Home / Fantasi / Reinkarnasi Sang Kaisar Langit / Bab 05 Berburu Hewan Buas

Share

Bab 05 Berburu Hewan Buas

Author: Kopi Senja
last update Last Updated: 2025-11-15 12:57:13

Di malam hari, Qing Long Chen, Patriark Qing Feng, Qing Yunxiao, dan Lin Hua sedang menikmati makan malam di ruang makan. Tak ada satu pun yang bersuara saat mereka makan. Beberapa saat kemudian, mereka selesai.

Saat hendak pergi, Qing Feng memanggil pelan.

“Chen’er.”

Long Chen berhenti. “Ya, Ayah?”

Qing Feng menatapnya dengan sorot tajam yang tetap penuh kendali.

"Ada hal yang harus kau ingat mulai sekarang," ucapnya perlahan. "Jangan tunjukkan kekuatanmu di hadapan murid lain ataupun orang luar."

Long Chen terdiam sejenak. “Untuk merahasiakan kekuatanku?”

Qing Feng mengangguk tipis.

“Benar. Para Tetua sudah mengetahui perkembanganmu, dan mereka sepakat untuk merahasiakannya. Namun, murid-murid lain maupun pihak luar tidak boleh tahu. Untuk sekarang, lebih aman jika semua orang menganggapmu biasa saja.”

Long Chen menunduk hormat. “Aku mengerti, Ayah. Aku tidak akan menarik perhatian.”

"Bagus." Qing Feng menepuk pundaknya pelan. "Ini demi keselamatanmu. Bakatmu terlalu mencolok, dan yang terlalu mencolok selalu cepat mengundang bahaya."

Long Chen mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Setelah sosok putra bungsunya menghilang, Lin Hua bertanya pelan, "Apa Chen’er benar-benar harus menyembunyikan kemampuannya?"

Qing Feng menatap wajah istrinya dan menghela napas sesaat. "Semua ini dilakukan demi menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan. Kau tahu sendiri, dunia saat ini sedang berada dalam kekacauan."

Sejak Long Chui naik sebagai Kaisar Langit, dunia mengalami gejolak besar. Sekte-sekte aliran hitam mulai bermunculan satu per satu, menyebarkan kekacauan di berbagai wilayah. Mereka bergerak dalam bayang-bayang, merekrut para pemuda berbakat atau menghabisi mereka sebelum menjadi ancaman.

Pergerakan aliran hitam yang semakin tak terkendali ini membuat para klan besar, klan kecil, sekte aliran putih maupun netral menjadi sangat waspada—termasuk Klan Qing.

Bakat Qing Long Chen terlalu mencolok. Jika pihak luar mengetahui keistimewaannya, ia akan menjadi sasaran pertama yang ingin direbut atau dihancurkan.

Karena itulah para Tetua Klan Qing sepakat menyembunyikan perkembangan Qing Long Chen. Bagi mereka, bocah itu bukan sekadar pewaris garis darah Patriark, melainkan satu-satunya harapan di tengah dunia yang semakin kelam.

Mereka percaya bahwa kelahirannya bukan kebetulan. Ada sesuatu dalam dirinya—sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun sebelum waktunya tiba.

Selama dunia masih berada dalam bayang-bayang aliran hitam, kekuatan Long Chen harus tetap tersembunyi.

****

Di dalam kamar, Qing Long Chen duduk termenung di tepi ranjang, cahaya kristal kecil menerangi wajahnya. Dia menarik napas panjang dan bergumam pelan, "Ayah benar… jika aku menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya, itu hanya akan mengundang kehancuran bagi Klan Qing. Jika sekte aliran hitam mengetahui keberadaanku, mereka tidak akan ragu membantai seluruh keluarga ini demi mencegah ancaman. Hah… tidak kusangka, sejak kejatuhanku dua ratus tahun lalu, dunia menjadi kacau balau seperti ini."

Sejak kecil ia tahu dirinya berbeda. Aliran qi-nya terlalu murni, jalur meridiannya lebih luas dari siapapun seusianya, dan kecepatan kultivasinya bahkan membuat para tetua memilih bungkam daripada menimbulkan kegemparan.

