MasukMataku menyipit saat melihat Atma dan Raden Airlangga pulang dengan membawa sesuatu di tangan mereka. Ku pandangi Atma yang mengajakku masuk ke dalam rumah, wajah anak itu lebih cerah dari terakhir kalinya ku temui. Dia memberikan mangga kepadaku entah dari mana anak itu mencurinya."Makan ini, Pakdhe Asmoro membaginya untukmu," ujar Atma sambil tersenyum dan menyodorkannya di depan mulutku."Nah, ini beberapa makanan yang bisa ku berikan padamu," timpal Raden Airlangga dan aku menolaknya."Bagaimana bisa aku memakan ini?""Tentu saja kamu kunyah dengan mulutmu," ujar Raden Airlangga enteng."Bukan, maksudku... ini makanan dari keraton, tidak mungkin aku memakannya begitu saja.""Aku membawanya dengan susah payah tahu, kamu tidak menghargainya sama sekali," keluh Raden Airlangga dan memunggungiku."Padahal aku tadi mengurangi jatah porsiku dan mengambil makanan lagi di keraton sampai kena pukul juru masuk," gumam Raden Airlangga sambil memakan roti isi ayam."Raden Airlang
Di sela-sela kegiatan kami, tiba-tiba pikiranku terpaku pada suatu hal dan dengan cepat aku sedikit mendorong tubuh Raden Kaningrat yang langsung refleks mundur dan dari wajahnya muncul tanda tanya. Aku memiringkan tubuhku tidak ingin melihat wajahnya."Ada apa, Danastri?" tanyanya masih di posisinya."Tidak... aku hanya merasa ini tidak benar," ucapku, "Maksudku di situasi seperti ini kita masih bisa seperti ini dan...."Raden Kaningrat membungkam mulutku dengan bibirnya, "Aku tidak peduli, Danastri. Bahkan jika semua orang mengutuk diriku aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikmati waktuku bersamamu," ujarnya dengan sorot mata teduh."Tapi Raden, kita ini berbeda. Mau dilihat dari sisi manapun kita tidak bisa bersama, kehidupan kita, strata kita, semuanya sangat bertolak belakang.""Masalahnya apa?""Masalahnya kita tidak bisa bersama," jawabku sedikit bergetar dan aku bisa merasakan hatiku seperti disayat sesuatu.Raden Kaningrat memperbaiki posisinya dan terduduk, hela
Mataku mengerjap beberapa kali, setelah keributanku dengan Raden Kaningrat tadi pagi tidak lama Wardi dan Raden Airlangga berhasil membawa seorang tabib yang dengan cepat mengobati lukaku. Bahkan aku tidak sadar sudah tertidur cukup lama. Pandanganku beralih ke seberang dan ku temukan wajah dengan serius menatapku lurus."Sudah bangun?" tanyanya dan ku miringkan tubuhku ke arah lain. "Makan, aku sudah menyiapkan makanan untukmu.""Aku tidak lapar," balasku cepat. "Harus makan dari semalam pasti kamu tidak makan," perintahnya yang bergerak ke arahku dan duduk di tepi kursi panjang."Danastriku...""Apa?""Bangunlah, kamu harus makan agar cepat sembuh," ucapnya dengan nada suara lebih lembut. "Jangan mengurusku, Raden benci melihatku di sini, kan?" tanyaku masih di posisiku."Sejak kapan aku benci melihat gadisku pulang menemuiku," jawabnya membuatku berhasil menatap ke arahnya."Tadi! Raden Kaningrat seperti membenciku untuk pulang!" Raden Kaningrat mencondongkan tubuhny
Mataku sayup-sayup bisa melihat seseorang yang tidak asing, aku tersenyum tipis "Atma," panggilku yang berhasil membuat suasana rumah itu cukup ramai."Danastri, bagaimana dia bisa ada di sini?" tanya Atma pada Raden Sembada yang meletakkan tubuhku di kursi panjang."Ada apa Mas Sembada? Apa yang terjadi?" tanya seseorang yang suaranya sudah cukup lama tidak ku dengar."Gawat, Kaning. Danastri datang kemari dengan keadaan seperti ini." Wajah lelah milik Raden Kaningrat langsung terlihat jelas di netraku tangannya memegang tanganku, mencoba menerima di depannya adalah diriku yang sedang kesakitan. Rasa khawatir mereka membuatku merasa bersalah kali ini, aku yang tidak sabar menunggu Atma kembali berujung seperti ini."Danastri, bagian mana yang sakit? Tabib! panggilkan tabib sekarang!" panik Raden Kaningrat melihatku pucat pasi."Apa yang terjadi, Danastri? Bagaimana bisa kamu ke sini sendirian?" timpal Atma yang sama paniknya."Aku akan menyusul Wardi, tunggu sebentar!" Raden Air
