LOGINNo dia em que completou dezoito anos, Maelis Vaelor descobriu que Zairon Draven, o poderoso Alfa Supremo de Varneis, era seu companheiro predestinado. Minutos depois, diante das cinco linhagens, ele a rejeitou publicamente, considerada uma Loba Vazia por jamais conseguir despertar sua loba, Maelis perdeu o vínculo, a dignidade e o lugar que acreditava finalmente ter encontrado. Sete anos depois, ela voltou. Não como a jovem humilhada que fugiu para a floresta, mas como uma temida Juíza da Lua, enviada para investigar o assassinato de três Alfas e julgar o principal suspeito, o homem que destruiu seu coração. Enquanto as provas apontam para Zairon, uma conspiração antiga começa a desmoronar. Quanto mais Maelis se aproxima da verdade, mais descobre que a rejeição daquela noite jamais foi tão simples quanto parecia e que alguém manipulou suas vidas desde o início. Agora ela precisará escolher entre cumprir seu dever ou acreditar no homem que jurou nunca mais amar. Porque, se Zairon for inocente, condená-lo poderá destruir o único capaz de impedir uma guerra entre as linhagens. E, se Maelis realmente não for uma Loba Vazia, sua verdadeira natureza poderá mudar para sempre o destino dos lobisomens.
View More“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.”
Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia biasa yang setiap hari bekerja, tertawa, dan mengeluh tentang hidupnya sendiri. Tapi sekarang? Dirinya terjebak dalam tubuh wanita lain di dunia fiksi. “Wajar sih... dia cantik, berwibawa, dan juga pintar.” Matanya masih mengikuti setiap gerak-gerik Ratu dari kejauhan yang terlihat begitu pandai mengatur orang-orang di depan pintu masuk istana. Wanita itu masih duduk di kursi dekat jendela sambil menikmati beberapa biskuit dan seduhan teh hangat yang baru saja disajikan oleh para pelayan. “Aku tidak menyangka jika hidup di istana sangat nyaman dan menyenangkan seperti ini,” ucapnya sambil meneguk teh hangat dan tubuhnya bersandar di kursi kayu. Hidup dalam kemewahan adalah impiannya sejak kecil. “Tapi…” ada ragu dalam suaranya, mengingat apa saja yang telah ia lalui dan berakhir seperti ini. Beberapa hari yang lalu, wanita itu mati akibat peluru sasar saat melakukan demonstrasi dan saat sadar dirinya telah memasuki tubuh Marielle—seorang tokoh antagonis sekaligus selir pelakor yang berakhir mati di tiang gantung karena menghianati Raja. Jujur saja, dia sangat kesal. Dari sekian banyak tokoh dalam novel itu, kenapa justru dirinya harus masuk ke tubuh wanita antagonis perebut suami orang? Hal ini membuat harga dirinya sebagai wanita jatuh sejatuhnya. “Benar!" Tangannya mengepal menyadari sesuatu. "Pokoknya aku tidak boleh mati. Apalagi merebut suami orang. Ugh! Aku harus membuat rencana hidup yang bagus.” Marielle menggigit kukunya berusaha berpikir keras bagaimana caranya selamat dan bertahan selama mungkin dalam tubuh ini. Rasa sakit mati akibat tertembak masih membekas di kepalanya, dia tak mau lagi merasakan mati akibat digantung. Memikirkannya saja membuat nafasnya sudah sesak. "Padahal aku belum selesai membaca novel itu, tapi udah mati duluan, hufft!" keluhnya kesal. Mengingat masih ada seratus halaman yang belum ia baca setelah kematian Raja Cassian dalam novel. "Bahkan aku tidak tau akhir ceritanya bagaimana. Apakah Ratu Elira dan Grand Duke berakhir bahagia?" sorot matanya penuh tanda tanya. Di Kejauhan terlihat iring-iringan kereta kuda. Dia mengingat, jika sang Raja akan tiba di istana setelah melakukan perjalanan dinas di kerajaan sahabat untuk memperkuat kerjasama dalam bidang perdagangan maupun keamanan. Kereta kuda itu berhenti, Ratu Elira sudah berdiri disana untuk menyambut sang Suami yang baru saja tiba. Semua rombongan turun, begitu banyak orang dan barang yang dibawa. Halaman istana menjadi ramai oleh para pelayan yang sibuk menurunkan peti-peti besar dari kereta kuda. “Lihat! Padahal mereka terlihat serasi." Dia mengomentari. "Kenapa Raja malah tergoda dengan wanita seperti ini?” pikirnya tak mengerti. “Raja Cassian dan Ratu Elira. Pasangan yang seharusnya berakhir bahagia tapi terhalang karena kehadiran manusia satu ini,” ujarnya sambil melihat tubuh yang kini ia tempati. Tubuh Marielle tersentak kaget saat tatapannya bertemu dengan Raja. Wanita itu ingin menarik tirai jendela kamar, tapi tak berani. “Sial, bagaimana ini? Apakah dia melihatku?” Marielle merutuki dirinya sendiri. Dia refleks bersembunyi, duduk di bawah meja agar untuk melindungi tubuhnya dari pandangan Raja. Perlahan ia mengintip dari balik tembok dan hanya memperlihatkan kepalanya. Sial memang tak bisa diprediksi, Raja masih melihat ke arahnya. Bahkan, pria itu mulai berjalan cepat. Tapi, dirinya lebih kaget saat tatapan Ratu juga tertuju padanya. Tatapan tajam menusuk, membuatnya ngeri dan merinding. “Ya Tuhan, dia menuju kesini!” Marielle langsung panik lalu bergegas menuju tempat tidur. Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Seorang pria tinggi besar dan berambut hitam berlari menuju tempat tidur. Sorot mata coklat itu terlihat ketakutan. Sejenak pria itu berdiri memandangi tubuh Marielle, dengan cepat pria itu memeluknya erat. “Marielle, kekasihku… akhirnya kau bangun juga dari tidurmu,” ucap Cassian lega. Raja, sekaligus suami Marielle. Dirinya langsung bergidik, karena seorang laki-laki memeluk tubuhnya begitu saja. Ingin sekali dia menendangnya, tapi sebisa mungkin harus menahan diri. Perlahan tubuhnya meronta sedikit, memberi tanda untuk segera melepaskan pelukan, tapi Raja Cassian semakin memeluknya erat. “Apa badanmu masih sakit? Aku baru saja kembali. Apakah ada yang terluka?” ucap Cassian pelan, pandangannya memeriksa tubuh Marielle mencari luka yang berbekas di tubuh sang Selir. “Saya baik-baik saja Yang Mulia,” jawab Marielle lirih, meski dalam hati ia ingin sekali menjauh dari pria ini. “Syukurlah,” ucapnya lega. Bahunya turun disertai hembusan nafas panjang. Suara langkah kembali terdengar, seorang pria mendadak muncul. Rambut hitam, mata biru, dan ada pin lambang serigala di dada. Wanita itu sangat tau siapa yang berada di depannya sekarang. “Lady, akhirnya anda siuman juga,” ucap pria itu sambil membungkuk sedikit memberi hormat. Mata Marielle membulat, seakan tak percaya siapa yang dia lihat. “Kau…?” Pria itu menegakkan tubuhnya, sorot mata dia selaras dengan sorot mata Marielle. “Apa kabar Lady Marielle? Saya harap anda baik-baik saja,” ujarnya santun. Pria yang membuat Marielle asli dihukum gantung. “Kau, Duke Aldric?!”Zairon Draven…— Maelis não entrará nesse círculo.A resposta deixa minha boca antes que Ysara termine de apontar a lâmina para o chão destruído. Meu lobo ainda está próximo da superfície, enfurecido pelo cheiro do sangue que escorre do corte em meu peito e pela lembrança de Maelis desabando enquanto aquela arma atravessava a minha essência. Ela se afasta de mim e recoloca o broche da Ordem no ombro.— Não cabe a você decidir.— O ritual quase a derrubou quando estava do lado de fora. Não permitirei que fique no centro dele.Os olhos de Maelis se estreitam.— Sete anos atrás, você decidiu sozinho o que aconteceria com nós dois, não cometa o erro de acreditar que ainda possui esse direito.A frase atinge com mais precisão do que qualquer lâmina, baixo os olhos para as marcas quebradas no chão, porque não existe defesa contra uma verdade.— Eu tinha vinte e seis anos e já sabia que era seu companheiro. — respondo. — Não existe idade que justifique o que fiz.O silêncio dela não é perdão
Maelis Vaelor…A lâmina destinada a arrancar o comando de Zairon é mais comprida do que meu antebraço. Os cinco símbolos gravados no metal brilham quando Ysara a coloca no centro do círculo.Zairon permanece entre duas colunas de prata, com o Selo de Custódia preso ao pulso e os braços mantidos por correntes curtas. Abriram sua túnica até o peito, onde a marca de comando pulsa sob a pele.— A determinação dizia ao amanhecer. — Seguro a pasta contra o corpo. — Ainda faltam horas.Ysara não desvia os olhos da lâmina.— Quando a ordem foi emitida, o terceiro Alfa ainda estava vivo.— O corpo de Ivar ainda precisa ser examinado e a segunda essência continua sem identificação.— Nada disso muda o risco de deixar Varneis sob a autoridade do principal suspeito.A resposta é serena, mas o modo como seus dedos percorrem os símbolos me incomoda. Atrás dela, os magistrados terminam de espalhar pó branco ao redor do círculo. Thane protesta e Ysara ergue a voz apenas o suficiente para silenciá-lo.
Zairon Draven…Três Alfas estão mortos e a Ordem me tranca numa sala construída pelos meus antepassados, as paredes do antigo aposento de contenção são cobertas por prata lunar. Não existem grades, apenas uma porta selada e dois sentinelas do lado de fora, o Selo de Custódia aperta meu pulso cada vez que meu lobo tenta alcançar os membros de Dorenva.Ainda consigo ouvi-los, não com palavras mas através da inquietação que se espalha pelo território, os lobos sabem que seu Alfa está preso, sentem o comando enfraquecido e procuram uma autoridade que não responde, e ao amanhecer nem mesmo isso restará.Não é o título que me preocupa, um comando pode ser entregue, disputado ou conquistado novamente, o que me inquieta é deixar milhares de lobos presos a uma ruptura que não escolheram, sem uma autoridade reconhecida, antigas rivalidades acordarão, as fronteiras ficarão expostas e cada Alfa menor acreditará possuir o direito de ocupar o lugar vazio.A porta se abre e Maelis entra carregando a
Maelis Vaelor…Os dedos de Ivar apertam meu braço enquanto as linhas negras continuam avançando sobre seu peito.— Não deixe Zairon se aproximar — ele repete.Olho para a entrada da câmara. Zairon permanece onde ordenei, com o bracelete escuro ao redor do pulso e os sentinelas entre nós. Seu rosto não demonstra medo, mas o lobo agitado em seus olhos acompanha cada nova ramificação da marca.— Busque o curandeiro. — ordeno a um dos homens. — Traga também a caixa de contenção.O sentinela corre pelo corredor subterrâneo, aproximo meu broche do peito de Ivar e a prata escurece antes mesmo de tocar sua pele, a essência de comando está crescendo dentro dele, apertando seus músculos e diminuindo o espaço entre cada respiração.— Ivar, preciso saber exatamente o que aconteceu.— A porta do meu quarto abriu. Pensei que fosse um sentinela, mas ele liberou o comando antes que eu pudesse chamar o guarda.— Você viu o rosto?— Não. — Os olhos dele encontram Zairon. — Mas conheço a voz do meu Alfa






Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.