author-banner
arctrs_
arctrs_
Author

Novels by arctrs_

Resign! Bosku Menolak Melepaskanku

Resign! Bosku Menolak Melepaskanku

Sembilan tahun Sora mendedikasikan hidup dan kariernya demi pria yang ia cintai. Namun, semuanya hancur dalam satu malam ketika ia memergoki sang kekasih bercumbu dengan wanita lain. Dalam kondisi mabuk dan dikuasai amarah, Sora mendatangi kantor dan tanpa sengaja menyiram Zayne, bosnya yang terkenal dingin. Tak disangka, pria itu justru menatapnya tenang saat mantan kekasihnya menginjaknya, sebelum berkata, “Terima kasih sudah melepaskannya karena kesalahanmu sendiri. Sekarang, Sora milik saya. Dan yang sudah kamu lepaskan, tidak bisa kamu ambil kembali."
Read
Chapter: BAB 20
Suara sirine ambulans menggelegar menembus riuhnya lokasi syuting. Di tengah kerumunan kru yang panik, Vivianne meraung-raung histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar. Beberapa staf terpaksa memegangi bahunya agar wanita itu tidak pingsan."Dion! Dion, kamu tidak apa-apa kan?! Sayang, jawab aku!" jerit Vivianne dengan suara serak menahan tangis.Saat petugas medis hendak menutup pintu belakang ambulans, Vivianne merangsek maju. "Saya ikut! Saya pacarnya!""Maaf, hanya keluarga atau yang punya wewenang resmi saja yang boleh mendampingi pasien," tahan salah satu petugas tegas.Para kru menoleh pada Sora yang berdiri kaku di samping tandu. "Mbak Sora ini manajernya, kan? Ayo cepat naik!"Vivianne membelalak, hendak protes, namun pintu ambulans keburu ditutup rapat.Di dalam mobil yang melaju kencang, Sora duduk menatap Dion yang tak sadarkan diri di atas tandu. Napas Dion terengah pelan di balik masker oksigen. Sora mengusap jemarinya yang dingin dan gemetar hebat. I
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 19
Dion masih menatap Sora menuntut, rahangnya mengatup rapat menantikan jawaban. Jarak mereka begitu dekat hingga hembusan napas panas Dion menyapu kulit wajah Sora.Kemudian terdengar suara ketukan sepatu dari luar pintu."Mas Dion kemana, ya? Kok tiba-tiba hilang sih. Takut banget sutradara ngamuk lagi ke kita.""Amit-amit! Eh ini ada pintu. Siapa tahu dia di dalam.""Ketuk pintunya, coba."Tok! Tok! Tok!"Mas Dion? Apa ada di dalam? Ayo siap-siap, sepuluh menit lagi adegan lompat mau diambil!" teriakan salah satu kru dari luar koridor seketika memotong ketegangan di antara mereka.Sora mendadak menahan napas. Lidahnya kelu, dadanya naik-turun menahan ketakutan luar biasa jika ada kru yang tahu ia berdua di ruang kosong ini bersama Dion. Bisa habis reputasinya jika sampai tersebar rumor aneh.Dion memutar bola matanya kesal, lalu mendengus kasar. Pria itu mengikis jarak terakhir, berbisik tepat di samping telinga Sora. "Urusan kita belum selesai."Klek.Dion membuka pintu, lalu melang
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 18
"Kalau kamu terus menatap saya seperti itu... saya tidak jamin bisa membuktikan kalau pesanan tadi memang cuma kesalahpahaman." Bukannya takut atau salah tingkah, kekehan pelan justru lolos dari bibir Sora. Wanita itu mendongak, menatap Zayne dengan binar mata jenaka yang terang-terangan meremehkan. "Ah, mana mungkin Pak Zayne berani?" goda Sora santai seraya menyilangkan tangan di dada. "Atasan dingin dan rasional seperti Pak Zayne mana mungkin godaannya cuma sekelas keranjang murahan begini? Apalagi sama saya..." Sora tidak sadar bahwa ia baru saja menarik pelatuk yang salah. Selama ini Zayne sudah mati-matian menahan diri—sejak mereka menginjakkan kaki di kamar ini, apalagi saat melihat Sora keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan leher jenjang yang terekspos. Dan kini, wanita itu justru terang-terangan menantangnya. Greb! Sebelum Sora sempat menyelesaikan tawa kecilnya, jemari tegap Zayne sudah mencengkeram lembut pinggangnya dan menarik tubuh wanita itu dalam satu g
