Masuk“Siapa di situ?” teriak Miri, menegakkan diri.
“Maaf. Saya nggak bermaksud nguping,” suara seorang laki-laki membalas.
Sosok tinggi itu keluar dari kegelapan, berdiri di bawah cahaya remang-remang lampu dinding. Jas hitam membalut tubuhnya yang gagah. Kedua tangannya terangkat, seperti seorang penjahat yang tertangkap basah.
![]()
Selepas menonton film, Miri dapat merasakan mood Baskara mulai membaik. Selama menonton, ia banyak tertawa dan menikmati adegan-adegan komedi. Keduanya juga berbagi popcorn besar yang Arman berikan.Sekedar kompensasi karena tak sengaja menabrak Miri dan menjatuhkan popcorn yang dibeli. Saat makan malam pun, Baskara tak berhenti membicarakan film itu.“Setelah ini mau ke mana lagi, Sayang? Kamu bilang mau coba mampir ke toko kue yang lagi viral itu, kan?” ajak Baskara.“Beneran nih? Asyik!” seru Miri riang, mengeratkan genggaman tangannya yang menggandeng Baskara.Setelah kenyang, Miri dan Baskara beriringan menuju area parkir. Saat hendak membuka pintu, ponsel Baskara berdering. Ia membuang napas panjang saat melihat layar.
“Buat nonton nanti, aku yang beliin popcorn dan minumnya, ya, Sayang. Kan kamu udah beliin tiketnya,” kata Miri, memecah keheningan.Baskara tak menjawab. Ia sibuk menatap lurus ke depan. Kedua tangannya menggenggam kemudi erat. Miri melirik, menangkap rahang Baskara yang mengencang.Semenjak meninggalkan rumah Nenek Aisha, keduanya diam seribu bahasa. Tanpa perlu saling melempar kata, keduanya memikirkan hal yang sama.“Pokoknya kalian menikah sebelum Miri berusia 30 tahun. Masalah uang, tidak usah kalian pikirkan,” pesan Nenek Aisha saat mengantar Miri dan Baskara ke mobil.“Nek … nanti aku kirim kabar setelah kami sepakat, ya,” dalih Miri.Dalam hatinya, ia tahu tengah berbohong.
“Cucuku sayang!” seru Nenek Aisha.“Nenek! Seperti janjiku, aku bawain torta!” Miri melagu, merentangkan tangannya sambil berjalan ke arah sang nenek.Baskara hanya tersenyum simpul, gemas melihat kedekatan dua perempuan lintas generasi itu.Miri memeluk neneknya erat, merasakan tubuhnya yang kian ramping nan ringkih. Ia mengangkat kotak kuenya lebih tinggi, memamerkan hasil karyanya memanggang pagi-pagi.“Kali ini aku bawa yang coklat. Bulan kemarin kita udah makan yang lemon, kan?” sambung Miri.“Nenek nggak sabar buat nyobain. Tapi, sepertinya kamu nggak cuma bawa kue hari ini, Mir?” goda Nenek Aisha, melirik ke balik punggung cucunya.
“Apa kamu memakai setelan jas yang aku sarankan?” suara misterius itu menggelitik telinga Baskara.“Yang warna khaki, kan? Apa menurutmu ini nggak terlalu santai?” balas Baskara.Pria itu mendongak, mengamati pantulan dirinya pada kaca spion di atas dashboard. Ia menyapukan tangan pada rambutnya yang berlapis pomade. Baskara tampak rapi untuk acara di akhir pekan.Ia sedang bersiap di dalam mobil, tiba lebih awal dari waktu janjian dengan Miri. Hari ini, mereka akan mampir ke rumah Nenek Aisha. Sambil menunggu, Baskara bicara dengan Namira di telepon.“Kalau yang warna biru, kamu seperti mau meeting. Kalau warna hitam, seperti berkabung. Warna terang juga bikin kamu terlihat lebih tinggi,” Namira beralasan.
“Miri, kenalin. Ini adikku, Arman Arkani. “Arman, ini Miri. Anaknya Sara,” ucap Seno, menunjuk pria di hadapannya.‘Adik? Di mana aku pernah mendengar nama itu?’ Miri bergumam dalam hati.Pria yang duduk di seberang Seno terbatuk-batuk, menutupi mulutnya dengan serbet. Matanya liar menatap ke segala arah menghindari pandangan Miri. Daun telinganya semerah saus pasta.Arman Arkani mengangkat tangan kiri, berpura-pura mengelus pelipis untuk menyembunyikan wajahnya. Kecanggungan yang muncul di antara mereka luput dari mata Seno, yang sibuk oleh euforia karena segelas tiramisu lezat.“Silakan menikmati tiramisunya, Pak. Ini Miri yang buat,” ucap Jihan memecah keheningan.“Oh,
“Lalu, seserius apa hubunganmu dengan pacar yang sekarang? Bener kalian dulu teman SMA?” tanya Arman, setelah meneguk lemon mocktail-nya.“Dulu aku punya pacar sendiri, begitupun Sara. Kami sekedar teman main, nggak pernah lebih dari itu. Aku juga udah menikah ketika aku dengar Sara punya anak,” jawab Seno.Entah karena pencahayaan restoran yang syahdu, Arman menangkap sisi lembut kakak laki-lakinya yang jarang terlihat. Air mukanya melunak, seperti remaja yang sedang jatuh cinta.Seno Narendra, seorang workaholic yang menghabiskan hidupnya berdedikasi pada pekerjaan. Bahkan mantan istrinya cemburu, menyebut pekerjaan Seno sebagai ‘istri pertama’. Di usianya yang hampir 50 tahun, ia justru menemukan cinta pertamanya.“Dibilang &l
“Selamat malam, Miri,” sapa Seno Narendra dengan senyum mengembang.“Malam, Pak–eh, Om–” balas Miri gugup.Seno Narendra tertawa kecil.
“Kamu kenapa, Man?” tanya wanita cantik itu, mendekati Arman.“Nggak papa,” balas Arman dalam tawa kering sambil mengelus tulang kering yang ditendang Miri.
“Semua orang yang kerja di properti pasti kenal Seno Narendra, Mir. Dia pemain besar di dunia konsultan,” balas Baskara penuh semangat.“Aku kan bukan orang properti. Di mataku dia ya temannya Mama,&rd
“Kalau dia bilang kamu nomor satu, berarti ada nomor dua,” ucap Kemal ketika Miri menunjukkan pesan terakhir yang ditinggalkan Baskara semalam.“Kok kamu ngomong gitu, sih?!” Miri geram.Ia memperlihatkan barisan pesan berantai yang Baskara tinggalkan kemarin. Selepas kata-kata yang menyakitkan, ada







