Se connecter
Bruk..
"Awh.." keduanya mengaduh saat tak sengaja saling bertabrakan dan terjatuh ke tanah, lelaki remaja itu jatuh bersama dengan skateboardnya sedangkan gadis itu meringis kesakitan. "Sorry gue nggak sengaja" ucap laki-laki itu namun tidak dihiraukan oleh gadis tersebut. "Lo nggak papa?" "Lo gak papa Lo gak papa? makanya kalo jalan tuh pake mata bukan pake dengkul," omel gadis itu sambil merapikan roknya, lalu ia menoleh. Tiba-tiba keduanya saling melihat kaget saat tak sengaja berucap bersamaan. "WOI TIVANE, eh..." Seorang gadis tampak muncul mendekat dan kaget melihat temannya sudah nyusruk bersama cowok di tanah. "Ahahahaha" tawanya langsung pecah sebelum akhirnya mengulurkan tangan untuk membantu Tivane. "Mampus lo kena karma" ucap Milenia masih sedikit tertawa. "Aduh, eh sorry ya, nggak sengaja gue ngomel," ucap Tivane sambil berdiri di bantu oleh Milenia. "Iya nggak papa" sahut Rigecherta sambil berdiri dan menepuk debu di celananya. "Sorry ya, nih teman gue suka malu maluin emang" ucap Milenia enteng, membuat Tivane mengumpat pelan. "Hmm," Rigecherta hanya berdehem dan melihat lutut Tivane yang sedikit lecet. "Lutut lo lecet tuh" Rigecherta menunjuk lutut Tivane dengan dagu nya. "Ih, iyaa" Tivane melihat lututnya. "Lo ada bawa tisu nggak?" Tanya Tivane pada Milenia. " Nih," Rigecherta menyodorkan sapu tangan pada Tivane. "Eh, thanks" Tivane langsung menyeka sedikit darah di lututnya. Saat Rigecherta ingin melakukan kembali skateboard nya suara Tivane menghentikannya. " Ini, makasih ya" Tivane berniat mengembalikan sapu tangan itu. "Buat lo aja" Rigecherta langsung melaju santai dengan senyuman mengembang. "Tapi, yaudah deh, makasih yaaa" seru Tivane lantang dan dibalas anggukan oleh Rigecherta. Tivane menunduk melihat ada rajutan di sapu tangan itu ' Rigecherta ' tertulis jelas di sana. "Rigecherta?" Gumamnya setipis udara. "Eh btw kok Lo nggak ngajak kenalan sih cowo tadi?" Tanya Milenia di samping Tivane yang masih menunduk. " Lumayan ganteng sih gue perhatiin " sambung Milenia lagi. "Udah ah, banyak nanya lo" balas Tivane malas. "Laper gue" alibinya karna tau temannya ini suka bahas cogan sampai lupa waktu. Mamun di tempat tak jauh dari mereka, Rigecherta terlihat menggenggam name tag berwarna biru muda dengan bibir tersenyum. "I found you, and i Miss you so much" Rigecherta menghela nafas panjang. Di dalam rumah yang hangat terlihat pria paruh baya sedang sibuk menelpon dengan seseorang. Sementara Tivane terlihat santai di depan ayahnya sambil nyemil. "Vane" panggil ayah nya membuat ia menoleh . "Kenapa pah?" Tanya Tivane nyemil santai. "Besok kamu pindah sekolah ke-" belum selesai ayahnya berbicara namun suara Tivane sudah menghentikan. "Pindah?! Kemana pah?" Tanyanya sedikit kaget, membuat ayahnya juga tersentak kaget. Dia memang cewe yang sedikit barbar dan selalu ceroboh, namun itu masih bisa di tutupi oleh parasnya yang cantik. " Sabar dulu sayang, jantungan nanti papa" ucap ayahnya bercanda. " Hehe tapi pindah ke mana pah?" Tanya Tivane penasaran. "Ke kota lama kamu pas kecil" sahut papanya santai. "Iyakah? Terus sekolah aku gimana?" Tanyanya lagi . "Ya pindah lah" sahut papa nya enteng dan menatap layar tv. "Oke deh, papa yang urus kan?" Lagi Tivane bertanya dengan bawel nya. "Iya aman. Sana kamu tidur. Besok pas sampe langsung masuk sekolah, biar bibi nanti yang ngurus barang barang kita. Sekalian nanti kamu beresin dikit baju kamu" suruh papa nya membuat Tivane mengangguk. "Oke. Good night papa" Tivane langsung melenggang ke kamar nya dengan santai. *Besoknya* Pagi hari mereka sudah sampai di kota masa kecil Tivane dan langsung ke sekolah barunya. "Ayo biar papa antar dulu ke ruang kepala sekolah nya, biar tau kelas kamu di mana" papa Tivane langsung melangkah ke arah ruang kepala sekolah dengan Tivane mengikuti di belakang. Saat sampai di ruangan kepala sekolah sudah menunggu di sana. " Eh pak Aliandra, mari pak.ini anaknya ya?" Tanya pak Sofyan sopan. "Iya benar, kelas anak saya di mana ya pak. Saya buru-buru soalnya masih ada kerjaan." Ucap Aliandra karena masih banyak kerjaan. " Oh, kalau begitu saya saja yang mengantar kan ke kelasnya" jawab pak Sofyan mengerti. "Kamu baik-baik ya sekolahnya, yang rajin belajarnya." Pesan Aliandra pada Tivane membuat Tivane mengangguk dan menyalim tangan sang ayah. "Iya pah, papa tenang aja" jawab Tivane manis. Ayahnya langsung pergi setelah pamit singkat dengan pak Sofyan. " Ayo biar bapak yang ngantar" ucap pak Sofyan. "Iya pak" Tivane mengikuti di belakang. Sampai di depan kelas 12 IPS 3. Di dalam kelas sudah seperti pasar karena lagi jam kosong. Ada yang lari-larian, ada yang gibah cantik, ada yang main handphone, ada yang main game bareng di pojok belakang sambil mengumpat, dan ada pula yang tidur di tengah -tengah keributan itu. "Heh - heh! Ngapain kalian, suara kalian sampe ke luar loh, duduk semua di kursi masing-masing!" Tegur pak Sofyan galak, mereka langsung kicep dan kembali ke kursi masing masing. " Ada ada aja kelakuan kalian. Oh iya, kalian ada teman baru hari ini, silakan nak, perkenalkan diri kamu" ucap pak Sofyan pada Tivane yang sedari tadi berdiri di belakangnya. " Iya pak. Halo semua, perkenalkan, nama gue Tivane, bisa di panggil Vane atau Van. Gue pindahan dari Kalimantan" serunya memperkenalkan diri. " Kalo di panggil sayang boleh nggak?" Tanya River iseng dengan wajah tengil nya dari belakang. "Yeuuu kocak lo" satu kelas langsung menyoraki. " Udah-udah perkenalannya nanti saja di lanjut. Sekarang kamu duduk di kursi yang kosong ya Vane" suruh pak Sofyan, Tivane hanya mengangguk dan langsung duduk di kursi belakang di sebelah cowo yang sedang tidur dengan nyenyak nya. Memang di samping nya kosong, jadi yaudah dia duduk saja. "Siapa guru kalian? " Tanya pak Sofyan pada mereka. " MTK pak" jawab mereka serempak. "Yaudah, bapak itu tidak datang, kalian jangan berisik. Permisi" pak Sofyan langsung keluar dari kelas itu. Para murid menatap ke arah Tivane yang duduk di sebelah cowo galak itu. " Ihh dia berani banget duduk di situ" bisik seorang siswi. "Iya ih, itu dia masih tidur, kalo bangun nanti pasti marah marah" jawab yang satunya. Sementara ketiga cowo di sebelahnya - Veros, Skyler, dan River- hanya diam dan saling pandang, seolah ikatan persahabatan mereka mengirim sinyal untuk diam. Dan saat cowo itu bangun ia heran melihat seseorang duduk di sampingnya, saat ia hendak marah, ia tak sengaja melihat wajahnya. "Lo?" Tanya Rigecherta heran. "Loh, elo?" Kaget Tivane juga. Murid lain yang awalnya mengira Rigecherta akan marah