LOGINAfter a painful rejection, Aria, an abused Omega in the Blood Moon pack, is left heartbroken and goes to the borderlines of the pack where she is ambushed and bitten. Having joined a new pack because hers was attacked, she discovers that she is not just a weak Omega but something far more powerful - she is set on unravelling this mystery. Why had these abilities just unveiled? What unsolved mysteries about her roots will be brought to light? Does she deserve a second chance at love? Will the love of her second chance mate, Alpha Kael, be able to protect her from the countless webs of deceit, lust for power and betrayal?
View MoreKlaghk!
“Aiihh..! Brengsek kau..!” seru terkejut marah seseorang di dalam kamar toilet. Saat seorang OB membuka begitu saja pintu kamar toilet itu. “Hahh..! Ma-maaf Bu Devi..!” Klekh! Bimo berseru terkejut bukan main, saat sepasang matanya melihat tubuh mulus setengah polos Devi, yang juga nampak buru-buru menarik celana bahannya ke atas. Namun tentu saja Bimo sempat melihat sepasang paha jenjang mulus, dan juga belahan belakang yang menonjol kencang menggoda milik Devi tadi. Cepat Bimo menutup kembali pintu kamar toilet itu dan melepas kedua earphone dari telinganya. Ya, karena mendengarkan musik di earphone itulah, telinganya jadi tak peka mendengar suara seseorang di dalam kamar toilet itu. “Celakalah aku..!” desis lirih Bimo dengan wajah panik dan cemas. Namun dia merasa harus tetap menanti Devi di luar kamar toilet, untuk menjelaskan kejadian yang tak disengaja itu. Klekh! Akhirnya Devi pun keluar dari kamar toilet itu dengan sepasang mata berkilat marah menatap Bimo. “Bimo..! Apakah kau tuli dan tak mendengar desiran air di dalam kamar toilet ini..?! Atau kau memang sengaja ingin mengintipku..?!” seru tajam Devi, dengan wajah memerah marah sekaligus menahan rasa malunya. “M-maaf Bu Devi. Ini memang kesalahan Bimo, karena biasanya tak pernah ada karyawan yang datang sepagi ini. Maaf Bu Devi,” ucap gugup Bimo dengan wajah tertunduk gelisah. “Salah..! Apapun yang terjadi, kau harus selalu awas dan profesional dalam bekerja! Kulihat kau tadi memakai earphone Bimo! Kutunggu kau nanti di ruanganku, pada jam istirahat siang Bimo!” seru jengkel Devi, seraya bergegas melangkah keluar dari ruang toilet wanita itu. “Baik, Bu Devi,” sahut Bimo resah. Dan Bimo pun melanjutkan tugasnya membersihkan ruang toilet itu, tentu saja dengan hati yang tak tenang dan penuh kecemasan. Karena Devi adalah wanita tercantik dan merupakan salah satu staf manajer di perusahaan itu. Bahkan diam-diam Bimo menyimpan rasa suka pada Devi! Namun kali ini Bimo merasa pasti, jika dia akan mendapatkan sanksi dari Devi atas kejadian barusan. Usai membersihkan ruang toilet, Bimo pun bergegas menuju ke arah dapur kantor. Bimo berjalan dengan pikiran setengah melamunkan kejadiannya dengan Devi tadi. Hingga di tikungan lorong menuju dapur... Brughk! Bimo bertabrakkan dengan dua sosok OB wanita, yang tengah berbelok ke arah berlawanan dengannya. Hal yang mengakibatkan seorang OB wanita terdorong kesamping, hingga menabrak dinding lorong. “Ahh..! Sialan kau Bimo..! Kalau jalan pakai mata dong! Bahu kiriku sakit nih!” maki Wanti yang menabrak dinding itu, seraya mendelik kesal pada Bimo. “Tahu nih Bimo! Kerjaannya bikin kasus saja setiap hari! Dasar gay..!” seru memaki Tia, rekan OB yang tengah jalan bersama Wanti. “Ehh! M-maaf Wanti, Tia. Aku benar-benar tak sengaja!” seru kaget Bimo, seraya minta maaf. “Maaf sih maaf Bimo..! Tapi karena bahuku sakit begini, tugasku cuci piring siang ini harus kau gantikan lho! Kalau tidak akan kulaporkan pada kepala OB, kau yang telah menyebabkan bahuku sakit!” seru marah Wanti, seraya meringis memegangi bahu kirinya. “Ahh! J-jangan..! B-baik Wanti. Biar aku yang akan mencuci piring siang ini!” sentak Bimo panik. “Benar ya Bimo! Awas kalau kau tak mengerjakannya nanti!” ancam Wanti, seraya menunjuk Bimo dan agak memajukan dadanya yang mencuat. Seolah menantang Bimo berkelahi. “Iya Wanti,” sahut Bimo cepat, seraya meneruskan langkahnya ke arah dapur kantor. “Sstthh! Kau lihat kan Tia, betapa tololnya si Bimo itu. Hihihii..!” bisik Wanti, seraya mengejek Bimo dan tertawa geli. “Hihihi! Tentu saja Wanti. Sebenarnya kau tak benar-benar sakit bahu kan..?” sahut Tia ikut tertawa geli. Ya, sesungguhnya si Wanti inilah yang menghembuskan rumor, bahwa Bimo adalah seorang gay. Hal yang dilakukannya untuk melampiaskan rasa marah, kecewa, dan kebenciannya