Renazco, Me Convierto en la Reina de un Rey Multimillonario

Renazco, Me Convierto en la Reina de un Rey Multimillonario

last updateDernière mise à jour : 2026-10-23
Par:  Pearl HartMis à jour à l'instant
Langue: Spanish
goodnovel16goodnovel
Notes insuffisantes
7Chapitres
11Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Mia Reyes nunca pidió una segunda oportunidad. En un momento era una bombera corriendo hacia las llamas. Al siguiente, abrió los ojos en un cuerpo que no era el suyo: el cuerpo de la reina Khelani, la joven esposa del frío y poderoso rey William Alexander Thorne. Él es un rey. Un multimillonario. Un hombre que gobierna tanto un reino moderno y deslumbrante como un imperio global. En público es el esposo perfecto. En privado, él decide todo. La reina original había aprendido a sobrevivir volviéndose pequeña, callada y obediente. Mia no puede. Se niega a inclinarse. Se niega a desaparecer. Pero el destino ya la ha encadenado. Está embarazada de diez semanas de su hijo. Atrapada dentro de una vida que nunca eligió, llevando un futuro que nunca fue suyo, Mia se encuentra en el centro de un palacio construido sobre el control, el deber y el poder silencioso. Cada mirada del rey se siente como una orden. Cada paso que da es vigilado. Y el niño que crece dentro de ella ya ha hecho que escapar sea imposible.

Voir plus

Chapitre 1

Hacia el fuego

Erlangga Hadinegoro, milyader gagah perkasa itu jatuh berlutut di lantai. Marlo menyaksikan sendiri, betapa kakak kandungnya yang terkenal gagah perkasa dalam dunia bisnis kini seperti hilang gelabah. Kabar yang baru saja didengar telah memporak porandakan hati dan mental lelaki empat puluh tahun itu. Anjani Hadinegoro, istri yang sangat dikasihinya, dikabarkan meninggal dunia dalam kecelakaan maut. Mobil yang ditumpangi perempuan tiga puluh tahun itu jatuh ke jurang dan terbakar habis. Lebih mengenaskan lagi, Anjani sedang mengandung anak pertamanya, buah hati yang telah dinanti hampir delapan tahun lamanya oleh pasangan milyuner itu.

Dengan tangan gemetar, Marlo mencoba menyentuh bahu kakaknya. Ia sendiri juga merasa terpukul. Anjani sudah seperti ibu baginya.

"Bang ...." Marlo berusaha meraih sang kakak.

Bahu Erlangga terguncang hebat. Tiba-tiba mata lelaki itu terlihat nyalang. Ia memandang setiap orang di sekitarnya. Semua orang kepercayaan Erlangga berkumpul di ruang kerja lelaki itu.

"Arifin!" teriaknya.

Seseorang yang dipanggil namanya itu maju ke hadapan sang atasan.

"Kamu cari di sekitar lokasi kecelakaan! istriku pasti masih hidup! Bawa semua anak buahmu! Cari sampai ketemu!" teriak Erlangga. Ia masih belum mau menerima kenyataan bahwa maut telah merenggut wanita yang sangat dicintainya.

Arifin, salah satu tangan kanan Erlangga yang sering berhubungan dengan kepolisian segera beranjak mematuhi perintah atasannya.

***

Rumah duka di kawasan pusat Ibu Kota begitu ramai oleh pelayat. Puluhan bunga papan berderet seolah menjadi gerbang sembilu bagi keluarga yang ditinggalkan. Siapa yang tak kenal dengan Erlangga Hadinegoro? Pemilik rangkaian bisnis yang melaju pesat di tahun 90-an itu adalah orang yang cukup dermawan. tak heran apabila rumah duka, persinggahan terakhir sang istri tercinta dipenuhi oleh ratusan orang dari berbagai kalangan.

Marlo berdiri di sisi peti mati sang kakak ipar yang tertutup rapat. Hasil pencarian di lokasi kejadian beberapa waktu yang lalu nihil, tidak ada jejak bahwa Anjani berhasil keluar dari mobil sebelum terbakar. Di dalam mobil yang terbakar ditemukan dua sosok mayat lelaki dan perempuan yang sudah hancur dan tidak dapat teridentifikasi. Dua jenasah tersebut kemudian ditetapkan sebagai almarhumah Nyonya Anjani dan sopirnya.

Air mata Marlo tumpah tak terbendung mengingat sosok Anjani. Ia dan Erlangga yatim piatu sejak kecil. Mereka tumbuh besar tanpa sosok seorang ibu, membuat ia dan kakaknya menjadi orang yang cukup kaku. Namun, semenjak kehadiran Anjani, kehidupan mereka berubah hangat. Anjani merawat Marlo seperti anaknya sendiri. Ia pun teringat kenangan kakak iparnya yang tak pernah lupa mengantar jemput dirinya ke sekolah. Anjani yang selalu membela dirinya apabila kena marah sang kakak. Anjani yang selalu membelikan baju-baju bagi Marlo yang sangat buta fashion.

