ANMELDENEula adalah seorang budak yang menghabiskan seluruh hidupnya hanya disiksa oleh keluarga Erax hingga dirinya meninggal karena fitnah kejam dari Erax sebagai keluarga angkatnya, memfitnah dirinya telah meracuni sang putri yang sakit sakitan. Eula dihukum mati dengan sangat kejam. Namun, entah kenapa tiba tiba saja ketika dirinya membuka mata ia malah kembali ke 2 tahun yang lalu sebelum dirinya ditemukan oleh keluarga Erax. "Aku tidak akan membiarkan diriku masuk ke neraka itu lagi!"
Mehr anzeigen"BERDASARKAN HUKUM KEKAISARAN VENITH, EULA ERAX AKAN DIBERIKAN HUKUM PENGGAL DIHADAPAN RAKYAT VENITH, BESOK!"
Di dalam penjara kecil yang mirip dengan sangkar, seorang gadis terduduk. Rambut kusut bagaikan sarang burung, pakaian yang compang-camping, lalu wajahnya yang kusam dan kotor. Di dalam penjara keliling yang tidak di tutupi kain, dirinya di pertontonkan kepada seluruh rakyat Kekaisaran Venith. Tubuhnya bergetar kuat mendengar cemooh, bahkan kebanyakan dari mereka melempari batu padanya. "Dasar pembelot! " "Berani sekali dia membunuh tuan putri manis kita, semoga neraka adalah tempatmu gadis sialan! " Eula Erax adalah anak angkat dari keluarga Erax yang merupakan bangsawan tingkat 4 di Kekaisaran Venith. Eula ditemukan dan di adopsi oleh Daza, kepala keluarga Erax. Eula pikir, sikap Daza dalam mengadopsi nya itu dipenuhi ketulusan, namun ternyata sebaliknya. Dirinya dijadikan sebagai bahan percobaan dalam eksperimen nya dan sebagai pelindung atas perilaku putrinya yang meracuni Athania, sang putri Kekaisaran Venith. Yah, mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi begitu saja. sekarang, hanya tersisa penyesalan dan kepasrahan, Eula tidak berharap apa pun lagi. Kalau saja waktu bisa diputar kembali. Tak! "shhhh... " Eula meringis pelan, ia menyentuh kening nya, cairan berwarna merah mengalir, sakit. Apa ini hal yang pantas untuk diterima oleh dirinya? Apa salahnya? Setelah selesai dipamerkan sebagai tersangka, kini Eula diseret kayaknya hewan, sangat kasar untuk menghadap yang mulia kaisar. Ringisan terus Ia keluarkan di sepanjang jalan, pandangan nya tidak fokus, seakan akan tidak ada orang satu pub di istana utama. Dengan langkah lunglai, kedua tangan yang di ikat, pakaian yang compang-camping dan rambut yang kusut berhasil membuat para ksatria langsung memalingkan pandang karena jijik. Eula di dorong kasar oleh ksatria yang mendampingi nya hingga dirinya tersungkur. "Apa keinginan terakhir mu wahai penjahat! " suara berat yang keluar dari mulut kaisar membuat jantung nya berdegup kencang, boleh kah dirinya meminta kesempatan untuk hidup? "Tolong ampuni saya, yang mulia. " "KURANG AJAR! " Permaisuri Edis lantas berdiri, dapat Eula liat dengan sekilas, wajahnya penuh amarah dan kebencian yang mendalam. mungkin jika tidak ditahan oleh Kaisar, wanita itu sudah berlari dan membunuh Eula dengan tangan nya sendiri. "Permaisuri tenangkan dirimu.. " Entah keberanian dari mana, Eula mendongak dan tersenyum menyedihkan, bibirnya gemetar "Walaupun beribu kali saya katakan bahwa itu bukan kesalahan saya, yang mulia tidak akan mempercayai nya kan? Saya tidak bermaksud lari dari hukuman, tidak bermaksud meminta pembebasan, tapi boleh kah saya meminta pengampunan dari yang mulia atas kesalahan yang tidak saya lakukan itu?" Kedua mata Eula menatap Kaisar kosong, tidak ada sorot kehidupan di dalam matanya seakan akan gadis itu sudah bersiap mati kapan pun. "Mengapa?" "Saya tidak ingin mati jika yang mulia masih menyimpan dendam pada saya." kaisar menatap sang istri yang sedari tadi menatap tajam penuh kebencian, wajah permaisuri merah padam. Ia mengusap lengan permaisuri lembut "Ku serahkan padamu, permaisuri. " "Tidak, aku tidak akan memaafkan orang yang telah membunuh putriku!" Mendengar