Share

Bab 3 Dua Garis Merah

Keesokan paginya, Kevin bangun lebih awal dan langsung memeluk Tiara, "Sayang, maafin aku semalam, ya. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa kayak gitu."

Tiara langsung terbangun begitu mendengar suara Kevin. Dia menjawab, "Sakit banget."

Air mata seketika membasahi pipi Tiara, Kevin pun tak tega melihatnya.

"Maafin aku, kamu jangan risau, aku pasti tanggung jawab kalau ada apa-apa! Sekarang, kita pergi ke dokter ya, kita periksa keadaan kamu," ujar Kevin sambil membelai rambut Tiara.

Tiara kaget mendengarnya, ini sungguh tidak mungkin. Bagaimana anak SMA pergi ke dokter untuk memeriksakan diri setelah melakukan hal terlarang? Harus diketahui, Tiara selalu menjaga prinsip mempertahankan kesuciannya sampai pernikahan tiba nanti. Kejadian ini sudah terlanjur terjadi, cukup dirinya merasa malu karena sikapnya sendiri, tidak usah ditambah-tambah mempermalukan diri lagi di depan orang lain.

"Aku ke toilet dulu, harusnya nggak begitu parah."

Tiara mengecek kondisi tubuhnya, ternyata hanya ada robekan sedikit saja di area intimnya. Harusnya, luka ini akan pulih dalam beberapa hari saja.

"Aku baik-baik saja, ingat ya Kevin, ini pertama dan terakhir sebelum kita resmi menikah," ujar Tiara dengan tegas.

Setelah beres-beres barang, Tiara langsung memesan taksi dan pulang sendiri ke kota Cendrawasih. Kevin tak bisa apa-apa, tak bisa menahannya juga. Jadi, dia berencana untuk mengajak Tiara mengobrol lagi saat bertemu nanti.

Dua minggu setelah kejadian itu, perpisahan kelas 3 resmi dilaksanakan. Sepulang dari acara perpisahan itu, Tiara tiba-tiba jatuh pingsan di pintu gerbang sekolah. Teman-teman Tiara langsung panik, termasuk Andin.

"Tiara, kamu kenapa? Aduh, ini karena terlalu bahagia atau apa, ya ..." ujar Andin.

Tiara dinobatkan menjadi lulusan terbaik SMA Bakti saat itu, nilai ujian nasionalnya nyaris sempurna. Tak hanya itu, Tiara juga mendapat kabar sudah diterima di kampus ternama di ibu kota, kota Santana. Andin pikir, Tiara hanya bercanda saja. Namun, setelah melihat wajahnya yang sangat pucat, Andin baru sadar bahwa Tiara benar-benar jatuh pingsan. Alhasil, Tiara pun cepat-cepat dibawa pergi ke klinik sekolah untuk mendapatkan perawatan.

Sekitar satu jam kemudian, Tiara terbangun dan melihat Andin dan kedua orang tuanya berada di sampingnya.

Carla yang pertama bertanya pada Tiara, "Tiara, kamu kenapa? Kok bisa pingsan, kamu belum makan, ya?"

Vandam jauh lebih tenang dalam bersikap jika dibandingkan dengan Carla, dia langsung menenangkan istrinya, "Bu, anak baru pingsan, tanya dulu apa yang dia rasain. Kenapa kamu emosi, sih?"

Tiara belum bisa mendengar begitu jelas ucapan ibunya, dia hanya mendengar sedikit ucapan ayahnya.

"Kenapa ya, kepalaku berat sekali. Aduh ..." Tiara berusaha duduk, tetapi tidak kuat.

"Nak, kita pulang dulu, ya. Kita langsung ke dokter nanti," ujar Vandam.

Vandam dan Carla pun segera membawa Tiara ke dokter. Vandam merasa, putrinya jatuh pingsan mungkin karena kelelahan selama acara perpisahan ini.

Mereka membawa Tiara ke dokter langganan mereka, Dokter Indri. Hasil pemeriksaan mengatakan bahwa Tiara memang kelelahan saja, dia hanya perlu istirahat selama beberapa hari.

Pikiran Tiara masih terfokus pada acara perpisahan tadi, ada hal yang menjanggal dalam benaknya. Kenapa dirinya jadi selemah ini dan kenapa Kevin begitu dingin pada dirinya? Kevin bahkan tidak mau foto bersama dengan Tiara, bahkan tidak menghampiri Tiara juga saat jatuh pingsan di klinik sekolah.

Keesokan paginya, Tiara tiba-tiba muntah. Suara muntah ini pun terdengar oleh Carla, jadi Carla cepat-cepat pergi ke kamar Tiara.

"Nak, kamu kenapa?" tanya Carla.

Tiara hanya menggelengkan kepalanya, lalu setelah beberapa saat dia berkata, "Aku mungkin benar-benar kelelahan kemarin, aku kurang oksigen karena ruangan kemarin begitu sesak."

Penjelasan ini sangat masuk akal di benak Carla, tetapi tidak dalam benak Tiara. Hanya ada satu hal yang terbesit di benak Tiara, mungkinkah dirinya?

