Compartilhar

Runtuh di Tangan Karma
Runtuh di Tangan Karma
Autor: Limuju

Bab 1

Autor: Limuju
Tak lama setelah Yansen keluar dari rumah sakit, aku segera merapikan barang dan diam-diam mengikutinya.

Mobilnya berhenti di depan sebuah vila yang aku kenal. Aku yang membelinya saat kami baru menikah, sebagai hadiah untuk anak kami kelak.

Namun, bertahun-tahun menikah, kami tak kunjung memiliki anak.

Tanpa sadar aku menyentuh perutku sendiri. Bekas suntikan dari program bayi tabung masih terasa nyeri.

Demi bisa hamil, aku sudah menjalani dua belas kali program bayi tabung dan mengonsumsi obat yang tak terhitung banyaknya.

Tapi vila ini tak pernah lagi aku datangi. Yansen juga tahu, tempat ini adalah luka bagiku.

Mungkin, dalam hatinya, Yansen juga mendambakan seorang anak dariku.

Dokter bilang, kondisi tubuhku sebenarnya cukup baik. Kalau mencoba lagi, peluang keberhasilannya juga tinggi.

Memikirkan itu, aku pun melangkah mendekat.

Aku mendorong pintu besar itu perlahan, tapi pemandangan di dalam langsung menusuk mataku.

Di vila yang aku pilih sendiri, yang seharusnya menjadi hadiah untuk anak kami di masa depan ….

Suamiku berdiri di tengah ruangan, memeluk seorang wanita muda yang cantik.

Jari-jari mereka saling bertaut, dan di jari manis keduanya terpasang cincin pasangan yang sama.

Aku kenal wanita itu, Mona Tedja, sekretaris Yansen.

Dia berasal dari daerah pegunungan. Karena kasihan dengan hidupnya, aku membiayai kuliahnya dan membantu mengobati ayahnya.

Bahkan aku yang mencarikan pekerjaan untuknya, lalu meminta Yansen menjadikannya sekretaris.

Baru beberapa hari lalu, Mona masih menggandeng lenganku.

"Kalau bukan karena Kak Wanda, aku nggak akan kayak sekarang. Kak Wanda udah kayak kakak kandung buat aku."

Lucunya, perempuan yang dulu memanggilku "kakak" itu, sekarang malah bermesraan dengan suamiku.

Hatiku rasanya seperti spons yang direndam air, perlahan mengembang.

Sejak kapan semua ini terjadi?

"Terima kasih buat semua yang sudah hadir untuk menyaksikan pertunanganku dan Mona."

Suara Yansen menggema ke seluruh ruangan melalui mikrofon.

"Yang lebih penting, Mona udah hamil tiga bulan. Aku janji akan selalu jagain dia dan anak kami."

Tepuk tangan bergemuruh, sementara aku membeku di ambang pintu.

Para tamu yang hadir ternyata semuanya adalah karyawan perusahaan yang wajahnya tidak asing.

Selama ini, demi menjaga nama baik Yansen, aku tidak pernah mengumumkan hubungan kami ke publik.

Aku hanya dikenal sebagai wanita yang mengejarnya sepihak.

Setiap hari aku selalu datang ke kantor mengantarkan makanan, dan meski seluruh karyawan terlihat begitu menghormatiku, sebenarnya semua orang sudah tahu tentang hubungan mereka.

Seketika, aku merasa seperti badut yang dipermalukan di depan umum.

Seluruh dunia tahu pria yang aku nikahi mencintai orang lain, hanya aku yang masih terjebak dalam ilusi kebahagiaan.

Bahkan Mona sudah mengandung anak Yansen!

Di sana juga ada Melvin Chandra, sahabat Yansen, orang yang saat pernikahan sederhana kami dulu mabuk berat dan menepuk dada sambil berkata, "Kalau Yansen berani nyakitin kamu, aku yang pertama bertindak."

Kini dia berdiri di samping mereka, mengangkat gelas dengan wajah bersemangat.

"Sebagai teman baik yang udah belasan tahun kenal Yansen, aku tahu banget gimana beratnya hidup dia selama ini."

Suaranya menggema ke seluruh aula lewat mikrofon.

"Hari ini, akhirnya aku lihat dia sudah nemuin kebahagiaan yang sesungguhnya!"

Kebahagiaan yang sesungguhnya? Lalu selama lima tahun ini aku dianggap apa? Hanya lelucon?

