FAZER LOGINSesuatu yang mengintai, menunggu dalam bayang-bayang, tertarik pada kekuatan rasa yang baru saja ia bangkitkan.
Pikiran rasional Radit berusaha memberontak, mencari-cari penjelasan logis di tengah lautan teror yang mulai menenggelamkannya. Trik mata. Kelelahan ekstrem. Pantulan cahaya lampu jalan yang aneh dari kaleng kerupuk yang penyok. Ya, pasti itu. Bayangan itu hanyalah produk dari otaknya yang sudah terlalu lelah, sama seperti suara di kepalanya yang mengaku sebagai Sistem Citarasa Ilahi. Ia mencoba mengalihkan pandangannya, memaksa dirinya untuk melanjutkan pekerjaan. Ia meraih kain pel, mencelupkannya ke dalam ember, dan mulai menggosok lantai dengan gerakan kaku. Namun, matanya seperti ditarik oleh magnet tak kasat mata, terus-menerus melirik ke sudut gelap itu. Bayangan itu masih di sana. Tidak bergerak, tetapi kehadirannya terasa begitu padat, begitu nyata, seolah memiliki gravitasi sendiri yang membengkokkan ruang dan waktu di sekelilingnya. Aroma dupa itu kembali menguar, kali ini lebih pekat, menusuk hidungnya dengan bau kemenyan dan kayu cendana yang dibakar di atas arang yang terlalu panas. Bau ritual. Bau persembahan. Bau yang sama sekali tidak pantas berada di warung nasi goreng. “Cuma imajinasi… cuma imajinasi…” bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak dan gemetar. Tiba-tiba, bel kecil yang tergantung di atas pintu warungnya berdentang pelan. Sebuah bunyi yang seharusnya normal, tetapi di tengah keheningan yang mencekam ini, bunyinya terdengar seperti lonceng kematian. Radit terlonjak kaget, nyaris menjatuhkan gagang pelnya. Jantungnya serasa melompat ke tenggorokan. Ia menoleh ke arah pintu. Sosok yang masuk bukanlah pelanggan biasa yang kelaparan atau tetangga yang ingin mengobrol. Sosok ini adalah sebuah anomali, sama seperti Luna tadi malam, tetapi dengan aura yang seribu kali lebih mengintimidasi. Seorang pria berperawakan besar, nyaris mengisi seluruh kusen pintu, melangkah masuk dengan keanggunan yang aneh untuk ukuran tubuhnya. Ia mengenakan beskap berwarna hitam pekat dengan benang emas yang ditenun membentuk motif naga samar di bagian kerahnya, dipadukan dengan kain batik tulis bermotif parang rusak yang warnanya begitu dalam seolah mampu menyerap cahaya. Di kepalanya bertengger sebuah blangkon yang terpasang sempurna. Wajahnya bulat, dengan kulit sawo matang yang licin dan sepasang mata kecil yang berkilau tajam di bawah alis yang tebal. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya. Matanya dingin, analitis, dan kuno—seperti mata seekor buaya purba yang sedang mengamati mangsanya. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer warung. Udara yang tadi dingin karena teror supernatural, kini terasa berat dan menyesakkan, seolah pria itu membawa medan gravitasinya sendiri. Aroma dupa yang tadi samar kini menjadi begitu kuat, seolah sumbernya adalah pria itu sendiri. “Selamat malam, Anak Muda,” sapanya. Suaranya dalam, berat, dan beresonansi seperti gilingan batu, setiap katanya diucapkan dengan artikulasi yang lambat dan penuh wibawa. Radit hanya bisa mengangguk kaku, lidahnya kelu. “Se-selamat malam, Pak. Maaf, warung sudah tutup.” Pria itu mengabaikan ucapan Radit. Matanya menyapu sekeliling warung dengan tatapan menilai. Namun, tidak seperti Luna yang menunjukkan sedikit ekspresi jijik, pria ini justru tersenyum lebih lebar. Seolah ia melihat sesuatu yang ia kenali, sesuatu yang ia pahami, di tengah kekumuhan ini. “Tutup untuk manusia, mungkin,” gumamnya lebih pada diri sendiri, sebelum matanya akhirnya berhenti dan terkunci pada Radit. “Tapi energi yang terpancar dari tempat ini… wah, ini baru saja terbuka lebar.” Radit menelan ludah. “Energi? Maksud Bapak?” “Jangan pura-pura tidak tahu, Nak,” kata pria itu, melangkah lebih dekat. Setiap langkahnya nyaris tak bersuara. “Aku sudah berkeliling puluhan