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: BAB 17
Setelah menyetir selama sepuluh menit dengan pandangan mata seadanya, mereka akhirnya melihat sebuah penginapan tiga lantai di samping jalan. Mereka berdua keluar dari mobil. "Hati-hati, ini licin," ujar Zayne seraya mengulurkan tangannya untuk Sora genggam. Sora menyambut niat baik Zayne. Mereka akhirnya berdiri di depan resepsionis. Seorang ibu paruh baya penjaga bernapas berat menatap mereka yang basah kuyup bagai dua ekor anak kucing tenggelam. Zayne mendekat. "Saya pesan dua kamar VIP untuk kami berdua untuk semalam." "Mohon maaf, tinggal satu kamar VIP yang sedia, Tuan dan Nyonya. Kamar mandi dalam, kasurnya king size. Bagaimana?" tanya penjaga itu santai. "Satu?" Sora dan Zayne berseru kompak. Zayne berdehem keras, kembali memasang wajah dinginnya. "Tidak ada kamar lain? Saya bisa bayar dua kali lipat." "Mau bayar sepuluh kali lipat juga kamarnya cuma tinggal itu, Tuan. Kalau ndak mau, ya silakan tidur di mobil. Apalagi cuaca sedang buruk sekali dan akan berakhir b
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: BAB 16
Di luar ruangan, Zayne yang bersandar di dinding koridor langsung menegakkan badannya begitu melihat Sora keluar. Zayne membeku. Aura di sekitar pria itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya. "Sora," panggil Zayne dengan suara rendah yang tertahan. Namun tampaknya Sora tak mengindahkannya dan pergi meninggalkannya. "Mau kemana?" Tangan Zayne terulur, begitu ia berhasil mendekati Sora. Perempuan itu membuang muka ke arah bawah sehingga Zayne menyentuh dagu Sora dan membuat perempuan itu membalas tatapannya. Namun, pandangannya seketika mengunci jejak kemerahan yang begitu jelas di pipi kiri wanita itu. Zayne membeku. Aura di sekitar pria itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya. Jemarinya yang hangat menyentuh lembut rahang Sora, mendongakkan wajahnya agar bisa melihat bekas tamparan itu lebih jelas. "Pipimu... kenapa memerah gini?" tanya Zayne seraya mengelus bekas tamparan itu. "Urgh," ringis Sora pelan, berusaha menelan sakitnya. Z
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: BAB 15
"I-Ibu...? Kecelakaan? Bagaimana bisa?" Mata Sora membelalak sempurna. Lidahnya mendadak kelu, dan kesadarannya serasa ditarik paksa dari ruangan itu. Keputusasaan di seberang sana bertransformasi menjadi panik yang murni menyelimuti benak Sora. "Baiklah, aku... aku balik sekarang!" seru Sora cepat sebelum sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh ibunya. Sora buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan tangan yang bergetar hebat. Gerakannya terburu-buru hingga beberapa barang di dalam tasnya sempat tersenggol jatuh. Ia mendongak, menatap Zayne dengan raut pucat pasi. "Pak Zayne, maaf sekali... saya harus izin pulang sekarang," pamit Sora dengan napas yang tak teratur sambil memungut barangnya yang terjatuh di lantai. Zayne yang sejak tadi mengamati reaksi Sora langsung beranjak dari kursinya. "Kenapa? Ada apa dengan ibumu?" "Ibu... Ibu kecelakaan. Katanya kritis dan hampir meninggal," bisik Sora ragu, berusaha menahan tangis yang mendesak keluar. "Aku harus ke ru
Last Updated: 2026-09-05
Di Atas Ranjang Duke Cassian

Di Atas Ranjang Duke Cassian

Dikirim sebagai pengantin pengganti, Florence tahu dirinya hanyalah pion dalam konspirasi antara dua kerajaan yang bermusuhan. Sebagai si kembar dengan label "kutukan" yang disembunyikan sejak lahir, ia menggantikan sang kakak yang merupakan seorang "berkat" untuk dinikahkan pada Duke Cassian of Silverhood, seorang panglima perang yang membenci keberadaannya.