pun langsung menatap bingung cowo itu, biasanya ia tak akan membiarkan seseorang duduk di sampingnya. "Sejak kapan lo sekolah di sini?" Tanya Rigecherta karena ia tak pernah melihat gadis itu di sekolahan. "Baru tadi" jawab Tivane tersenyum tipis. "Murid pindahan maksudnya?" Tanya Rigecherta lagi. " Yap, papa gue pindah tugas ke sini, jadi gue ikut sama papa." Jawab Tivane membuat Rigecherta mengangguk pelan. " Btw gue boleh duduk di sini kan?" Tanya Tivane karena tadi sempat mendengar bisik bisik siswi lain. " Boleh, kalo lo mau duduk, duduk aja. Kosong kok" jawab Rigecherta ringan. "Oke. Btw, Lo masih bisa tidur gitu pas kelas lu berisiknya kayak tadi?" Tanya Tivane hati hati, takut menyinggung atau gimana. " Ya dari pada gue ikutan ribut, mending gue tidur kan?" Jawaban Rigecherta membuat Tivane mengangguk saja. " Oh iya, karna lo, sebangku sama gue, dan lo masih murid baru, sini nomor lo, biar nanti kalo ada pr atau apa mudah" Rigecherta meminta dengan halus nomor Tivane. "Oke nih," Tivane menyodorkan handphone nya dan Rigecherta langsung menyalin nomor ke handphone nya. " Udah. Jangan lupa di save, Rigecherta." Ucap Rigecherta setelah mengirimkan pesan kepada Tivane. "Oke" jawab Tivane. Tivane pun menyimpan nomor itu. *Malam hari* Saat Tivane lagi main handphone ada pesan masuk. Rigecherta: lo udah tidur? Tivane: belum nih, kenapa? Rigecherta: tidur sana. Ingat jam, cewe jangan lama lama tidur. Tivane: bawel banget sih lo. Lagian gue laper makanya nggak bisa tidur. Rigecherta: ya makan lah Tivane: gue juga mau makan, tapi gue nggak bisa masak. Rigecherta: go food. Tivane: males. Ternyata diam-diam Rigecherta mengiriminya makanan lewat go food. "Lah? Siapa yang datang malam malam gini?" Tanya Tivane heran saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Tivane pun langsung bergegas membukakan pintu rumahnya dan terlihat seorang delivery. "Iya pak?" Tanya Tivane. " Atas nama mbak Tivane kan?" Tanya kurir tersebut. "Iya saya" jawab Tivane. " Ini pesanan anda" ucap kurir tersebut. " Tapi aku nggak ada pesen apa-apa" ucap Tivane dengan kening berkerut heran. " Tapi ini atas nama anda dan alamat anda" Ucap kurir lagi. " Oh.. oke, makasih ya pak" ucap Tivane akhirnya mengambil makanan itu. Setelah kurir itu pergi, iya langsung masuk dan duduk di meja makan dan melahap makanannya. " Sumpah, ini makanan favorit gue.. aduh, enak banget.. siapapun yang ngirim gue ini, baik banget sumpah" ucap Tivane sambil makan dengan kegirangan. Ponselnya kembali bergetar membuat ia melihat siapa yang mengirim pesan. Rigecherta : udah makan? Tivane: ini lagi makan, tau nggak ada orang baik banget, ngirim gue makanan. Rigecherta: yaudah lo makan lah . Tivane: ih.. orangnya baik banget tau.. gue pengen maksih tapi nggak tau siapa. Di dalam kamar Rigecherta, ia langsung senyum senyum sendiri malihat chatnya dengan Tivane. " Iya sama sama" jawabnya seorang diri kepada handphone nya. Tivane: oy, masih hidup kan? Rigecherta: Lo doain gue lewat gitu? Tivane: ya enggak. Heran aja lo nggak balas lagi. Rigecherta: udah ah, gue mau tidur, btw sama sama. Tivane melongo melihat chat terkahir dari Rigecherta yang mengatakan sama sama. " Cowo aneh, apa coba maksudnya" ia bergumam sendiri sambil menghabiskan makanannya dan duduk sebentar setelah selesai. Saat ia scroll ia menemukan quotes ' orang yang benar benar sayang kepada mu adalah orang yang melakukan hal sekecil apapun untuk membuat mu senang' Tivane terdiam di sana beberapa saat dan ia langsung beranjak ke kamar, " Gue ngantuk deh kayaknya. Masa iya gue tiba tiba kepikir ke Rigecherta, kan aneh." Ia menggelengkan kepala dan memutuskan tidur.Chesia berjalan cepat menuju toilet dan meruntuk malu dengan wajah panas luar biasa. Chesia menatap pantulan dirinya di cermin dan mulai menyalakan keran untuk membasuh muka. " Aduh.. gue ngapain gilaa? Ini bukan mimpi kan? Ini serius kan? Beneran gue cium dia? Ihhh.." Chesia memekik tertahan dengan tangan memukul pelan pipinya. " Nggak, nggak bener. Ini nggak mungkin.. tapi.. tadi gue udah cium pipi diaaa" rengek Chesia hampir lemas sambil memegangi pipinya. " Gila, gue udah gila. Tapi dia lebih gila.. bisa-bisa nya dia minta kayak begitu. Gue pikir bakalan minta traktir atau setidaknya... Minta nge date- eh. Enggak.. nggak lah.." ucap Chesia tanya sendiri jawab sendiri di sana. " Gue malu banget mau ketemu dia.. gimana ya ini?" Tanya Chesia mondar-mandir tidak jelas lalu berhenti dan menatap kembali wajahnya di cermin. " Oke. Calm down. Santaii it's oke. Ayo keluar" setelah menarik nafas dalam-dalam akhirnya Chesia memilih keluar dari dalam toilet dan berjala
Pagi itu tampak cerah dan hangat saat matahari mulai terbit malu-malu di ufuk timur. Seriazer sudah berada di atas kuda besinya dan melaju santai menuju rumah gadis kesayangan nya. Motor perlahan melambat dan berhenti saat sudah merasa di depan rumah Tivane. Di halaman terlihat Rigecherta sedang memanaskan mobil dengan kemeja putih di tubuhnya. " Pagi om." Sapa Seriazer sopan dan menyalim tangan Rigecherta. " Eh? pagi Azer. Cepet amat jemputnya. Udah makan belum?" Tanya Rigecherta menepuk pundak Seriazer. " Sarapan roti om" jawab Seriazer sopan. " Loh kok belum sarapan yang bener? Ayo sekalian mampir dulu. Chesia juga kayaknya belum siap" ucap Rigecherta membuat Seriazer mengangguk kecil dan menurut saat di bawa ke dalam rumah. Di dapur terlihat Tivane yang sedang memasak sarapan dengan baju guru nya dan celemek di pinggangnya. " Mamihhh!" Teriakan melengking Vergean terdengar membuat Tivane menghela nafas panjang dan berbalik badan. Tivane sedikit te
Chesia dan Seriazer kini berdiri di tengah-tengah, semua mata tertuju pada keduanya yang tampak malu-malu kucing. " Aduh.. happy banget ya pas ulang tahun ke 15 malah dapat pujaan hati" goda Ella menatap keduanya dengan wajah menggoda. " Iya ih.. iri banget gue, dulu gue umur segitu masih main air di sungai" ucap Luci membuat semua orang tertawa bersama. " Tante ih.. nggak gitu kok" elak Chesia dengan wajah memerah padam. " Udah-udah. Sini make a wish dulu." Ucap Rigecherta membawa kue itu ke hadapan Chesia. Chesia tersenyum dan memejamkan mata sambil berdoa dalam hati. Lalu Chesia membuka mata kembali dan meniup lilin. " Yeey.. makan kue!" Heboh Vergean bersama Kelly. "Suapan pertama mau di kasih sama siapa nih hayoo?" Goda River dari samping. " Sama mami dan papi" ucap Chesia menyuapi Tivane dan Rigecherta. " Ke dua buat siapa?" Goda mereka lagi membuat Chesia melirik kecil ke arah Seriazer namun terlalu malu untuk memberikan. " Udah kasih aja.
