แชร์

Rigecherta My Possesive Best Friend
Rigecherta My Possesive Best Friend
ผู้แต่ง: Pulungan

Pindah Sekolah

ผู้เขียน: Pulungan
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-09 13:33:57

Bruk..

"Awh.." keduanya mengaduh saat tak sengaja saling bertabrakan dan terjatuh ke tanah, lelaki remaja itu jatuh bersama dengan skateboardnya sedangkan gadis itu meringis kesakitan.

"Sorry gue nggak sengaja" ucap laki-laki itu namun tidak dihiraukan oleh gadis tersebut.

"Lo nggak papa?"

"Lo gak papa Lo gak papa? makanya kalo jalan tuh pake mata bukan pake dengkul," omel gadis itu sambil merapikan roknya, lalu ia menoleh. Tiba-tiba keduanya saling melihat kaget saat tak sengaja berucap bersamaan.

"WOI TIVANE, eh..." Seorang gadis tampak muncul mendekat dan kaget melihat temannya sudah nyusruk bersama cowok di tanah.

"Ahahahaha" tawanya langsung pecah sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu Tivane.

"Mampus lo kena karma" ucap Milenia masih sedikit tertawa.

"Aduh, eh sorry ya, nggak sengaja gue ngomel," ucap Tivane sambil berdiri di bantu oleh Milenia.

"Iya nggak papa" sahut Rigecherta sambil berdiri dan menepuk debu di celananya.

"Sorry ya, nih teman gue suka malu maluin emang" ucap Milenia enteng, membuat Tivane mengumpat pelan.

"Hmm," Rigecherta hanya berdehem dan melihat lutut Tivane yang sedikit lecet.

"Lutut lo lecet tuh" Rigecherta menunjuk lutut Tivane dengan dagu nya.

"Ih, iyaa" Tivane melihat lututnya.

"Lo ada bawa tisu nggak?" Tanya Tivane pada Milenia.

" Nih," Rigecherta menyodorkan sapu tangan pada Tivane.

"Eh, thanks" Tivane langsung menyeka sedikit darah di lututnya.

Saat Rigecherta ingin melakukan kembali skateboard nya suara Tivane menghentikannya.

" Ini, makasih ya" Tivane berniat mengembalikan sapu tangan itu.

"Buat lo aja" Rigecherta langsung melaju santai dengan senyuman mengembang.

"Tapi, yaudah deh, makasih yaaa" seru Tivane lantang dan dibalas anggukan oleh Rigecherta.

Tivane menunduk melihat ada rajutan di sapu tangan itu ' Rigecherta ' tertulis jelas di sana.

"Rigecherta?" Gumamnya setipis udara.

"Eh btw kok Lo nggak ngajak kenalan sih cowo tadi?" Tanya Milenia di samping Tivane yang masih menunduk.

" Lumayan ganteng sih gue perhatiin " sambung Milenia lagi.

"Udah ah, banyak nanya lo" balas Tivane malas.

"Laper gue" alibinya karna tau temannya ini suka bahas cogan sampai lupa waktu.

Mamun di tempat tak jauh dari mereka, Rigecherta terlihat menggenggam name tag berwarna biru muda dengan bibir tersenyum.

"I found you, and i Miss you so much" Rigecherta menghela nafas panjang.

Di dalam rumah yang hangat terlihat pria paruh baya sedang sibuk menelpon dengan seseorang. Sementara Tivane terlihat santai di depan ayahnya sambil nyemil.

"Vane" panggil ayah nya membuat ia menoleh .

"Kenapa pah?" Tanya Tivane nyemil santai.

"Besok kamu pindah sekolah ke-" belum selesai ayahnya berbicara namun suara Tivane sudah menghentikan.

"Pindah?! Kemana pah?" Tanyanya sedikit kaget, membuat ayahnya juga tersentak kaget. Dia memang cewe yang sedikit barbar dan selalu ceroboh, namun itu masih bisa di tutupi oleh parasnya yang cantik.

" Sabar dulu sayang, jantungan nanti papa" ucap ayahnya bercanda.

" Hehe tapi pindah ke mana pah?" Tanya Tivane penasaran.

