Chapter: Bab 24"Kenapa Pak Zayne bilang aku pacar Bapak?" tanya Sora penasaran begitu mereka berjalan meninggalkan gadis berseragam sekolah tadi. Zayne melirik Sora santai, memasukkan satu tangannya ke saku celana. "Biar dia cepat pergi. Saya tidak nyaman diajak bicara sama orang asing, apalagi kalau bukan kamu." Jawaban santai namun tajam itu membuat dada Sora berdesir hangat. Pipinya mendadak merona merah, namun ia memilih diam dan pura-pura sibuk memandangi jajaran mesin permainan di sekitar mereka. Langkah mereka terhenti di depan sebuah wahana Basketball Shootout pasangan—permainan lempar bola basket dua ring yang skornya diakumulasikan bersama untuk mendapatkan hadiah utama di bagian atas rak display. Zayne menunjuk sebuah boneka beruang cokelat berukuran sangat besar yang berdiri gagah di rak paling atas. "Kamu suka beruang?" Sora menoleh, matanya berbinar melihat boneka jumbo itu. "Suka! Lucu banget, Pak." "Sini," panggil Zayne seraya melambaikan tangan, melipat lengan kemeja putihnya
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: Bab 23Mobil sedan hitam Zayne membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang tenang, Sora melempar pandangannya keluar jendela. Langkah keputusannya meninggalkan kamar rawat Dion tadi masih menyisakan sedikit desiran lega di dadanya. Saat mobil melintasi pusat perbelanjaan di pinggir jalan raya, mata Sora tak sengaja menangkap papan lampu neon besar di lantai dua bangunan tersebut. Suara samar denting permainan dan warna-warni lampu bertuliskan Arcade Zone terlihat jelas dari kaca mobil. Sora menahan pandangannya di sana beberapa detik. "Pak Zayne... pernah ke tempat seperti itu?" tanya Sora tiba-tiba, menunjuk ke arah papan lampu neon tersebut. Zayne melirik sekilas lewat kaca spion tengah. "Tempat permainan? Belum pernah. Terlalu berisik." Sora tersenyum kaku lalu cepat-cepat menarik pandangannya. "Ah... begitu, ya. Yasudah, Pak, tidak jadi. Lain kali mungkin aku bisa pergi sendiri saja. Takutnya Pak Zayne nggak nyaman." Zayne tak membalas ucapan itu. Namun, detik berikutnya,
Terakhir Diperbarui: 2026-09-10
Chapter: BAB 22Lewat celah sempit itu, pemandangan di dalam kamar terpampang jelas. Dion bersandar di bantal dengan tangan digips, sementara Vivianne duduk di tepi kasur, menundukkan tubuhnya rapat-rapat. Kedua orang itu sedang berciuman dengan sangat mesra dan intens. Nyuutttt. Jantung Sora mencelos. Ingatan kelam itu seketika berputar hebat di kepalanya—malam pertama saat Dion terpergok berselingkuh dengan Vivianne. Sensasi sesak, hancur, dan dikhianati yang dulu pernah merobek dadanya kembali membakar ingatan Sora. Melihat bahu Sora yang mendadak kaku dan napasnya yang tertahan, Zayne secara refleks mengulurkan telapak tangannya untuk menutup mata Sora. "Tidak perlu melihatnya," bisik Zayne di belakang punggung Sora. Namun, Sora tidak ingin membiarkan dirinya larut dan tenggelam dalam kelemahan masa lalu. Dengan gerakan mantap dan tegas, Sora menepis lembut tangan Zayne dari matanya. Ia menatap Zayne dengan binar mata yang kini berkilat penuh keberanian. "Saya tidak apa-apa, Pak Zay
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: BAB 21"Sayang, kamu sudah makan belum? Wajahmu pucat sekali lho ini," ujar Vivianne manja, menyentuh kening Dion yang dibalut perban. Dion menggeleng lemah, melirik jijik pada nampan bubur rumah sakit di atas meja. "Belum. Makanan di sini rasanya seperti kertas basah. Aku lagi pengen makan sup iga." "Aduh, tapi kan jauh dari sini, Sayang? Kalau pesan online gimana? Mau nggak, Sayang?" tanya Vivianne. "Nanti dingin dong," jawab Dion dengan nada manja. Sora menghela napas. Rasanya melihat pasangan di depannya ini membuat tensi darahnya naik seketika. "Aku saja yang pergi membelinya," sela Sora tenang seraya merapikan tali tas di bahunya. "Aku naik taksi ke sana. Supnya bisa dibungkus pakai wadah pemanas." Dion tersentak pelan. Pria itu menatap Sora sejenak—sadar betul bahwa wanita itu masih mengingat jelas restoran favoritnya—sebelum akhirnya membuang muka gengsi. "Terserah kamu." "Nah, gitu dong! Bagus kalau peka. Cepat ya, Sora!" seru Vivianne senang. Sora hanya mengangguk ti
