Se connecterMia Reyes nunca pidió una segunda oportunidad. En un momento era una bombera corriendo hacia las llamas. Al siguiente, abrió los ojos en un cuerpo que no era el suyo: el cuerpo de la reina Khelani, la joven esposa del frío y poderoso rey William Alexander Thorne. Él es un rey. Un multimillonario. Un hombre que gobierna tanto un reino moderno y deslumbrante como un imperio global. En público es el esposo perfecto. En privado, él decide todo. La reina original había aprendido a sobrevivir volviéndose pequeña, callada y obediente. Mia no puede. Se niega a inclinarse. Se niega a desaparecer. Pero el destino ya la ha encadenado. Está embarazada de diez semanas de su hijo. Atrapada dentro de una vida que nunca eligió, llevando un futuro que nunca fue suyo, Mia se encuentra en el centro de un palacio construido sobre el control, el deber y el poder silencioso. Cada mirada del rey se siente como una orden. Cada paso que da es vigilado. Y el niño que crece dentro de ella ya ha hecho que escapar sea imposible.
Voir plusErlangga Hadinegoro, milyader gagah perkasa itu jatuh berlutut di lantai. Marlo menyaksikan sendiri, betapa kakak kandungnya yang terkenal gagah perkasa dalam dunia bisnis kini seperti hilang gelabah. Kabar yang baru saja didengar telah memporak porandakan hati dan mental lelaki empat puluh tahun itu. Anjani Hadinegoro, istri yang sangat dikasihinya, dikabarkan meninggal dunia dalam kecelakaan maut. Mobil yang ditumpangi perempuan tiga puluh tahun itu jatuh ke jurang dan terbakar habis. Lebih mengenaskan lagi, Anjani sedang mengandung anak pertamanya, buah hati yang telah dinanti hampir delapan tahun lamanya oleh pasangan milyuner itu.
Dengan tangan gemetar, Marlo mencoba menyentuh bahu kakaknya. Ia sendiri juga merasa terpukul. Anjani sudah seperti ibu baginya.
"Bang ...." Marlo berusaha meraih sang kakak.
Bahu Erlangga terguncang hebat. Tiba-tiba mata lelaki itu terlihat nyalang. Ia memandang setiap orang di sekitarnya. Semua orang kepercayaan Erlangga berkumpul di ruang kerja lelaki itu.
"Arifin!" teriaknya.
Seseorang yang dipanggil namanya itu maju ke hadapan sang atasan.
"Kamu cari di sekitar lokasi kecelakaan! istriku pasti masih hidup! Bawa semua anak buahmu! Cari sampai ketemu!" teriak Erlangga. Ia masih belum mau menerima kenyataan bahwa maut telah merenggut wanita yang sangat dicintainya.
Arifin, salah satu tangan kanan Erlangga yang sering berhubungan dengan kepolisian segera beranjak mematuhi perintah atasannya.
***
Rumah duka di kawasan pusat Ibu Kota begitu ramai oleh pelayat. Puluhan bunga papan berderet seolah menjadi gerbang sembilu bagi keluarga yang ditinggalkan. Siapa yang tak kenal dengan Erlangga Hadinegoro? Pemilik rangkaian bisnis yang melaju pesat di tahun 90-an itu adalah orang yang cukup dermawan. tak heran apabila rumah duka, persinggahan terakhir sang istri tercinta dipenuhi oleh ratusan orang dari berbagai kalangan.
Marlo berdiri di sisi peti mati sang kakak ipar yang tertutup rapat. Hasil pencarian di lokasi kejadian beberapa waktu yang lalu nihil, tidak ada jejak bahwa Anjani berhasil keluar dari mobil sebelum terbakar. Di dalam mobil yang terbakar ditemukan dua sosok mayat lelaki dan perempuan yang sudah hancur dan tidak dapat teridentifikasi. Dua jenasah tersebut kemudian ditetapkan sebagai almarhumah Nyonya Anjani dan sopirnya.
Air mata Marlo tumpah tak terbendung mengingat sosok Anjani. Ia dan Erlangga yatim piatu sejak kecil. Mereka tumbuh besar tanpa sosok seorang ibu, membuat ia dan kakaknya menjadi orang yang cukup kaku. Namun, semenjak kehadiran Anjani, kehidupan mereka berubah hangat. Anjani merawat Marlo seperti anaknya sendiri. Ia pun teringat kenangan kakak iparnya yang tak pernah lupa mengantar jemput dirinya ke sekolah. Anjani yang selalu membela dirinya apabila kena marah sang kakak. Anjani yang selalu membelikan baju-baju bagi Marlo yang sangat buta fashion.