Kini melihat Erlangga yang duduk tak berdaya di samping peti mati putih membuat batinnya makin tersayat-sayat.

"Saya enggak mau tahu, ya, semua bunga harus di taruh sebelah sini!" Suara seorang wanita membuat Marlo menoleh. Remaja tujuh belas tahun itu melihat Clarissa sedang membentak seorang pelayan. Ia sebenarnya ingin memaki wanita itu, berani-beraninya ia membuat keributan di masa berkabung.

Wanita cantik itu melirik Marlo dengan kesal, sudah lama ia tahu bahwa saudara iparnya itu begitu membencinya. Ia pun berlalu sedikit menjauh dari jangkauan bocah tengil, adik satu-satunya dari Erlangga sang suami.

Marlo mengamati kepergian Clarissa, suara hak sepatu wanita itu bak irama keriangan di sela sela duka keluarga Hadinegoro. Ia sangat menyesalkan keputusan sang kakak lima tahun yang lalu menikahi wanita itu. Ketika itu ia masih terlalu kecil untuk memahami bahwa kakaknya menjadi sasaran empuk setiap wanita murahan yang mencoba menjebak pria tampan dan kaya raya. Pernikahan Erlangga dengan Anjani belum juga dikaruniai momongan setelah menginjak tahun ketiga. Kehadiran Clarissa yang mengaku sedang mengandung bayi Erlangga menjadi duri dalam pernikahan mereka. Namun, kebaikan hati Anjani memaksa Erlangga untuk menerima Clarissa sebagai istri kedua, walaupun Erlangga tak pernah sedikitpun mencintai Clarissa. Anjani merawat anak Clarissa seolah-olah seperti anak kandungnya sendiri.

Kini lima tahun sudah berlalu sejak duri pernikahan Erlangga. Saat Anjani dinyatakan mengandung pada umur pernikahan delapan tahun, justru wanita itu menemui maut.

***

Marlo baru saja selesai membasuh muka di wastafel kamar mandi dekat dapur. Matanya masih merah karena terus menerus menangis di pemakaman Anjani. Semenjak siang, sepulang dari pemakaman, ia mengurung diri di ruang perpustakaan di lantai bawah. Berharap dengan menenggelamkan diri di antara tumpukan buku rasa sakit di hatinya segera hilang. Sebelum naik ke kamar, ia mengambil segelas air putih, menghabiskannya dalam beberapa tegukan.

"Saya mau terima beres, ya! Saya nggak mau dia muncul lagi di sini!" Suara Clarissa terdengar dari arah lorong menuju gudang. Sepertinya wanita itu berbicara melalui telepon yang terletak di lorong dekat gudang.

Marlo menahan kakinya yang hendak melangkah ke tangga, lalu perlahan mengendap-endap mendekati suara Clarissa berasal.

"Lima puluh juta apa masih kurang, heh? Kamu mau memeras saya?" Suara Clarissa terdengar gusar.

Marlo curiga, dengan siapa wanita itu berbicara. Ia semakin mendekat. Namun, tangannya tak sengaja menyenggol sebuah boks berisi peralatan makan dari alumunium di atas meja. Suara alat makan jatuh berkelontang di lantai membuat Clarissa tersentak dan menoleh ke arah Marlo. Wanita itu buru-buru menutup telepon.

"Sedang apa kamu di sini? Mencoba memata-matai aku?" tanya wanita berambut ikal sebahu itu.

"Sedang berbicara dengan siapa kamu?" Marlo menjawab dengan pertanyaan balik.

"Anak kecil tidak usah ikut-ikutan urusan orang dewasa!" sanggah Clarissa.

Marlo menatap tajam ke arah wanita bergaun hitam itu. Tangan wanita itu sudah mengembalikan gagang telepon ke tempat semula. Entah kenapa firasat Marlo selalu buruk apabila menyangkut Clarissa. Wanita itu memang sangat cantik. Namun, Marlo cukup bisa mengetahui jika kecantikan Clarissa tidak sebanding dengan hatinya. Anjani terlalu baik hati atau mungkin terlalu bodoh telah menerima Clarissa masuk ke dalam rumahnya.

"Kalau sampai aku menemukan bukti kamu terlibat dalam kecelakaan Kak Anjani, aku bersumpah tidak akan melepaskanmu sampai ujung neraka sekalipun!" ancam Marlo.

Clarissa menatap adik iparnya dengan sengit. Ia menghembuskan napas lega saat Marlo akhirnya pergi menjauh.

***

Marlo hendak melaporkan kecurigaannya terhadap Clarissa kepada Erlangga. Kakaknya harus tahu tingkah istri keduanya. Ia memasuki ruang kerja sang kakak dan langsung syok melihat lelaki di depannya terkapar tak berdaya di lantai. Ruang kerja sang kakak yang biasanya rapi kini berantakan seperti habis diamuk badai. Tangan Erlangga menggenggam botol minuman keras. Botol minuman keras yang lain berserakan di lantai, ada tujuh botol kurang lebih. Marlo berjongkok dan menemukan kakaknya tidak sadarkan diri.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.


Pas de commentaire
7
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status