Read
Chapter: "Mana Papa?"
Empat tahun berlalu dengan tenang. Kini William Green sudah berada dalam masa kanak-kanak. Florence tidak pernah melarang anaknya untuk bermain dengan teman seusianya. "Mama, apa aku tidak punya Papa?" tanya William kecil yang membuat Florence menghentikan aktivitas memasaknya. Sebenarnya Florence sangat tahu diri bahwa pertanyaan polos itu tidak salah dan suatu saat putranya itu akan menanyakannya. Namun, siapa sangka saat ini, ketika pertanyaan itu lolos dari bibir anaknya yang masih balita membuatnya tanpa sadar menggigit bibir dengan keras. Jangan menunjukkan emosi kesedihan, Florence! teriaknya dalam hati. Florence menoleh. Bisa ia lihat bekas air mata di pipi William kecil yang membuatnya kembali teriris. "Kenapa kamu menanyakannya, Sayang?" "Kata teman-teman aku dibuang Papa. Jadi mereka ngga mau main sama aku." Florence dengan langkah pasti langsung memeluk putranya. Ia tidak bisa membayangkan seberapa hancur perasaan anaknya sekarang. Ia merasa sudah gagal menjadi seora
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: Tunas Baru
lima bulan telah berlalu. Selama hidup di Oakhaven, Florence merasa hidupnya lebih tenteram. Walaupun dalam sudut hatinya kosong, asalkan anak dalam kandungannya aman, Florence rasa itu sudah cukup untuk sekarang. "Jangan memaksakan dirimu, istirahatlah." Sebuah suara dari belakang membuat Florence menoleh sebentar. Blake baru saja pulang dari pasar membawa sekarung beras beserta ikan segar. Florence tersenyum samar, kemudian kembali memusatkan dirinya untuk menumbuk beberapa dedaunan herbal. "Ini tinggal beberapa pesanan obat lagi. Berhentilah khawatir," balas Florence dengan ringan. Blake lalu menurunkan karung beras dari pundaknya ke lantai dapur. Ia lalu berjalan menuju bak air untuk mencuci ikan. Florence mengamati Blake dalam diam. Selama mereka di Oakhaven, Blake selalu membawakan bahan makanan untuk Florence dan Elara–anak perempuan yang ia selamatkan dari Ordo Sanctus. Florence dan Blake memutuskan untuk pisah rumah, mengingat mereka pendatang baru di sini. Walaup
Last Updated: 2026-04-09
Chapter: Pelarian
Sesuai dengan rencana pelarian mereka, Blake membawa Florence melintasi samudera menuju Kepulauan Oakhaven, sebuah wilayah pesisir terpencil di ujung benua yang dikelilingi kabut tebal dan hutan cemara. Di sana, hukum kerajaan Aethelgard maupun Ironhard hanyalah dongeng jauh yang tak berani menyentuh daratannya. Mereka menetap di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir tebing yang menghadap ke laut lepas. Di malam pertama mereka tiba, suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan emosional Florence. Florence duduk di depan perapian yang menyala, memeluk secangkir teh hangat dengan tangan yang masih gemetar. Blake berdiri di dekat jendela, matanya tetap siaga mengawasi kegelapan hutan di luar, namun hatinya tertuju sepenuhnya pada wanita yang tampak begitu rapuh di depannya. "Blake..." suara Florence memecah kesunyian, parau dan penuh luka. "Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya." Blake berbalik, menatap Florence dengan
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: Pengakuan Dosa
Florence mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit sel yang dingin dan lembap telah berganti menjadi atap kayu tua yang rendah. Suara derit jeruji besi pun menghilang, digantikan oleh suara api yang berderak pelan di tungku kecil. Ia berusaha bangkit, namun kepalanya masih terasa sangat berat akibat sisa obat tidur yang disuntikkan sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di penjara bawah tanah, melainkan di sebuah pondok kecil yang sangat tersembunyi. "Kau sudah bangun?" Florence menoleh. Di sudut ruangan yang remang, seorang wanita berdiri dengan jubah hitam yang menutupi gaun mewahnya. Saat wanita itu mendekat ke cahaya lampu minyak, jantung Florence seolah berhenti. Wajah itu... wajah yang selama ini ia lihat di cermin setiap pagi. "Clarice?" bisik Florence parau. "Iya, ini aku," sahut Clarice dengan nada yang bergetar. Ia tidak berani menatap mata Florence secara langsung. Di samping Clarice, berdiri Blake yang tampak siaga dengan pedang di pingg
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: Keputusasaan yang Menyiksa
Sisa-sisa pemberontak mulai melarikan diri ke arah tebing, namun Duke Cassian tidak membiarkan mereka lolos begitu saja. Ia memacu kudanya dengan beringas; tak ingin menyisakan satu mulut pun yang berani mencoreng kehormatan istrinya."Yang Mulia, tunggu! Itu terlalu berbahaya!" peringat salah satu pengawal dari kejauhan.Duke Cassian tuli terhadap peringatan itu. Ia terus memacu derap langkah kudanya melewati jembatan kayu sempit yang membelah jurang Stonegate. Namun, tepat saat kaki kudanya menginjak bagian tengah jembatan, sebuah ledakan hebat mengguncang fondasi kayu tersebut.BOOM!Bubuk mesiu yang telah ditanam secara rahasia oleh para pemberontak meledak tepat di bawahnya. Lidah api membubung tinggi, melahap struktur jembatan dalam sekejap. Duke Cassian terjebak di tengah kobaran yang meruntuhkan segalanya. Kudanya meringkik ngeri sebelum akhirnya mereka terperosok ke dalam jurang salju yang tak berdasar.Tubuh Cassian menghantam bebatuan tajam sebelum akhirnya tenggelam di bal
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Pertumpahan Darah
Duke Cassian memacu kudanya di garis paling depan. Setiap hentakan tapal kuda yang menghantam tanah salju di perbatasan Stonegate terdengar seperti detak jantung yang memburu. Perbatasan antara Kerajaan Aethelgard dan Ironhard ini tampak begitu suram di bawah langit yang mendung. Dasar keparat! Kutuk Duke Cassian di pertengahan. Pikirannya berkecamuk. Wilayah Stonegate ini selalu saja menjadi duri dalam daging. Ia merasa geram karena para penduduk di sini seolah menutup mata atas kebaikan Florence yang pernah berkunjung ke sini sebagai Duchess Silverhood. Sekarang, mereka justru membalasnya dengan pemberontakan keji, hanya karena termakan fitnah murah bahwa Duchess mereka terlibat dalam kejahatan Ordo Sanctus. Begitu Duke Cassian tiba di titik pertemuan, langkah kudanya terhenti. Di depannya, barisan manusia bertopeng dengan parang yang berkilat di tangan mereka sudah bersiaga. Jumlah mereka tak main-main. Kurang lebih lima puluh orang. Itu adalah angka yang cukup menekan jika di
Last Updated: 2026-04-03
You May Also Like
Pria milik 'ARANA'
Pria milik 'ARANA'
Romansa · Eljanes Crocus
3.9K views
ZORA Pupus Sebelum Mekar
ZORA Pupus Sebelum Mekar
Romansa · Binar Kekasih
3.9K views
TAKDIRKU ADALAH KAMU
TAKDIRKU ADALAH KAMU
Romansa · Senja Kelabu
3.9K views
Hey, 381 (I Love You)
Hey, 381 (I Love You)
Romansa · Chocochick
3.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status