Share

Panik

Author: Pulungan
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-09 14:41:25

Keesokan harinya Tivane berangkat lebih cepat karena ikut papanya yang ada urusan pekerjaan.

Saat ia sampai sekolah masih sepi, mungkin juga masih bisa di bilang kosong. Tivane pikir ia orang pertama yang datang, namun saat sampai di kelas ia kaget melihat Rigecherta sudah stay di kursinya.

" Cepet amat lo datang,temen temen lo mana?" Tanya Tivane karena ia melihat Rigecherta selalu bersama para sahabat nya.

" Lagi males aja di rumah jadi ke sekolah. Tadi juga sih pengennya berenang, tapi gue tiba tiba mager" jawabnya santai sambil menyender di kursinya.

"Lo atlet renang?" Tanya Tivane heboh tiba-tiba.

"Biasanya aja dong lo, kaget gue" ucap Rigecherta

"Hehe, tapi serius lo, atlet renang?" Tanya Tivane masih heboh.

" Ya.. gitu deh, tapi sebenarnya itu cuma hobi gue sih, tapi malah sering di kirim buat perwakilan sekolah" jawab Rigecherta ringan.

Tivane duduk di kursinya dan langsung menghadap ke arah Rigecherta.

" Terus cita cita lo apa?" Tanya Tivane penasaran.

"Lo kepo juga ya" goda Rigecherta terkekeh.

" Nggak sih, cuma nanya aja" katanya sambil memalingkan wajah, malu karena terlalu kepo.

" Gue cuma bercanda, cita cita gue dokter" jawab Rigecherta akhirnya, takut Tivane ngambek beneran.

" Kalo lo apa?" Rigecherta bertanya balik.

" Kalo gue sih guru" jawab Tivane membuat Rigecherta mengangguk pelan.

" Iya sih, lo kan pintar" puji Rigecherta membuat Tivane malu karena di puji.

" Bisa aja lo, tapi muka lo cocok beneran tau jadi dokter" ucap Tivane tiba-tiba.

" Kenapa cocok?" Tanya Rigecherta.

" Ya... Muka lo cocok aja kayak dokter di tv tv. Nanti pas lo nanganin gawat darurat, beh.. pasti lucu liat lo nanganin orang yang lagi kritis gitu.." jawab Tivane menggebu-gebu.

Rigecherta terkekeh kecil melihat Tivane yang sangat antusias saat bercerita.

" Kayanya liat lo ngajar lebih lucu. Nanti lo bakal bilang gini ke murid lo, siapa yang paling diam boleh pulang duluan" katanya terkekeh membayangkan Tivane jadi lucu, ia malah jadi gemas sendiri.

" Apalah apalah" kata tivene sok galak padahal lagi malu.

"Hahaha" Rigecherta malah tertawa.

" Diam nggak, nggak lucu" Tivane mendengus malu.

" Lucu kok, lucu" Rigecherta malah semakin jadi.

" Udah ah, sana Lo berenang" usir Tivane kesal juga lama lama di ledekin.

" Kalo lo mau nonton gue berenang ya ayo. Kalo lo nggak mau gue juga malas" atwar Rigecherta.

" Boleh deh, bosan juga gue lama lama di sini, mana bel masih lama" sahutnya ikut dengan Rigecherta.

"Iya lah lama, liat tuh, orang aja masih dikit yang datang" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk.

Mereka sampai di ruang berenang dan Rigecherta langsung mengganti baju ke arah ruang ganti, sementara Tivane duduk di bangku penonton.

Saat Rigecherta keluar Tivane sempat terpaku dengan tubuh atletis nya.

"Lo liatin gue berenang ya " ucap Rigecherta belagu.

" Oke, gue bikin timer yaa" tantang Tivane.

" Oke" Rigecherta meng iyakan.

" Satu... Dua.. tiga"

Rigecherta langsung melompat ke air dan berenang dengan lincah kemudian berbalik arah saat sudah ke tepi ujung dan kembali ke posisi awal.

Tivane melongo melihatnya, lalu ia langsung bersorak hebos saat Rigecherta keluar dari air.

" Gimana?" Tanya Rigecherta belagu.

" Gilaa keren banget.. kok bisa sih selincah itu?" Tanya Tivane menggebu-gebu dan bertepuk tangan dengan heboh.

"Hahaha udah-udah, tolong dong itu bawain handuk gue dingin banget sumpah" tunjuk Rigecherta pada handuknya di kursi samping kolam renang.