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: BAB 20Suara sirine ambulans menggelegar menembus riuhnya lokasi syuting. Di tengah kerumunan kru yang panik, Vivianne meraung-raung histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Beberapa staf terpaksa memegangi bahunya agar wanita itu tidak pingsan."Dion! Dion, kamu tidak apa-apa kan?! Sayang, jawab aku!" jerit Vivianne dengan suara serak menahan tangis.Saat petugas medis hendak menutup pintu belakang ambulans, Vivianne merangsek maju. "Saya ikut! Saya pacarnya!""Maaf, hanya keluarga atau yang punya wewenang resmi saja yang boleh mendampingi pasien," tahan salah satu petugas tegas.Para kru menoleh pada Sora yang berdiri kaku di samping tandu. "Mbak Sora ini manajernya, kan? Ayo cepat naik!"Vivianne membelalak, hendak protes, namun pintu ambulans keburu ditutup rapat.Di dalam mobil yang melaju kencang, Sora duduk menatap Dion yang tak sadarkan diri di atas tandu. Napas Dion terengah pelan di balik masker oksigen. Sora mengusap jemarinya yang dingin dan gemetar hebat. I
Terakhir Diperbarui: 2026-09-08
Chapter: BAB 19Dion masih menatap Sora menuntut, rahangnya mengatup rapat menantikan jawaban. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas panas Dion menyapu kulit wajah Sora.Kemudian terdengar suara ketukan sepatu dari luar pintu."Mas Dion kemana, ya? Kok tiba-tiba hilang sih. Takut banget sutradara ngamuk lagi ke kita.""Amit-amit! Eh ini ada pintu. Siapa tahu dia di dalam.""Ketuk pintunya, coba."Tok! Tok! Tok!"Mas Dion? Apa ada di dalam? Ayo siap-siap, sepuluh menit lagi adegan lompat mau diambil!" teriakan salah satu kru dari luar koridor seketika memotong ketegangan di antara mereka.Sora mendadak menahan napas. Lidahnya kelu, dadanya naik-turun menahan ketakutan luar biasa jika ada kru yang tahu ia berdua di ruang kosong ini bersama Dion. Bisa habis reputasinya jika sampai tersebar rumor aneh.Dion memutar bola matanya kesal, lalu mendengus kasar. Pria itu mengikis jarak terakhir, berbisik tepat di samping telinga Sora. "Urusan kita belum selesai."Klek.Dion membuka pintu, lalu melang
Terakhir Diperbarui: 2026-09-08
Chapter: "Mana Papa?"Empat tahun berlalu dengan tenang. Kini William Green sudah berada dalam masa kanak-kanak. Florence tidak pernah melarang anaknya untuk bermain dengan teman seusianya. "Mama, apa aku tidak punya Papa?" tanya William kecil yang membuat Florence menghentikan aktivitas memasaknya. Sebenarnya Florence sangat tahu diri bahwa pertanyaan polos itu tidak salah dan suatu saat putranya itu akan menanyakannya. Namun, siapa sangka saat ini, ketika pertanyaan itu lolos dari bibir anaknya yang masih balita membuatnya tanpa sadar menggigit bibir dengan keras. Jangan menunjukkan emosi kesedihan, Florence! teriaknya dalam hati. Florence menoleh. Bisa ia lihat bekas air mata di pipi William kecil yang membuatnya kembali teriris. "Kenapa kamu menanyakannya, Sayang?" "Kata teman-teman aku dibuang Papa. Jadi mereka ngga mau main sama aku." Florence dengan langkah pasti langsung memeluk putranya. Ia tidak bisa membayangkan seberapa hancur perasaan anaknya sekarang. Ia merasa sudah gagal menjadi seora
Terakhir Diperbarui: 2026-08-05
Chapter: Tunas Barulima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup
Terakhir Diperbarui: 2026-04-09
Chapter: PelarianSesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan
Terakhir Diperbarui: 2026-04-05
Chapter: Pengakuan DosaFlorence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg
Terakhir Diperbarui: 2026-04-04
Chapter: Keputusasaan yang MenyiksaSisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal
Terakhir Diperbarui: 2026-04-03
Chapter: Pertumpahan DarahDuke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di
Terakhir Diperbarui: 2026-04-03