로그인Danastri merupakan gadis yang hidup sendirian untuk memenuhi kebutuhannya dirinya menjadi penari di kraton, sampai suatu hari sebuah pagelaran yang diadakan di kraton berhasil menarik perhatin seseorang setelah melihatnya menari. Dia adalah Kaningrat, salah satu pangeran yang hidupnya sangat tertutup. Kehidupan Danastri mulai sedikit berubah setelah bertemu dengan Kaningrat, laki-laki bangsawan dekat dengan seorang penari merupakan hal yang tidak wajar. Namun, kedekatan mereka membuat Danastri tidak nyaman berbeda dengan Kaningrat yang merasa nyaman di dekat Danastri. Sampai akhirnya suatu peristiwa membuat Danastri harus pergi dari desanya dan berpisah dengan Kaningrat.
더 보기Suasana yang tenang lebih tenang dari biasanya, tidak. Lebih tepatnya seperti ini setiap hari orang-orang sudah sibuk melakukan rutinitasnya setiap hari ada yang pergi ke sawah, ke pasar, dan ada yang hanya berdiam diri di rumah. Namun, di rumah kecil ini aku hanya sendirian karena baru saja menyelesaikan semua tugasku yang ku awali dari subuh tadi. Rutinitas seperti ini sudah biasa ku jalani, terlahir dengan keadaan di mana aku harus menghidupi diriku sendiri dikarenakan kedua orang tuaku sudah tidak ada dan tumbuh melalui belas kasih orang lain, membuatku harus berhenti menerima uluran tangan dari orang-orang di sekitarku. Pagi ini dengan udara yang masih sejuk terlihat ibu-ibu yang sedang sibuk menata dagangannya di pasar, sementara anak-anak berlarian menikmati udara pagi yang masih sejuk, dan para petani berjalan ke sawah.
Hari ini di antara hiruk pikuk itu, waktunya aku berlatih di sanggar milik keraton yang tidak jauh dari rumah sebagai penari lepas cara ini merupakan satu-satunya yang dapat ku lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejujurnya menjadi penari di keraton sangatlah sulit dan seleksinya cukup ketat, maka dari itu aku hanyalah cadangan dapat dikatakan sebagai penari panggilan untuk acara-acara tertentu. Terkadang pekerjaan ini membuatku sedikit khawatir karena upah yang kudapatkan berbeda dengan penari tetap, tapi inilah satu-satunya cara untuk menyambung hidup. Tidak terasa kakiku sudah sampai di sanggar. Suasana di sanggar hari ini cukup ramai rasanya sedikit mengobati rasa sepiku yang hidup sendiri. Bersama mereka, aku seperti memiliki keluarga karena mereka cukup baik denganku.
“Danastri kali ini kita akan menarikan tari Bedhaya Semang,” ucap Ratih salah satu penari tetap keraton dan orang yang selalu menyapaku setiap datang ke keraton.
“Untuk acara besar kah?” tanyaku sambil membenarkan selendangku. “Betul sekali, kali ini pagelaran yang disuguhkan dari keraton sangat istimewa dan kamu harus tahu jika para bangsawan maupun ningrat akan menonton kita,” tambah Ratih yang sangat bersemangat dan aku tersenyum.
“Ayo semuanya kita mulai berlatih,” ucap Manik ketua tari dan orang kepercayaan keraton yang mengurus acara budaya memulai latihan dan memberi pengumuman terkait acara yang digelar di keraton.
Setelah selesai kegiatan menari, aku memutuskan untuk pulang. Latihan hari ini terasa lebih berat berulang kali aku menarik napas saat Manik memberikan arahan menari tadi. Di sepanjang jalan aku memikirkan berbagai hal dalam waktu 2 minggu lagi acara pagelaran dari keraton akan dilaksanakan, sebenarnya bukan pertama kali aku menari di keraton hanya saja kali ini lebih meriah dari biasanya membuatku sedikit berdebar apalagi semua bangsawan akan diundang ke acara itu.
