MasukSeiring berjalannya waktu, kini Qing Long Chen telah berusia dua belas tahun. Wajahnya semakin tampan, membuat para murid wanita terpikat oleh pesonanya.
Sedangkan para murid laki-laki justru merasa iri, termasuk Qing Mo Han. "Tch! Apa hebatnya kau dibanding diriku? Dari dulu hingga sekarang ranah kultivasimu tidak ada kemajuan sama sekali. Apa kau masih layak disebut Tuan Muda? Sampah tetaplah sampah! Mau berusaha sekeras apa pun, kau tak akan pernah menjadi kultivator sejati!" ejek Qing Mo Han sinis saat Qing Long Chen melintas di depannya. Qing Long Chen berhenti dan menoleh pelan. "Apa orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun? Apa di matamu aku begitu rendah hingga kau berani menyebutku sampah? Aku tidak pernah bermasalah denganmu, tapi kau selalu mencari gara-gara denganku. Aku selama ini diam karena menghormatimu sebagai senior. Tapi semakin lama, tindakanmu semakin arogan, seolah klan ini milik keluargamu sendiri. Beginikah sikap seorang senior terhadap junior?" Nada suaranya tegas dan menusuk, tatapannya tajam bagaikan sebilah pedang. Qing Mo Han tersenyum miring, wajahnya tampak dipenuhi rasa angkuh. "Berani juga kau melawan perkataanku, Long Chen. Sepertinya aku harus memberimu sedikit pelajaran agar tahu batasmu sebagai ‘sampah klan’ ini." Beberapa murid lain yang berada di halaman latihan segera berhenti berlatih dan memperhatikan mereka berdua. Suasana mendadak hening, hanya suara angin yang berhembus pelan di antara pepohonan di sekitar lapangan. Qing Long Chen menatap tenang, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. "Kalau kau memang ingin memberiku pelajaran," ujarnya datar, "aku akan menerimanya. Tapi jangan menyesal kalau akhirnya kau sendiri yang menanggung akibatnya." "Haha! Sombong sekali!" Qing Mo Han tertawa keras, lalu melangkah maju dengan penuh percaya diri. "Aku akan pastikan semua orang di sini tahu siapa yang pantas disebut murid berbakat, dan siapa yang pantas disebut sampah!" Tanpa menunggu aba-aba, Qing Mo Han langsung melesat. Angin berdesir tajam ketika tinjunya meluncur lurus ke arah wajah Long Chen. Namun pada saat yang sama, mata Qing Long Chen berkilat. Tubuhnya miring sedikit ke samping, menepis pukulan itu dengan satu gerakan ringan. Bugh! Suara benturan terdengar keras. Qing Mo Han terpaksa mundur dua langkah, wajahnya berubah kaget. "Apa…?" gumamnya tak percaya. "Bagaimana bisa kau menangkis seranganku?!" Long Chen tidak menjawab. Ia hanya menatapnya dengan dingin. "Aku sudah bilang," ujarnya pelan, "jangan menyesal." Dalam sekejap, Long Chen melangkah maju — gerakannya cepat, ringan, dan nyaris tak terlihat. Tangan kirinya menangkis pukulan lanjutan Qing Mo Han, sementara kaki kanannya menghantam tepat ke arah dada lawannya. Bugh! Qing Mo Han terlempar ke belakang, berguling di tanah sebelum berhenti dengan wajah merah padam menahan malu. Para murid yang menonton terdiam, beberapa bahkan menahan napas. Tak ada yang menyangka bocah yang sering diremehkan itu mampu mengalahkan murid yang lebih tua hanya dalam dua gerakan. Qing Long Chen menurunkan tangannya, lalu menatap Qing Mo Han yang masih terbaring. "Lain kali," katanya tenang, "gunakan kepalamu sebelum menggunakan tinjumu." Ia pun berbalik dan pergi, meninggalkan kerumunan yang masih terpaku menatap punggungnya. Sosok bocah dua belas tahun yang mulai menunjukkan tanda-tanda seorang jenius sejati. *** Beberapa jam setelah kejadian itu, kabar mengenai pertarungan antara Qing Long Chen dan Qing Mo Han telah menyebar ke seluruh halaman latihan seperti api yang menyambar rumput kering. Setiap murid membicarakannya, tentang bagaimana bocah dua belas tahun yang selama ini dianggap lemah mampu menjatuhkan murid tingkat menengah hanya dalam dua gerakan. Di dalam aula utama klan Qing, suasana tampak tenang namun mengandung tekanan. Qing Feng duduk di singgsananya, kedua matanya terpejam, mendengarkan laporan salah satu penjaga yang baru saja kembali. "Patriark," ujar penjaga itu dengan nada hati-hati, "pertarungan di halaman latihan pagi tadi… benar adanya. Tuan Muda Qing Long Chen