Kini, setelah terlahir kembali, ia bertekad menjadi sosok yang jauh lebih kuat dibanding kehidupannya sebelumnya. Untuk saat ini, ada satu hal yang menjadi prioritasnya—fokus berlatih dan memperkuat diri, tanpa menarik perhatian siapa pun.

Dan sekarang ia sedang memahami potensi yang dimiliki tubuhnya. Bahkan Long Chen tidak menyangka bahwa dirinya memiliki elemen petir emas, petir yang dikenal memiliki daya kerusakan dan kekuatan kehancuran luar biasa.

Tidak hanya itu, ia juga kembali merasakan keberadaan elemen api, angin, air, bumi, cahaya, kegelapan, kehidupan dan es. Elemen-elemen yang telah ia kuasai dalam kehidupan sebelumnya. Itulah sebabnya Long Chui begitu iri, karena dia hanya mampu menguasai tiga elemen saja.

Sambil duduk, Long Chen mengangkat telapak tangan kanannya. Setitik cahaya keemasan muncul, berdenyut pelan sebelum berubah menjadi kilatan kecil yang memercik di udara. Petir emas itu meliuk halus seperti seekor ular mini, namun setiap denyutnya menggetarkan seluruh ruang.

“Petir emas… tubuh ini benar-benar melampaui kehidupanku sebelumnya,” gumamnya.

Ia memejamkan mata, mengatur napas, dan mulai menyelaraskan seluruh elemennya. Di sekelilingnya, api tipis berdesir, angin berputar lembut, air berkumpul membentuk uap halus, dan bumi memancarkan getaran stabil dari bawah kakinya. Cahaya dan kegelapan saling bertabrakan seperti dua kutub yang sama-sama ingin mendominasi.

Lalu, muncul aura lembut berwarna hijau muda—nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan. Elemen kehidupan. Tenang, hangat, namun menyimpan kekuatan pemulihan yang menakutkan. Elemen yang bahkan di kehidupannya sebelumnya hanya dimiliki oleh seorang sakti tingkat dewa, dan itu pun dalam kadar tipis saja.

Long Chen membuka mata perlahan.

“Bahkan elemen kehidupan… tubuh baruku memang berbeda.”

Namun semua elemen itu tetap tunduk ketika petir emas muncul—liar, buas, dan tak terikat, seperti raja dari segala elemen.

“Jika aku mampu menyatukan semuanya seperti dulu… aku bukan hanya akan mendapatkan kembali kekuatanku, aku bisa melampauinya.”

Ia berdiri perlahan. Aura di tubuhnya tetap tenang, seolah tidak ada kekuatan apa pun di dalam diri bocah dua belas tahun itu.

Namun di balik ketenangan itu, tersimpan kekuatan yang menunggu waktu untuk bangkit.

"Baiklah. Mulai hari ini… aku akan kembali menapaki jalanku."

Long Chen menguatkan tekadnya. Mulai hari itu, ia akan berlatih keras, menggunakan petir emas dan elemen kehidupan sebagai dasar untuk menapaki penyempurnaan kekuatannya

****

Kesokan paginya, Qing Long Chen melangkah memasuki hutan utara kota Zhoucheng. Dia berkelebat seperti bayangan sehingga keberadaannya tidak di ketahui oleh murid klannya, klan Jiang dan klan Tang.

Tak berselang lama ia sampai di kawasan hutan bagian terdalam dimana hewan buas tingkat tiga dan empat berada. Begitu memasuki kawasan itu, suara raungan terdrngar samar di kejauhan.

Qing Long Chen menarik napas perlahan. Matanya menyapu sekeliling, tubuhnya menegang namun tetap tenang. Di tempat seperti ini, satu kelengahan saja bisa berarti maut.

Tiba-tiba, seekor serigala berbulu perak menerjang ke arahnya. Mata merah menyala itu menatap ganas, memancarkan tekanan hewan buas tingkat tiga. Cakar tajamnya berkilat saat mengoyak udara, meninggalkan jejak angin yang tajam.