"Oke, i'm coming" Tivane langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mengambil handuk yang di maksud Rigecherta.

" Yang ini kan?" Tanya Tivane memastikan.

" Iya yang itu" ucap Rigecherta tanpa berniat keluar dari kolam.

Tivane membawa handuk tersebut, namun karena terlalu tergesa ia tak melihat air yang menggenang di pinggiran kolam bekas cipratan air Rigecherta tadi. Tivane pun terpeleset ke dalam kolam, ia yang tak pandai berenang langsung panik mengayunkan kaki sembarangan.

" Rige.. tolong, gue nggak bisa berenang" katanya patah-patah saat ia mencoba menggapai permukaan air.

" Vane, tenang. Airnya nggak terlalu dalam kok" ucap Rigecherta mencoba menenangkan.

" Rige.... Gue nggak bisa" Tivane mulai tersedak air.

Rigecherta langsung menarik tangan nya dan menggendong nya ala koala, dan Tivane pun langsung memeluk Rigecherta dengan mata masih terpejam panik.

" Udah ya, lo udah nggak di dalam air lagi" bisik Rigecherta lembut. Seolah menenangkan Tivane agar tidak terlalu panik lagi.

Ucapan Rigecherta membuat Tivane membuka mata perlahan dan mendongak tepat saat Rigecherta menunduk ke arahnya. Keduanya sempat terdiam sebelum celatukan Rigecherta membuat Tivane tersentak.

"Berat juga ya Lo, nggak ada niatan buat turun gitu?" Tanya Rigecherta bercanda. Sebenarnya itu hanya ucapan pengalihan karena ia sedang deg-degan.

" E-eh iya, tolong antar gue ke tepi ya.." pinta Tivane pelan.

" Boleh" Rigecherta langsung membawanya ke tepian dan mendudukkannya di tepian kolam renang.

" Makasih.." lirihnya karena masih syok habis kecebur.

" Lain kali hati hati ya..." Rigecherta mengelus rambut gadis itu karena sadar gadis itu sedang ketakutan.

"Sorry ya.. gara-gara ngambil handuk gue lo jadi kepeleset" ucap Rigecherta meminta maaf.

" Bukan salah lo kok, guenya aja tadi yang nggak liat jalan" sargah Tivane meyakinkan.

" Yaudah kalo gitu lo ganti baju lo gih, ntar masuk angin" suruh Rigecherta takut tivane sakit atau gimana.

"Iya" jawab Tivane patuh.

" Selama Tivane ke toilet Rigecherta juga memakai kembali seragamnya dan berjalan ke arah koperasi untuk membelikan baju ganti untuk Tivane.

Ia meletakkan baju itu di loker Tivane. Lalu duduk di kursi tak jauh dari loker.

" Ada nggak ya baju ganti gue" Tivane terlihat keluar dari toilet dan mencari baju di lokernya.

" Eh, ada dong. Aduh.. senang nya, keberuntungan apa ini. Udah ah, mau ganti baju dulu nanti masuk angin." Tivane bergumam heboh sambil berjalan kembali ke toilet.

Beberapa saat kemudian ia keluar dengan rambut yang masih basah.

" Minjam handuk sama siapa ya?" Tanyanya celingak celinguk mencari orang.

" Nih, pake handuk gue aja. Masih banyak di loker" Rigecherta mendekat dan melemparkan handuk pada Tivane.

" Makasih, kok lo bisa punya banyak?" Tanya Tivane heran.

"Di kasih cewek-cewek, tuh kalo lo mau, banyak coklat sama air minum di sana" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk saja. Ya gimana, orang yang di depannya ini orang populer, pasti banyak yang ngasih hadiah dj lokernya.

"Terus lo apain tuh cokelat-cokelat nya?" Tanya vane sambil mengeringkan rambut.

"Gue buang" jawab Tivane mendekat dan mengambil handuk di tangan Tivane, mengambil alih rambutnya.

" Sini biar gue keringin" ia mengeringkan dengan telaten.

"Udah" lapornya saat rambut Tivane sudah sedikit kering.

"Makasih" ucap Tivane langsung ngibrit ke kelas karena di sekitar mereka sudah mulai ramai orang yang berdatangan dan melihati mereka, apalagi visual mereka yang sama sama menawan.

"RIGE MY BRO" suara toa Skyler dan River terdengar.

"Apa?" Tanya Rigecherta dingin.

" Buset, galak amat lo" ucap River sok kaget, padahal sudah biasa dengan sifat dingin Rigecherta.

"Widih, dingin banget tangan lo, abis ngapain lo?" Tanya Skyler saat tak sengaja menyentuh lengan Rigecherta.

" Renang" jawabnya singkat.

" Rajin amat lo pagi-pagi udah latihan aja" kata River karena anak renang juga.

" Nggak sih, gabut aja gue" jawab Rigecherta ringan.

"Eh, btw tadi lo sama Vane ya? Ribut banget tuh ngegosipin lo" ucap Veros tak sengaja mendengar cicitan siswi tadi.

" Hmm, kenapa?" Tanya Rigecherta.

" Lo naksir Vane ya?" Goda Skyler kemudian saling pandang dengan River.

"Cieee.." goda mereka bersamaan. Seolah sinyal besti mereka tersambung.

" Brisik Lo pada, ayo ke kelas" ucap Rigecherta lelah juga di ceng-cengin sama dua teman laknatnya itu.

_iya si Rigecherta suka tuh wkwkwk_

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Pulungan
happy reading
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 24/ Ending

    * Beberapa bulan kemudian * Sudah sekitar 6 bulan pernikahan mereka, kini Chesia terlihat sedang mengandung anak mereka, bulan ini usia kehamilannya 5 bulan. Perutnya sudah mulai membuncit namun masih belum terlalu besar karena baru 5 bulan. Chesia kini tampak sedang duduk santai di taman belakang rumahnya dengan Seriazer sambil nyemil dan membaca novel. Wanita itu tampak santai menghabiskan waktu si sana dengan dunianya sendiri sampai tidak sadar ada yang mendekat dari arah belakang dan langsung memeluknya. Chesia tersentak kaget dan menoleh mendapati wajah suaminya yang baru pulang dari kantor sedang bersandar di bahunya. " Udah pulang? Kok nggak salam? Kaget aku" ucap Chesia mengelus punggung tangan suaminya yang berada tepat di atas perutnya. " Udah salam kok tadi, tapi nggak ada yang nyahut, jadi aku datang ke sini" jawab Seriazer semakin endusel manja pada Chesia. " Oh iya kah? Maaf ya, kayaknya aku keasyikan baca novel" ringis Chesia mengusap lembut kep

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 23 S2/ Sah

    Seriazer telah satu Minggu di Indonesia. Selama itu juga, pemuda itu tak pernah terlihat diam sebentar saja di rumah nya, kalau nggak kekantor ya ke rumah Chesia. Ia hanya pulang malam untuk beristirahat membuat paman nya geleng-geleng kecil namun tetap membiarkan karena dari dulu Seriazer memang tak pernah berdiam lama-lama di rumah, Selalu ada saja kegiatannya, takau nggak ke danau ya ke perpus, kalau nggak ya.. ngintilin Chesia dari jauh. Malam sudah terlihat larut, Seriazer yang sedang menuang air minum di dapur menoleh saat melihat Rizky sedang duduk di meja makan sendirian. " Om, belum tidur?" Tanya Seriazer mendekat. " Nggak bisa tidur. Om tiba-tiba kangen sama Tante kamu" ucap Rizky membuat Seriazer menyernyit. " Kamu belum tau kan? Om dulu punya pacar, tapi putus karena saling gengsi dan ego yang sama-sama tinggi, sampai sekarang om masih belum bisa move on dari calon Tante kamu itu. Tapi.. dia udah nikah sama cowo lain sekarang" curhat Rizky membuat S

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 22 S2/ saingan sama adek sendiri.

    Chesia dengan cepat langsung melaju di depan Seriazer yang sedari tadi mengikutinya dengan santai di belakang. " Eci! Belok kanan dulu!" Seru Seriazer namun Chesia dengan cepat menggeleng dan memeletkan lidah meledak saat menoleh sedikit ke belakang. Seriazer yang melihat itupun terkekeh kecil dan menggeleng pelan. " Dasar bocah" gumam Seriazer akhirnya pasrah mengikuti gadis itu. Chesia sampai di depan rumahnya dan langsung memarkirkan motornya di depan gerbang. " Eh udah pulang non Chesia? Mau di masukin nggak motornya?" Tanya pak satpam yang dengan sigap berdiri. " Iya pak, ini kuncinya, makasih ya" ucap Chesia lalu berdiri di depan gerbang dengan tangan berkacak pinggang, seolah menunggu musuh bebuyutan. Motor Seriazer akhirnya sampai dan pemuda itu langsung membuka helm lalu turun dari motornya. " Kenapa mukanya masih di tekuk gitu? Masih marah hmm?" Tanya Seriazer lembut menghampiri Chesia dan merapikan rambut gadis itu karena habis ngebut di jalanan.

