Teilen

𑣲⋆ 124

last update Veröffentlichungsdatum: 06.08.2026 11:07:53

"Pak Anton, siapkan seluruh armada pengawalan sekarang," perintah Adrian tegang.

Adrian berdiri di selasar depan rumah seraya merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan cepat. Pak Anton membungkukkan badan secara hormat di hadapan Adrian dan Pak Bramanta yang berdiri tegap di sampingnya.

"Semua armada pengawalan sudah bersiaga di depan gerbang utama, Pak Adrian," pangkas Pak Anton sigap.

"Bagus sekali, pastikan berkas penetapan pemalsuan dokumen kejaksaan dibawa dengan aman," pangkas Adrian
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆ 125

    "Pihak tergugat harap segera menyerahkan dokumen penetapan kejaksaan tersebut," panggil Hakim Ketua tegas.Hakim Ketua membetulkan letak kacamatanya seraya mengetukkan palu sidang satu kali ke atas bantalan kayu. Pengacara utama Adrian langsung berdiri tegap, melangkah mendekati meja majelis hakim untuk menyerahkan berkas resmi berstempel basah."Ini berkas resmi penetapan tindak pidana pemalsuan dokumen dari Kejaksaan Tinggi, Yang Mulia," terang pengacara Adrian mantap."Terima kasih, kami akan memeriksa keabsahan dokumen ini terlebih dahulu," pangkas Hakim Ketua cermat.Majelis hakim menundukkan kepala seraya mengamati lembaran bukti pemalsuan yang diserahkan oleh tim hukum Adrian. Adrian duduk tegap di kursi tergugat seraya mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat dengan raut wajah penuh ketegangan.Pak Bramanta yang duduk di samping Adrian menancapkan gagang tongkat kayunya ke lantai marmer secara kuat. Pria tua itu melayangkan tatapan mata yang sangat dingin dan tajam menuju arah

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆ 124

    "Pak Anton, siapkan seluruh armada pengawalan sekarang," perintah Adrian tegang.Adrian berdiri di selasar depan rumah seraya merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan cepat. Pak Anton membungkukkan badan secara hormat di hadapan Adrian dan Pak Bramanta yang berdiri tegap di sampingnya."Semua armada pengawalan sudah bersiaga di depan gerbang utama, Pak Adrian," pangkas Pak Anton sigap."Bagus sekali, pastikan berkas penetapan pemalsuan dokumen kejaksaan dibawa dengan aman," pangkas Adrian gelisah.Pak Anton mengangguk mantap, lalu melangkah menuju mobil sedan hitam yang terparkir di selasar. Pak Bramanta memegang tongkat kayunya erat-erat seraya menatap anak kandungnya dengan pandangan mata penuh ketegasan."Pagi ini kita akan mengakhiri seluruh sandiwara kotor yang dimainkan oleh Shenina, Adrian," pangkas Pak Bramanta keras."Saya siap membongkar semua kebohongan perempuan itu di depan publik dan hakim, Pa," janji Adrian mantap.Sementara itu, Alina berjalan perlahan melintasi l

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆ 123

    "Alina, tolong bukakan pintunya sebentar saja," mohon Adrian iba.Adrian berdiri tegap di depan pintu kamar utama seraya mengetuk permukaan kayu jati tersebut secara perlahan. Alina yang sedang duduk di tepi ranjang memeluk Arka hanya memandangi daun pintu dengan mata sembap dan raut wajah penuh kekecewaan."Aku butuh waktu untuk sendiri malam ini, Mas Adrian," pangkas Alina dingin."Mas memohon, izinkan Mas menjelaskan seluruh masalah dokumen rahasia ini," desak Adrian cemas.Alina tidak membalas lagi ucapan suaminya, melainkan merebahkan badan Arka ke atas kasur empuk. Adrian menghembuskan napas panjang seraya menyandarkan dahinya pada permukaan pintu kayu yang terkunci rapat.Pak Bramanta berjalan pelan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menatap anaknya dengan pandangan mata prihatin dan sarat penyesalan."Biarkan Alina menenangkan pikirannya terlebih dahulu malam ini, Adrian," tegur Pak Bramanta lembut."Saya sangat takut