pada Bimo. Karena Bimo pernah menolak pernyataan cintanya! Siang itu Bimo tengah sibuk mencuci piring dan menatanya di rak dapur kantor. Tak ada seorang OB pun yang mendekat, apalagi mau ikut membantu pekerjaannya itu. Dan di tengah kesibukkan yang dilakukan Bimo sambil melamunkan nasib pahit dirinya itu. Tiba-tiba.. Braakh! “Bimo..! Apakah kau tuli..?! Sialan!” hardik marah Luki sang kepala OB, sambil menggebrak sisi dinding ruangan dapur. “Hahh..!” Praanng! Bimo tersentak kaget dari lamunannya, dan tak sengaja beberapa piring yang hendak di tatanya pun jatuh pecah berkeping di lantai dapur. “Wahh! Celaka kau Bimo..! Itu kan piring-piring khusus para staf perusahaan ini! Kau harus menggantinya dengan potongan uang gajimu nanti!” seru terkejut dan marah Luki, melihat beberapa piring mahal yang pecah di lantai. “Ahh! M-maaf Kak Luki! Aku benar-benar kaget dan tak sengaja..!” seru gugup Bimo dengan wajah cemas dan panik. “Sudahlah! Cepat sana kau ke ruangan Bu Devi..! Kau disuruh menghadapnya! Tapi soal piring pecah ini tetap harus kautanggung dengan potongan gajimu bulan ini!” seru Luki kesal. “Baik Kak,” sahut Bimo lemas, seraya bergegas menuju ke ruangan Devi. Tok, tok, tok! Dengan dada berdebar tegang, Bimo pun mengetuk pintu ruang kerja Devi di lantai dua. “Masuklah..!” terdengar seruan Devi dalam dalam ruangan. Klekh! “Selamat siang Bu Devi,” ucap Bimo, setelah dia membuka pintu ruangan itu. “Masuk dan duduklah Bimo! Aku hanya akan bicara singkat saja padamu!” seru tajam Devi, dengan wajah yang berubah dingin seketika. Namun di mata Bimo, Devi tetaplah cantik dalam keadaan marah sekalipun. Dengan hidungnya yang meruncing, alis agak tebal, lesung pipit tipis, serta bibir yang selalu merekah basah. Dan cetakkan buah dada yang kencang di balik pakaian kerja Devi sungguh mengundang. Bimo kerap mengira-ngira bentuk polos dua gunung perawan itu dalam fantasinya di kamar kostnya. Sungguh sempurna! Hal yang masih dtambah dengan rambut hitam tebal berombak sebahu, yang tergerai lepas menguarkan aroma semerbak. Sungguh sensual. Tak salah jika Devi di nobatkan sebagai wanita tercantik di kantor itu! Bimo pun duduk dengan wajah tegang, cemas, dan hati berdebar tegang, bak terdakwa yang tengah menanti vonis dari sang hakim. “Bimo! Aku akan mengajukan peringatan keras pada Kepala Personalia, terkait kelakuanmu tadi pagi! Aku tak akan memintanya untuk memecatmu Bimo! Tapi sekali lagi kau berbuat kesalahan, maka tak ada ampun lagi bagimu Bimo! Kau paham Bimo..?!” ucap Devi tegas dan tak terbantahkan. “Paham Bu Devi,” sahut Bimo. Ada sedikit rasa lega di hatinya, karena Bimo menyangka tadinya dia akan dipecat dari pekerjaannya. “Baik! Kau boleh keluar sekarang!” seru tajam Devi. “Baik Bu Devi. Permisi,” ucap sopan Bimo, seraya beranjak keluar dari ruangan itu dengan lemas. Di perjalanan pulang menuju kostnya, Bimo masih menatap jendela angkot dengan nanar. Sepanjang hidupnya, ia tak pernah sekalipun merasakan keberuntungan. Bahkan sekarang, ia berada di ujung tanduk pekerjaannya setelah menyinggung bu Devi! Bimo bahkan merasa hidupnya, pun sampai kelak ia meninggal, hanya akan diisi oleh kesialan-kesialan yang membabibuta! “Jika hidupku sesial ini, buat apa hidup?” sesal Bimo pelan ketika sampai di depan pintu kamarnya. Namun, tiba-tiba netranya mendapati sebuah cahaya merah di dalam kamarnya lewat jendela. “Kebakaran?!” Bimo langsung merangsek masuk, namun tiba-tiba kamarnya itu seperti meledak dan menguarkan cahaya merah! Bimo pun tersungkur, namun tiba-tiba matanya menatap sumber cahaya merah terang itu, sebuah kotak kayu yang selama ini terlupakan dan teronggok di meja kosnya. ‘Kotak jati ukir itu, mungkinkah?!’ kejut hati Bimo.Kael's POVI sat beside my mate's hospital bed and waited for her to wake up. Her hair has remained white and even her eyes when I took a peak.Dr. Klassen has earlier said that she just pushed herself to the limit and needed rest. She would be up when her body healed.There was a knock on the door. “Come inside.”The door was pushed open and Elora came in then several others too. Including Martha, Gad, Anita, Beta Anderson, Roman, Adeth, Luna Stephanie, her mate, Luna Averie and Xavier.“How is she?” Elora asked and I just sighed.“She is good, I guess but still unconscious.”“I needed to tell her something, but I might just tell you first.”“What is it?”’“You know that the Therians were mostly a thing of folklore and myth. The last we heard of them was that they had gone extinct. But that was not it, they are in our world in hiding because they are haunted for their many gifts. I helped some sisters and they were all Therians. Aria’s mother, Stephanie, Averie and Adeth's mother. Tw