Aku bisa merasa udara sekitarku menipis saat ku temukan seseorang memergokiku yang bersembunyi, jantungku seperti berhenti memompa. Samar-samar aku melihat wajahnya yang tidak terlalu jelas karena cahaya dari obor tidak cukup menjangkau ke tempatku. Suara para prajurit yang berkeliling atau lebih tepatnya merasa ada orang yang bersembunyi mereka mencoba mendekati."Shutt, diam dulu," ucapnya yang menarikku untuk bersembunyi agar tidak tertangkap. "Tadi aku seperti mendengar ada suara seseorang di sekitar sini," ucap salah satu prajurit yang mengayun-ayunkan obornya."Halah, tidak ada. Mungkin perasaanmu saja," timpal kawannya sambil menutup mulutnya yang menguap."Tidak, aku yakin ada seseorang di sini.""Mungkin hanya kucing. Sudah ayo kita kembali ke tempat kita saja!" "Mereka sudah pergi," ucap laki-laki di depanku yang berhasil menyelamatkan nyawaku kali ini. "Bagaimana bisa kamu ada di sini? Seharusnya kamu tidak ada di sini, Danastri." Tangannya memegang kedua len
Mataku mengerjap beberapa kali kurasakan hawa sekitarku menjadi lebih dingin dari sebelumnya, tanganku berusaha menghangatkan lenganku, bulan purnama terlihat jelas di mataku seperti memberikan peringatan bahwa hari masih gelap. Aku juga baru menyadari diriku pingsan sebentar, tangan kiriku terangkat ke atas sampai satu kunang-kungan hinggap di telunjukku. Pendengaranku menangkap sesuatu yang tidak jauh dari tempat diriku berbaring."Kita harus mendapatkannya," ucap seseorang.Sial mereka belum juga pergi, batinku. Dengan susah payah aku merangkak mencoba menjauh berharap mereka tidak akan menemukan keberadaanku. Aku mencoba berdiri dan berjalan sambil memegang lenganku yang terkena panah, rasanya sangat sulit berjalan di keadaan seperti ini apalagi cahaya bulan sedikit tertutup awan. Telingaku sayup-sayup masih mendengar prajurit keraton kebingungan mencariku."Harusnya dia mati, mungkin saja terjatuh ke sungai," keluh orang mengendarai kuda putih. "Kita tetap harus me
“Pakdhe...apa pakdhe pernah mengeluh tentang ini semua? Raden Sembada secara tidak langsung memaksa untuk menjagaku,” ucapku menyender ke tiang rumahnya.“Sepertinya tidak, mau bagaimanapun keluargamu baik, Danastri. Dan aku sangat bersyukur Dharma mau menjagamu secara langsung mengizinkanmu untuk
Aku berdiri mengetuk pintu di depanku, tidak ada suara dari dalam sana. Ku coba menengok ke dalam rumah itu melalui jendela sampai menemukan seseorang yang berjalan ke arah pintu dan menanyai siapa yang datang.“Oh, Danastri. Ada apa datang kemari sepagi ini?” tanya gadis itu sambil menggelung ramb
Raden Airlangga tersenyum sambil menaik turunkan alisnya, “Astaga Danastri pipimu sangat merah. Ada apa ini? Jujur saja kamu pasti menyukaiku, kan?”“Aku kaget kamu bertanya seperti itu, Airlangga!”“Hahaha...Huh...jika kamu menyukaiku aku harus bertarung melawan Kaningrat,” ujarnya dengan wajah se
Atma melirik ke arahku setelah Barga pulang beberapa saat lalu, sedangkan aku sibuk melahap ikan bakar buatan Barga yang dia masak untukku di sela-sela mereka berdua menginterogasiku macam-macam tadi.“Danastri, apa kamu menyukai Raden Airlangga?” tanyanya tenang.Aku yang mendengarnya langsung ter