tahun, mencicipi ribuan rasa. Tapi aroma yang lahir dari tempat ini semalam… itu bukan sekadar aroma masakan. Itu adalah sebuah panggilan. Sebuah suar yang menyala di tengah kegelapan.” Jantung Radit berdebar semakin kencang. Orang ini tahu. Tapi bagaimana? “Saya… saya tidak mengerti, Pak. Saya cuma tukang nasi goreng biasa,” dalih Radit, suaranya nyaris berbisik. Pria itu tertawa kecil, suara tawanya serak dan dalam. “Biasa? Anak muda, buaya tidak akan pernah menyebut dirinya buaya. Ia hanya diam di dalam air, menunggu. Kau punya kekuatan di dalam tanganmu. Kekuatan rasa yang murni. Kekuatan yang bisa menarik perhatian dari dua dunia.” Ia mengendus udara dalam-dalam. “Dan kau sudah menggunakannya. Kau sudah memberi makan ‘mereka’ yang menunggu di persimpangan.” Darah serasa surut dari wajah Radit. Setiap kata pria itu adalah konfirmasi dari mimpi buruknya. Ia bukan sekadar berhalusinasi. Semua ini nyata. Dan pria di hadapannya ini, entah bagaimana, adalah bagian dari dunia gila itu. “Si-siapa Bapak?” tanya Radit, akhirnya berhasil mengeluarkan pertanyaan yang paling penting. Pria itu tersenyum lagi, kali ini senyumnya menunjukkan deretan gigi yang rapi namun berwarna kekuningan karena tembakau. “Orang-orang memanggilku banyak nama. Tapi kau, kau bisa memanggilku Ki Gendeng.” Nama itu sendiri sudah cukup membuat bulu kuduk Radit meremang. “Aku datang bukan untuk mengganggumu, Nak Radit,” lanjut Ki Gendeng, menyebut nama Radit seolah mereka sudah lama saling kenal. “Aku datang untuk menawarkan bantuan. Kesuksesan mendadak seperti yang kau alami ini selalu membawa dua hal: rezeki dan dengki. Rezeki dari yang terlihat, dengki dari yang tak terlihat. Kau sudah memberi makan yang satu, tapi kau belum punya pagar untuk melindungi diri dari yang lain.” “Pagar?” ulang Radit bingung. “Perlindungan spiritual,” jelas Ki Gendeng sabar. “Warungmu ini sekarang seperti rumah tanpa pintu. Aromanya mengundang siapa saja untuk masuk. Yang baik, dan yang… lapar. Seperti yang bersembunyi di sudut sana.” Ki Gendeng melirik sekilas ke arah sudut gelap tempat bayangan aneh itu berada. Seketika, bayangan itu bergetar hebat seolah tersengat listrik, lalu lenyap ditelan kegelapan, meninggalkan sudut itu kembali normal. Radit terkesiap, matanya membelalak ngeri. Bayangan itu nyata, dan pria ini baru saja mengusirnya hanya dengan lirikan mata. “Lihat, kan?” kata Ki Gendeng tenang. “Mereka tertarik pada sumber kekuatan. Kau butuh penjaga.” Radit mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding. Otaknya berputar kencang. Ia tidak mau berurusan dengan hal-hal seperti ini. Cukup sudah ritual persembahan semalam membuatnya trauma. Tapi pria ini jelas memiliki kekuatan nyata. Menolaknya bisa jadi lebih berbahaya. “Saya… saya tidak punya uang untuk hal-hal seperti itu, Ki,” jawab Radit jujur, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal. Ki Gendeng terkekeh. “Aku tidak butuh uangmu, Nak. Anggap saja ini investasi. Aku suka melihat bibit-bibit unggul sepertimu tumbuh. Dunia kuliner butuh lebih banyak ‘rasa’ yang jujur, bukan?” Kata ‘jujur’ diucapkannya dengan penekanan aneh yang membuat Radit merasa tidak nyaman. Tanpa menunggu persetujuan Radit, Ki Gendeng merogoh saku beskapnya dan mengeluarkan sebuah kantung kecil dari kain beludru hitam. Ia membukanya dan menuangkan isinya ke telapak tangannya. Garam kasar. “Ini,” katanya, menyodorkan tangannya yang penuh garam ke hadapan Radit. “Garam ini sudah kubacakan doa-doa penolak bala. Taburkan sedikit di setiap sudut warungmu setiap pagi sebelum buka. Ini akan menyaring energi yang masuk. Hanya pelanggan yang berniat baik yang akan merasa nyaman untuk datang.” Radit menatap garam di telapak tangan Ki Gendeng dengan ragu. Terlihat seperti garam biasa. Tapi instingnya berteriak untuk tidak menyentuhnya. “Ambillah,” desak Ki Gendeng, suaranya