"Ke kota lama kamu pas kecil" sahut papanya santai.

"Iyakah? Terus sekolah aku gimana?" Tanyanya lagi .

"Ya pindah lah" sahut papa nya enteng dan menatap layar tv.

"Oke deh, papa yang urus kan?" Lagi Tivane bertanya dengan bawel nya.

"Iya aman. Sana kamu tidur. Besok pas sampe langsung masuk sekolah, biar bibi nanti yang ngurus barang barang kita. Sekalian nanti kamu beresin dikit baju kamu" suruh papa nya membuat Tivane mengangguk.

"Oke. Good night papa" Tivane langsung melenggang ke kamar nya dengan santai.

*Besoknya*

Pagi hari mereka sudah sampai di kota masa kecil Tivane dan langsung ke sekolah barunya.

"Ayo biar papa antar dulu ke ruang kepala sekolah nya, biar tau kelas kamu di mana" papa Tivane langsung melangkah ke arah ruang kepala sekolah dengan Tivane mengikuti di belakang.

Saat sampai di ruangan kepala sekolah sudah menunggu di sana.

" Eh pak Aliandra, mari pak.ini anaknya ya?" Tanya pak Sofyan sopan.

"Iya benar, kelas anak saya di mana ya pak. Saya buru-buru soalnya masih ada kerjaan." Ucap Aliandra karena masih banyak kerjaan.

" Oh, kalau begitu saya saja yang mengantar kan ke kelasnya" jawab pak Sofyan mengerti.

"Kamu baik-baik ya sekolahnya, yang rajin belajarnya." Pesan Aliandra pada Tivane membuat Tivane mengangguk dan menyalim tangan sang ayah.

"Iya pah, papa tenang aja" jawab Tivane manis.

Ayahnya langsung pergi setelah pamit singkat dengan pak Sofyan.

" Ayo biar bapak yang ngantar" ucap pak Sofyan.

"Iya pak" Tivane mengikuti di belakang.

Sampai di depan kelas 12 IPS 3. Di dalam kelas sudah seperti pasar karena lagi jam kosong. Ada yang lari-larian, ada yang gibah cantik, ada yang main handphone, ada yang main game bareng di pojok belakang sambil mengumpat, dan ada pula yang tidur di tengah -tengah keributan itu.

"Heh - heh! Ngapain kalian, suara kalian sampe ke luar loh, duduk semua di kursi masing-masing!" Tegur pak Sofyan galak, mereka langsung kicep dan kembali ke kursi masing masing.

" Ada ada aja kelakuan kalian. Oh iya, kalian ada teman baru hari ini, silakan nak, perkenalkan diri kamu" ucap pak Sofyan pada Tivane yang sedari tadi berdiri di belakangnya.

" Iya pak. Halo semua, perkenalkan, nama gue Tivane, bisa di panggil Vane atau Van. Gue pindahan dari Kalimantan" serunya memperkenalkan diri.

" Kalo di panggil sayang boleh nggak?" Tanya River iseng dengan wajah tengil nya dari belakang.

"Yeuuu kocak lo" satu kelas langsung menyoraki.

" Udah-udah perkenalannya nanti saja di lanjut. Sekarang kamu duduk di kursi yang kosong ya Vane" suruh pak Sofyan, Tivane hanya mengangguk dan langsung duduk di kursi belakang di sebelah cowo yang sedang tidur dengan nyenyak nya. Memang di samping nya kosong, jadi yaudah dia duduk saja.

"Siapa guru kalian? " Tanya pak Sofyan pada mereka.

" MTK pak" jawab mereka serempak.

"Yaudah, bapak itu tidak datang, kalian jangan berisik. Permisi" pak Sofyan langsung keluar dari kelas itu.

Para murid menatap ke arah Tivane yang duduk di sebelah cowo galak itu.

" Ihh dia berani banget duduk di situ" bisik seorang siswi.

"Iya ih, itu dia masih tidur, kalo bangun nanti pasti marah marah" jawab yang satunya.

Sementara ketiga cowo di sebelahnya - Veros, Skyler, dan River- hanya diam dan saling pandang, seolah ikatan persahabatan mereka mengirim sinyal untuk diam.