"Hehe… lumayan untuk pemanasan," ujarnya sambil memiringkan tubuh, menghindari serangan itu dengan gerakan ringan dan gesit.

Cakar serigala berbulu perak itu hanya menyayat udara kosong. Hewan itu mendarat kembali di tanah, menggeram keras, bulu peraknya berdiri tegak bersiap kembali menyerang Long Chen.

Wush!

Qing Long Chen bergerak secepat kilat, tubuhnya seperti bayangan yang melintas. Dalam sekejap, tinjunya sudah menghantam tepat ke arah kepala serigala perak.

Bang!

Seketika, tubuh serigala perak itu terpental dan menghantam pohon di belakangnya. Dengan langkah perlahan Qing Long Chen mendekati serigala tersebut.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin penasaran
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Reinkarnasi Sang Kaisar Langit   Bab 65

    Saat Patriark Nan Shen dan Tetua Nan Shu larut dalam pemikiran masing-masing, udara di dalam kamar tiba-tiba bergetar. Wush... Sesosok Qing Long Chen muncul begitu saja di hadapan mereka. Tetua Nan Shu tersentak dan langsung berdiri. Patriark Nan Shen membuka mata lebar, napasnya tercekat sesaat. Pemuda itu berdiri tenang di tengah kamar. Jubahnya berkibar pelan meski tidak ada angin. Tetua Nan Shu menatapnya tajam, lalu menarik napas dalam-dalam. "Seperti dugaan… kau memang bukan pemuda biasa." Qing Long Chen menoleh ke arah ranjang. Tatapannya jatuh pada Patriark Nan Shen—wajah pucat, tangan membiru, napas berat. "Racun itu," ucapnya datar, "sudah menggerogoti jiwa, Patriark. Patriark Nan Shen tersenyum pahit. "Jadi… bahkan kau pun bisa melihatnya." "Aku datang bukan untuk basa-basi," lanjut Qing Long Chen. "Malam ini, klan Nan akan berdarah. Namun aku akan membantu menyembuhkan Patriark, Bagaimanapun keberadaan Anda masih di butuhkan." Qing Long Chen melan

  • Reinkarnasi Sang Kaisar Langit   Bab 64

    Nan Rui memasuki paviliun dengan tergesa gesa. Ia ingin menyampaikan informasi itu secepatnya pada sang Ayah. "Apakah Tuan Muda Long Chen bersedia menolong kita, Rui'er?" tanya Nan Shu sambil menatap sang putra. "Tuan Muda Long Chen bersedia membantu kita, Ayah. Kita di perintahkan untuk tidak ikut campur dalam pertarungan yang akan terjadi bersama murid-murid yang masih setia pada Patriark," jawab Nan Rui. "Karena Nanti malam dia bersama rombongannya ingin menghancurkan klan ini." Tetua Nan Shu bernapas lega mendengar informasi itu. "Syukurlah. Kamu segera sampaikan hal ini pada murid-murid lain. Tapi ingat, jangan sampai hal ini di ketahui oleh murid-murid maupun Tiga Tetua yang berpihak pada Tetua Nan Kui. Bagaimanapun pergerakan kita selalu di awasi oleh mereka, jadi lakukan secara sumbunyi-sembunyi." Nan Rui mengangguk patuh, "Baik, Ayah," ucapnya sambil melangkah keluar dari paviliun. Selepas kepergian Nan Rui, Nan Yan menghampiri sang Ayah yang sedang duduk di ruang u

  • Reinkarnasi Sang Kaisar Langit   Bab 63

    Tanpa di duga, beberapa murid klan Nan mengikat Long Chen bersama rombongannya dengan rantai hitam penyegel energi qi ketika berada didepan penginapan. Membuat kultivator yang sedang berjalan kaki, pedagang yang di sekitar penginapan itu bertanya-tanya. Dahi Tang Mingyu mengerut, "Apa maksudnya ini? Bukankah kalian hanya ingin melakukan pemeriksaan terhadap kami. Kenapa malah mengikat kami dengan rantai penyegel qi seperti seorang tawanan?" tanyanya sambil menuntut kejelasan dari murid-murid klan Nan. Nan Bao menatap tajam Tang Mingyu sambil tersenyum sinis, "Kalian semua adalah pelaku yang membunuh murid-murid sekte Haiying semalam. Kami melihat sendiri bahwa kalian membunuh murid-murid sekte itu tanpa ampun, padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun pada kalian. Lebih baik kalian bertanggung jawab atas tindakan kalian. Di kota ini, tidak di perbolehkan adanya pembunuhan, dan kalian telah melanggar peraturan yang telah di tetapkan," jawabnya, ia telah di perintahkan oleh Te

