MasukTanpa membalas godaan Kakeknya, Zayne berbalik dan langsung mengambil langkah lebar setengah berlari menerobos pintu VVIP. Pria itu memotong jalur tangga darurat dengan dada bergemuruh penuh amarah. Masa bodoh dengan taruhan Kakek, ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menyentuh wanitanya!Di tengah lantai dansa, pria itu menyunggingkan senyum lebar, merangkul pinggang Sora dan hendak menariknya ke dalam putaran dansa.SREK!Zayne mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan tenaga yang kuat hingga sang pria terdorong mundur dan meringis kesakitan.Sebelum Sora sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ditarik paksa ke dalam pelukan dada bidang Zayne. Aroma khasnya yang menenangkan seketika melingkupi Sora.Zayne mengunci pinggang Sora dengan lengannya yang kokoh, mengambil alih posisi tepat saat musik waltz bertempo lambat mulai mengalun.Lampu sorot mengunci pergerakan mereka berdua di tengah lantai dansa. Para tamu bersorak meriah, mengira Zayne adalah pasangan
Sora yang mendengar penuturan Kakek Zayne hanya bisa tertunduk lesu. Ia tidak bisa mengelak apapun, karena menurutnya ia masih memiliki banyak kekurangan jika disandingkan sebagai asisten pribadi Zayne. Sementara itu Zayne cuma bergeming dengan raut datar. "Sora, kamu tunggu di balkon luar sebentar ya. Aku mau bicara sama Kakek kaku ini," ujar Zayne, seraya mengelus pelan jemari Sora. Sora mengangguk sopan. “Saya permisi dulu, Ketua,” ucapnya lalu melangkah keluar. Pintu tebal itu tertutup rapat. Kakek menyandarkan punggungnya, menatap Zayne sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Asisten biasa, hm? Kakek tahu cara matamu memandangnya saat masuk tadi. Kau tidak mungkin membawa wanita sembarangan ke ruangan ini." Zayne berdiri tegap. Jemarinya merapikan ujung jasnya dengan santai, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. "Sora bukan sekadar asisten pribadiku, Kek," potong Zayne langsung, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak. "Dia wanita yang aku
Bibir Sora mengatup rapat, matanya membelalak menatap Zayne yang masih berjarak amat dekat darinya. Bisikan atasannya tadi sukses membuat debaran di dadanya kian bergemuruh tak terkendali."Zayne... jangan bercanda," cicit Sora pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. "Acara Kakek itu sangat penting. Kamu sendiri padahal yang bilang kalau ini perintah. Kalau kita tidak datang—"Zayne mengikis jarak, terkekeh rendah seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Sora, menggenggamnya hangat. "Aku tidak pernah bercanda soal kamu, Sora. Tapi tenang saja... aku tahu kapan harus mengalah."Zayne mengusap punggung tangan Sora dengan ibu jarinya, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Ayo. Nanti kita terlambat."***Sedan hitam Zayne berhenti tepat di pelataran karpet merah Grand Ballroom hotel bintang lima milik Nareshwara Group. Kilatan lampu warna warni dan alunan musik instrumental menyambut kedatangan mereka.Zayne turun terlebih dahulu, membukakan pintu, lalu mengulurkan tanga
Senin siang di kantor pusat Nareshwara Group. Suasana di area kubikel mendadak bising. Bisik-bisik antusias merayap di setiap sudut ruangan, terutama di deretan meja Divisi Perencanaan Bisnis. Rumor mengenai siapa saja yang berhak memegang kartu akses ke pesta ulang tahun Ketua Besar Nareshwara nanti malam sudah merebak luas sejak jam makan siang tadi."Serius, tahun ini cuma eksekutif sama staf pilihan yang dapet!" bisik Rika pada Nadia yang sedang merapikan riasan tipis di mejanya. "Masuk ke ballroom pestanya aja udah kayak mimpi. Dengar-dengar sih pesta ulang tahun Ketua Besar tahun ini dibikin jauh lebih megah dari tahun lalu!"Nadia hanya tersenyum tipis dan anggun, mengatupkan cermin kecilnya dengan tenang. "Acara keluarga Nareshwara memang selalu berkelas, Rika. Nggak sembarang orang bisa berbaur di sana."Sora yang baru saja selesai mencetak beberapa lembar berkas draf laporan berjalan melewati kubikel divisi tersebut dengan tenang.Langkah Sora terhenti di depan meja kerjan
Dion melangkah maju dua tapak, mengabaikan cengkeraman tangan Vivianne di lengannya. Matanya yang merah menatap Sora dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat dress mahal yang melekat sempurna di tubuh wanita itu, tatanan rambutnya yang anggun, serta deretan tas belanjaan merek terkemuka yang bertumpuk di dekat meja. "Sora..." Dion menelan ludah kasar. Suaranya serak, penuh gejolak emosi yang bercampur aduk. "Kamu... kamu benar-benar pindah ke tempat pria ini? Secepat ini kamu menjual dirimu hanya demi harta, Sora?!" Plak! Suara itu tidak datang dari tamparan, melainkan dari dentang nyaring gelas kristal yang diletakkan Zayne secara perlahan di atas meja marmer. Gerakannya sangat tenang, namun gema suaranya cukup untuk memotong kalimat Dion secara telak. Zayne bersedekap dada, bersandar santai di kursinya. Aura dingin dan dominan yang menguar dari tubuhnya seketika menekan atmosfer di sekitar meja mereka. "Jaga mulut kamu, Dion," potong Zayne datar. Suaranya tidak keras, t
Namun Zayne benar-benar bebal. Pria itu seolah tuli, malah makin mengeratkan genggamannya di pinggang Sora dari belakang dan melanjutkan ciuman hangatnya di tengkuk wanita itu, membuat persendian Sora mendadak lemas tak berdaya. Mata Sora sampai berkaca-kaca karena kewalahan. Antara malu, jantungan, dan gelombang desiran hebat yang tak sanggup ia pangkas, Sora merasa matanya mulai memanas. Bagaimana jika pegawai butik datang dan memergoki mereka berdua sekarang? Pekik Sora dalam hati. Mau ditaruh mana mukanya? "Zayne, tolong… berhentilah..." bisik Sora jujur dengan nada merengek yang sangat pasrah, matanya sudah berkaca-kaca menatap bayangan Zayne di cermin. Zayne sendiri justru menikmati Sora yang pasrah dalam dekapannya. Apalagi nada memohon yang keluar dari bibir perempuan itu malah makin memantik gairahnya. “Zayne… kumohon... berhenti, ya. “ Pria itu akhirnya memandang Sora dari cermin. Terlihat mata Sora yang kini sudah menggenang air mata dan bibirnya yang melengku