Dan saat cowo itu bangun ia heran melihat seseorang duduk di sampingnya, saat ia hendak marah, ia tak sengaja melihat wajahnya.

"Lo?" Tanya Rigecherta heran.

"Loh, elo?" Kaget Tivane juga.

Murid lain yang awalnya mengira Rigecherta akan marah pun langsung menatap bingung cowo itu, biasanya ia tak akan membiarkan seseorang duduk di sampingnya.

"Sejak kapan lo sekolah di sini?" Tanya Rigecherta karena ia tak pernah melihat gadis itu di sekolahan.

"Baru tadi" jawab Tivane tersenyum tipis.

"Murid pindahan maksudnya?" Tanya Rigecherta lagi.

" Yap, papa gue pindah tugas ke sini, jadi gue ikut sama papa." Jawab Tivane membuat Rigecherta mengangguk pelan. " Btw gue boleh duduk di sini kan?" Tanya Tivane karena tadi sempat mendengar bisik bisik siswi lain.

" Boleh, kalo lo mau duduk, duduk aja. Kosong kok" jawab Rigecherta ringan.

"Oke. Btw, Lo masih bisa tidur gitu pas kelas lu berisiknya kayak tadi?" Tanya Tivane hati hati, takut menyinggung atau gimana.

" Ya dari pada gue ikutan ribut, mending gue tidur kan?" Jawaban Rigecherta membuat Tivane mengangguk saja.

" Oh iya, karna lo, sebangku sama gue, dan lo masih murid baru, sini nomor lo, biar nanti kalo ada pr atau apa mudah" Rigecherta meminta dengan halus nomor Tivane.

"Oke nih," Tivane menyodorkan handphone nya dan Rigecherta langsung menyalin nomor ke handphone nya.

" Udah. Jangan lupa di save, Rigecherta." Ucap Rigecherta setelah mengirimkan pesan kepada Tivane.

"Oke" jawab Tivane.

Tivane pun menyimpan nomor itu.

*Malam hari*

Saat Tivane lagi main handphone ada pesan masuk.

Rigecherta: lo udah tidur?

Tivane: belum nih, kenapa?

Rigecherta: tidur sana. Ingat jam, cewe jangan lama lama tidur.

Tivane: bawel banget sih lo. Lagian gue laper makanya nggak bisa tidur.

Rigecherta: ya makan lah

Tivane: gue juga mau makan, tapi gue nggak bisa masak.

Rigecherta: go food.

Tivane: males.

Ternyata diam-diam Rigecherta mengiriminya makanan lewat go food.

"Lah? Siapa yang datang malam malam gini?" Tanya Tivane heran saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Tivane pun langsung bergegas membukakan pintu rumahnya dan terlihat seorang delivery.

"Iya pak?" Tanya Tivane.

" Atas nama mbak Tivane kan?" Tanya kurir tersebut.

"Iya saya" jawab Tivane.

" Ini pesanan anda" ucap kurir tersebut.

" Tapi aku nggak ada pesen apa-apa" ucap Tivane dengan kening berkerut heran.

" Tapi ini atas nama anda dan alamat anda"

Ucap kurir lagi.

" Oh.. oke, makasih ya pak" ucap Tivane akhirnya mengambil makanan itu.

Setelah kurir itu pergi, iya langsung masuk dan duduk di meja makan dan melahap makanannya.

" Sumpah, ini makanan favorit gue.. aduh, enak banget.. siapapun yang ngirim gue ini, baik banget sumpah" ucap Tivane sambil makan dengan kegirangan.

Ponselnya kembali bergetar membuat ia melihat siapa yang mengirim pesan.

Rigecherta : udah makan?

Tivane: ini lagi makan, tau nggak ada orang baik banget, ngirim gue makanan.

Rigecherta: yaudah lo makan lah .

Tivane: ih.. orangnya baik banget tau.. gue pengen maksih tapi nggak tau siapa.

Di dalam kamar Rigecherta, ia langsung senyum senyum sendiri malihat chatnya dengan Tivane.

" Iya sama sama" jawabnya seorang diri kepada handphone nya.