mengalahkan Qing Mo Han hanya dengan dua serangan." Qing Feng membuka matanya perlahan. Tatapan matanya tajam namun sulit dibaca. "Dua serangan saja?" tanyanya datar. "Ya, Patriark. Para murid yang menyaksikan juga memberikan kesaksian yang sama." Keheningan menyelimuti ruangan sesaat. Qing Feng menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi dengan ritme lambat. "Anak itu… tampaknya semakin tidak bisa ditebak." Dari sisi kanan, Qing Jianhong tersenyum tipis. "Aku sudah menduganya, Patriark. Dalam latihan fisik maupun pemahaman kitab dasar, Long Chen menunjukkan ketekunan di luar nalar. Ia mungkin belum menampakkan kekuatan sejati karena selama ini menahan diri." Tetua Qing Wushen yang duduk di sebelahnya menimpali, "Tapi, jika dia benar-benar mampu menumbangkan Qing Mo Han, berarti tubuh dan jalur meridiannya sudah berkembang dengan sempurna. Itu… bukan hal biasa bagi anak seusianya." Qing Feng tidak langsung menjawab. Matanya menerawang sejenak, seolah menembus masa lalu — mengingat malam ketika Long Chen lahir bersama tanda aneh dan cahaya emas di langit. "Sepertinya waktunya sudah dekat…" gumamnya pelan. Para tetua saling berpandangan, tak berani bertanya lebih jauh. ***** Sementara itu, di halaman belakang paviliun, Qing Long Chen tengah duduk bersila di bawah pohon maple besar. Udara sore terasa sejuk, dan beberapa daun berguguran di sekitarnya. Peluh keringat masih membasahi wajahnya, namun napasnya teratur dan tenang. Ia menatap kedua telapak tangannya. Di sana, samar-samar tampak aliran halus berwarna keemasan, mengalir seperti arus listrik lembut. "Energi ini lagi…" gumamnya pelan. Sudah beberapa bulan ini, setiap kali ia berlatih serius, kekuatan itu selalu muncul — hangat, tapi juga kuat, seperti aliran petir yang menunggu meledak. Ia tidak tahu dari mana asalnya. Tapi ia tahu satu hal, kekuatan itu bukan sesuatu yang bisa ia ceritakan sembarangan, bahkan pada ayahnya sendiri. "Aku harus memahaminya sendiri," ujarnya lirih. Cahaya keemasan itu perlahan meredup seiring ia mengatur napasnya, menyerap energi spiritual di sekitar. Dari kejauhan, Qing Feng berdiri di atap paviliun, dengan tangan bersedekap dan tatapan tajam menatap putra bungsunya itu. Bibirnya menampilkan senyum samar. "Chen’er… darah dan kekuatan itu akhirnya mulai bangkit."Nan Rui memasuki paviliun dengan tergesa gesa. Ia ingin menyampaikan informasi itu secepatnya pada sang Ayah. "Apakah Tuan Muda Long Chen bersedia menolong kita, Rui'er?" tanya Nan Shu sambil menatap sang putra. "Tuan Muda Long Chen bersedia membantu kita, Ayah. Kita di perintahkan untuk tidak ikut campur dalam pertarungan yang akan terjadi bersama murid-murid yang masih setia pada Patriark," jawab Nan Rui. "Karena Nanti malam dia bersama rombongannya ingin menghancurkan klan ini." Tetua Nan Shu bernapas lega mendengar informasi itu. "Syukurlah. Kamu segera sampaikan hal ini pada murid-murid lain. Tapi ingat, jangan sampai hal ini di ketahui oleh murid-murid maupun Tiga Tetua yang berpihak pada Tetua Nan Kui. Bagaimanapun pergerakan kita selalu di awasi oleh mereka, jadi lakukan secara sumbunyi-sembunyi." Nan Rui mengangguk patuh, "Baik, Ayah," ucapnya sambil melangkah keluar dari paviliun. Selepas kepergian Nan Rui, Nan Yan menghampiri sang Ayah yang sedang duduk di ruang u
Tanpa di duga, beberapa murid klan Nan mengikat Long Chen bersama rombongannya dengan rantai hitam penyegel energi qi ketika berada didepan penginapan. Membuat kultivator yang sedang berjalan kaki, pedagang yang di sekitar penginapan itu bertanya-tanya. Dahi Tang Mingyu mengerut, "Apa maksudnya ini? Bukankah kalian hanya ingin melakukan pemeriksaan terhadap kami. Kenapa malah mengikat kami dengan rantai penyegel qi seperti seorang tawanan?" tanyanya sambil menuntut kejelasan dari murid-murid klan Nan. Nan Bao menatap tajam Tang Mingyu sambil tersenyum sinis, "Kalian semua adalah pelaku yang membunuh murid-murid sekte Haiying semalam. Kami melihat sendiri bahwa kalian membunuh murid-murid sekte itu tanpa ampun, padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun pada kalian. Lebih baik kalian bertanggung jawab atas tindakan kalian. Di kota ini, tidak di perbolehkan adanya pembunuhan, dan kalian telah melanggar peraturan yang telah di tetapkan," jawabnya, ia telah di perintahkan oleh Te