Kini melihat Erlangga yang duduk tak berdaya di samping peti mati putih membuat batinnya makin tersayat-sayat.
"Saya enggak mau tahu, ya, semua bunga harus di taruh sebelah sini!" Suara seorang wanita membuat Marlo menoleh. Remaja tujuh belas tahun itu melihat Clarissa sedang membentak seorang pelayan. Ia sebenarnya ingin memaki wanita itu, berani-beraninya ia membuat keributan di masa berkabung.
Wanita cantik itu melirik Marlo dengan kesal, sudah lama ia tahu bahwa saudara iparnya itu begitu membencinya. Ia pun berlalu sedikit menjauh dari jangkauan bocah tengil, adik satu-satunya dari Erlangga sang suami.
Marlo mengamati kepergian Clarissa, suara hak sepatu wanita itu bak irama keriangan di sela sela duka keluarga Hadinegoro. Ia sangat menyesalkan keputusan sang kakak lima tahun yang lalu menikahi wanita itu. Ketika itu ia masih terlalu kecil untuk memahami bahwa kakaknya menjadi sasaran empuk setiap wanita murahan yang mencoba menjebak pria tampan dan kaya raya. Pernikahan Erlangga dengan Anjani belum juga dikaruniai momongan setelah menginjak tahun ketiga. Kehadiran Clarissa yang mengaku sedang mengandung bayi Erlangga menjadi duri dalam pernikahan mereka. Namun, kebaikan hati Anjani memaksa Erlangga untuk menerima Clarissa sebagai istri kedua, walaupun Erlangga tak pernah sedikitpun mencintai Clarissa. Anjani merawat anak Clarissa seolah-olah seperti anak kandungnya sendiri.
Kini lima tahun sudah berlalu sejak duri pernikahan Erlangga. Saat Anjani dinyatakan mengandung pada umur pernikahan delapan tahun, justru wanita itu menemui maut.
***
Marlo baru saja selesai membasuh muka di wastafel kamar mandi dekat dapur. Matanya masih merah karena terus menerus menangis di pemakaman Anjani. Semenjak siang, sepulang dari pemakaman, ia mengurung diri di ruang perpustakaan di lantai bawah. Berharap dengan menenggelamkan diri di antara tumpukan buku rasa sakit di hatinya segera hilang. Sebelum naik ke kamar, ia mengambil segelas air putih, menghabiskannya dalam beberapa tegukan.
"Saya mau terima beres, ya! Saya nggak mau dia muncul lagi di sini!" Suara Clarissa terdengar dari arah lorong menuju gudang. Sepertinya wanita itu berbicara melalui telepon yang terletak di lorong dekat gudang.
Marlo menahan kakinya yang hendak melangkah ke tangga, lalu perlahan mengendap-endap mendekati suara Clarissa berasal.
"Lima puluh juta apa masih kurang, heh? Kamu mau memeras saya?" Suara Clarissa terdengar gusar.
Marlo curiga, dengan siapa wanita itu berbicara. Ia semakin mendekat. Namun, tangannya tak sengaja menyenggol sebuah boks berisi peralatan makan dari alumunium di atas meja. Suara alat makan jatuh berkelontang di lantai membuat Clarissa tersentak dan menoleh ke arah Marlo. Wanita itu buru-buru menutup telepon.
"Sedang apa kamu di sini? Mencoba memata-matai aku?" tanya wanita berambut ikal sebahu itu.
"Sedang berbicara dengan siapa kamu?" Marlo menjawab dengan pertanyaan balik.
"Anak kecil tidak usah ikut-ikutan urusan orang dewasa!" sanggah Clarissa.
Marlo menatap tajam ke arah wanita bergaun hitam itu. Tangan wanita itu sudah mengembalikan gagang telepon ke tempat semula. Entah kenapa firasat Marlo selalu buruk apabila menyangkut Clarissa. Wanita itu memang sangat cantik. Namun, Marlo cukup bisa mengetahui jika kecantikan Clarissa tidak sebanding dengan hatinya. Anjani terlalu baik hati atau mungkin terlalu bodoh telah menerima Clarissa masuk ke dalam rumahnya.
"Kalau sampai aku menemukan bukti kamu terlibat dalam kecelakaan Kak Anjani, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu sampai ujung neraka sekalipun!" ancam Marlo.
Clarissa menatap adik iparnya dengan sengit. Ia menghembuskan napas lega saat Marlo akhirnya pergi menjauh.
***
Marlo hendak melaporkan kecurigaannya terhadap Clarissa kepada Erlangga. Kakaknya harus tahu tingkah istri keduanya. Ia memasuki ruang kerja sang kakak dan langsung syok melihat lelaki di depannya terkapar tak berdaya di lantai. Ruang kerja sang kakak yang biasanya rapi kini berantakan seperti habis diamuk badai. Tangan Erlangga menggenggam botol minuman keras. Botol minuman keras yang lain berserakan di lantai, ada tujuh botol kurang lebih. Marlo berjongkok dan menemukan kakaknya tidak sadarkan diri.
—¡Abran estas puertas! —gritó Mia a las cinco de la mañana. Se había despertado una hora antes con una sensación de malestar en el estómago. Por más que lo intentara, no podía quitársela de encima. Ahora estaba en el frío pasillo del palacio, desesperada por averiguar qué estaba sucediendo dentro de la cámara del consejo. Dos guardias cruzaron sus lanzas frente a ella. —Órdenes del consejo, Su Majestad —dijo uno de ellos—. Nadie tiene permitido entrar durante una reunión a puerta cerrada. —Soy la reina. Apártense de mi camino. —Lo siento, Su Majestad. No puedo. Mia lo miró fijamente. Clara, su doncella personal, se había pasado la mitad de la noche buscando entre registros antiguos en los archivos. Justo antes del amanecer, había encontrado una ley que podría ayudar a Mia a pasar a los guardias. Mia la había leído una y otra vez hasta aprenderse cada palabra. —Sección Cuatro de la Carta de la Corona —dijo—. La reina consorte tiene derecho a dirigirse al consejo antes d
El agua de la lluvia golpeaba el parabrisas mientras Kayleen abría de un tirón la puerta del Porsche de Adrian, se arrojaba al interior y la cerraba de golpe con la fuerza suficiente para hacer temblar la carrocería. El agua goteaba de su cabello, empapando su vestido y acumulándose en el asiento de cuero.Se metió las manos entre las rodillas para evitar que le temblaran, pero no se detenían.Adrian estaba sentado en el asiento del conductor con el motor apagado, y el tablero proyectaba un tenue resplandor verde sobre su perfil. Afuera, el muelle estaba completamente a oscuras, y el río golpeaba contra los pilotes de madera en la parte inferior.—Casi me atrapa —dijo Kayleen entre cortadas bocanadas de aire, respirando con dificultad—. Tenía el teléfono justo frente a mi cara, Adrian. El punto rojo mostraba que estuve en esa alcoba durante tres horas.Adrian no dijo ni una palabra. Solo giró la cabeza y la observó.—Tenía el pulgar debajo de mi mandíbula, clavándolo tan fuerte que pe
William estaba junto a las altas ventanas de su despacho, firmando el último documento sobre su escritorio. Ya llevaba puesto el abrigo y una maleta negra estaba junto a la puerta. Afuera, el auto lo esperaba.Mia lo observaba desde el umbral de la puerta. Había venido a preguntar sobre la ecografía de la mañana, pero se le cerró la garganta. El aire en la habitación aún estaba cargado por la discusión de ayer.William levantó la vista. “El médico confirmó tu cita para las nueve. Clara te llevará. Sin cambios”.Mia se adentró más en la habitación, cruzándose de brazos. “Te vas hoy”.“Alemania. Los contratos de Berlín se firman esta tarde. Estaré de vuelta mañana por la noche”. Cerró la carpeta y la puso a un lado. “La seguridad se mantiene duplicada mientras no esté. No des un paso fuera de la propiedad”.Ella cambió de postura. “No estoy planeando otro viaje al mercado”.“Bien”. Su voz se mantuvo completamente plana. “El médico enviará los resultados completos de la ecografía a mi te
Mia mantuvo las manos sujetas al borde del colchón. Las palabras del médico aún flotaban en la habitación.—Diez semanas —dijo ella. Su voz sonaba débil, incluso para sus propios oídos. Se miró el vientre—. Eso no puede ser correcto. Solo desperté hace unas semanas.El anciano médico cerró su maletín. —La prueba es clara, Su Majestad. Tiene diez semanas de embarazo. Las náuseas y los mareos son normales, especialmente porque no ha estado comiendo mucho.Mia apretó la tela de la cama. —¿Está seguro? ¿Hay alguna posibilidad de que sea un error?—La examiné yo mismo —dijo él suavemente—. Todo apunta a diez semanas. Quiero hacerle una ecografía adecuada mañana por la mañana para revisar al bebé.Ella miró hacia la puerta. —¿Alguien más lo sabe?—Aún no. Pero tengo que decírselo al Rey. Es mi deber.—Por favor —dijo Mia, levantando la vista—. Deme una hora. Solo una hora.El médico hizo una pausa, mirándola por un momento, y luego asintió rápidamente. —Una hora. Después tengo que informarl












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.