perkataan permaisuri, Eula menghela napas kasar, seolah-olah belenggu penderitaannya semakin kencang membelenggu, bahkan impian untuk mati dengan damai pun terasa seperti fatamorgana yang semakin menjauh. "Bawa dia ke penjara bawah tanah!" Titah Kaisar yang membuat ksatria yang berada di samping nya kembali menyeret kasar Eula. Air matanya meluruh, menatap sekejap kedua orang yang duduk di singgasana yang menampilkan ekspresi yang tidak dapat Eula artikan. "Maaf, Maafkan saya... " Walaupun itu bukan lah kesalahannya, Eula terus mengulang kata 'maaf' seperti mantra. *** Dikediaman Erax. Seorang gadis berambut biru legam menatap keluar jendela sebentar, ia menggigit ujung telunjuknya, samar-samar terasa sakit yang berhasil mengalihkan kekacauan dalam hatinya sebentar. Kini, langkahnya bergerak tak tentu arah, seperti binatang yang terperangkap di dalam sangkar. "Elaya! " Elaya terus tersihir oleh lamunan nya, ia mengabaikan suara samar yang terus memanggilnya berulang kali dari balik pintu kamar. "ELAYAAAA! " Terkejut, napasnya memburu. Elaya langsung membalikkan badannya. Disana seorang pria bertubuh besar berdiri, kedua tangan nya mengepal dengan wajah yang penuh kemarahan. "Apa? Ada apa ayah? " gadis itu kebingungan hingga membuat Daza langsung mendekati nya dan langsung menutup jendela kamar milik putri nya. "Sudah berapa kali ayah memperingati mu? Jangan buka jendela sebelum rakyat jelata itu mati! " Elaya menunduk dalam, menggertak giginya "Maaf ayah. " Helaan napas panjang terdengar, pria itu langsung duduk di atas kasur putrinya. ia mengusap rambutnya kasar dengan raut wajah prustasi. "Kalau bukan karena kau, semuanya tidak akan seperti ini. Dasar anak tidak berguna! " Sinis Daza membuat Elaya terdiam. "Apa yang harus ku lakukan sekarang ayah? " Elaya masih tak berani menatap wajah Daza karena rasa takutnya. "Diam saja, jangan keluar. " Kedua nya kini tenggelam dalam keheningan, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika Eula sudah dihukum mati. Hanya ada suara ketukan sepatu yang sengaja diketuk berulang kali oleh Daza. Apakah mereka benar benar akan selamat? Belum sempat menyelesaikan pemikirannya, tiba-tiba suara aneh terdengar. Portal berwarna hitam muncul dari depan pintu kamar, memecah kesunyian. Dari dalam portal, para pasukan ksatria berbaju hitam keluar, lalu langsung mengangkat pedang mereka, membuat keduanya terperanjat kaget dan ketakutan. "Apa apaan ini???! " Paniknya. Daza bergegas menghampiri Elaya lalu menarik nya agar berada dibelakang Daza. Dari dalam portal, seorang lelaki bertubuh tegap dengan rambut emas dan mata merahnya muncul, memancarkan aura yang berbeda dari yang lain. Pakaiannya yang mewah dan berbeda dari para ksatria lainnya membuat Elaya dan Daza semakin terintimidasi. Derap langkahnya yang menggema mendekati mereka menjadi musik yang menegangkan, membuat jantung mereka berdetak lebih cepat. Tatapan nya begitu tajam, mampu membuat kedua nya jatuh berlutut. "Pa-pangeran ke-2...." cicit Elaya pelan sambil ketakutan, mendengar itu sontak membuat Daza gemetar "Salam kepada yang mulia Pangeran Ke-2. se-sebuah kehormatan bisa bertemu dengan pangeran, " katanya terbata bata sambil tersenyum masam. "Dasar serangga tidak tahu malu! " Sinisnya penuh penekanan "Tangkap dua serangga itu dan bawa ke istana utama! Mereka harus bertanggung jawab! " Titah nya membuat dua org itu panik bukan main. Para ksatria langsung menahan keduanya. "TIDAK TIDAK! APA MAKSUD PANGERAN?!!! " "BERANI SEKALI ORANG BIASA SEPERTI KALIAN MENYENTUHKU!!!! " **** Di dalam penjara, Eula duduk memeluk lutut nya. Ia mendongak menatap keatas, tepatnya menatap lubang kecil. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia menatap ujung kakinya yang terluka, disana terdapat bekas gigitan tikus yang masih membekas. Pandangannya kini kembali ke lubang kecil itu, dan Eula merasakan kesedihan yang tak terhingga. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah kering, seperti hatinya yang sudah mati rasa. Disaat seperti ini, dirinya malah dirundung rindu pada sang ibu yang sudah pergi. Andai saja ia bisa pergi mengikuti ibu, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Ibu kenapa pergi nya sendiri? Ajak Eula mati bersama ibu. "Nona Eula." Eula tidak berniat menoleh, dirinya tetap diam tak bergeming. "Minum ini sekarang. " Ia menoleh, mendapati sang pelayan dari keluarga Erax berdiri dengan membawa ramuan. "Kenapa?" pertama kalinya, ia melihat seseorang menangisinya. Pelayan itu menangis, dan entah lah apakah itu tangisan yang tulus atau penuh sandiwara. Eula tidak mau mempercayai siapapun lagi, bahkan disaat saat terakhir nya. "Tolong minum ini, nona." Pelayan itu mendekati Eula lalu memberikan ramuan yang ada di dalam botol kepadanya. "Perintah dari pria itu? " pelayan itu malah memeluk Eula lalu menangis "Maaf, hanya ini yang bisa saya lakukan untuk menebus dosa saya, nona. Saya tidak mau melihat nona mati disaksikan oleh orang orang jahat itu." Ia melepaskan pelukan nya. "Ini adalah racun, minum sekarang jika nona tidak mau merasakan mati dipenggal di hadapan semua orang, saya tidak akan memaksa. Saya permisi, nona." Setelah itu dia pergi meninggalkan Eula yang terdiam menatap botol berisi racun yang kini tergenggam ditangan nya. Eula mengusap lehernya seraya meringis, Ia membayangkan dirinya di penggal lalu dengan cepat Ia meneguk racun yang pelayan itu bawa seketika jantung nya terasa berhenti, dirinya jatuh dengan darah yang keluar dari telinga, hidung dan mata. Ya Tuhan, sungguh tragisnya hidup Eula."Dasar monster!"Eula memberontak, namun tenaga dua penjaga itu cukup kuat. Dirinya tidak berhasil kabur. Eula berhasil kembali di kurung dalam sebuah ruangan yang gelap, tubuhnya lemas, bekas suntikan dari kedua lengannya terlihat. "Lapar... " Dia terus menggumamkan itu berulang kali seraya menyentuh perutnya. Pintu yang awalnya tertutup rapat kini terbuka dengan perlahan, Eula langsung mendongak, disana seorang pelayan berdiri dengan kepala yang celingak celinguk, seperti tengah memastikan sesuatu. Dia berlari menghampiri Eula, membawa segelas air bersih. "Nona, minum lah." Tanpa ragu, Eula meraih dengan tangan gemetar. Ia meneguk air itu seperti orang kesurupan. Sudah tiga hari lamanya dia tidak makan atau minum, Eula terus berada du ruangan eksperimen untuk di uji darahnya oleh Daza, karena tidak sengaja tadi dirinya melukai Daza akhirnya dia bisa kembali ke ruangan tanpa peralatan eksperimen ini. "Nona, dengarkan saya... " Pelayan itu memegang tangan Eula. "Saya akan bant
Hari ini, Seluruh murid melakukan pembersihan lingkungan bersama-sama. Itu merupakan rutinitas yang sudah diterapkan sejak dulu, dimana terdapat satu hari yang di khusus kan untuk merawat lingkungan yang ada di akademik, itu bagian dari pembelajaran dikelas. Para murid tampak asik, menyirami dan memotong rumput. Tidak adanya pengawasan membuat mereka terus berbincang tanpa melupakan tugasnya. "Kapan selesai nya sih?""Tidak tahu, sudah lah jangn terus mengeluh seperti itu."Mereka yang berucap cukup keras pun tak Rupa ubris, memotong rumput dengan pikiran yang melayang. Raganya ada, namun jiwa nya seakan tengah berkelana. "Hei rambut yang seperti kambing!" Suara itu milik Thomy, ia bersama Cedric kini berdiri tak jauh dibelakang nya. "Apa kau bilang?""Apa kau melihat Eula?"Laki-laki di depannya tampak berpikir sejenak, "Siapa Eula?" dia malah balik bertanya. "Kau tidak kenal?" Dia menggeleng lalu kembali melanjutkan aktifitas nya. "Hei!""Jangan dipaksa, coba tanya yang lain."