Tivane: oy, masih hidup kan?

Rigecherta: Lo doain gue lewat gitu?

Tivane: ya enggak. Heran aja lo nggak balas lagi.

Rigecherta: udah ah, gue mau tidur, btw sama sama.

Tivane melongo melihat chat terkahir dari Rigecherta yang mengatakan sama sama.

" Cowo aneh, apa coba maksudnya" ia bergumam sendiri sambil menghabiskan makanannya dan duduk sebentar setelah selesai.

Saat ia scroll ia menemukan quotes ' orang yang benar benar sayang kepada mu adalah orang yang melakukan hal sekecil apapun untuk membuat mu senang' Tivane terdiam di sana beberapa saat dan ia langsung beranjak ke kamar,

" Gue ngantuk deh kayaknya. Masa iya gue tiba tiba kepikir ke Rigecherta, kan aneh."

Ia menggelengkan kepala dan memutuskan tidur.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Pulungan
happy reading
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 24/ Ending

    * Beberapa bulan kemudian * Sudah sekitar 6 bulan pernikahan mereka, kini Chesia terlihat sedang mengandung anak mereka, bulan ini usia kehamilannya 5 bulan. Perutnya sudah mulai membuncit namun masih belum terlalu besar karena baru 5 bulan. Chesia kini tampak sedang duduk santai di taman belakang rumahnya dengan Seriazer sambil nyemil dan membaca novel. Wanita itu tampak santai menghabiskan waktu si sana dengan dunianya sendiri sampai tidak sadar ada yang mendekat dari arah belakang dan langsung memeluknya. Chesia tersentak kaget dan menoleh mendapati wajah suaminya yang baru pulang dari kantor sedang bersandar di bahunya. " Udah pulang? Kok nggak salam? Kaget aku" ucap Chesia mengelus punggung tangan suaminya yang berada tepat di atas perutnya. " Udah salam kok tadi, tapi nggak ada yang nyahut, jadi aku datang ke sini" jawab Seriazer semakin endusel manja pada Chesia. " Oh iya kah? Maaf ya, kayaknya aku keasyikan baca novel" ringis Chesia mengusap lembut kep

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 23 S2/ Sah

    Seriazer telah satu Minggu di Indonesia. Selama itu juga, pemuda itu tak pernah terlihat diam sebentar saja di rumah nya, kalau nggak kekantor ya ke rumah Chesia. Ia hanya pulang malam untuk beristirahat membuat paman nya geleng-geleng kecil namun tetap membiarkan karena dari dulu Seriazer memang tak pernah berdiam lama-lama di rumah, Selalu ada saja kegiatannya, takau nggak ke danau ya ke perpus, kalau nggak ya.. ngintilin Chesia dari jauh. Malam sudah terlihat larut, Seriazer yang sedang menuang air minum di dapur menoleh saat melihat Rizky sedang duduk di meja makan sendirian. " Om, belum tidur?" Tanya Seriazer mendekat. " Nggak bisa tidur. Om tiba-tiba kangen sama Tante kamu" ucap Rizky membuat Seriazer menyernyit. " Kamu belum tau kan? Om dulu punya pacar, tapi putus karena saling gengsi dan ego yang sama-sama tinggi, sampai sekarang om masih belum bisa move on dari calon Tante kamu itu. Tapi.. dia udah nikah sama cowo lain sekarang" curhat Rizky membuat S

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 22 S2/ saingan sama adek sendiri.

    Chesia dengan cepat langsung melaju di depan Seriazer yang sedari tadi mengikutinya dengan santai di belakang. " Eci! Belok kanan dulu!" Seru Seriazer namun Chesia dengan cepat menggeleng dan memeletkan lidah meledak saat menoleh sedikit ke belakang. Seriazer yang melihat itupun terkekeh kecil dan menggeleng pelan. " Dasar bocah" gumam Seriazer akhirnya pasrah mengikuti gadis itu. Chesia sampai di depan rumahnya dan langsung memarkirkan motornya di depan gerbang. " Eh udah pulang non Chesia? Mau di masukin nggak motornya?" Tanya pak satpam yang dengan sigap berdiri. " Iya pak, ini kuncinya, makasih ya" ucap Chesia lalu berdiri di depan gerbang dengan tangan berkacak pinggang, seolah menunggu musuh bebuyutan. Motor Seriazer akhirnya sampai dan pemuda itu langsung membuka helm lalu turun dari motornya. " Kenapa mukanya masih di tekuk gitu? Masih marah hmm?" Tanya Seriazer lembut menghampiri Chesia dan merapikan rambut gadis itu karena habis ngebut di jalanan.