Kael's POVShaw came beside me and was fighting alongside me. “You seemed to have a lot on your plate and I thought to help.” He said and gave me a grin.“Thank you, he is making it almost impossible to get to him.”“We will definitely get to him. It's just time.” We stood out backs facing each other and the rogues were being torn apart on all sides. I couldn't see my mate anymore and that frightened me.The rogues kept multiplying, we had to start fighting side by side. A large body then jumped in front of me and we both fell to the ground. I stood up immediately and realised that Shaw had a large silver arrow in his chest. “I…I.” He tried to speak but he looked to be in so much pain. I then noticed that spells were thrown at the rogues surrounding us and they had to back off. Dona materialized above us, she looked to be in a state of rage.The wound was fatal but I tried to pull the arrow. “Don't bother. I know that I'm dying, just take care of my daughter.”“What do you mean?” I
Aria's POVI felt the cold solve blade sink in then something yanked me off Margaret. I smelled death.“What? This can't be. Why would the vampire accept to help you?” Margaret said, I couldn't see her though.I felt myself being dropped in Kael's arms. “Please forgive me, darling. I would never do something so stupid again. Please, forgive me. Don't die on me.”I rolled my eyes because I'm sure he has forgotten something crucial. I shoved myself off him and stood to my feet shakily.“It's funny how you think that you can easily get rid of me. I forgot to tell you something important though.” I said, fading them. Everyone was shocked because such a lethal wound by a silver knife should put me in bad shape.I called on my wolf, Willow. “Please, I know you're not too strong but I need you now. We must fight this fight too.” I partially shifted and my nails elongated and were silver coated.“A sliver-blooded wolf!”“She's not just a white wolf!”“She is really more powerful than we thou
Thane's POVI have made up my mind to execute that bastard's child. I never knew that she would belong to Shaw. It would seem like even his offspring has chosen to be a thorn in my flesh.I heard a knock on the door and turned towards it. “Come in.”The door was pushed open and it was my son, O’Brien. I rolled my eyes at the look on his face.“What do you want this time?” I continued to go through the documents on the table. “Must we continue these senseless killings? That's all I've known, Dad. Can't we end this and leave?”“I wish I had killed you as a baby, you are nothing like me. You're just a coward unlike your sister. I sent you to that pack to be useful to me but you turned out seeing them as family. I told you what I want, you turned your back on me.”“I never turned my back on you, Dad. I would never do that to you. You mean too much to me for that to happen. I just hate what we are doing. Can't we leave already?” He looked like it was urgent.“What have you done?” I rushed
Luna Averie’s POVWe arrived at Stephanie's pack and it was crazy. So much preparation in the pack in case an attack happens.I sat in the garden close to the daycare of the pack. “Hi Miss?” A little voice pulled me from my thoughts.I looked beside me and saw a little boy with a toothy smile. I sm
Shaw’s POV I sat on the sofa in the sitting room and was scrolling through the television shows available. I can't find anything fun and that house mate of mine, Dona, is nowhere to be found.“I see you don't know what to watch. Let me help you.” She materialized behind me and took the remote from
Aria's POVI stood by the mirror and remembered the dream I had yesterday. “Who was the little girl?” I asked myself. The room was empty and had no one in it. I guess Kael has gone for morning training sessions. I miss him already, we had a long night in each other's arms.“Girl, come out, let's t
Dona’s POVShaw quickly turned around at lightning speed and I wrapped the towel around me better. I feel so embarrassed that he saw me like this.“Get out! You're such a perv. What the hell are you doing in my room?”“How in the world am I supposed to know that you chose this room?”“You should ha






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore