Share

Bab 4

Author: Limuju
Aku sudah tidak lagi menaruh harapan pada Yansen.

"Aku nggak mengambilnya!"

Aku langsung menepis tangan Melvin dan menunjuk ke arah pintu. "Yang harusnya pergi itu kalian! Sekarang juga, keluar dari rumahku!"

"Jangan bercanda. Kamu cuma gadis kampung, dari mana kamu bisa punya rumah kayak begini."

Tiba-tiba, suara lembut Mona terdengar.

"Kak Wanda, kamu salah. Rumah ini udah lama dialihkan atas namaku sama Yansen. Lihat, sertifikatnya ada di sini."

Dia mengeluarkan sebuah akta tanah berwarna merah tua dari dalam tasnya. Saat dibuka, pada bagian nama pemilik tertulis jelas "Mona Tedja".

"Jadi …."

Dia tersenyum, suaranya manis namun kejam.

"Ini rumahku. Yang seharusnya pergi itu kamu, orang luar."

Guncangan hebat itu terasa seperti palu besar yang menghantam dadaku.

Ternyata bukan hanya perasaan, bahkan hadiah yang kupersiapkan dengan penuh cinta untuk anakku di masa depan pun sudah lama dia serahkan pada orang lain!

Tubuhku yang masih lemah akibat program bayi tabung beberapa hari terakhir, ditambah rentetan pukulan batin, membuat pandanganku menggelap. Tubuhku limbung, nyaris tak mampu berdiri.

Melihat itu, Mona segera melangkah mendekat, pura-pura menahan tubuhku.

Tangannya mencengkeram erat lenganku, bibirnya mendekat ke telingaku, berbisik pelan hanya untuk kami berdua, "Berhenti melawan, kakakku yang baik. Posisi sebagai Nyonya Suwira itu udah jadi milikku. Sampai kapan pun, Yansen itu milikku."

Aku menahan pusing dan mual.

"Nggak perlu manas-manasin. Kalau kamu mau pria nggak berguna itu, ambil aja."

Dia tertawa kecil, nada suaranya tak mampu menyembunyikan rasa kemenangannya.

"Oh ya, ada satu hal lagi. Pernah terpikir kenapa selama ini kamu nggak hamil juga?"

Seluruh tubuhku menegang, aku menoleh tajam ke arahnya.

"Nggak sia-sia aku nyiapin begitu banyak kantong aroma 'penenang dan penyubur' buatmu, Kak."

Kantong aroma!

Selama ini, setiap bulan Mona selalu memberiku kantong aroma buatan tangannya.

Katanya untuk menenangkan pikiran dan membantu tidur, dan aku harus menaruhnya di samping tempat tidur.

Ternyata yang membuatku mandul adalah aroma yang menemaniku siang dan malam itu!

"Kamu pantas mati!"

Aku menjerit, tanpa pikir panjang mengulurkan tangan untuk menangkapnya, ingin merobek wajah keji itu!

Mona seolah sudah menunggu momen ini. Saat tanganku hampir menyentuhnya, dia berteriak berlebihan dan menjatuhkan diri ke belakang.

"Mona!"

Wajah Yansen berubah drastis. Dia berlari cepat dan mendorongku menjauh.

Aku sedang dalam keadaan tak siap, tubuhku terhuyung ke belakang dan pinggangku menghantam keras sudut meja marmer yang tajam.

Rasa sakit yang luar biasa meledak dari perutku, keringat dingin langsung membasahi tubuhku.

Cairan hangat mengalir tak terkendali dari sela pahaku.

Anakku … anakku yang telah melalui dua belas kali program bayi tabung, yang memikul seluruh harapanku, justru pergi dengan cara seperti ini.

Rasa sakit membuatku meringkuk di lantai, pandanganku kabur. Di telingaku terdengar jeritan Mona yang bergetar, "Perutku … Yansen, anak kita … sakit banget!"

"Mona!"

Yansen memeluk Mona dengan erat. Saat dia kembali menatapku, yang tersisa di matanya hanya ada kebencian.

"Wanda! Ternyata kamu sekejam itu sampai bayi yang belum lahir juga nggak kamu ampuni."

Aku mencoba bicara, "Tolong … panggilin … ambulans."

Namun, yang kudapat hanya tuduhan dan ejekan dingin dari sekeliling.

"Ambulans? Aku rasa dia cuma pura-pura!"