Aku mengepalkan tangan erat-erat, sampai ujung kuku menancap dalam ke telapak tangan.

"Mona itu kebanggaan divisi administrasi kami!"

Seorang rekan kerja pria bertubuh agak gemuk berseru, "Kalau Pak Yansen sampai berani nyakitin Mona, kami satu divisi administrasi nggak akan diam aja. Perusahaan ini nggak akan bisa beroperasi seperti biasa!"

Tawa pun pecah di antara kerumunan, disusul siulan dari beberapa orang.

Mona tersipu, memelototi pria itu dengan manja, lalu menatap Yansen dengan penuh perasaan.

Dan Yansen, suamiku, di bawah sorotan semua orang, perlahan berlutut dengan satu kaki, menggenggam kedua tangan Mona.

"Aku, Yansen Suwira bersumpah, bahwa seumur hidupku, aku hanya akan mencintai Mona seorang." Suaranya lembut namun tegas. "Akan aku buktiin di sepanjang sisa hidupku, kalau pilihanmu hari ini nggak salah."

Tepuk tangan dan sorak sorai hampir mengguncang atap ruangan.

Setelah mengucapkan itu, pandangannya menembus kerumunan dan jatuh pada aku yang berdiri di dekat pintu.

Senyumnya langsung membeku, seolah waktu berhenti seketika.

Mona mengikuti arah pandangannya, wajahnya seketika pucat. Tangannya refleks melindungi perutnya.

Aku melangkah cepat ke depan, lalu … "plak" … sebuah tamparan keras mendarat di wajah Yansen.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 9

    Setelah badai berlalu, tibalah waktunya untuk perhitungan.Yansen dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan. Penipuan bisnis, pemindahan aset ilegal dalam jumlah besar, hingga pernikahan ganda dan dijatuhi hukuman total dua puluh tahun penjara.Grup Suwira yang dibangunnya runtuh seketika akibat kebocoran teknologi inti, penarikan dana investor, dan pengosongan kas, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut.Mona juga tak luput dari jerat hukum.Namun karena sedang hamil, dia mendapat penangguhan penahanan dan dijatuhi hukuman percobaan.Melvin pun terlibat dan harus mendekam di penjara dalam waktu yang tidak singkat.Para karyawan Grup Suwira yang dulu ikut memihak dan memperkeruh keadaan, baik di vila maupun di dunia maya, bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga masuk daftar blokir industri karena dampak sosial yang buruk. Mereka kesulitan mencari kerja, dan benar-benar menuai akibat dari perbuatan mereka sendiri.Suatu hari, aku menerima telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengata

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 8

    "Palsu! Semua ini bohong!"Mata Yansen memerah, menunjuk ke layar sambil berteriak histeris."Wanda! Kamu palsuin semua ini cuma karena Grup Linarta udah di ambang kehancuran! Kamu mau nyeret aku ikut jatuh dengan cara licik kayak gini. Pengin paksa aku menyelamatkan Keluarga Linarta, 'kan?! Aku bilang, jangan mimpi!"Menyaksikan perjuangannya yang sia-sia dan memalukan itu, tanpa sadar aku tersenyum."Yansen, sebenarnya siapa yang nggak mampu?"Baru saja aku selesai bicara, pintu samping ruang konferensi didorong keras. Asisten Yansen berlari masuk dengan tergesa-gesa."Pak Yansen! Gawat! Semua data riset inti dan informasi klien perusahaan bocor! Beberapa investor terbesar kita baru aja narik seluruh dana mereka! Dan seluruh dana likuid di perusahaan … hilang dalam semalam!""Apa?!"Yansen seperti tersambar petir. Dia mundur selangkah, menatap asistennya dengan tak percaya."Nggak mungkin! Gimana ini bisa terjadi?! Siapa yang lakuin?!"Seluruh ruangan gempar! Rangkaian kejadian yang

