LOGINNadia stood before the towering windows of the Alpha's bedroom, staring out at the endless forests. The bed was still warm and lingered with both their scents, but the Alpha said, "It's over. And now, I reject you as my mate." She suppressed a hollow ache in her chest, but it was futile. After all, she was only Lucian's temporary mate. As a healer, Nadia could weave the moonlight to imbue gems with her spiritual energy, and she saved her Alpha's life, the man she loved secretly for over 10 years. Her mysterious bloodline had been silently guarding his pack, but it wasn't enough. In the end, everything she did paled beside the primal call of the Alpha's True Mate...
View More[Terima kasih cincinnya, Dewa. Ngomong-ngomong, kapan kamu menceraikan dia?]
Jantung Rosalyn seketika merosot setelah membaca pesan di ponsel sang suami, dari seseorang wanita yang sudah jadi duri dalam pernikahannya. Dadanya semakin sakit seperti tertusuk ribuan jarum ketika melihat foto profil wanita itu. Di foto itu terlihat sang wanita sedang memamerkan cincin berlian yang melingkar elok di jari manis. "Jadi, cincin itu untuknya?" Rosalyn mungkin terlalu polos. Semula, ia pikir Dewa mengingat hari ulang tahunnya dan telah menyiapkan sebuah kado berupa cincin berlian. Namun, kini ia tahu ... Cincin itu untuk wanita kedua suaminya. Rosalyn meremas ponsel milik suaminya. Bibirnya melengkungkan senyum nelangsa. Mata almondnya memandang nanar sertifikat cincin yang ia temukan diantara tumpukan pakaian. “Apa yang kamu lakukan?” Tiba-tiba suara dingin seorang pria menusuk gendang telinga Rosalyn dan membuyarkan lamunan. “Ada pesan di ponselmu," tutur Rosalyn lemah, dengan suara yang bergetar menahan tangis. Andai suaminya peka, pria itu pasti menemukan jika Rosalyn tengah memikul rasa kecewa. Dewa menyipitkan kelopak mata dan menatap penuh intimidasi kepada Rosalyn. Pria itu berujar penuh penekanan, “Siapa kamu berani memeriksa ponselku?” Siapa? Batin Rosalyn mencelos mendengarnya. Sang suami seolah lupa jika mereka memang pasangan suami istri empat tahun ini. Meski begitu, hubungan mereka memang tak seperti pasangan pada umumnya. Dewa melarangnya menyentuh ponsel pria itu. Inilah kali pertama Rosalyn menemukan ponsel sang suami ketika ia sedang membereskan koper milik Dewa. Saat itulah, ponsel tersebut menyala, menampilkan sebuah pesan menyakitkan untuknya. "Kembalikan." Dewa meraih ponsel dari tangan Rosalyn dengan kasar dan segera memeriksa ponselnya dengan raut antusias. “Kamu memberikan dia cincin. Apa itu artinya … kalian sudah bertunangan?” tanya Rosalyn. Ia memandang nanar tubuh atletis yang terbalut handuk putih di hadapannya. Rosalyn berharap suaminya menyanggah dan menjelaskan bahwa ini hanya salah paham. Namun, sorot mata tajam Dewa seakan memberitahu hal yang sebaliknya. Sebelah sudut bibir Dewa berkedut samar. Ia menjawab dengan enteng, “Bukan urusanmu.” Seketika, Rosalyn mereguk saliva yang mengiris kerongkongannya. Ia menyahut dengan suara tercekat, “Aku masih istrimu, kalau kamu lupa.” Ia tahu, pernikahan mereka tidak berlandaskan cinta, melainkan perjodohan. Atau lebih tepatnya, Rosalyn dijadikan pelunas hutang ayahnya pada keluarga Dewa. Berbeda dengan Rosalyn yang mencoba belajar mencintai Dewa dan mengabdi sebagai istri, suaminya tak terlihat melakukan hal yang sama. Rosalyn juga tahu, kalau pria itu memiliki tujuan lain menerima perjodohan itu. Karena nyatanya, selama empat tahun bersama, pria itu bahkan terus memperlakukan Rosalyn dengan dingin, meski mereka tak jarang bertukar kehangatan di malam hari. “Lalu, untuk apa lagi pernikahan ini, Dewa!” Bibir Rosalyn gemetar ketika mengatakannya. Seketika Dewa tergelak. Kemudian pria itu mengangkat dagu menunjukkan sisi dominasi. "Menghukummu, tentu saja." Rosalyn lalu menundukkan kepala sambil meremas setiap jemarinya, menahan tangis lebih kuat. Ia menjawab dengan suara sengau, “Belum cukup kamu menyiksaku selama ini?” “Bahkan semua itu masih belum cukup jika dibandingkan luka yang kamu berikan pada Vinsensia.” Ucapan pria itu bagai belati yang menghujam lubuk hati Rosalyn. Vinsensia adalah