首頁 / Romansa / Resep Cinta Miri / Bab 11. Arman Arkani

分享

Bab 11. Arman Arkani

作者: Mozze Satrio
last update publish date: 2026-06-19 09:05:18

“Siapa di situ?” teriak Miri, menegakkan diri.

“Maaf. Saya nggak bermaksud nguping,” suara seorang laki-laki membalas.

Sosok tinggi itu keluar dari kegelapan, berdiri di bawah cahaya remang-remang lampu dinding. Jas hitam membalut tubuhnya yang gagah. Kedua tangannya terangkat, seperti seorang penjahat yang tertangkap basah.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Resep Cinta Miri   Bab 148. Hari Tenang di Cucina

    “Sepertinya ada yang lagi bahagia hari ini,” celetuk seorang senior, saat Miri bekerja di dapur.“Masa sih, Kak? Biasa aja, kok,” bantah Miri, memijat sudut bibirnya yang pegal karena terangkat tinggi seharian.Lagi-lagi, Miri harus menahan diri untuk tak senyum-senyum sendiri. Di antara tugasnya mengaduk adonan dan menambahkan hiasan pada sajian dolce, sesekali ia berhenti sejenak.Miri mengatur napas, menyimpan memorinya tentang pembicaraan dengan Arman semalam. Ia harus berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas sebelum jadwal paginya berakhir.“Dolce! Dua tiramisu! Satu torta!” seru Chef Dom, dengan suara membahana yang terdengar hingga bagian belakang dapur.“Si, va bene, Chef!” Miri dan timnya kompak menjawab.Dengan gesit, Miri mengambil gelas-gelas tir

  • Resep Cinta Miri   Bab 147. Kita Ketemu di Roma

    Sesampainya di rumah, Miri merendam kakinya dalam baskom berisi air hangat dan garam. Ia memijat betisnya yang pegal, setelah mengenakan hak tinggi seharian.Satu tangannya mendekatkan ponsel di telinga, mendengarkan gumaman Arman yang takjub mendengar cerita pertemuan Miri dengan Namira.“Aku … nggak tahu harus ngomong apa. Antara takjub Namira berani melakukannya di acara reuni sekolah, atau kamu bisa menahan diri nggak menghajar dia,” gumam Arman.Miri tertawa, lalu membuang napas panjang.“Seandainya aku punya keberanian melakukan itu, mungkin aku sudah menjambaknya. Aku rasa Namira tahu aku bukan orang seperti itu, makanya ia berani mengungkapkan semuanya,” ujar Miri.Ia masih dapat mengingat jelas wajah Namira yang menyunggingkan senyum kemenangan. Bangga atas keberhasilannya merebut semua yang Miri perjuangkan.Miri tahu ia telah kalah telak.“Tapi, kamu nggak papa? Maksudku … aku tahu kamu pasti sedih dan kaget saat mendengarnya,” ucap Arman dengan nada khawatir.“Bohong kalau

  • Resep Cinta Miri   Bab 146. Kekalahan Miri

    “Miri? Hidungmu kenapa?” tanya Jihan panik, saat melihat sahabatnya muncul dengan hidung tersumpal tisu.“Aku mimisan. Udah berhenti, kok,” gumam Miri, menarik tisu keluar dari lubang hidungnya.Ia melangkah pelan menyusuri taman sekolah, tempat di mana Jihan dan Kemal menunggu di bawah pohon besar. Keduanya sedang menikmati minuman segar dan kudapan, ketika Miri muncul dengan langkah sempoyongan.Jihan menghampiri, menuntun Miri duduk di bangku kosong. Ia memaksa Miri mendongak, memastikan bahwa ia tak berbohong.“Kenapa bisa mimisan? Kejedot tembok?” tanya Kemal dengan dahi berkerut, sambil menawarkan segelas es teh.Miri tertawa dalam hati. Kalau ia bisa memilih, sakit karena berantuk dengan tembok lebih menguntungkan daripada menangis. Setidaknya, mereka bisa menertawakan kecerobohan Miri karena tak melihat dinding di depannya.Sementara tak melihat tindakan licik mantan sahabatnya membawa perih yang tak akan bisa hilang.“Aku jelasin, tapi kalian jangan marah, ya. Terutama kamu,

