LOGINKeesokan harinya Tivane berangkat lebih cepat karena ikut papanya yang ada urusan pekerjaan.
Saat ia sampai sekolah masih sepi, mungkin juga masih bisa di bilang kosong. Tivane pikir ia orang pertama yang datang, namun saat sampai di kelas ia kaget melihat Rigecherta sudah stay di kursinya. " Cepet amat lo datang,temen temen lo mana?" Tanya Tivane karena ia melihat Rigecherta selalu bersama para sahabat nya. " Lagi males aja di rumah jadi ke sekolah. Tadi juga sih pengennya berenang, tapi gue tiba tiba mager" jawabnya santai sambil menyender di kursinya. "Lo atlet renang?" Tanya Tivane heboh tiba-tiba. "Biasanya aja dong lo, kaget gue" ucap Rigecherta "Hehe, tapi serius lo, atlet renang?" Tanya Tivane masih heboh. " Ya.. gitu deh, tapi sebenarnya itu cuma hobi gue sih, tapi malah sering di kirim buat perwakilan sekolah" jawab Rigecherta ringan. Tivane duduk di kursinya dan langsung menghadap ke arah Rigecherta. " Terus cita cita lo apa?" Tanya Tivane penasaran. "Lo kepo juga ya" goda Rigecherta terkekeh. " Nggak sih, cuma nanya aja" katanya sambil memalingkan wajah, malu karena terlalu kepo. " Gue cuma bercanda, cita cita gue dokter" jawab Rigecherta akhirnya, takut Tivane ngambek beneran. " Kalo lo apa?" Rigecherta bertanya balik. " Kalo gue sih guru" jawab Tivane membuat Rigecherta mengangguk pelan. " Iya sih, lo kan pintar" puji Rigecherta membuat Tivane malu karena di puji. " Bisa aja lo, tapi muka lo cocok beneran tau jadi dokter" ucap Tivane tiba-tiba. " Kenapa cocok?" Tanya Rigecherta. " Ya... Muka lo cocok aja kayak dokter di tv tv. Nanti pas lo nanganin gawat darurat, beh.. pasti lucu liat lo nanganin orang yang lagi kritis gitu.." jawab Tivane menggebu-gebu. Rigecherta terkekeh kecil melihat Tivane yang sangat antusias saat bercerita. " Kayanya liat lo ngajar lebih lucu. Nanti lo bakal bilang gini ke murid lo, siapa yang paling diam boleh pulang duluan" katanya terkekeh membayangkan Tivane jadi lucu, ia malah jadi gemas sendiri. " Apalah apalah" kata tivene sok galak padahal lagi malu. "Hahaha" Rigecherta malah tertawa. " Diam nggak, nggak lucu" Tivane mendengus malu. " Lucu kok, lucu" Rigecherta malah semakin jadi. " Udah ah, sana Lo berenang" usir Tivane kesal juga lama lama di ledekin. " Kalo lo mau nonton gue berenang ya ayo. Kalo lo nggak mau gue juga malas" atwar Rigecherta. " Boleh deh, bosan juga gue lama lama di sini, mana bel masih lama" sahutnya ikut dengan Rigecherta. "Iya lah lama, liat tuh, orang aja masih dikit yang datang" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk. Mereka sampai di ruang berenang dan Rigecherta langsung mengganti baju ke arah ruang ganti, sementara Tivane duduk di bangku penonton. Saat Rigecherta keluar Tivane sempat terpaku dengan tubuh atletis nya. "Lo liatin gue berenang ya " ucap Rigecherta belagu. " Oke, gue bikin timer yaa" tantang Tivane. " Oke" Rigecherta meng iyakan. " Satu... Dua.. tiga" Rigecherta langsung melompat ke air dan berenang dengan lincah kemudian berbalik arah saat sudah ke tepi ujung dan kembali ke posisi awal. Tivane melongo melihatnya, lalu ia langsung bersorak hebos saat Rigecherta keluar dari air. " Gimana?" Tanya Rigecherta belagu. " Gilaa keren banget.. kok bisa sih selincah itu?" Tanya Tivane menggebu-gebu dan bertepuk tangan dengan heboh. "Hahaha udah-udah, tolong dong itu bawain handuk gue dingin banget sumpah" tunjuk Rigecherta pada handuknya di kursi samping kolam renang. "Oke, i'm coming" Tivane langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mengambil handuk yang di maksud Rigecherta. " Yang ini kan?" Tanya Tivane memastikan. " Iya yang itu" ucap Rigecherta tanpa berniat keluar dari