"Perempuan sekejam itu, berdarah sedikit apa artinya. Mati pun pantas!"

"Pak Yansen terlalu baik, makanya dia terus menjadi-jadi!"

Melvin ikut menambah panas suasana.

"Yansen! Mona dan bayi dalam kandungannya hampir nggak tertolong! Kamu masih mau bersikap lunak sama perempuan berhati ular ini? Kamu terlalu baik!"

"Benar! Perempuan seperti ini memang harus diberi pelajaran!"

"Lepas pakaiannya dan usir keluar! Biar dia juga tahu rasanya dipermalukan!"

Dalam kekacauan itu, beberapa orang mulai ikut bersuara. Beberapa tangan yang berniat buruk mulai menjulur ke arahku.

Rasa hina dan putus asa membuat tubuhku gemetar. Dengan sisa tenaga, aku melindungi diri, suaraku serak namun tegas.

"Aku Wanda Linarta, putri sulung Keluarga Linarta! Kalian berani nyentuh aku?!"

"Keluarga Linarta? Keluarga Linarta yang mana? Jangan-jangan Keluarga Linarta si orang paling kaya itu? Ngomong aja nggak dipikir!"

Melvin mencibir, wajahnya penuh penghinaan.

"Udah di ujung tanduk masih aja keras kepala! Lakukan!"

Tepat saat tangan-tangan itu hampir menyentuh pakaianku ....

Brak! Terdengar suara keras. Pintu utama vila yang tebal tiba-tiba didobrak dari luar.

"Siapa yang berani menyentuh anggota Keluarga Linarta?!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 9

    Setelah badai berlalu, tibalah waktunya untuk perhitungan.Yansen dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan. Penipuan bisnis, pemindahan aset ilegal dalam jumlah besar, hingga pernikahan ganda dan dijatuhi hukuman total dua puluh tahun penjara.Grup Suwira yang dibangunnya runtuh seketika akibat kebocoran teknologi inti, penarikan dana investor, dan pengosongan kas, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut.Mona juga tak luput dari jerat hukum.Namun karena sedang hamil, dia mendapat penangguhan penahanan dan dijatuhi hukuman percobaan.Melvin pun terlibat dan harus mendekam di penjara dalam waktu yang tidak singkat.Para karyawan Grup Suwira yang dulu ikut memihak dan memperkeruh keadaan, baik di vila maupun di dunia maya, bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga masuk daftar blokir industri karena dampak sosial yang buruk. Mereka kesulitan mencari kerja, dan benar-benar menuai akibat dari perbuatan mereka sendiri.Suatu hari, aku menerima telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengata

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 8

    "Palsu! Semua ini bohong!"Mata Yansen memerah, menunjuk ke layar sambil berteriak histeris."Wanda! Kamu palsuin semua ini cuma karena Grup Linarta udah di ambang kehancuran! Kamu mau nyeret aku ikut jatuh dengan cara licik kayak gini. Pengin paksa aku menyelamatkan Keluarga Linarta, 'kan?! Aku bilang, jangan mimpi!"Menyaksikan perjuangannya yang sia-sia dan memalukan itu, tanpa sadar aku tersenyum."Yansen, sebenarnya siapa yang nggak mampu?"Baru saja aku selesai bicara, pintu samping ruang konferensi didorong keras. Asisten Yansen berlari masuk dengan tergesa-gesa."Pak Yansen! Gawat! Semua data riset inti dan informasi klien perusahaan bocor! Beberapa investor terbesar kita baru aja narik seluruh dana mereka! Dan seluruh dana likuid di perusahaan … hilang dalam semalam!""Apa?!"Yansen seperti tersambar petir. Dia mundur selangkah, menatap asistennya dengan tak percaya."Nggak mungkin! Gimana ini bisa terjadi?! Siapa yang lakuin?!"Seluruh ruangan gempar! Rangkaian kejadian yang