Keesokannya, penduduk, para pedagang, dan para pengembara yang singgah di kota Tianjing dibuat gempar oleh kabar kematian enam murid sekte Haiying. Mereka ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi tidak utuh, kepala terpisah dari tubuhnya. Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota, menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bisik-bisik segera merebak di kedai teh, pasar, restoran penginapan, hingga gerbang kota. "Enam murid sekte Haiying mati dalam satu malam?" "Siapa yang berani melakukan itu di kota Tianjing?" Sebagian wajah tampak pucat, sebagian lain justru menyimpan rasa puas yang tak berani diucapkan. Nama sekte Haiying selama ini di kenal sering melakukan penindasan terhadap kultivator aliran putih, merampok, menculik para gadis, dan tidak segan-segan membunuh pada setiap klan, sekte, keluarga besar ataupun kota yang tidak mau tunduk di bawah perintah sekte itu. Kematian itu seperti batu besar yang dijatuhkan ke permukaan danau—riak ketakutan dan dugaan m
Tak berselang lama, Long Chen dan Jiang Ruyue sampai di depan penginapan. Pelayan yang berjaga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Keduanya hanya mengangguk singkat, mereka terus melangkah menuju lantai empat. Beberapa saat kemudian, mereka masuk kedalam kamar. Begitu pintu kamar tertutup, keheningan turun. Jiang Ruyue melepaskan napas pelan. "Mereka tidak akan berhenti setelah ini." "Memang," jawab Long Chen datar. Ia berjalan ke meja dan duduk. "Itulah sebabnya aku memberi peringatan pada mereka. Jika Tetua kedua klan itu dapat memahami peringatanku itu, mereka tidak akan bertindak bodoh." Jiang Ruyue menoleh. "Klan Nan dan Zhou hanyalah pion." Long Chen mengangguk tipis. "Di balik mereka, pasti ada dorongan dari sekte Haiying atau Wuyin. Mereka tidak berani bergerak sendiri." Ia menutup mata sejenak, seolah menata pikirannya. "Besok," lanjutnya pelan, "kita tidak perlu mencari masalah." Jiang Ruyue tersenyum samar. "Masalah yang akan datang sendiri?" Long
Qing Long Chen dan Jiang Ruyue melangkah keluar dari ruang khusus setelah aula lelang benar-benar. Mereka berjalan menuju tempat pengambilan barang. Setelah berjalan cukup lama melewati lorong yang cukup panjang. Keduanya ahirnya tiba di ruangan itu dan melangkah masuk dengan santai. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Min Lan serta manajer Min Gui. "Tuan Muda Long Chen, Nona Jiang Ruyue, silahkan duduk," ucap manajer Min Gui mempersilahkan Long Chen serta Jiang Ruyue duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut. "Sungguh luar biasa.... baru kali ini lelang yang di adakan paviliun Bulan Perak semeriah ini, bahkan melebihi lelang sebelumnya. Anda telah membawa keberuntungan pada paviliun kami, Tuan Muda Long, Chen," ujar Manajer Min Gui yang kini lebih menghormati sosok Long Chen. Long Chen hanya tersenyum tipis melihat reaksi Min Gui
Min Lan memandang pedang itu sejenak, lalu suaranya kembali terdengar, tenang namun jelas. "Pedang Angin Senyap," ucapnya. "Senjata spiritual kualitas tinggi. Mengandalkan kecepatan dan ketajaman qi. Cocok untuk kultivator yang menempuh jalur cepat." Aula tetap hening. Keheningan yang berat. Pedang berelemen angin jarang terlihat, apalagi elemen angin murni tanpa campuran apa pun. Banyak kultivator tidak berbicara, namun sorot mata mereka berubah. "Harga awal," lanjut Min Lan, "sepuluh juta kristal spiritual tingkat menengah." Beberapa napas berlalu. "Sebelas juta." "Dua belas juta." "Empat belas juta." Tawaran terdengar lebih jarang, namun setiap angka melonjak mantap. Tidak ada teriakan, tidak ada emosi berlebihan. Mereka yang menawar tahu betul nilai pedang ini. "Enam belas juta," suara dingin terdengar dari ruang khusus nomor satu. Aula kembali sunyi. “Delapan belas juta,” datang dari ruangan khusus nomor sembilan. Di ruang khusus nomor tiga, Jiang R