kolam. Tivane membawa handuk tersebut, namun karena terlalu tergesa ia tak melihat air yang menggenang di pinggiran kolam bekas cipratan air Rigecherta tadi. Tivane pun terpeleset ke dalam kolam, ia yang tak pandai berenang langsung panik mengayunkan kaki sembarangan. " Rige.. tolong, gue nggak bisa berenang" katanya patah-patah saat ia mencoba menggapai permukaan air. " Vane, tenang. Airnya nggak terlalu dalam kok" ucap Rigecherta mencoba menenangkan. " Rige.... Gue nggak bisa" Tivane mulai tersedak air. Rigecherta langsung menarik tangan nya dan menggendong nya ala koala, dan Tivane pun langsung memeluk Rigecherta dengan mata masih terpejam panik. " Udah ya, lo udah nggak di dalam air lagi" bisik Rigecherta lembut. Seolah menenangkan Tivane agar tidak terlalu panik lagi. Ucapan Rigecherta membuat Tivane membuka mata perlahan dan mendongak tepat saat Rigecherta menunduk ke arahnya. Keduanya sempat terdiam sebelum celatukan Rigecherta membuat Tivane tersentak. "Berat juga ya Lo, nggak ada niatan buat turun gitu?" Tanya Rigecherta bercanda. Sebenarnya itu hanya ucapan pengalihan karena ia sedang deg-degan. " E-eh iya, tolong antar gue ke tepi ya.." pinta Tivane pelan. " Boleh" Rigecherta langsung membawanya ke tepian dan mendudukkannya di tepian kolam renang. " Makasih.." lirihnya karena masih syok habis kecebur. " Lain kali hati hati ya..." Rigecherta mengelus rambut gadis itu karena sadar gadis itu sedang ketakutan. "Sorry ya.. gara-gara ngambil handuk gue lo jadi kepeleset" ucap Rigecherta meminta maaf. " Bukan salah lo kok, guenya aja tadi yang nggak liat jalan" sargah Tivane meyakinkan. " Yaudah kalo gitu lo ganti baju lo gih, ntar masuk angin" suruh Rigecherta takut tivane sakit atau gimana. "Iya" jawab Tivane patuh. " Selama Tivane ke toilet Rigecherta juga memakai kembali seragamnya dan berjalan ke arah koperasi untuk membelikan baju ganti untuk Tivane. Ia meletakkan baju itu di loker Tivane. Lalu duduk di kursi tak jauh dari loker. " Ada nggak ya baju ganti gue" Tivane terlihat keluar dari toilet dan mencari baju di lokernya. " Eh, ada dong. Aduh.. senang nya, keberuntungan apa ini. Udah ah, mau ganti baju dulu nanti masuk angin." Tivane bergumam heboh sambil berjalan kembali ke toilet. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan rambut yang masih basah. " Minjam handuk sama siapa ya?" Tanyanya celingak celinguk mencari orang. " Nih, pake handuk gue aja. Masih banyak di loker" Rigecherta mendekat dan melemparkan handuk pada Tivane. " Makasih, kok lo bisa punya banyak?" Tanya Tivane heran. "Di kasih cewek-cewek, tuh kalo lo mau, banyak coklat sama air minum di sana" ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk saja. Ya gimana, orang yang di depannya ini orang populer, pasti banyak yang ngasih hadiah dj lokernya. "Terus lo apain tuh cokelat-cokelat nya?" Tanya vane sambil mengeringkan rambut. "Gue buang" jawab Tivane mendekat dan mengambil handuk di tangan Tivane, mengambil alih rambutnya. " Sini biar gue keringin" ia mengeringkan dengan telaten. "Udah" lapornya saat rambut Tivane sudah sedikit kering. "Makasih" ucap Tivane langsung ngibrit ke kelas karena di sekitar mereka sudah mulai ramai orang yang berdatangan dan melihati mereka, apalagi visual mereka yang sama sama menawan. "RIGE MY BRO" suara toa Skyler dan River terdengar. "Apa?" Tanya Rigecherta dingin. " Buset, galak amat lo" ucap River sok kaget, padahal sudah biasa dengan sifat dingin Rigecherta. "Widih, dingin banget tangan lo, abis ngapain lo?" Tanya Skyler saat tak sengaja menyentuh lengan Rigecherta. " Renang" jawabnya singkat. " Rajin amat lo pagi-pagi udah latihan aja" kata River karena anak renang juga. " Nggak sih, gabut aja gue" jawab Rigecherta ringan. "Eh, btw tadi lo sama Vane ya? Ribut banget tuh ngegosipin lo" ucap Veros tak sengaja mendengar cicitan siswi tadi. " Hmm, kenapa?" Tanya Rigecherta. " Lo naksir Vane ya?" Goda Skyler kemudian saling pandang dengan River. "Cieee.." goda mereka bersamaan. Seolah sinyal besti mereka tersambung. " Brisik Lo pada, ayo ke kelas" ucap Rigecherta lelah juga di ceng-cengin sama dua teman laknatnya itu. _iya si Rigecherta suka tuh wkwkwk_Setelah Rigecherta siuman, Tivane tak henti hentinya tersenyum cerah dan mengoceh sambil berbaring bersandar pada dada Rigecherta. Rigecherta dengan penuh sayang membelai rambut Tivane dan tetap membiarkan wanita itu berbicara karena ia juga merindukan ocehan Tivane. Rigecherta hanya akan menimpali sesekali dan mengangguk sambil menciumi ubun-ubun Tivane. " Sumpah ya, aku beneran kesel banget tau nggak. Mana kamu kebantingnya di depan mata aku lagi, gimana aku nggak syok coba, refleks lari lah, eh.. malah ikutan pingsan karna pendarahan." Oceh Tivane dengan tangan tetap memeluk Rigecherta dengan posessive. " Yang penting sekarang kita sama-sama sehat, sama-sama masih bisa sender-senderan." Ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk kecil. " Bener. Serius deh, baru dua hari nggak ketemu sama kamu rasanya udah kangen banget. Jangan pernah tinggalin aku ya.." ucap Tivane mendongak menatap wajah Rigecherta. " Nggak bakal pernah, janji. Janji seumur hidup" ucap Rigeche
Tivane duduk santai sambil bersandar di ranjang nya dengan wajah di tekuk masam. Ia sangat ingin bercerita dan mengobrol, tapi tidak ada teman nya untuk mengoceh. Biasanya ia akan mengoceh pada bayi di dalam perutnya, namun sekarang bayi itu sudah lahir, mana mereka nggak bisa ketemu lagi. Kalau bayi itu ada di gendongan Tivane sudah pasti ia akan mengoceh panjang lebar pada bayinya. Tivane meraih kotak makeup nya dari nakas dan mulai berdandan santai. Namun hasilnya malah sangat cantik membuat Tivane terpana. "Woow.. cakep banget, kenapa pas gue nggak pengen ngapa-ngapain malah cakep gini" gerutu Tivane seorang diri dan Muali selfie dengan berbagai gaya. Ia menoleh pada Rigecherta dan mulai tersenyum jahil. Perlahan ia mendekat lalu mulai mengaplikasikan makeup pada suaminya itu. "Wih.. ganteng banget.. kayak Gege China campur oppa Korea gitu" pekik Tivane gemas melihat hasil karyanya dan mulai memotret suaminya dari beberapa sudut. " Baguss.. foto berdua a
Kini Veros dan Aliandra sudah keluar dari kantor polisi dan sedang duduk santai di kursi dekat rumah sakit sambil ngopi. Aliandra melirik sekilas ke arah Veros dan tersenyum bangga. " Sebelumnya om minta maaf sama kamu, nggak seharusnya om ngungkit masa lalu kamu tadi" ucap Aliandra memecah keheningan. " Nggak papa kok om. Emang beneran gitu kok. Kalo boleh tau, om tau dari mana kalau mama pernah di usir sama papa aku dulu?" Tanya Veros menoleh dengan wajah bertanya. Tadi saat di ingatkan, ia hanya mendengar dan langsung emosi tanpa bertanya bagaimana pria itu bisa tahu tentang dulu. " Kan dulu mama kamu kaburnya ke rumah Rigecherta, karna kalian sama Rige sepupuan, jadi om lumayan kenal karna tetanggan dulu" jelas Aliandra membuat Veros mengangguk paham. " Mamanya vane juga pernah cemburu waktu itu, padahal om ngobrolnya sama ayah Rige, tapi malah di kira godain mama kamu. Tapi abis itu mereka temenan baik sama Risa juga" ucap Aliandra membuat Veros terkekeh kec
Sore itu ruangan VIP Tivane dan Rigecherta sudah sangat ramai karena semua sahabat serta Risa dan Aliandra ada di sana. River masih mengoceh random untuk mencairkan suasana di sana. Skyler juga akan menambahi dan membuat suasana terasa damai dan hangat. Veros sendiri hanya tersenyum kecil namun sesekali matanya melirik ke arah handphone nya. Milenia, Luci, Ella dan Tivane terlihat berbincang santai sambil cekikikan kecil saat memandangi foto lucu anak mungil Tivane yang terlihat tidur dengan bibir mengerucut, persis seperti bibir Tivane saat tertidur. Risa sendiri masih memandangi Rigecherta yang masih menutup mata. Rasa penyesalan menyelinap di hatinya, saat ia memutuskan membawa Tivane ke rumah nya dan memisahkan mereka. Andai ia lebih percaya pada anaknya dan tidak terlalu terlarut dalam trauma masa lalunya. Aliandra sudah ikut join bersama River dan Skyler yang sudah ngejokes ala bapak-bapak. Mungkin sata muda ia terbilang asik dan sangat exstropetr. Jadi jo
Keesokan harinya, semalaman River dan lainnya menjaga Tivane dan Rigecherta bergantian. Malam para cowo, dan paginya para cewe yang akan menjaga. Mereka selalu ada dan tetap menemani saat Tivane dan Rigecherta tidak sadarkan diri. Kini, ruangan itu hanya berisi Milenia dan Ella. Sedangkan Luci sedang mengecek pasien di ruangan lain. Milenia masih terlihat lelah karena baru pulang pengajar. Ella memang tidak pergi ke kantor, ia memilih membawa berkas dan kerjaannya ke rumah sakit. Saat mereka berdua asik dengan dunia masing-masing, Milenia dengan handphone nya, dan Ella dengan laptop dan setumpuk berkasnya. Di atas ranjang, jari telunjuk Tivane terlihat sedikit bergerak di ikuti dengan kelopak matanya yang perlahan terbuka. Tivane mengerjap kecil dan menoleh pelan ke arah samping. Ia melihat kedua temannya sedang sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Rasa haus langsung menyerang Tivane membuat ia menoleh ke arah gelas di atas nakas. Tangannya perlahan terulur
Saat ini ruangan itu terasa penuh namun juga terasa berat, dua orang di atas brankar yang berbeda namun bersebelahan itu masih menutup mata dengan nafas teratur. Rigecherta dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajahnya, serta beberapa perban karena luka luka di tubuh serta pelipis nya juga selang infus di tangan kirinya. Tivane dengan wajah pucat dan selang oksigen di hidungnya serta selang infus di tangan kirinya kini wanita itu benar-benar terlihat lemah tak berdaya. Semua orang di dalam ruangan itu diam dengan helaan nafas berat. " Mau di kasih tau sama Tante Risa dulu nggak nih?" Tanya Skyler bersiap menelpon ibu Rigecherta. " Jangan dulu. Nanti kalau terlalu mendadak ia akan syok. Nanti om sendiri yang akan menjemput Risa." Ucap Aliandra membuat mereka mengangguk kecil. Pintu ruangan terbuka menampilkan Veros yang datang dengan Milenia di samping nya. Begitu sampai di dalam ruangan, Milenia langsung merasa lemas saat melihat sahabat baikny
Hari ini kampus trilogi itu terlihat sangat ramai oleh para Maba, juga para orang tua dan dosen yang bertugas berkumpul di lapangan kampus itu. Acara penyambutan mahasiswa baru universitas mengadakan hang out yang vibes nya seperti study tour karena akan di bawa ke daerah terpencil namun indah
Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in
Masa libur semester sudah berakhir. Kini sekolah sudah mulai masuk. Maka semester ini mereka sudah mulai masuk tahun sibuk dengan ujian, praktek, try out dan lain lain. Pagi itu Tivane tampak sudah menunggu di sepan rumahnya sambil mengunyah roti dan sedang mengikat tali sepatu nya. Motor R
Suasana di taman kota itu terlihat sangat ramai. Apalagi di sudut Rigecherta dan lainnya sedang tertawa sehabis naik wahana dan Skyler malah pusing hampir muntah. Mereka benar benar bermain seharian. Naik beberapa wahana dan juga jajan sepuasnya sampai hari menjelang sore. " Thanks for this