“Danastri...Danastri....” panggil seseorang ta ku dengar sampai akhrinya ada yang menepuk bahuku pelan.
“Atma, kamu mengagetkanku saja!” teriakku sambil memegangi selendangku dengan kuat dan hampir saja memukuli Atma. Atma adalah temanku dari kecil, keluarganya menganggapku sebagai anaknya meskipun keluarga Atma bukanlah keturunan bangsawan atau ningrat, tapi keluarga mereka termasuk jajaran orang kaya. Atma adalah sahabatku dan keluargaku satu- satunya.
“Hahaha, begitu saja kaget. Payah,” ucap Atma mengejekku, “Kurang ajar tentu saja aku kaget kamu tiba-tiba turun dari pohon mangga seperti monyet.”
“Jika aku monyet kamu juga monyet, Danastri.” Atma mencibir, sambil menjulurkan lidahnya. Kemudian, Atma menarik hidungku dengan kencang dan tanpa kata aku mengejarnya yang sudah berlari menjauh dariku.
“Atma aku membencimu, berani sekali kamu berbicara seperti itu!” teriakku, sedangkan laki-laki itu semakin menjadi mengejekku tanpa lama aku mengambil batu di dekatku dan melemparnya sampai menyentuh punggungnya.
“Kurang ajar kamu Danastri. Ini namanya penyiksaan anak gila,” keluh Atma yang tersungkur di bawah tanah dan aku memandangnya dari atas sambil menjulurkan lidah.
“Siapa yang menyuruhmu berani denganku Atmajaya?” tanyaku sambil membantunya berdiri.
“Denganmu saja kenapa aku harus takut? Apa kamu tidak tahu aku harus bisa melindungimu dari marabahaya?”
“Ya, terima kasih sudah mau melindungiku, tapi aku masih bisa menjaga diriku dengan baik.” Atma hanya tersenyum dan mengacak rambutku pelan.
“Kamu mau mangga?” tanyanya sambil tersenyum usil dan aku tahu sore ini akan melakukan hal gila bersama Atma.
“Stt...diam saja jangan berisik,” ucap Atma yang sudah berada di pohon mangga. Jujur saja aku ingin naik ke sana, tapi pakaian ini sangat sulit untuk melakukan hal itu. Atma yang sepertinya menyadari hal itu menarik tanganku membantu untuk naik.
“Sulit sekali bodoh,” aku memarahi diriku sendiri yang tak kunjung dapat naik ke atas. “Pegang ranting itu bodoh dengan begitu kamu dapat naik,” ucap Atma setengah berbisik.
“Siapa yang kamu katakan bodoh, Atma?” tanyaku dengan melotot tidak terima, tapi tetap saja aku mendengarkan sarannya.
“Begitu saja kamu tidak bisa, Danastri. Ayo makan ini.” Atma menyerahkan mangga ke depan mulutku sebelum aku berbicara lebih banyak lagi.
Pohon mangga ini sebenarnya milik keluarga Asmoro yang merupakan saingan terbesar dan musuh bebuyutan keluarga Atma. Atma sering sekali mengambil mangga milik keluarga itu meskipun nanti ketahuan yang akan maju membela Atma adalah kepala keluarga di rumahnya, Dharma. Ayah dari Atma yang merupakan tandingan dari Asmoro, aku tidak tahu jelas sebenarnya duduk perkara dari kedua keluarga ini yang jelas keluarga Asmoro sering merendahkan keluarga Atma dan cara yang bisa dilakukan Atma adalah mengambil buah- buahan di belakang rumah Asmoro.
“Mereka memang menyisakan untuk kita atau bagaimana?” tanyaku sambil sibuk memakan buah itu dengan nikmat.
“Tentu saja tidak mungkin–”
“Anak setan berani-beraninya kalian makan dengan santai di pohon manggaku.” Ya, suara itu milik Asmoro. Orang itu baru saja keluar dari pintu belakang dan melihat kami di atas pohon mangga sambil menikmati mangga yang ditanam dari zaman nenek moyangnya.
“Bagaimana ini, Atma.” Panikku yang ku tatap laki-laki itu mengambil beberapa mangga lagi.
“Turun kalian sekarang, hari ini kalian harus diadili massa karena mencuri manggaku!” Teriak Asmoro sambil membawa tongkat panjang ingin memukuli kami berdua.
“Lihat, memangnya kami peduli. Manggamu ini paling sebentar lagi akan mati karena tersambar petir hahaha...benar kan, Danastri?” ucap Atma dengan enteng, sedangkan pria tua itu sudah mengepalkan tangannya.
“Anak gila bagaimana bisa kamu mengatakannya semudah itu padahal kamu memang mencuri,” ucapku berbisik sambil memukuli lengannya di satu sisi Asmoro pemilik mangga ini masih marah-marah sambil mengacungkan tongkat bambu ke arah kami.
“Tenanglah, Danastri jangan panik,” ucap Atma seperti tanpa beban, “Berisik sekali orang satu ini, apa keluargamu tidak sadar menjadi omongan tetangga karena pelit jika diminta mangga? Kamu tidak tahu?”
“Si-sialan, bocah sialan. Lihatlah bapakmu itu–”
“Kenapa bapakku? Tampankan?” balas Atma cepat. “Berhenti membawa bapakku, sampai kapan Pakdhe akan cemburu dengan bapakku?”
Mataku mengerjap beberapa kali kurasakan hawa sekitarku menjadi lebih dingin dari sebelumnya, tanganku berusaha menghangatkan lenganku, bulan purnama terlihat jelas di mataku seperti memberikan peringatan bahwa hari masih gelap. Aku juga baru menyadari diriku pingsan sebentar, tangan kiriku terangkat ke atas sampai satu kunang-kungan hinggap di telunjukku. Pendengaranku menangkap sesuatu yang tidak jauh dari tempat diriku berbaring."Kita harus mendapatkannya," ucap seseorang.Sial mereka belum juga pergi, batinku. Dengan susah payah aku merangkak mencoba menjauh berharap mereka tidak akan menemukan keberadaanku. Aku mencoba berdiri dan berjalan sambil memegang lenganku yang terkena panah, rasanya sangat sulit berjalan di keadaan seperti ini apalagi cahaya bulan sedikit tertutup awan. Telingaku sayup-sayup masih mendengar prajurit keraton kebingungan mencariku."Harusnya dia mati, mungkin saja terjatuh ke sungai," keluh orang mengendarai kuda putih. "Kita tetap harus me
Kakiku melangkah mundur mencoba dan berlari secepatnya meninggalkan orang-orang keraton yang bisa mengejarku atau lebih tepatnya menangkapku untuk diseret ke keraton. Suara teriakan di gelapnya malam memacu adrenalinku untuk segera menghindari mereka. Sesekali aku menengok ke arah belakang di mana dua di antara mereka menunggang kuda, membuatku memaksakan diri agar cepat berlari. Sialnya, jubah yang ku kenakan basah membuat pergerakanku tidak terlalu lincah."Berhenti! ku perintahkan berhenti sekarang!" ucap salah satu di antara mereka yang tidak menunggang kuda."Beraninya menguping pembicaraan kami!" teriak salah satunya, "Kita harus menangkapnya apapun yang terjadi," timpal temannya yang setia mengejarku."Sialan, kenapa jadi seperti ini?" keluhku sendiri dan aku menyesal keluar sekarang. "Semuanya jangan sampai kehilangan orang itu!" Derap langkah suara kuda seperti ada tepat persis di belakangku, di gelapnya malam dengan cahaya bulan remang-remang dan suara hewan yan
Sudah beberapa hari ini aku menunggu kabar dari Atma yang entah kemana bocah itu pergi dan tidak kunjung kembali, sedangkan Raden Kaningrat juga dua hari ini tidak terlihat. Perasaanku benar-benar tidak bisa tenang, sejak malam kemarin aku gelisah memikirkan mereka. Bayang-bayang buruk menghinggapi pikiranku, tapi ku enyahkan dan berdoa agar tidak terjadi hal-hal buruk menimpa mereka."Mbak, kenapa?" tanya Damar yang melihatku bolak balik di area dapur saat malam. "Aku hanya haus saja," jawabku bohong, dia terlihat masih mengantuk dan mengucek matanya berulang kali."Ah, begitu. Cepatlah istirahat, Mbak hari masih malam," ujarnya yang kembali ke kamarnya meninggalkan diriku sendiri.Aku menggenggam tanganku sendiri erat-erat, "Tidak bisa, sepertinya terjadi sesuatu di sana," gumamku sendiri dan menatap sekelilingku yang sepi ditemani suara jangkrik di luar. Ku lihat Denastri yang tertidur dengan pulas saat diriku mengambil tas dan jubah. Ku yakinkan diriku semuanya akan
Aku menikmati waktuku selama bersama Raden Kaningrat, tanganku tergerak untuk mengelus wajahnya yang mana kepalanya ditidurkan di pangkuanku. Semilir angin menerpa wajah kami, tapi tiba-tiba aku teringat Atma. Laki-laki itu belum kembali sampai sekarang, Raden Kaningrat seperti bisa membaca isi pikiranku.“Aku sudah bertemu dengan Atma beberapa waktu lalu dia baik-baik saja, Danastri.” Mata Atma mengecek sekelilingnya yang sepertinya desa itu baik-baik saja tidak ada penjaga keraton seperti terakhir kali dia lihat. Langkahnya dengan mantap bergerak maju untuk pergi ke rumah, pikirannya hanya ingin sampai di rumah memakan masakan ibunya dan tentu saja jika sempat dia akan pergi menemui gadisnya.“Aa-“ Tubuh Atma diseret dan diperintahkan untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Di balik rumah milik seseorang, Atma diminta untuk mengikuti seseorang.“Masuk... cepat masuk,” pinta orang itu dan Atma menurut memasuki rumah seseorang yang terlihat sangat megah dan dia tahu
Pagi-pagi buta aku mengantarkan Atma ditemani oleh Damar setelah dia dipaksa untuk bangun oleh Atma, cukup berat langkahku untuk melepaskan Atma kembali ke rumah bukan karena aku tidak nyaman di sini, hanya saja aku takut jika terjadi hal-hal buruk di sana karena kami sama sekali tidak tahu kondisi
Selama aku di sini mereka menceritakan tentang kehidupan bapak yang membuatku kagum padanya, bapak terlahir dari kaum priyayi yang menjunjung tinggi rasa tolong menolong pada orang lain. Bahkan bapak dari umur belasan tahun sudah belajar meracik obat-obatan dan mencoba untuk merantau. Saat bapak ti
“Jika tidak?” tanyaku meragu, “Yah, mungkin kita berdua mati muda di sana,” jawabnya sambil tertawa.“Mulutmu ini benar-benar Atma.” Atma terkekeh mendengarnya dan raut wajahnya menjadi serius.“Danastri semisal kedepannya kamu tidak bisa pulang lagi ke sana dan tiba-tiba Raden Kaningrat menikah ba
Sorot mata Atma mencoba menyakinkan sambil mengusap rambutku beberapa kali. Tangannya terasa cukup dingin kali ini. Pagi ini kami berencana untuk pergi dari desa menunju desa asal bapak. Rencana kami kemarin akhirnya terealisasikan pagi hari, waktu ini dipilih untuk menghindari orang keraton atau p
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.