LOGINWhy is everyone rejecting me, Adam? You want to send me off too? Like I don’t matter?” “Sofia…” Adam whispered, taking her face gently in his hands. Her tears soaked his palms as she sobbed uncontrollably. “You know how much I love you, how much I’ve wanted this,” he began, his voice steady but pained. “But not like this, Sofia. Not when you’re hurting like this. You’re not in the right state of mind, and I don’t want to take advantage of that. You’re too important to me.” She shook her head again, her hands trembling as she grabbed his and guided them to her dress. “Defile me, Adam,” she choked out, her voice raw and desperate ********** Two families, one battlefield. For generations, the Kavanaughs and the Monteros have been at war, boardrooms clashing, businesses sabotaged, and grudges passed down like family heirlooms. At the Worldwide CEO Summit, however, the game changes. Arrogant, driven Adam Kavanaugh expects to spar with his lifelong rival, Mateo Montero. Instead, he’s blindsided by a fierce and captivating substitute, Sofia Montero. Bold, brilliant, and beautiful, Sofia is everything he wasn’t prepared for and everything he can’t seem to resist. * Adam and Sofia fought for their love but the family Rivalry fought against them. The families discovered that Sofia was already carrying Adam's offspring….not just one but two…….Twins In a world where love is the ultimate vulnerability, can Adam and Sofia bridge the chasm of rivalry? Or will the sins of their families condemn them to a love that was never meant to be? Will the children involved change anything? This is a tale of hate turned passion, family legacies in turmoil, and the cost of choosing love over loyalty.
View More“Mas, aku sudah menemukan calon yang cocok untuk kamu!”
Shara menarik seorang wanita muda berumur dua puluh tahunan ke hadapan suaminya, Rio.“Via?!” Jelas saja Rio terkejut karena wanita yang dibawa istrinya adalah Slavia, adik iparnya. “Kamu sudah gila, Ra?”Shara menarik napas keras. “Aku sudah suruh Via buat periksa, Mas! Kandungannya sehat, dia bisa hamil anak kita!”Rio memegang keningnya. Hanya karena ambisinya untuk memiliki momongan, Shara rela melakukan segala cara.“Aku memahami keinginan kamu sebagai istri yang ingin menjadi seorang ibu, tapi bukan begini caranya.” Rio berkata penuh wibawa, meskipun ada otot berkedut di punggung tangannya. “Kamu suruh aku menikahi adik iparku sendiri, di mana pikiran kamu?”“Aku tertekan, Mas! Teman-temanku sudah memiliki momongan semua, paling tidak satu! Aku malu kalau mereka kumpul bawa anak-anaknya!”“Ya sudah, kalau begitu untuk sementara kamu menghindar saja dan tidak usah ikut nongkrong.”“Nggak bisa begitu, aku ini ketua perkumpulan ... Tolonglah, Mas—lakukan ini demi aku!”Sementara pasangan suami istri itu beradu pendapat, Slavia lebih memilih diam. Dia tidak ingin terjebak dalam persoalan rumah tangga kakaknya, tapi kenapa justru sang kakak sendirilah yang membawanya masuk ke ranah pribadi mereka?“Dokter menyatakan kita berdua sehat, itu artinya kamu Cuma diminta bersabar untuk menunggu.” Rio mencoba memberikan pengertian. “Aku dan keluargaku tidak pernah menuntut soal anak, kenapa malah kamu sendiri yang membuatnya rumit?”“Sabar sampai kapan, Mas?” sentak Shara dengan kedua bahu naik turun.“Kamu suruh aku menikahi adik ipar aku sendiri, memangnya siapa yang menjamin kalau Via langsung bisa hamil?”“Setidaknya kita coba dulu, Mas!”“Dan kalau ternyata tidak berhasil, kamu mau membuang Via begitu saja? Di mana perasaan kamu?”Demi apa pun Slavia ingin sekali menyingkir pergi dari hadapan mereka berdua supaya tidak harus mendengarkan perdebatan mereka lebih jauh lagi.“Ya itu sudah risiko, Via juga sudah setuju—iya kan?”Rio langsung menoleh ke arah Slavia yang menghindari tatapannya.“Kan Kakak yang maksa, pakai ngancam-ngancam segala ....”“Via!” tegur Shara disertai dengan pelototan.Rio menarik napas. “Aku tetap tidak setuju, kasihan Via—dia juga memiliki masa depan, rencana kamu Cuma akan membuatnya terjebak masalah yang tidak seharusnya.”“Terus kamu nggak kasihan sama aku, begitu?”“Mau bagaimana lagi? Dokter sudah bilang kita tidak ada masalah apa pun soal kesuburan, Ra!”Namun, Shara tidak peduli. Dia sudah merancang rencana cerdas untuk bisa mendapatkan buah hati impiannya dengan memanfaatkan kepolosan Slavia. Setelah keinginannya itu terwujud, dia akan memberikan kompensasi yang besar kepada Slavia untuk biaya hidup di tempat yang terpisah dari anaknya kelak.Sementara itu, Slavia sangat lega karena Rio menolak ide Shara. Sejak awal, Shara yang selalu menekannya dan mengungkit jasa-jasa yang pernah dia lakukan untuk membantu Slavia meraih pendidikan yang layak sejak usaha toko orang tua mereka mengalami kemunduran.“Ingat ya Vi, biaya sekolah dan kuliah kamu tuh nggak sedikit! Kamu pikir ongkos transpor dan jajan kamu itu dibayar pakai daun?” gerutu Shara saat itu.“Aku tahu, Kak. Suatu saat nanti aku pasti akan balas semua kebaikan Kakak sama aku ....”“Kamu bisa membalasnya sekarang dengan cara menikahi Mas Rio dan jadi istri keduanya untuk sementara.”“Tapi Kak, itu nggak mungkin! Kak Rio kan kakak ipar aku, kenapa sih Kakak nggak memilih bayi tabung saja?”“Pikir dong, Vi! Kamu pikir biaya untuk bayi tabung itu nggak mahal?” semprot Shara sambil berkacak pinggang. “Kalau kamu yang hamil kan aku bisa menekan biaya supaya nggak semahal bayi tabung.”Slavia menghela napas.“Pokoknya kamu harus mau melahirkan anak untuk aku, setelah lahiran kamu bisa pergi jauh dari sini dengan uang yang sangat besar!”“Terus aku nggak boleh sama sekali bertemu sama anak aku?” tanya Slavia sambil menatap wajah ambisius kakaknya.“Ya iyalah, bisa lengket bayi itu kalau dari awal sudah kenal sama ibu kandungnya. Makin susah pisahnya, tahu nggak?”Slavia mengerjabkan matanya dan tidak menjawab.“Kamu mau kan bantu kakakmu ini?” tanya Shara dengan intonasi suara yang jauh lebih rendah, seakan sedang memohon. “Aku sangat ingin punya anak, lima tahun pernikahan dan aku belum hamil sampai sekarang ... Sebagai perempuan, kamu pasti tahu gimana rasanya ....”Melihat Shara memohon seperti itu, demi apa pun Slavia menjadi tidak tega.“Aku ... cuma kalau Kak Rio bersedia,” kata Slavia akhirnya. “Apa pun alasannya aku nggak mau dianggap sebagai orang ketiga di dalam rumah tangga kakakku sendiri.”Shara langsung menerbitkan senyum di bibirnya.“Kamu tenang saja, biar aku yang menjelaskannya ke orang tua kita. Ini semua keinginan aku, jadi kamu sama sekali nggak bisa disalahkan.” Dia memeluk Slavia erat. “Percaya sama aku, Vi. Aku akan menyayangi anakmu seperti darah dagingku sendiri, aku janji.”Slavia tidak berkata apa-apa, dia bimbang dan juga tertekan.***“Mas, kamu kok tega sama aku sih?”Sore itu Rio baru saja tiba di rumah, dan langsung disambut dengan omelan Shara.“Tega bagaimana?”“Kenapa kamu nggak mau menikah sama Via?”Rio menghentikan langkahnya, kemudian menatap Shara.“Apa masih kurang jelas? Via itu adik ipar aku,” jawab Rio tegas.“Tapi Mas, ini demi kebaikan kita bersama! Aku sudah susah payah membujuk Via biar mau menikah sama kamu, tapi kamu malah seperti ini ... Tolong kamu ngertiin aku, Mas.”Rio membuang napas berat. Pulang kerja dalam kondisi capek, sampai rumah bukannya disambut dengan penuh cinta malah disambut masalah baru.“Kita terapi saja, bagaimana? Meskipun aku juga nggak tahu apa yang harus diterapi, kata dokter kita ini sehat kok—atau kamu mau cari dokter lain buat second opinion?”Shara menggeleng tegas. “Kelamaan, Mas. Aku yakin banget kok kalau Via bisa cepat hamil kalau menikah sama kamu ....”“Sudahlah, aku capek.”“Mas, aku belum selesai ngomong! Jangan pergi dulu, Mas!”Rio tidak mendengarkan teriakan istrinya. Dia sudah hapal karakter Shara yang keras. Semakin ditentang, justru wanita itu akan semakin memaksa.Apa dia pikir Rio juga tidak memiliki keinginan yang sama? Sebagai suami, tentu saja dia juga menginginkan keturunan sebagai pelengkap rumah tangganya.Namun, apa harus dengan cara mengorbankan adik ipar sendiri?Sejak pembicaraan sensitif itu, Slavia memilih untuk menyibukkan diri dengan mengelola toko kelontong milik ayah ibunya yang mau tidak mau harus mengalami kemerosotan akibat kalah bersaing dengan toko online yang menjamur.Toko itu bukannya sepi atau tidak laku lagi, hanya saja omzet penjualan mengalami penurunan yang cukup besar.“Apa aku cari kerja saja ya, Bu?” celetuk Slavia. “Biar kalau toko ini nggak bisa diharapkan lagi, aku punya pemasukan untuk bantu-bantu kebutuhan kita.”