ANMELDENMin Lan memandang pedang itu sejenak, lalu suaranya kembali terdengar, tenang namun jelas. "Pedang Angin Senyap," ucapnya. "Senjata spiritual kualitas tinggi. Mengandalkan kecepatan dan ketajaman qi. Cocok untuk kultivator yang menempuh jalur cepat." Aula tetap hening. Keheningan yang berat. Pedang berelemen angin jarang terlihat, apalagi elemen angin murni tanpa campuran apa pun. Banyak kultivator tidak berbicara, namun sorot mata mereka berubah. "Harga awal," lanjut Min Lan, "sepuluh juta kristal spiritual tingkat menengah." Beberapa napas berlalu. "Sebelas juta." "Dua belas juta." "Empat belas juta." Tawaran terdengar lebih jarang, namun setiap angka melonjak mantap. Tidak ada teriakan, tidak ada emosi berlebihan. Mereka yang menawar tahu betul nilai pedang ini. "Enam belas juta," suara dingin terdengar dari ruang khusus nomor satu. Aula kembali sunyi. “Delapan belas juta,” datang dari ruangan khusus nomor sembilan. Di ruang khusus nomor tiga, Jiang
Saat matahari condong ke barat, para pengunjung mulai memasuki ruangan yang akan mengikuti acara lelang setelah mendapat pemeriksaan ketat dari penjaga. Sementara Ye Tian bersama Jiang Ruyue duduk di ruang yang tersedia di ruang khusus nomer tiga. Manajer berjubah biru bersulam emas naik ke atas panggung. "Tuan-tuan, selamat datang di acara lelang paviliun Bulan Perak. Lelang pada hari ini kami buka dengan tiga sesi. Sesi pertama adalah pelelangan sumber daya kualitas menengah, sesi kedua adalah pelelangan senjata kualitas tinggi, sesi ketiga nanti kalian akan mengetahuinya," ucapnya lalu memanggil seorang gadis untuk memandu acara tersebut. Suara riuh para pengunjung begitu antusias saat mereka mendengar jika ada senjata kualitas tinggi yang akan di lelang. Suasana riuh kembali tenang, saat beberapa gadis memasuki panggung lelang sambil membawa sumber daya berbagai jenis yang akan di lelang dalam sesi tersebut. "Saudara sekalian, Aku Min Lan, akan memandu sesi pertama ini," u
"Aku tidak jadi menjual sumberdaya langka milikku, Manajer," ucap Long Chen datar sambil menatap sang manajer. "Anda hanya menilai seseorang hanya dari penampilan luar. Dan Anda sejak awal tidak menghargai kedatangan kami." Sejak awal Long Chen masih menahan diri dengan sikap yang di tunjukan oleh manajer yang terkesan meremehkannya. Meski ia mengetahui ada prajurit yang berjaga di tiap sudut ruangan itu, dia tidak takut jika harus membuat kekacuan di paviliun Bulan Perak. Manajer itu terdiam. Wajahnya yang semula tenang kini menegang. Tatapannya menajam, bukan karena marah, melainkan karena baru menyadari satu hal—pemuda di depannya tidak sedang menggertak. Ruangan kembali sunyi. Para penjaga di balik dinding tak bergerak, namun aura kewaspadaan mereka perlahan naik. Manajer menarik napas dalam-dalam, lalu menangku
Setelah pembicaraan mereka berakhir larut malam, Jiang Ruyue, Qing Yue, dan yang lain pun beranjak meninggalkan ruangan. Mereka memasuki kamar masing-masing, duduk bersila di atas tempat tidur, lalu mulai berkultivasi. Malam berlalu dalam keheningan, hingga fajar menyingsing di Kota Tianjing. “Tuan Muda, apakah Anda sudah bangun?” Suara pelayan wanita terdengar dari luar kamar Long Chen, nadanya hati-hati. "Masuk," jawab Long Chen dari dalam kamar. Pintu terbuka perlahan. Pelayan wanita itu menunduk hormat, tidak berani menatap langsung. "Tuan Muda," ucapnya hati-hati. "Pengelola penginapan ingin berbicara dengan Anda. Ada hal penting yang ingin dibicarakan." Kening Long Chen mengerut. Ia tidak menyangka pihak penginapan akan mencarinya sepagi ini. Tatapannya beralih ke arah pintu, rasa penasaran muncul di matanya. Long Chen bangkit dari tempat tidurnya. "Baik. Tunggu di luar," katanya tenang. "Baik, Tuan Muda." Pelayan itu mundur, menutup pintu dengan perlahan.
Ke esokan paginya, Qing Long Chen dan rombongannya baru saja selesai menguburkan jasad puluhan penduduk. Mereka bersujud tiga kali sebagai penghormatan. "Semoga kalian tenang di alam sana, aku akan membalas perbuatan mereka berkali-kali lipat," ucap Long Chen tegas di depan gundukan tanah yang masih basah. Di belakang mereka Kepala Desa Weimin dan para penduduk menundukan kepala dalam-dalam. Angin pagi berhembus pelan. Suasana berkabung itu sangat terasa di hati setiap orang yang ada di tempat itu. Weimin maju selangkah, suaranya parau namun dipaksakan tegar. "Tuan Muda Long Chen… desa ini sudah tidak aman lagi. Jika Anda berkenan, izinkan kami mengungsi. Kami tidak berani tinggal lebih lama." Long Chen menoleh. "Pergi sekarang justru berbahaya," katanya. "Karena tidak ada kultivator tingkat tinggi yang mengawal kalian semua, itu sangat beresiko." Beberapa penduduk saling pandang, wajah mereka pucat. "Lalu… apa yang harus kami lakukan?" tanya Weimin hati-hati. Long C
Kedua tangan pria tua itu bergetar saat menerima pil penyembuh tingkat tinggi dari Long Chen. Karena ia tahu pil itu sangat berharga dan sangat mahal harganya, apa lagi di wilayah barat pil dengan kualitas itu termasuk langka. "T-Tuan… ini terlalu berharga…" suaranya bergetar, bercampur takut dan terharu. "Tuan, lebih baik Anda segera telan pil itu," ucap Long Chen ramah. Lelaki tua itu tidak berani ragu lagi. Ia lalu memasukkan pil itu ke mulutnya dengan hati-hati. Begitu pil meleleh, aliran hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Luka-luka di dada dan perut yang semula menganga berhenti berdarah. Sobekan di bahu dan punggung menutup perlahan, tulang yang retak tersambung kembali. Wajahnya yang pucat perlahan kembali memerah. Beberapa saat kemudian, pria tua itu pulih seperti sedia kala. Ia terhuyung, lalu berlutut dalam-dalam. "Terima kasih… terima kasih, Tuan Muda..." dahinya menyentuh tanah, tubuhnya gemetar. Long Chen mengulurkan kedua tangannya dan membantu pri