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 7

    Pada hari konferensi pers, ruang acara dipadati berbagai media hingga nyaris tak ada celah kosong.Aku mengenakan setelan rok dan jas hitam yang sederhana.Yansen dan Mona berjalan masuk sambil bergandengan, bagai pihak yang sudah keluar sebagai pemenang. Mereka langsung menghampiriku.Yansen menatapku dari atas ke bawah, sudut bibirnya terangkat dengan penuh keyakinan.Nada suaranya terdengar seolah memberi belas kasihan."Wanda, kalau dari awal kamu setenang ini, semuanya nggak perlu jadi kayak sekarang. Keluarga Linarta dan kamu sendiri juga nggak perlu menanggung akibat kayak begini."Mona segera mendekat, pura-pura menopang lenganku, lalu berbisik di telingaku dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, "Kak, lihat aja. Pada akhirnya, semua milikmu, identitasmu, laki-lakimu, bahkan kejayaan Keluarga Linarta, sebentar lagi akan jadi milikku."Perlahan aku menarik kembali lenganku, lalu mengambil tisu antiseptik di meja dan mengelap bagian yang tadi disentuhnya den

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 6

    Hatiku membeku sedingin es.Ternyata sejak dulu, dia sudah merancang dengan matang segala kebohongan ini!Dan Yansen … pria itu tahu kebenarannya!Yansen tahu betul latar belakang Mona, tahu dia berasal dari desa terpencil, tahu akulah yang membiayai hidup perempuan itu!Tapi Yansen bukan membongkarnya, malah membiarkan, bahkan mungkin ikut membantu sandiwara penyamaran ini!Para karyawan di aula yang tadinya gencar membela dan memuji-muji Mona, kini wajahnya berubah pucat pasi tak keruan, persis seperti orang yang baru saja menelan pil pahit.Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini dipenuhi amarah karena merasa dipermainkan dan kepanikan yang datang terlambat."Kita … kita semua ditipu?""Waktu itu Mona cuma bilang itu foto bersama keluarga, dia nggak pernah jelasin apa-apa. Kita aja yang mengira-ngira.""Tapi dia juga nggak membantah! Bahkan sering menyiratkan kalau Pak Jerry bersikap keras sama dia!"Mona mulai memasang wajah memelas, kembali memainkan peran sebagai korban."Semuany

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 5

    Pintu utama terbuka dengan keras. Ayahku, Jerry Linarta, masuk ke ruangan diiringi sekelompok pengawal berpakaian hitam.Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan seperti elang memburu mangsa, lalu berhenti padaku yang tergeletak meringkuk di lantai. Darah merah menyala mengalir di bawah tubuhku.Dalam sekejap, dari matanya terpancar rasa tak percaya, dan amarah yang meluap.Ekspresi karyawan pria yang tadi paling lantang berteriak langsung berubah. Wajahnya segera memamerkan senyum menjilat, bercampur kecemasan yang mendalam."Pak … Pak Jerry! Kenapa Bapak ke sini?""Kebetulan sekali Bapak datang, ada yang sedang menindas putri Keluarga Linarta di sini."Ucapannya terhenti mendadak. Mengikuti arah tatapan Ayah yang nyaris membunuh, dia pun melihat kondisiku yang mengenaskan di lantai.Dia buru-buru menunjuk ke arahku, mencoba membela diri, "Se-semuanya salah Wanda! Dia yang duluan mengamuk dan mendorong Nona Mona! Padahal Nona Mona sedang hamil! Dia yang buat keributan di sini, ka

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 4

    Aku sudah tidak lagi menaruh harapan pada Yansen."Aku nggak mengambilnya!"Aku langsung menepis tangan Melvin dan menunjuk ke arah pintu. "Yang harusnya pergi itu kalian! Sekarang juga, keluar dari rumahku!""Jangan bercanda. Kamu cuma gadis kampung, dari mana kamu bisa punya rumah kayak begini."Tiba-tiba, suara lembut Mona terdengar."Kak Wanda, kamu salah. Rumah ini udah lama dialihkan atas namaku sama Yansen. Lihat, sertifikatnya ada di sini."Dia mengeluarkan sebuah akta tanah berwarna merah tua dari dalam tasnya. Saat dibuka, pada bagian nama pemilik tertulis jelas "Mona Tedja"."Jadi …."Dia tersenyum, suaranya manis namun kejam."Ini rumahku. Yang seharusnya pergi itu kamu, orang luar."Guncangan hebat itu terasa seperti palu besar yang menghantam dadaku.Ternyata bukan hanya perasaan, bahkan hadiah yang kupersiapkan dengan penuh cinta untuk anakku di masa depan pun sudah lama dia serahkan pada orang lain!Tubuhku yang masih lemah akibat program bayi tabung beberapa hari terak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status