“Ngapain kamu bingung-bingung, ada kakak kamu yang selama ini kasih uang bulanan yang lebih dari cukup.” Ibu menyahut sembari merapikan stok sabun cuci di etalase.Bersambung—Seven Months Later……The hospital room was filled with warmth and laughter, the air humming with quiet joy. Sofia lay in bed, exhausted but glowing, cradling one of her newborn twins while Adam held the other. Their tiny faces, soft and delicate, were a perfect blend of their parents, small miracles wrapped in blankets of blue and pink.Tears welled in Sofia’s eyes as she watched Adam, his usual composure shattered by the overwhelming love he felt for their children. His strong hands, always steady, now trembled as he traced a gentle finger over their daughter's cheek.“They’re perfect,” he whispered, his voice thick with emotion.Sofia smiled, nodding. “They really are.”The door opened, and in poured their family, faces lit with excitement, voices hushed in reverence for the two little lives that had just entered the world. Grandma Valerie gasped, pressing a hand to her mouth, while Gregory Kavanaugh clapped him on the shoulder, pride shining in his eyes.“Oh, my sweet girl,” Aunt M
"Oh no! The fish!"A sudden sizzle and a sharp, burnt smell filled the air.Adam and Sofia pulled apart, eyes wide in horror as they turned toward the fire. Smoke curled from the skewered fish they had been cooking, now completely blackened and charred beyond saving.For a moment, there was silence. Then…..They both burst into laughter.Adam ran a hand down his face, shaking his head. "Well… there goes dinner."Sofia giggled, leaning into him. "At least we have coconuts?"Adam groaned dramatically. "I never want to see another coconut again."Sofia laughed harder, and Adam couldn't help but smile as he watched her. Even in the middle of nowhere, even after everything they had been through, she was still his sunshine. And as long as they had each other, they would find a way to survive.*********Ellie sat on the lavish couch, her eyes glued to the television screen as the news played on repeat. The reporters stood by the ocean, their faces grim, helicopters hovering in the sky as dive
Few hours later, Adam managed to get two small fishes from the ocean, he knew some basic survival skills so he out then to use, from the cave he got two stones and made a fire, his grandma had showed him this trick when he was young, who would have thought he would need that knowledge now, like the saying goes, no knowledge is a waste.Sofia was amazed and couldn't keep shut “ how did you do that, please teach me” “ Alright, but not today” he replied The fire crackled softly in the quiet of the evening, casting flickering shadows against the cave walls. The salty breeze from the ocean mixed with the earthy scent of the jungle, but Sofia barely noticed any of it.She sat close to Adam, her hands clenched in her lap, struggling to find the right words. Her throat felt tight, and guilt weighed heavily on her chest. She had been holding back for so long, but now, in this isolated place with nowhere to hide, she couldn't keep it in anymore.She took a shaky breath and whispered, "Mi Rey
Next Morning:::Despite the relentless efforts of Adam's men, there was still no sign of him or Sofia. Hours had passed, turning into a painful stretch of time, and the search party seemed to grow more frantic with each minute. Daniel paced back and forth, frustration clouding his normally composed demeanor. His gaze constantly flicked to the horizon, as if hoping the impossible would happen, that Adam and Sofia would rise from the water, safe, unharmed. But no. Nothing. He got the news that few hours after he left thei house, Sofia was taken and now the where both missing underwater.Lily, standing by Daniel’s side, had her hand pressed to her mouth, tears staining her cheeks. The cold breeze did little to numb the pain she felt, as her mind kept replaying the horror of hearing the news of Adam and Sofia’s disappearance.At the shoreline, Mateo, Ryan, Gad, Diana, Anna, and even Grandma Valerie and Aunt Melda had just arrived that morning, the news of Adam and Sofia’s vanishing pullin












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.