FAZER LOGIN“Cucuku sayang!” seru Nenek Aisha.
“Nenek! Seperti janjiku, aku bawain torta!” Miri melagu, merentangkan tangannya sambil berjalan ke arah sang nenek.
Baskara hanya tersenyum simpul, gemas melihat kedekatan dua perempuan lintas generasi itu.
Miri memeluk neneknya erat, merasakan tubuhnya yang kian ramp
“Gimana menurutmu? Aku harus gimana?” tanya Miri pada Kemal, menceritakan tentang sikap Bu Sara yang menentang keinginannya pergi ke Itali.Keduanya sedang bersantai di pagi hari, menikmati segelas kopi sebelum mulai persiapan memasak. Kemal menyesap kopi hitamnya dalam diam, mencerna cerita Miri.“Kesempatan ini bisa jadi hanya sekali datang untukku. Belum tentu aku punya waktu tahun depan, atau Chef Dom mengizinkanku pergi,” keluh Miri sambil bersedekap.“Mau sampai kapan kamu hidup cuma untuk bertahan dan menyenangkan orang lain, Mir?” ucap Kemal.Satu kalimat dari sahabatnya cukup membuat Miri tertampar.“Apa kamu nggak belajar dari semua yang terjadi belakangan ini? Kehilangan nenekmu. Direndahkan oleh ibunya Baskara. Belum lagi si brengsek itu masih tak nampak batang hidungnya. Hidupl
“Aku nggak bisa tidur,” gumam Miri pada dirinya sendiri.Ia berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar tamu yang gelap. Setelah makan malam dan diskusi (yang gagal) dengan ibunya, Seno menyarankan Miri untuk menginap saja. Namun, ia belum juga terbiasa dengan ranjang di rumah orang lain.Miri berbalik ke kiri dan ke kanan, mencoba berdoa dan menghitung domba, tapi kesadarannya tak kunjung memudar. Ia membuang napas panjang, bangkit dari tempat tidur. Dibukanya gorden sedikit, berharap pemandangan malam dapat menenangkan isi kepalanya.“Jihan atau Kemal masih bangun, nggak, ya?” tanya Miri, menatap layar ponselnya yang hitam.Jika ia menghubungi salah satu, bisa-bisa mereka bicara sampai jam tiga pagi. Suasana perayaan Natal dan Tahun Baru masih kental di udara, hingga setiap waktu senggang yang tersisa akan lebih baik jika digu
“Mama nggak yakin ini ide yang bagus. Kenapa kamu nggak ambil kelas online aja?” tanya Bu Sara, sambil memindai rangkaian kata pada pamflet di tangannya.Dalam perjalanannya menuju rumah Seno, Miri mengira ia akan disambut oleh sikap ceria ibunya. Seperti saat masakan buatannya tampil di menu akhir tahun, Bu Sara bereaksi seakan putri semata wayangnya baru memenangkan kejuaraan olimpiade. Jangankan mendapatkan sorakan gembira, senyuman pun tidak.Miri melemparkan pandangan ke Seno. Suami baru Bu Sara itu hanya membalas dengan senyuman tipis.“Tapi ini kesempatan untukku, Ma. Bahkan Chef Dom mengizinkan aku mengikuti kursus itu. Aku sudah mengecek situsnya, dan waktu pendaftaran peserta kursusnya terbatas. Hanya selusin orang yang bisa mendapat pelatihan khusus,” Miri coba menjelaskan.“Berapa lama kursusnya akan berlangsung?” tanya Bu Sara.Miri coba mengingat kembali. Namun, jawaban apapun yang ia berikan tak akan membuat ibunya senang.“Antara tiga sampai enam bulan,” gumam Miri, ya
TOK TOK!“Permisi, Chef,” sapa Miri.Suasana dapur Nero&Bianco masih sepi saat Miri mengetuk pintu kantor Chef Dom pagi itu. Setelah peperangan sepanjang malam kemarin, badan Miri remuk redam. Namun, panggilan dari Chef Dom selepas jam kerja tak bisa ia tolak.Untungnya, hari ini restoran baru mulai buka di atas jam makan siang. Para pekerja dapat menggunakan waktu mereka untuk beristirahat, untuk bertahan hingga akhir pekan berakhir.“Silakan masuk, Miri,” balas Chef Dom saat membuka pintu.Pria paruh baya itu tampak segar dalam balutan berpola garis biru dan celana khaki.“Maaf, ya, kamu harus datang ke restoran jam segini,” ucap Chef Dom.Ia berdiri di depan meja kerja yang berlapis cat hijau, menyandarkan punggung di tepinya. Miri meng
“Miri, kamu nggak harus menemui wanita itu kalau nggak mau,” tegur Jihan, mengikuti langkah Miri yang telah mendahuluinya.Jihan menahan lengannya, tapi Miri menampik.“Tenang aja, Jihan. Aku nggak akan kelepasan seperti terakhir kali. Emosiku sudah habis buat Amara Wibowo. Tapi … aku nggak tahu apa yang dia inginkan lagi dariku,” balas Miri tenang.“Mungkin dia hanya bosan dan mencarimu sebagai pelampiasan. Jangan sampai dia merusak suasana restoran hari ini,” sang sahabat mengingatkan.Riuh rendah suara pengunjung di area makan menyambutnya. Gumaman di antara meja terdengar menenangkan, berbaur di antara tawa dan anak kecil yang merajuk.Miri menghitung meja, melambat ketika sampai di meja nomor 21. Seorang wanita paruh baya duduk di meja yang menempel sisi dinding. Ia berkali-kali menga
“Dua set A, satu set B, Grandma’s Sbrisolona, dan canolli!” seru Chef Dom dari meja depan.“Si, va bene!” balas para koki bersahutan.Para koki di dapur Nero&Bianco dengan gesit bergerak, berkonsentrasi penuh di stasiun kerja masing-masing. Setiap tangan bekerja di antara panasnya kompor. Meja kerja berlapis metal sibuk menata salad di piring, memadukan bahan demi menyajikan menu terbaik.Teriakan dan perintah saling bersahut-sahutan. Denting panci dan wajan menyambar kompor, sutilnya beradu dan mengaduk.“Next order! Dua set A, prawn scampi dan tiga ‘Cupido’! Ayo, semangat! Malam ini baru saja dimulai!” lanjut Chef Dom berapi-api.Setiap kepala mencoba untuk tetap fokus, mengerjakan setiap pesanan satu per satu. Kualitas rasa dan tampilan dipastikan tak menurun, Chef Dom me
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan







