Chapter: "Mana Papa?"Empat tahun berlalu dengan tenang. Kini William Green sudah berada dalam masa kanak-kanak. Florence tidak pernah melarang anaknya untuk bermain dengan teman seusianya. "Mama, apa aku tidak punya Papa?" tanya William kecil yang membuat Florence menghentikan aktivitas memasaknya. Sebenarnya Florence sangat tahu diri bahwa pertanyaan polos itu tidak salah dan suatu saat putranya itu akan menanyakannya. Namun, siapa sangka saat ini, ketika pertanyaan itu lolos dari bibir anaknya yang masih balita membuatnya tanpa sadar menggigit bibir dengan keras. Jangan menunjukkan emosi kesedihan, Florence! teriaknya dalam hati. Florence menoleh. Bisa ia lihat bekas air mata di pipi William kecil yang membuatnya kembali teriris. "Kenapa kamu menanyakannya, Sayang?" "Kata teman-teman aku dibuang Papa. Jadi mereka ngga mau main sama aku." Florence dengan langkah pasti langsung memeluk putranya. Ia tidak bisa membayangkan seberapa hancur perasaan anaknya sekarang. Ia merasa sudah gagal menjadi seora
Terakhir Diperbarui: 2026-08-05
Chapter: Tunas Barulima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: PelarianSesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan
Terakhir Diperbarui: 2026-04-05
Chapter: Pengakuan DosaFlorence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg
Terakhir Diperbarui: 2026-04-04
Chapter: Keputusasaan yang MenyiksaSisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal
Terakhir Diperbarui: 2026-04-03
Chapter: Pertumpahan DarahDuke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di
Terakhir Diperbarui: 2026-04-03
Chapter: Bab 48: Kesempatan dalam KesempitanMobil milik Zayne melesat kencang membelah jalanan malam, dan begitu tiba di basement apartemen pribadinya, pria itu tidak memberi Sora waktu sedetik pun untuk bernapas lega.Begitu pintu apartemen tertutup rapat dan terkunci dari dalam, Zayne langsung merengkuh pinggang Sora. Tanpa aba-aba, pria itu menghempaskan tubuh Sora lembut ke dinding lorong masuk yang dingin. Jas tegap yang tadinya menutupi bahu Sora melorot jatuh ke lantai.Bibir Zayne langsung membara, menuntut ciuman liar dan dalam yang langsung merampas sisa oksigen di paru-paru Sora. Tangan besar Zayne meremas pinggulnya, menarik tubuh mereka agar melekat tanpa celah, sementara ciuman itu turun merayap panas ke leher dan rahang Sora. Sensasi basah dan gigitan-gigitan kecil yang sensual membuat lutut Sora lemas seketika.Sentuhan panas itu membakar habis kewarasan Sora. Namun, di tengah kepungan gairah yang memuncak, otak pragmatis Sora berputar cepat. Jika dia terus terbawa arus malam ini, dia hanya akan menjadi wanita
Terakhir Diperbarui: 2026-10-25
Chapter: 47: Terikat Utang, Terkunci HakPintu tebal lounge VIP itu terbuka lebar. Tanpa memedulikan tatapan canggung dan gelisah dari ajudan pribadi yang berdiri kaku di luar pintu, Zayne menggandeng erat tangan Sora yang terbungkus jas besarnya. Pria itu melangkah tegas membelah lorong privat menuju area VVIP di lantai dua."Pak Zayne? Ketua Besar menunggu Anda di—""Aku tahu," potong Zayne dingin tanpa menghentikan langkah kakinya sedikit pun.Jas hitam Zayne terpasang rapi di bahu Sora, menutupi gaun yang agak berantakan. Zayne sengaja membiarkan leher mulus wanita itu yang dihiasi jejak kemerahan hangat terpampang nyata. Sora yang masih lemas hanya bisa pasrah terseret langkah lebar Zayne, kepalanya masih berdenyut pusing akibat sisa gairah dan oksigen yang rasanya belum sepenuhnya kembali ke otaknya.BAM.Pintu ruang VVIP terdorong terbuka. Kakek yang sedang duduk menyandar pada tongkat kayunya mendongak, diapit oleh beberapa pengawal dan ajudan. Matanya menyipit tajam, lalu kekehan rendah yang dingin lolos dari bibi
Terakhir Diperbarui: 2026-10-18