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 21 S2/ bertemu kembali

    Hari berganti terasa sangat cepat, bahkan tidak terasa kini sudah lima tahun sejak kejadian di bandara yang menguras air mata. Chesia terlihat lebih dewasa karena ia sekarang bukan lagi murid SMP melainkan mahasiswi di salah satu universitas yang ia impikan sedari dulu. Chesia terlihat sedang fokus pada dosen yang sedang mengajar di depan, sesekali tangannya akan mengetik cepat di handphone nya. Ia sedang chatan dengan Seriazer namun masih bisa mendengarkan walaupun sesekali akan tersenyum sendiri. " Chesia, nanti mau nongki dulu nggak di cafe depan?" Bisik teman Chesia namun tak ada sahutan karena Chesia sedang berbunga-bunga dengan chat Seriazer. " Chesi.. Chesia!" Panggil temannya itu membuat satu kelas termasuk dosen di depan menatap mereka berdua. Chesia sendiri sudah malu setengah mati apalagi melihat ekspresi teman sekelasnya yang sudah menahan tawa masing-masing. " Ada apa itu?" Tanya sang dosen menatapi keduanya. " Ohh.. nggak kok pak, tadi itu ada

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 20 S2/ berpisah

    Suasana bandara yang ramai siang itu seolah lenyap dalam pandangan Chesia. Gadis itu terus menangis dalam pelukan ayahnya tanpa peduli beberapa orang yang lewat memperhatikan nya yang menangis keras. Tivane dan Rigecherta hanya bisa menghela nafas kecil dan memilih menenangkan gadis itu dulu. " Kakak apaan deh? Alay banget" celatuk Vergean menatap kakak nya jengah. " Mamih.. aku masih mau ketemu sama kak Azer, aku masih pengen ngobrol sama dia.." lirih Chesia sesenggukan. " Mami udah bilang dari kemarin. Udah jangan jangan nangis lagi" ucap Tivane lembut mengusap air mata putri sulungnya itu. " Tapi sekarang gimana? Aku tau aku salah. Tapi aku juga nggak tau kalau dia hari ini mau berangkat" ucap Chesia menunduk dalam. " Sudah jangan nangis." Ucap Rigecherta menenangkan sambil memegang pundak putrinya. " Beneran udah berangkat ya?" Tanya Kiara terdiam di samping Rizky. Saat semua orang berusaha menenangkan Chesia. Seriazer datang dari belakang gadis

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 19 S2/ bandara

    Setelah sesi foto bersama, Seriazer langsung pergi tanpa menunggu apa-apa lagi. Motornya melaju cepat di jalanan, sementara pikirannya penuh oleh pertanyaan mengapa Chesia tiba-tiba marah padanya serta kemungkinan kemungkinan buruk yang terus terngiang membuat kepalanya terasa penuh. Setelah sampai di depan gerbang rumah Chesia, pemuda itu langsung turun dari motor nya dengan cepat lalu melihat ke dalam karena gerbang itu tertutup. " Pak satpam!" Panggil Seriazer sedikit keras saat melihat ada satpam yang berjaga di sana. Satpam itu terlonjak dan bangun dengan cepat karna tadi sempat ketiduran. " Siapa den?" Tanya si satpam mendekat. " Temen Chesia pak, Chesia nya ada di dalam nggak?" Tanya Seriazer membuat pria itu menggeleng pelan. " Belum pulang den, tadi katanya mau jumpain temen." Jawab si satpam membuat Seriazer menyernyit heran. " Belum pulang? Dia ada bilang nggak tadi mau kemana?" Tanya Seriazer lagi. " Nggak ada den. Katanya suruh saya

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    I'm sorry Rigecherta.

    Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Rigecherta My Possesive Best Friend    pasar malam

    Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Main ke rumah sahabat lama

    Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 59/ Couple baru lagi

    Rumah Tivane dan Rigecherta kini terasa sangat hangat dan penuh karena par sahabat mereke yang masih setia di sana sampai sore hari. Bahkan saat siang tadi beberapa dari mereka ada yang tertidur karena lelah atau mengantuk dengan cerita yang lainnya mungkin. Kini Tivane sudah duduk di ter

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status