kini sedikit lebih tegas. Dengan tangan gemetar, Radit menadahkan tangannya. Ki Gendeng menuangkan garam itu dari tangannya ke tangan Radit. Seketika, saat butiran-butiran garam itu menyentuh kulitnya, sebuah gelombang dingin yang menjijikkan menjalari lengan Radit, menusuk hingga ke tulang. Bukan sekadar mual. Ini adalah penolakan fundamental dari setiap sel di tubuhnya. Rasanya seperti memegang abu dari sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada, dingin, mati, dan penuh dengan niat buruk yang tersembunyi. Aroma dupa yang tadi pekat kini bercampur dengan bau anyir yang samar, seperti darah yang mulai mengering. Radit nyaris menjatuhkan garam itu, tetapi tatapan tajam Ki Gendeng menguncinya. “Jaga baik-baik, Nak,” kata Ki Gendeng. “Itu adalah kunci kemakmuranmu selanjutnya. Aku akan datang lagi nanti untuk melihat perkembanganmu.” Ki Gendeng berbalik, jubahnya berdesir pelan, dan melangkah keluar dari warung, lenyap ditelan kegelapan malam secepat ia muncul. Bel di pintu kembali berdentang, menandai kepergiannya. Radit berdiri membeku, menatap garam terkutuk di tangannya. Napasnya terengah-engah. Ia ingin segera membuangnya, mencuci tangannya sampai bersih. Namun sebelum ia sempat bergerak, suara notifikasi yang familier berbunyi di kepalanya. Layar holografik biru menyala di hadapannya dengan cahaya yang panik dan tidak stabil, menampilkan teks berwarna merah darah yang berkedip-kedip. [PERINGATAN! KONTAMINASI SPIRITUAL ASING TERDETEKSI PADA PENGGUNA!] [ANALISIS OBJEK… GAGAL! ENERGI TERLALU KORUP!] [INTEGRITAS SISTEM CITARASA ILAHI TERANCAM… MEMULAI PROTOKOL PERTAHANAN DARURAT…]“Drian… gue butuh bantuan lo.” Suara Radit serak, seutas tali yang nyaris putus oleh beban yang tak terlihat. Di seberangnya, Luna menggenggam cangkir tehnya yang mendingin, jemarinya memutih, matanya terpaku pada suaminya. “Ini bukan soal kompetisi. Bukan soal resep. Ini soal… logika. Soal sebuah sistem.”Di ujung telepon, keheningan sejenak. Radit bisa membayangkan Adrian di apartemennya yang minimalis, mungkin sedang menyesap segelas anggur mahal, keningnya berkerut dalam analisis dingin. “Sistem?” ulang Adrian, nadanya tajam, memotong semua basa-basi. “Sistem yang sama yang membuat nasi gorengmu dulu terasa seperti dicuri dari surga?”“Ya,” desis Radit. “Dan sekarang… sistem itu mencoba menginstal dirinya pada Maya.”Hening lagi, kali ini lebih lama. Radit bisa mendengar desah napas Adrian yang teratur, suara otaknya yang berputar. Ini adalah pertaruhan terakhirnya. Adrian adalah satu-satunya orang di dunia yang pernah mencoba memahami kekuatannya dari sudut pandang teknis, bukan
Presisi adalah kunci. Dunia yang tadinya hangat dan riuh oleh canda tawa seketika membeku. Kata-kata itu, diucapkan dengan kejernihan teknis yang mengerikan dari bibir seorang anak berusia lima tahun, adalah sebuah jangkar yang dilempar dari masa lalu kelam Radit, menyeretnya kembali ke kedalaman teror yang ia kira telah ia tinggalkan selamanya. Spatula di tangan Radit terasa sedingin es. Gelak tawa para pelanggan yang tersisa lenyap, digantikan oleh keheningan yang canggung dan penuh tanda tanya. Pak Tarno, yang tadi bertanya, hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. “Presisi?” ulangnya dengan bingung, menatap Maya yang masih asyik mewarnai seolah baru saja mengomentari cuaca. “Anak pinter, ya, Kang. Istilahnya sudah kayak chef di tipi.” Radit merasakan tatapan Luna menusuk punggungnya, tajam dan waspada. Ia harus bergerak. Sekarang. Kepanikan adalah api yang akan membakar mereka semua. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, Radit memaksakan sebuah tawa, suara serak yang terd
Ping![Resep ‘Nasi Goreng Imut’ telah dipelajari. Potensi Baru Ditemukan. Memulai Pemasangan Sistem Citarasa Ilahi versi 2.0 pada host yang kompatibel…]Gema itu, suara dingin tanpa nyawa yang telah menjadi hantu di masa lalunya, kembali bergema di dalam tengkorak Radit. Bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai kehadiran aktif yang menusuk dan nyata. ‘Nasi Golem Imut’ di lidahnya yang tadinya hanya terasa seperti kekacauan cinta seorang anak, kini berubah menjadi abu. Seluruh semesta Radit, yang tadinya seluas dapur rumah yang hangat, kini menyusut menjadi satu titik teror yang membekukan: mata putrinya.Cahaya biru yang redup itu kembali berkedip sesaat di dalam iris hitam Maya, begitu cepat hingga bisa disalahartikan sebagai pantulan lampu. Namun, Radit tahu. Ia pernah hidup dengan cahaya itu, bertarung dengannya, dan akhirnya berdamai dengannya. Itu adalah cahaya dari penjara tanpa jeruji, dari anugerah yang sekaligus kutukan.“Ayah? Kok diem?” Suara Maya yang cempreng menariknya
Hiduplah selamanya dalam dunia yang hambar dan tanpa aroma.Kalimat itu bukan lagi sekadar ancaman; ia adalah sebuah semesta yang runtuh. Bagi Radit, dunia tanpa rasa adalah neraka yang paling personal, sebuah penjara yang dindingnya terbuat dari ketiadaan. Semua perjuangannya, semua kemenangannya, semua penemuannya—semuanya bermuara pada satu titik: indra perasa. Dan kini, sang penagih utang purba datang untuk merenggutnya, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai pembayaran lunas atas warisan yang telah ia selamatkan.Keheningan malam dipecah oleh suara serangga malam dan desau angin yang membawa bau sampah dari ujung jalan. Namun, di dalam lingkaran tak kasatmata di sekeliling warung tenda itu, hanya ada keheningan yang memekakkan. Radit menatap pria tua itu, sang penjaga perjanjian, yang duduk dengan punggung lurus, wajah keriputnya setenang batu kali yang telah diamplas oleh aliran sungai selama ribuan tahun.“Jadi… ini akhirnya,” bisik Radit, bukan pada pria itu, melainkan pada
Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, aroma ozon dan listrik statis yang samar menguar darinya. Ia berbisik tepat di telinga Radit, kata-katanya setajam pecahan kaca.“Kelaparan Purba adalah bug yang berhasil kami karantina. Sekarang, saatnya mengambil kembali properti kami. Sudah waktunya… untuk mencabut pemasangan Sistem dari hardware aslinya.”Dunia Radit tidak meledak. Ia tidak runtuh. Ia hanya berhenti. Suara tepuk tangan yang menggema di Istana Negara terasa datang dari balik lapisan kaca tebal, teredam dan tidak nyata. Lencana emas di dadanya yang tadinya terasa berat kini tak terasa sama sekali. Seluruh perjalanannya—kegagalan, kebangkitan, pertarungan melawan dukun, persembahan pada Ratu Laut Selatan, hingga kemenangan melawan korporasi global—semua itu tereduksi menjadi satu kata yang dingin dan kejam: uji coba.Ia bukan pahlawan. Ia bukan pewaris. Ia hanyalah hardware. Sebuah prosesor organik yang dipinjam untuk menjalankan sebuah program.“Siapa… kalian?” bisik Radi
“Kenal sekali,” katanya dengan suara yang tiba-tiba kehilangan keramahannya, berganti menjadi sesuatu yang lebih dalam dan menagih. “Kakekmu itu… dia masih punya utang satu persembahan padaku.”Dunia Radit yang baru saja terasa lapang dan ringan kembali menyusut, terkompresi oleh satu kalimat itu. Angin sore yang tadinya sejuk kini terasa membawa hawa dingin dari liang lahad. Pria tua di hadapannya bukan lagi sekadar penjaga makam. Posturnya yang sedikit membungkuk kini terasa tegak, capingnya membayangi wajah yang dipenuhi keriput-keriput kuno, seolah setiap garisnya adalah peta dari zaman yang telah lama terlupakan.“Utang… persembahan apa?” tanya Radit, suaranya keluar lebih sebagai desisan. Ia tanpa sadar mengambil setengah langkah mundur, tangannya siap meraih apa pun yang bisa dijadikan senjata, meski ia tahu itu sia-sia.Pria tua itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Radit, matanya yang kelam seperti sumur tanpa dasar, memindai sesuatu di dalam diri Radit yang tak kasatmata. “Su