  • Reinkarnasi Sang Kaisar Langit   Bab 62

    Keesokannya, penduduk, para pedagang, dan para pengembara yang singgah di kota Tianjing dibuat gempar oleh kabar kematian enam murid sekte Haiying. Mereka ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi tidak utuh, kepala terpisah dari tubuhnya. Kabar itu menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota, menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Bisik-bisik segera merebak di kedai teh, pasar, restoran penginapan, hingga gerbang kota. "Enam murid sekte Haiying mati dalam satu malam?" "Siapa yang berani melakukan itu di kota Tianjing?" Sebagian wajah tampak pucat, sebagian lain justru menyimpan rasa puas yang tak berani diucapkan. Nama sekte Haiying selama ini di kenal sering melakukan penindasan terhadap kultivator aliran putih, merampok, menculik para gadis, dan tidak segan-segan membunuh pada setiap klan, sekte, keluarga besar ataupun kota yang tidak mau tunduk di bawah perintah sekte itu. Kematian itu seperti batu besar yang dijatuhkan ke permukaan danau—riak ketakutan dan dugaan m

  • Reinkarnasi Sang Kaisar Langit   Bab 61

    Tak berselang lama, Long Chen dan Jiang Ruyue sampai di depan penginapan. Pelayan yang berjaga menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Keduanya hanya mengangguk singkat, mereka terus melangkah menuju lantai empat. Beberapa saat kemudian, mereka masuk kedalam kamar. Begitu pintu kamar tertutup, keheningan turun. Jiang Ruyue melepaskan napas pelan. "Mereka tidak akan berhenti setelah ini." "Memang," jawab Long Chen datar. Ia berjalan ke meja dan duduk. "Itulah sebabnya aku memberi peringatan pada mereka. Jika Tetua kedua klan itu dapat memahami peringatanku itu, mereka tidak akan bertindak bodoh." Jiang Ruyue menoleh. "Klan Nan dan Zhou hanyalah pion." Long Chen mengangguk tipis. "Di balik mereka, pasti ada dorongan dari sekte Haiying atau Wuyin. Mereka tidak berani bergerak sendiri." Ia menutup mata sejenak, seolah menata pikirannya. "Besok," lanjutnya pelan, "kita tidak perlu mencari masalah." Jiang Ruyue tersenyum samar. "Masalah yang akan datang sendiri?" Long

  • Reinkarnasi Sang Kaisar Langit   Bab 60 Memberi Peringatan pada Murid klan Nan dan klan Zhuo

    Qing Long Chen dan Jiang Ruyue melangkah keluar dari ruang khusus setelah aula lelang benar-benar. Mereka berjalan menuju tempat pengambilan barang. Setelah berjalan cukup lama melewati lorong yang cukup panjang. Keduanya ahirnya tiba di ruangan itu dan melangkah masuk dengan santai. Kedatangan mereka di sambut hangat oleh Min Lan serta manajer Min Gui. "Tuan Muda Long Chen, Nona Jiang Ruyue, silahkan duduk," ucap manajer Min Gui mempersilahkan Long Chen serta Jiang Ruyue duduk di kursi yang tersedia di ruangan tersebut. "Sungguh luar biasa.... baru kali ini lelang yang di adakan paviliun Bulan Perak semeriah ini, bahkan melebihi lelang sebelumnya. Anda telah membawa keberuntungan pada paviliun kami, Tuan Muda Long, Chen," ujar Manajer Min Gui yang kini lebih menghormati sosok Long Chen. Long Chen hanya tersenyum tipis melihat reaksi Min Gui

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status