layar biru transparan di hadapannya hanya menampilkan kabut dan garis putus-putus yang tak berarti.Hel