  • Resep Cinta Miri   Bab 145. Namira Menang

    “Kalau kamu mencari Baskara, ia tidak ada di sini. Sekarang Baskara sedang di New York, bersembunyi dari keluarganya. Bersembunyi darimu, Miri. Dia merasa gagal sebagai laki-laki,” ucap Namira enteng, menyandarkan sikunya pada dinding pagar di lantai dua.“Tapi … kenapa?” tanya Miri lirih.Miri berpegangan erat pada tali pengikat tasnya, menahan tangannya yang gemetar. Pikirannya kembali pada anting yang ia temukan di lantai mobil Baskara. Pembicaraan tentang tes DNA yang Miri dengar dari kamarnya.Semuanya terasa masuk akal dan tidak di saat yang bersamaan. Miri tak tahu harus memilih kenyataan yang mana. Apakah layak ia mempercayai Namira, orang yang berhenti bicara padanya setelah hampir 15 tahun berlalu?“Jawaban apa yang mau kamu dengar dari pertanyaanmu, Miri? Kenapa Baskara memilih pergi dan tinggal bersamaku daripada menikahimu?” tanya Namira sinis.“Kenapa kamu tega melakukan itu semua, Namira? Aku yakin banyak laki-laki lebih hebat dari Baskara yang bisa kamu pilih,” tukas Mi

  • Resep Cinta Miri   Bab 144. Kenyataan Menampar Miri

    Napas Miri ngos-ngosan saat menaiki lantai dua. Berlari dengan sepatu hak tinggi adalah ide yang bodoh. Namun, Miri harus melakukannya. Ia tak ingin kehilangan titik terakhir Namira terlihat.Di puncak tangga, Miri mengatur napas. Ia berpegangan pada lututnya yang gemetar. Di hadapannya, sebuah pintu ganda menyambut. Satu daunnya sedikit terbuka, menyisakan celah bagi Miri untuk menyusup masuk.‘Aku tidak yakin dia ada di sini. Tapi, tak ada lokasi lain di sekolah yang ia sukai,’ pikir Miri dalam hati.Sambil menahan napas, Miri melewati pintu depan perpustakaan. Di ingatan terakhirnya, ruangan itu menyambutnya dalam suasana suram. Lantai tegelnya yang kelabu dengan bercak cat permanen. Dindingnya gabungan dari beberapa warna krem yang berbeda.Semua kenangan itu sirna, berganti menjadi lantai keramik putih yang berkilau ketika disentuh cahaya. J

  • Resep Cinta Miri   Bab 143. Miri Datang ke Reuni Sekolah

    “Harus, ya, kita datang ke acara reuni begini?” keluh Kemal, menyusul langkah Jihan dan Miri melewati gerbang sekolah mereka.“Yang semangat, dong, wahai Kemal sang ‘high quality jomblo’! Kamu sendiri yang cerita kalau Lebaran nanti udah harus bawa calon, kan?” goda Jihan, menarik lengan Kemal agar berjalan lebih cepat.Miri tersenyum memandang tingkah dua orang sahabatnya. Bila dapat bicara jujur, ia akan menanyakan hal yang sama dengan Kemal. Jika bukan karena Jihan menyemangatinya untuk hadir, hari itu Miri akan tidur seharian di rumah.Jihan berjalan di tengah, merangkul lengan Miri di sisi kanan dan Kemal di kirinya. Langkahnya mantap, bersama dengan musik yang menyambut kedatangan mereka.“Cari jodoh nggak di reuni sekolah juga, sih. Yang datang juga teman-teman sendiri dan senior yang kelewat tua,” protes Kemal.“Justru itu jadi ajang yang tepat untuk menjalin silaturahmi, kan? Siapa tahu mereka bisa mengenalkanmu pada sepupu atau keponakannya,” bantah Jihan.Keduanya masih ber

  • Resep Cinta Miri   Bab 2. Kita Usahakan Restu Itu

    “Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan

  • Resep Cinta Miri   Bab 1. Kedatangan Serigala Betina

    “Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut

  • Resep Cinta Miri   Bab 6. Berita Baru Bu Sara

    “Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten

  • Resep Cinta Miri   Bab 5. Ibu Sara Baru Pulang

    “Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status