"Kita harus mendekati, Thea."Eula mengernyit bingung, ia bertanya-tanya apa yang sebenarnya Cedric katakan barusan. Thomy dan Sausan juga tampak penasaran, mengapa tiba-tiba Thea? Tepat di malam hari, mereka tengah berkumpul di belakang Asrama perempuan. Belum jam nya untuk tidur jadi mereka menyempatkan untuk berbincang-bincang. Ke-empat anak itu kini tengah duduk di kursi kayu yang saling berhadapan dibawah pohon, lampu tiang yang menyoroti mereka, tempat ini memang cocok untuk digunakan dimalam hari. Bintang-Bintang yang menemani bulan itu tampak indah jika dilihat dari tempat mereka saat ini. "Apa maksud mu, Cedric?" Tanya Eula tak paham, bukan apa-apa sebenarnya tapi itu kan sangat susah dilakukan, mengingat Thea yang membenci mereka. "Monster yang tadi kita hadapi itu berasal dari wilayah Barance, dan kita tidak tahu apa penyebab segel monster itu pecah, kita perlu informasi dari Thea," jelas Cedric. "Kenapa harus Thea?""Dia putri bungsu, Magnu bukan? Tidak mungkin hal se
Di akademik Kekaisaran Helix terdapat 7 petinggi. Di urutan paling atas adalah kepala sekolah sekaligus pemimpin menara sihir yang berasal dari keluarga Magnu. Alex Dri Magnu adalah nama lengkapnya, pria yang berusia 40 tahun itu merupakan Ahli sihir di Kekaisaran Helix sekaligus Kakek dari Thea. Dibawah Alex, ada Maja dan Cisa yang bertugas mendisiplinkan para murid sekaligus guru sihir dan matematika. Lalu, ada Brian dan Jaya yang bertugas mengurus dan mencatat alat-alat pelatihan para murid yang baru dan yang rusak. Mereka adalah guru yang bertugas untuk memberikan pelatihan pedang atau cara bertahan dan menyerang. Kemudian yang terakhir ada Daya dan Desya, si kembar yang memiliki peran sebagai guru filsafat dan bisnis. Para petinggi adalah cendekiawan yang berasal dari keluarga biasa, kecuali kepala sekolah, Alex. "Bagaimana ini, master? Kita harus segera mencari penyebab segelnya terbuka, ini akan sangat membahayakan para murid," Seru Petinggi, Desya. Kini, para petinggi Aka
Gelembung besar berwarna jingga melayang di udara. Eula menyunggingkan senyumnya, ia menoleh pada Sausan, "Berhasil!" Sausan bertepuk tangan, turut merasa senang dengan pencapaian Eula. Dikelas sihir tadi, Eula adalah orang yang susah membuat gelembung sihir dari cahaya matahari. Hingga akhirnya g
Suara pena yang dijatuhkan halus di atas meja terdengar, pena itu tergeletak di samping secarik kertas yang sudah di balut oleh amplop berwarna putih. Sejenak Eula memandangi amplop dengan tulisan 'untuk ayah tersayang' lalu ia menyenderkan punggung nya pada penyanda kursi. Ternyata sudah satu min
Eula, Thomy, Cedric, dan Sausan kini tengah beristirahat. Mereka duduk melingkar dengan api unggun sebagai pusatnya. Thomy sedari tadi terus memperhatikan interaksi antara Eula dan Cedric, ia nampak begitu penasaran dan meminta penjelasan. Namun, Sausan hanya diam seraya memeluk kedua kakinya. Waja
Tunggu? Apa maksudnya? Kening Eula mengernyit dengan mata yang kini terpejam. Raungan harimau dan rasa sakit di lengannya membuat nya tidak fokus. "Jangan pikirkan apapun Eula... Temukan dirimu dikegelapan itu sekarang.. "Dengan susah payah ia mencoba tenang dan mengabaikan suara raungan dan teri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.