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆ 122

    "Tolong bukakan pintu ruang kerja sekarang, Pak Anton," panggil Adrian cemas.Adrian melangkah cepat menyusuri selasar lantai satu kediaman keluarga Bramanta seraya melonggarkan ikatan dasinya. Pak Anton melangkah mendahului Adrian, lalu memutar gagang pintu ruang kerja utama hingga terbuka lebar."Pintu ruang kerja sudah terbuka, Pak Adrian," pangkas Pak Anton sigap."Terima kasih banyak, Pak Anton," pangkas Adrian gelisah.Adrian melangkah masuk ke dalam ruang kerja, lalu menghentikan langkahnya tepat di depan meja kayu besar. Pak Bramanta berjalan masuk menyusul dari belakang seraya memegang tongkat kayunya erat-erat dengan raut wajah sangat tegang."Bagaimana situasi Alina di dalam kamar lantai dua, Pak Anton?" tanya Pak Bramanta serius."Mbak Alina masih mengunci diri bersama Arka sejak pulang dari gedung pengadilan, Pak Bramanta," lapor Pak Anton lugas.Pak Bramanta menghembuskan napas panjang seraya mendudukkan diri di sofa kulit ruang kerja. Pria tua itu menancapkan ujung tong

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆ 121

    "Mohon ketenangan di dalam ruang sidang perdata ini," tegur Hakim Ketua tegas.Hakim Ketua membetulkan posisi kacamata tebalnya seraya mengetukkan palu sidang satu kali ke atas bantalan kayu. Adrian perlahan mendudukkan kembali badannya di kursi tergugat dengan raut wajah sangat cemas."Maafkan saya, Yang Mulia," pangkas Adrian bersalah."Tolong pihak penggugat menjaga ketertiban perkataan," pangkas Hakim Ketua mantap.Hakim Ketua membaca berkas tuduhan manipulasi aset dan salinan dokumen rahasia di atas meja persidangan secara teliti. Pengacara utama Shenina berdiri tegap seraya mengacungkan berkas bukti tambahan kepada majelis hakim."Dokumen itu bukti nyata bahwa tergugat menyerobot hak milik keluarga klien kami, Yang Mulia," desak pengacara Shenina bersemangat."Kejaksaan telah membekukan seluruh aset tersebut secara sah menurut hukum negara!" bantah pengacara Adrian keras.Pak Bramanta meremas gagang tongkat kayunya seraya menatap tajam ke arah meja penggugat. Pria tua itu memiri

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆ 120

    "Jangan hiraukan desakan puluhan wartawan itu, Pak Bramanta," bisik Pak Anton sigap.Pak Anton berjalan cepat memblokir pergerakan para awak media di selasar gedung pengadilan negeri. Adrian membimbing langkah Pak Bramanta melintasi koridor utama menuju ruang sidang perdata dengan raut wajah yang sangat tegang."Lakukan pengamanan ekstra ketat di sekitar area pintu masuk ruang sidang utama, Pak Anton," pangkas Adrian gelisah."Siap, Pak Adrian, tim pengawal sudah siaga penuh di depan pintu," pangkas Pak Anton mantap.Adrian mendorong pintu kayu besar ruang sidang perdata, lalu melangkah masuk bersama sang ayah. Di seberang meja penggugat, Shenina duduk tegap didampingi tiga pengacara senior seraya melempar senyuman sinis yang meremehkan.Pak Bramanta mendudukkan diri di kursi tergugat seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai secara kuat. Pria tua itu menatap Shenina dengan pandangan mata yang sangat dingin dan memancarkan kemarahan."Perempuan tidak tahu diri itu benar-benar beran

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status