Setelah Carla keluar dari kamarnya, Tiara buru-buru berganti pakaian dan pamit pada orang tuanya yang sedang sarapan.

"Bu, Yah, Tiara pergi lari dulu ya sama Kevin!" teriak Tiara.

"Nak, makan dulu kamu!" teriak Vandam tetapi sudah tidak terdengar oleh Tiara.

Tiara berbohong, dia sebenarnya pergi ke apotik untuk membeli alat tes kehamilan. Kata hati tidak boleh diabaikan, jadi Tiara harus memastikan kondisi tubuhnya ini.

Dengan rasa malu yang menghantam, Tiara berhasil membeli alat tes kehamilan. Dia sengaja tidak minum dan makan apa pun dulu agar bisa menggunakan alat itu hari ini juga.

Tiara pergi ke salah satu restoran yang menjual menu sarapan, dia memesan beberapa menu dan pergi ke toilet restoran itu. Dia jelas tidak ingin memeriksa ini di rumahnya karena takut ketahuan.

Setelah mengaplikasikan alat itu, Tiara memasukan alat tersebut ke dalam kotak musik yang sering dia bawa untuk dilihat di meja makan nanti.

Tiara sebisa mungkin menyembunyikan kepanikan dalam hatinya, dia berusaha mengalihkan fokusnya dengan memainkan ponselnya. Sampai suatu pergerakan membuatnya terkejut.

"Ah!"

"Maaf, Kak, ini pesanannya sudah siap. Selamat menikmati," ujar pelayan.

Tiara langsung terkekeh dan berkata, "Hehe, maaf, barusan saya kaget."

Saat melihat jam di ponsel, Tiara baru sadar sudah 10 menit berlalu. Artinya, hasil tes kehamilan itu seharusnya sudah muncul. Setelah itu, Tiara mencoba membuka kotak musiknya dengan mata setengah tertutup, dia benar-benar tidak siap melihat hasilnya.

Begitu dilihat, dua garis merah!

Langit Tiara runtuh, hancur lebur sudah masa depannya.

Tanpa berpikir panjang, Tiara langsung pergi ke kasir untuk membayar pesanannya tadi dan bergegas pergi.

Dalam keadaan pikiran yang kalut, Tiara kebingungan sendiri. Dia ingin pergi ke rumah Kevin, tetapi kenapa dirinya malah terus jalan kaki? Setelah tersadar, Tiara buru-buru menghentikan sebuah taksi dan pergi menuju rumah Kevin.

"Ting! Tong!"

"Ting! Tong!"

"Ting! Tong!"

Setelah tiga kali memencet bel, pembantu Kevin baru datang untuk membukakan gerbang.

"Eh Non Tiara, tumben pagi-pagi ke sini?" tanya Bi Rumi.

"Ada urusan penting, Bi Rumi, Kevinnya ada?" tanya Tiara dengan panik.

"Ada, Den Kevin lagi ...."

"Bruk!" Tiara langsung menerobos masuk ke dalam untuk menemui Kevin.

Begitu masuk ke dalam ruang tamu rumah Kevin, Tiara melihat Kevin sedang melakukan panggilan video dengan seorang wanita. Entah siapa wanita itu, yang pasti Kevin langsung panik dan mematikan panggilan video itu.

"Kamu kenapa tiba-tiba dateng? Kenapa nggak bilang dulu?" tanya Kevin dengan gugup.

"Kevin, kita pergi ke atas dulu, aku mau ngobrol berdua." Tiara langsung menarik Kevin ke lantai atas.

"Tiara, ada apa sih?" tanya Kevin dengan nada yang agak tinggi.

Tiara pun terkejut, selama ini Kevin tidak pernah memanggil namanya. Kevin selalu memanggilnya dengan kata sayang atau baby.

Tiara langsung memberikan alat tes kehamilan pada Kevin dan berkata, "Lihat sendiri, aku hamil, aku hamil anak kamu. Sekarang gimana?"

"Jangan berisik! Jangan sampai kedengaran ibu dan ayah aku!" Kevin seketika menarik Tiara pergi ke kamarnya.

Sambil berjalan, Tiara berkata, "Cepat atau lambat, mereka harus tahu juga, Vin!"

Sesampainya di dalam kamar, Kevin langsung mendorong Tiara hingga terjatuh ke atas kasur, "Gugurin kandungan ini, jangan pernah berharap untuk menuntut aku menikahi kamu! Atau, aku bisa kasih uang bulanan untuk anak ini! Tapi, kamu harus pergi jauh-jauh dari aku."

Tiara tidak menyangka Kevin akan berubah drastis, tetapi Tiara tetap bersikeras meminta pertanggung jawaban Kevin, "Aku nggak mau tahu, keluarga kita harus bertemu untuk membahas pertanggung jawaban ini. Aku nggak mau anak ini lahir tanpa ayah!"

Kevin naik pitam, dia langsung menduduki tubuh Tiara dan berkata, "Sekali lagi kamu bahas soal tanggung jawab, aku habisin kamu!"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status