kekasih Dewa, duri dalam pernikahan mereka. Empat tahun lalu, Dewa menuduh Rosalyn menjadi dalang atas skandal yang dilakukan Vinsensia. Wanita itu kepergok sedang memadu kasih dengan seorang pria yang tidak lain adalah kakak Rosalyn. Berulang kali Rosalyn berusaha menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah. Akan tetapi, ia kalah sebab tidak memiliki bukti apa pun. "Berapa kali harus kukatakan, kalau bukan aku pelakunya!" tantang Rosalyn. Dewa memangkas jarak, merengkuh pinggang kurus Rosalyn lalu menjepit dagu lancipnya. “Kamu memang pembohong ulung, Rosalyn." Mengangkat sebelah alis, Dewa kembali berujar dengan mata yang menggelap. “Aku tidak akan pernah lupa, kalau kamulah penyebab wanita yang kucintai kehilangan masa depannya.” Manik abu-abu Dewa berkilat serta deru napasnya terdengar kasar. Bahkan ia meremas kuat pinggang Rosalyn hingga wanita itu meringis. Tubuh Rosalyn bergetar. Setelah skandal itu yang juga membuat Vinsensia kehilangan rahimnya karena kekerasan yang dilakukan kakaknya, inilah kali pertama ia melihat kemarahan Dewa memuncak lagi. Rosalyn memejamkan mata dan menggeleng lemah, membuat air mata kian menganak sungai di pipi putihnya. Ia memberanikan diri untuk mengelak lagi, “Aku bukan wanita seperti itu.” "Benarkah?" Dewa kembali mencibir. Ia menyeringai dan melekatkan hidung mancungnya dengan pipi mulus Rosalyn. "Aku bisa melakukan apa pun untuk mendapatkan kemauanku, sama seperti dirimu." Srak- Kemudian, suara robekan baju terdengar nyaring. Tubuh Rosalyn yang semula diselimuti piyama bertali tipis, kini terekspos bebas. Tidak memberikan jeda, tubuh polos Rosalyn langsung didorong kasar ke atas ranjang, disusul cumbuan rakus di sekujur tubuh yang membuat wanita itu protes. “Dewa jangan!” tolak Rosalyn. Ia tahu, hukuman apa yang akan diberikan Dewa untuk membuatnya semakin 'tidak berarti'. Tanpa bisa berontak lagi, pria itu pun pada akhirnya menyatukan tubuh mereka tanpa aba-aba, membuat Rosalyn merasakan sakit luar biasa. Isakan Rosalyn bagai melodi yang justru membuat pria itu semakin berhasrat. Hingga kemudian, pria itu akan berhenti ketika ia telah mencapai puncak. Rosalyn membuang muka mana kala manik abu-abu milik Dewa menatapnya lekat. Dengan napas yang masih berderu cepat, pria itu berkata, "Kamu memang berhasil menjadi istriku." Dewa menyeka air mata Rosalyn. "Tapi, jangan harap kamu akan mendapatkan hatiku!" bisiknya penuh penekanan. Kelopak mata Rosalyn bergetar. Perasaan wanita itu sudah hancur lebur. “Kalau begitu, kenapa tidak angkat saja rahimku supaya aku bernasib sama dengan kekasihmu?” Ia meraih satu tangan suaminya dan menaruh di atas perut. "Bukankah kamu juga tidak menginginkan anak dariku?!" Dewa menarik kasar tangannya dari atas perut Rosalyn. Sementara, Rosalyn mengernyit, heran. Semua yang ia ucapkan adalah benar, tetapi entah mengapa tatapan mata Dewa justru menyiratkan pria itu tidak terima. Bagaimana mungkin Rosalyn salah mengartikan, jika empat tahun mereka menikah, suaminya lebih sering menggunakan pengaman. Walaupun, beberapa minggu lalu Dewa tidak mengenakannya seperti saat ini. Rosalyn menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya kala Dewa beranjak. Ketika pria itu hendak melangkah menuju kamar mandi ... Rosalyn dengan suara bergetar, tetapi penuh tekad itu berujar. "Ceraikan saja aku, Dewa."Lucian didn't push for answers. He figured the old man was just in a good mood and wanted to throw a few compliments his way, so he let it go.By 7:00 PM, Lucian arrived at Reid's villa.Before he stepped inside, the sound of laughter drifted through the air. As he crossed the foyer, the first one he saw was Nadia. Her face lit up with a genuine smile—the kind he rarely saw lately."As long as you and Lucian are doing well, I'm happy," Reid was saying, his eyes crinkling. "I think things are finally getting better."Devin nodded in agreement while Carlie worked in the kitchen, a rare treat."Lucian? Why are you just standing there?" Reid waved him over.As Lucian joined them, Reid poured him a cup of coffee. Lucian glanced at Nadia, then looked at his grandfather."Grandpa, I think Nadia's upset that I went public with the marriage. She won't even look me in the eye."Nadia stared at him, stunned. This side of Lucian was