Seriazer tertegun merasakan usapan singkat yang lembut itu di puncak kepalanya. Pikirannya terasa kosong dan santai saat gadis itu melakukannya. " Nggak papa. Sini usap lagi" ucap Seriazer mengambil tangan Chesia dan meletakkan tangan Chesia dia atas kepalanya. " Eh?" Kaget Chesia dengan mata melebar. " Usap lagi dong. Kakak suka." Ucap Seriazer membuat Chesia mendelik dan terkekeh kecil. " Modus" ucap Chesia namun tetap menuruti. Tangannya bergerak pelan di atas kepala Seriazer. " Mana ada modus. Kalau modus berarti kamu juga tadi modus dong" ucap Seriazer menyerang balik. " Refleks!" Ucap Chesia membela diri. " Untung refleks nya ke kakak ya, kalau ke cowo lain mereka pasti baper" ucap Seriazer tertawa kecil. " Emang kakak nggak baper?" Tanya Chesia menatap mata Seriazer dan menurunkan tangan nya dari kepala pemuda itu. " Baper lah. Siapa yang nggak baper di perhatiin sama cewe cantik?" Ucap Seriazer tengil membuat Chesia ternganga heran.
Seriazer terkekeh kecil dan merapikan sedikit rambut Chesia lalu tersenyum lebar, antara kagum, gemas dan sayang yang sangat tulus di wajahnya. " Lucu kok." Ucap Seriazer membuat Chesia menahan senyum dan mengangguk kecil dengan pipi merona. " Ayo naik lagi, kita lanjut jalan" ucap Seriazer mulai menaiki motornya kembali. Chesia naik kembali ke boncengan Seriazer dan duduk manis di sana. " Pegangan" ucap Seriazer membuat Chesia mengangguk dan menggenggam jaket Seriazer di bagian pinggang. " Jangan di situ, sini aja. Kakak takut kamu jatuh" ucap Seriazer menarik tangan Chesia agar melingkar di pinggangnya. Chesia membeku diam dengan badan yang otomatis maju memeluk tubuh pemuda di depannya. Apalagi ucapan Seriazer yang terdengar sangat lembut mengalun di telinganya membuat wajah Chesia yang sudah merah bertambah merah. " Kak? Nggak papa kah aku peluk kakak kayak gini?" Tanya Chesia polos membuat Seriazer tersenyum dan terkekeh kecil. " Kenapa emang? Kan p
Bel pertanda masuk membuat semua murid yang tadinya berkeliaran mulai kembali ke kelas masing-masing. Kantin yang tadinya ramai juga mulai sepi karena para murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Chesia, Lucky dan Seriazer juga mulai berjalan beriringan kembali ke kelas. Lucky tertinggal di belakang karena ia terhalang oleh kerumunan yang membuat ia terpaksa mundur. Saat sudah berada di belakang Chesia dan Seriazer, ia menatap keduanya yang terlihat mengobrol santai dan terkadang tertawa bersama. 'bjir. Serasa nyamuk gue di tengah-tengah mereka' gumam Lucky dalam hati dan tetap berjalan sambil manyun di belakang. Denting handphone nya membuat ia mengambil handphone nya dan melihat pesan yang terlihat ramai di grup angkatan. Viko: liat nih guyss. Ternyata si Kiara diam-diam nusuk si Chesi di dari belakang. Parah. Lucky mengetuk video berdurasi singkat yang memperlihatkan kan Kiara yang sedang berbincang dengan Reki, dan pas di saat Kiara mengatakan bahwa akan
Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa