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 21 S2/ bertemu kembali

    Hari berganti terasa sangat cepat, bahkan tidak terasa kini sudah lima tahun sejak kejadian di bandara yang menguras air mata. Chesia terlihat lebih dewasa karena ia sekarang bukan lagi murid SMP melainkan mahasiswi di salah satu universitas yang ia impikan sedari dulu. Chesia terlihat sedang fokus pada dosen yang sedang mengajar di depan, sesekali tangannya akan mengetik cepat di handphone nya. Ia sedang chatan dengan Seriazer namun masih bisa mendengarkan walaupun sesekali akan tersenyum sendiri. " Chesia, nanti mau nongki dulu nggak di cafe depan?" Bisik teman Chesia namun tak ada sahutan karena Chesia sedang berbunga-bunga dengan chat Seriazer. " Chesi.. Chesia!" Panggil temannya itu membuat satu kelas termasuk dosen di depan menatap mereka berdua. Chesia sendiri sudah malu setengah mati apalagi melihat ekspresi teman sekelasnya yang sudah menahan tawa masing-masing. " Ada apa itu?" Tanya sang dosen menatapi keduanya. " Ohh.. nggak kok pak, tadi itu ada

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 20 S2/ berpisah

    Suasana bandara yang ramai siang itu seolah lenyap dalam pandangan Chesia. Gadis itu terus menangis dalam pelukan ayahnya tanpa peduli beberapa orang yang lewat memperhatikan nya yang menangis keras. Tivane dan Rigecherta hanya bisa menghela nafas kecil dan memilih menenangkan gadis itu dulu. " Kakak apaan deh? Alay banget" celatuk Vergean menatap kakak nya jengah. " Mamih.. aku masih mau ketemu sama kak Azer, aku masih pengen ngobrol sama dia.." lirih Chesia sesenggukan. " Mami udah bilang dari kemarin. Udah jangan jangan nangis lagi" ucap Tivane lembut mengusap air mata putri sulungnya itu. " Tapi sekarang gimana? Aku tau aku salah. Tapi aku juga nggak tau kalau dia hari ini mau berangkat" ucap Chesia menunduk dalam. " Sudah jangan nangis." Ucap Rigecherta menenangkan sambil memegang pundak putrinya. " Beneran udah berangkat ya?" Tanya Kiara terdiam di samping Rizky. Saat semua orang berusaha menenangkan Chesia. Seriazer datang dari belakang gadis

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 19 S2/ bandara

    Setelah sesi foto bersama, Seriazer langsung pergi tanpa menunggu apa-apa lagi. Motornya melaju cepat di jalanan, sementara pikirannya penuh oleh pertanyaan mengapa Chesia tiba-tiba marah padanya serta kemungkinan kemungkinan buruk yang terus terngiang membuat kepalanya terasa penuh. Setelah sampai di depan gerbang rumah Chesia, pemuda itu langsung turun dari motor nya dengan cepat lalu melihat ke dalam karena gerbang itu tertutup. " Pak satpam!" Panggil Seriazer sedikit keras saat melihat ada satpam yang berjaga di sana. Satpam itu terlonjak dan bangun dengan cepat karna tadi sempat ketiduran. " Siapa den?" Tanya si satpam mendekat. " Temen Chesia pak, Chesia nya ada di dalam nggak?" Tanya Seriazer membuat pria itu menggeleng pelan. " Belum pulang den, tadi katanya mau jumpain temen." Jawab si satpam membuat Seriazer menyernyit heran. " Belum pulang? Dia ada bilang nggak tadi mau kemana?" Tanya Seriazer lagi. " Nggak ada den. Katanya suruh saya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status