"Alpha Lucian, it's getting worse," Andrew's voice crackled through the phone, clear enough for Nadia to hear every word."It's not just the rumors about Leo anymore. Someone released a statement claiming Luna Nadia is dating several guys at the same time."Nadia stared blankly at Lucian.The room fell into a heavy silence. She wanted to explain, but the words died in her throat.Lucian's brow furrowed at her silence."Nothing to say to me?" he asked."Would you even believe me?" she countered, her gaze turning stubborn as their eyes locked.Nadia called Leo. "Don't go out today, the paparazzi are at the gate.""Do you want me to say anything to them?" Leo asked, sounding groggy."No," she said firmly. "Anything you say now will just get twisted."Leo didn't like the idea, but knowing Lucian was involved, he eventually agreed.Later, Nadia stood outside Lucian's study, her hand trembling on the doorknob.
"I haven't got the chance to bring it up." Nadia breathed, her back pressed against the cold marble vanity."Haven't got the chance, or you don't want to?" Lucian countered, his towering frame casting a shadow over her.Nadia met his gaze, trying to keep her voice steady. "He said I don't have a boyfriend, and I don't. Right?""...""You're my mate, Lucian. Not my boyfriend. Isn't it?"Lucian went silent, his jaw tightening.The air in the small room grew thick with the heavy, musky scent of a provoked Alpha."You never intended to tell him," he growled, his eyes flashing with a predatory intensity that made Nadia flinch. "Answer me. What are you thinking?""It's just not the right time, OK?" she whispered, looking down."Why? It's simple. You're just choosing not to say it.""If that's what you believe, why even ask?""So, I'm right, huh?" he hissed."If that's what you want to hear..."Befor
"Why would she be upset?" Lucian countered. "What does the Gray Pine Pack even offer us? Sacrificing one insignificant project for the growth of our pack is nothing."After hanging up, Lucian stayed on the balcony, lighting a cigarette.His mind was flooded with images of Nadia and Leo at dinner.She looked so relaxed being next to him—a side of her Lucian had never seen before.A sharp agitation surged within him, a sense of crisis he couldn't quite name.As long as the mate bond wasn't severed, she belonged to him.Yet, things were shifting beyond his control...The next morning, Lucian was gone before Nadia got up.On her way to the office, Leo called."Free tonight? I'll join my father's friend's birthday party. Wanna be my plus one?" Leo said, mentioning he'd be leaving in a couple of days."So this whole trip was to settle your dad's old favors?" Nadia teased."Pretty much. Pick you up later? "
Nadia's POV"But Nadia," She paused, "First things first. How many times have I told you? You are Lucian's mate. You are the Luna of the Silver Stone Pack. Act like it, and a Luna would never eavesdrop."I lowered my eyes, hiding the flash of contempt beneath my lashes. For a year, I had played the
Nadia's POV"Yes. I understand." My voice was flat, drained of any emotion.The air in the hospital ward felt thick enough to suffocate me.Standing there, watching Lucian take such good care of her, I realized she was indeed his true mate. A faint, self-mocking smile pulled at my lips."I understa
Nadia's POV"Don't be silly. You always look pretty to me. You're still recovering, so don't overthink about it, OK?" Lucian's voice was incredibly gentle, carrying a deep, magnetic warmth and a sense of protection."Do you really mean that?" Abbie's soft, flirtatious voice drifted through the crac
Nadia's POV"I'm coming over now. Just take a deep breath and try to calm down, OK?" Lucian's jaw was set tight. Even though his tone remained calm and steady as usual, I saw the sudden flare of darkness in his eyes after hearing Abbie's words.That bait regarding the truth behind the massacre had












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.