ログインSelepas menonton film, Miri dapat merasakan mood Baskara mulai membaik. Selama menonton, ia banyak tertawa dan menikmati adegan-adegan komedi. Keduanya juga berbagi popcorn besar yang Arman berikan.
Sekedar kompensasi karena tak sengaja menabrak Miri dan menjatuhkan popcorn yang dibeli. Saat makan malam pun, Baskara tak berhenti membicarakan film itu.
“Setelah ini
“Peluk aku, Bas,” pinta Miri.Belum juga mereka melangkah jauh ke dalam apartemen Baskara, Miri telah menuntut perhatian lebih. Bukan karena ia haus kehangatan, tapi Miri ingin mendistraksi pikirannya dari ide-ide liar yang tak mau pergi. Keduanya berpelukan di ruang tamu, dalam gelap yang menyembunyikan mereka dari dunia.Dalam pelukan Baskara, ingatannya tentang anting pink muda yang ia temukan di lantai mobil memudar. Lengan Miri memeluk pinggang Baskara lebih erat. Kecupan singkat perlahan meningkat jadi gairah.“Jangan di sini, Miri,” bisik Baskara dengan telinga memerah.“Aku nggak mau pulang hari ini,” sahut Miri.Suara-suara dunia pun teredam. Di antara desahan napas dari bibir yang
Selepas menonton film, Miri dapat merasakan mood Baskara mulai membaik. Selama menonton, ia banyak tertawa dan menikmati adegan-adegan komedi. Keduanya juga berbagi popcorn besar yang Arman berikan.Sekedar kompensasi karena tak sengaja menabrak Miri dan menjatuhkan popcorn yang dibeli. Saat makan malam pun, Baskara tak berhenti membicarakan film itu.“Setelah ini mau ke mana lagi, Sayang? Kamu bilang mau coba mampir ke toko kue yang lagi viral itu, kan?” ajak Baskara.“Beneran nih? Asyik!” seru Miri riang, mengeratkan genggaman tangannya yang menggandeng Baskara.Setelah kenyang, Miri dan Baskara beriringan menuju area parkir. Saat hendak membuka pintu, ponsel Baskara berdering. Ia membuang napas panjang saat melihat layar.
“Buat nonton nanti, aku yang beliin popcorn dan minumnya, ya, Sayang. Kan kamu udah beliin tiketnya,” kata Miri, memecah keheningan.Baskara tak menjawab. Ia sibuk menatap lurus ke depan. Kedua tangannya menggenggam kemudi erat. Miri melirik, menangkap rahang Baskara yang mengencang.Semenjak meninggalkan rumah Nenek Aisha, keduanya diam seribu bahasa. Tanpa perlu saling melempar kata, keduanya memikirkan hal yang sama.“Pokoknya kalian menikah sebelum Miri berusia 30 tahun. Masalah uang, tidak usah kalian pikirkan,” pesan Nenek Aisha saat mengantar Miri dan Baskara ke mobil.“Nek … nanti aku kirim kabar setelah kami sepakat, ya,” dalih Miri.Dalam hatinya, ia tahu tengah berbohong.
“Cucuku sayang!” seru Nenek Aisha.“Nenek! Seperti janjiku, aku bawain torta!” Miri melagu, merentangkan tangannya sambil berjalan ke arah sang nenek.Baskara hanya tersenyum simpul, gemas melihat kedekatan dua perempuan lintas generasi itu.Miri memeluk neneknya erat, merasakan tubuhnya yang kian ramping nan ringkih. Ia mengangkat kotak kuenya lebih tinggi, memamerkan hasil karyanya memanggang pagi-pagi.“Kali ini aku bawa yang coklat. Bulan kemarin kita udah makan yang lemon, kan?” sambung Miri.“Nenek nggak sabar buat nyobain. Tapi, sepertinya kamu nggak cuma bawa kue hari ini, Mir?” goda Nenek Aisha, melirik ke balik punggung cucunya.
“Apa kamu memakai setelan jas yang aku sarankan?” suara misterius itu menggelitik telinga Baskara.“Yang warna khaki, kan? Apa menurutmu ini nggak terlalu santai?” balas Baskara.Pria itu mendongak, mengamati pantulan dirinya pada kaca spion di atas dashboard. Ia menyapukan tangan pada rambutnya yang berlapis pomade. Baskara tampak rapi untuk acara di akhir pekan.Ia sedang bersiap di dalam mobil, tiba lebih awal dari waktu janjian dengan Miri. Hari ini, mereka akan mampir ke rumah Nenek Aisha. Sambil menunggu, Baskara bicara dengan Namira di telepon.“Kalau yang warna biru, kamu seperti mau meeting. Kalau warna hitam, seperti berkabung. Warna terang juga bikin kamu terlihat lebih tinggi,” Namira beralasan.
“Miri, kenalin. Ini adikku, Arman Arkani. “Arman, ini Miri. Anaknya Sara,” ucap Seno, menunjuk pria di hadapannya.‘Adik? Di mana aku pernah mendengar nama itu?’ Miri bergumam dalam hati.Pria yang duduk di seberang Seno terbatuk-batuk, menutupi mulutnya dengan serbet. Matanya liar menatap ke segala arah menghindari pandangan Miri. Daun telinganya semerah saus pasta.Arman Arkani mengangkat tangan kiri, berpura-pura mengelus pelipis untuk menyembunyikan wajahnya. Kecanggungan yang muncul di antara mereka luput dari mata Seno, yang sibuk oleh euforia karena segelas tiramisu lezat.“Silakan menikmati tiramisunya, Pak. Ini Miri yang buat,” ucap Jihan memecah keheningan.“Oh,
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