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 7

    Pada hari konferensi pers, ruang acara dipadati berbagai media hingga nyaris tak ada celah kosong.Aku mengenakan setelan rok dan jas hitam yang sederhana.Yansen dan Mona berjalan masuk sambil bergandengan, bagai pihak yang sudah keluar sebagai pemenang. Mereka langsung menghampiriku.Yansen menatapku dari atas ke bawah, sudut bibirnya terangkat dengan penuh keyakinan.Nada suaranya terdengar seolah memberi belas kasihan."Wanda, kalau dari awal kamu setenang ini, semuanya nggak perlu jadi kayak sekarang. Keluarga Linarta dan kamu sendiri juga nggak perlu menanggung akibat kayak begini."Mona segera mendekat, pura-pura menopang lenganku, lalu berbisik di telingaku dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, "Kak, lihat aja. Pada akhirnya, semua milikmu, identitasmu, laki-lakimu, bahkan kejayaan Keluarga Linarta, sebentar lagi akan jadi milikku."Perlahan aku menarik kembali lenganku, lalu mengambil tisu antiseptik di meja dan mengelap bagian yang tadi disentuhnya den

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 6

    Hatiku membeku sedingin es.Ternyata sejak dulu, dia sudah merancang dengan matang segala kebohongan ini!Dan Yansen … pria itu tahu kebenarannya!Yansen tahu betul latar belakang Mona, tahu dia berasal dari desa terpencil, tahu akulah yang membiayai hidup perempuan itu!Tapi Yansen bukan membongkarnya, malah membiarkan, bahkan mungkin ikut membantu sandiwara penyamaran ini!Para karyawan di aula yang tadinya gencar membela dan memuji-muji Mona, kini wajahnya berubah pucat pasi tak keruan, persis seperti orang yang baru saja menelan pil pahit.Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini dipenuhi amarah karena merasa dipermainkan dan kepanikan yang datang terlambat."Kita … kita semua ditipu?""Waktu itu Mona cuma bilang itu foto bersama keluarga, dia nggak pernah jelasin apa-apa. Kita aja yang mengira-ngira.""Tapi dia juga nggak membantah! Bahkan sering menyiratkan kalau Pak Jerry bersikap keras sama dia!"Mona mulai memasang wajah memelas, kembali memainkan peran sebagai korban."Semuany

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 5

    Pintu utama terbuka dengan keras. Ayahku, Jerry Linarta, masuk ke ruangan diiringi sekelompok pengawal berpakaian hitam.Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan seperti elang memburu mangsa, lalu berhenti padaku yang tergeletak meringkuk di lantai. Darah merah menyala mengalir di bawah tubuhku.Dalam sekejap, dari matanya terpancar rasa tak percaya, dan amarah yang meluap.Ekspresi karyawan pria yang tadi paling lantang berteriak langsung berubah. Wajahnya segera memamerkan senyum menjilat, bercampur kecemasan yang mendalam."Pak … Pak Jerry! Kenapa Bapak ke sini?""Kebetulan sekali Bapak datang, ada yang sedang menindas putri Keluarga Linarta di sini."Ucapannya terhenti mendadak. Mengikuti arah tatapan Ayah yang nyaris membunuh, dia pun melihat kondisiku yang mengenaskan di lantai.Dia buru-buru menunjuk ke arahku, mencoba membela diri, "Se-semuanya salah Wanda! Dia yang duluan mengamuk dan mendorong Nona Mona! Padahal Nona Mona sedang hamil! Dia yang buat keributan di sini, ka

  • Runtuh di Tangan Karma   Bab 4

    Aku sudah tidak lagi menaruh harapan pada Yansen."Aku nggak mengambilnya!"Aku langsung menepis tangan Melvin dan menunjuk ke arah pintu. "Yang harusnya pergi itu kalian! Sekarang juga, keluar dari rumahku!""Jangan bercanda. Kamu cuma gadis kampung, dari mana kamu bisa punya rumah kayak begini."Tiba-tiba, suara lembut Mona terdengar."Kak Wanda, kamu salah. Rumah ini udah lama dialihkan atas namaku sama Yansen. Lihat, sertifikatnya ada di sini."Dia mengeluarkan sebuah akta tanah berwarna merah tua dari dalam tasnya. Saat dibuka, pada bagian nama pemilik tertulis jelas "Mona Tedja"."Jadi …."Dia tersenyum, suaranya manis namun kejam."Ini rumahku. Yang seharusnya pergi itu kamu, orang luar."Guncangan hebat itu terasa seperti palu besar yang menghantam dadaku.Ternyata bukan hanya perasaan, bahkan hadiah yang kupersiapkan dengan penuh cinta untuk anakku di masa depan pun sudah lama dia serahkan pada orang lain!Tubuhku yang masih lemah akibat program bayi tabung beberapa hari terak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status