Chapter: 46: Konsekuensi Panas di Balik Pintu TerkunciMata kelabu Zayne berkilat gelap. Tanpa membuang waktu, tangannya merayap ke pergelangan tangan Sora, merenggut kasar gelang pintar bersinar hologram itu lalu melempar benda itu sembarangan ke atas karpet tebal.TAK."Persetan dengan uang lima milyar, Sora," bisik Zayne tajam.Tangan kanannya yang hangat dan besar kembali menyusup cepat ke belakang tengkuk Sora, meremas lembut helai rambutnya dan mendongakkan wajah wanita itu. Tanpa penyesalan, Zayne menurunkan sedikit gaun malam Sora ke bawah.Dengan gemas pria itu meremas lembut puncak kembar di tubuh Sora yang terekspos di balik kain tipis.Bibir Zayne mendarat panas, melempar ciuman-ciuman kelaparan dari rahang turun ke ceruk leher, lalu menyesap kuat kulit mulus di atas belahan kembar perempuan itu."Nghh... Z-Zayne..." cicit Sora terengah, dadanya membumbung naik saat lidah dan bibir Zayne memberi gigitan-gigitan kecil yang sensual di sana. Sensasi terbakar menyengat hingga ke ujung jemari kakinya.Sora sendiri tak kuasa menahan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-18
Chapter: 45: Terbakar CemburuTanpa membalas godaan Kakeknya, Zayne berbalik dan langsung mengambil langkah lebar setengah berlari menerobos pintu VVIP. Pria itu memotong jalur tangga darurat dengan dada bergemuruh penuh amarah. Masa bodoh dengan taruhan Kakek, ia tidak akan pernah membiarkan pria mana pun menyentuh wanitanya!Di tengah lantai dansa, pria itu menyunggingkan senyum lebar, merangkul pinggang Sora dan hendak menariknya ke dalam putaran dansa.SREK!Zayne mencengkeram pergelangan tangan pria asing itu dengan tenaga yang kuat hingga sang pria terdorong mundur dan meringis kesakitan.Sebelum Sora sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya ditarik paksa ke dalam pelukan dada bidang Zayne. Aroma khasnya yang menenangkan seketika melingkupi Sora.Zayne mengunci pinggang Sora dengan lengannya yang kokoh, mengambil alih posisi tepat saat musik waltz bertempo lambat mulai mengalun.Lampu sorot mengunci pergerakan mereka berdua di tengah lantai dansa. Para tamu bersorak meriah, mengira Zayne adalah pasangan
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03
Chapter: 44: Match the CodeSora yang mendengar penuturan Kakek Zayne hanya bisa tertunduk lesu. Ia tidak bisa mengelak apapun, karena menurutnya ia masih memiliki banyak kekurangan jika disandingkan sebagai asisten pribadi Zayne. Sementara itu Zayne cuma bergeming dengan raut datar. "Sora, kamu tunggu di balkon luar sebentar ya. Aku mau bicara sama Kakek kaku ini," ujar Zayne, seraya mengelus pelan jemari Sora. Sora mengangguk sopan. “Saya permisi dulu, Ketua,” ucapnya lalu melangkah keluar. Pintu tebal itu tertutup rapat. Kakek menyandarkan punggungnya, menatap Zayne sambil mengetukkan tongkatnya ke lantai. "Asisten biasa, hm? Kakek tahu cara matamu memandangnya saat masuk tadi. Kau tidak mungkin membawa wanita sembarangan ke ruangan ini." Zayne berdiri tegap. Jemarinya merapikan ujung jasnya dengan santai, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tertandingi. "Sora bukan sekadar asisten pribadiku, Kek," potong Zayne langsung, suaranya terdengar sangat tajam dan mutlak. "Dia wanita yang aku
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03
Chapter: 43: Hinaan Dari KakekBibir Sora mengatup rapat, matanya membelalak menatap Zayne yang masih berjarak amat dekat darinya. Bisikan atasannya tadi sukses membuat debaran di dadanya kian bergemuruh tak terkendali."Zayne... jangan bercanda," cicit Sora pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya sendiri. "Acara Kakek itu sangat penting. Kamu sendiri padahal yang bilang kalau ini perintah. Kalau kita tidak datang—"Zayne mengikis jarak, terkekeh rendah seraya menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari Sora, menggenggamnya hangat. "Aku tidak pernah bercanda soal kamu, Sora. Tapi tenang saja... aku tahu kapan harus mengalah."Zayne mengusap punggung tangan Sora dengan ibu jarinya, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Ayo. Nanti kita terlambat."***Sedan hitam Zayne berhenti tepat di pelataran karpet merah Grand Ballroom hotel bintang lima milik Nareshwara Group. Kilatan lampu warna warni dan alunan musik instrumental menyambut kedatangan mereka.Zayne turun terlebih dahulu, membukakan pintu, lalu mengulurkan tanga
Terakhir Diperbarui: 2026-10-03