LOGINSetelah badai berlalu, tibalah waktunya untuk perhitungan.Yansen dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan. Penipuan bisnis, pemindahan aset ilegal dalam jumlah besar, hingga pernikahan ganda dan dijatuhi hukuman total dua puluh tahun penjara.Grup Suwira yang dibangunnya runtuh seketika akibat kebocoran teknologi inti, penarikan dana investor, dan pengosongan kas, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut.Mona juga tak luput dari jerat hukum.Namun karena sedang hamil, dia mendapat penangguhan penahanan dan dijatuhi hukuman percobaan.Melvin pun terlibat dan harus mendekam di penjara dalam waktu yang tidak singkat.Para karyawan Grup Suwira yang dulu ikut memihak dan memperkeruh keadaan, baik di vila maupun di dunia maya, bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga masuk daftar blokir industri karena dampak sosial yang buruk. Mereka kesulitan mencari kerja, dan benar-benar menuai akibat dari perbuatan mereka sendiri.Suatu hari, aku menerima telepon dari pihak kepolisian. Mereka mengata
"Palsu! Semua ini bohong!"Mata Yansen memerah, menunjuk ke layar sambil berteriak histeris."Wanda! Kamu palsuin semua ini cuma karena Grup Linarta udah di ambang kehancuran! Kamu mau nyeret aku ikut jatuh dengan cara licik kayak gini. Pengin paksa aku menyelamatkan Keluarga Linarta, 'kan?! Aku bilang, jangan mimpi!"Menyaksikan perjuangannya yang sia-sia dan memalukan itu, tanpa sadar aku tersenyum."Yansen, sebenarnya siapa yang nggak mampu?"Baru saja aku selesai bicara, pintu samping ruang konferensi didorong keras. Asisten Yansen berlari masuk dengan tergesa-gesa."Pak Yansen! Gawat! Semua data riset inti dan informasi klien perusahaan bocor! Beberapa investor terbesar kita baru aja narik seluruh dana mereka! Dan seluruh dana likuid di perusahaan … hilang dalam semalam!""Apa?!"Yansen seperti tersambar petir. Dia mundur selangkah, menatap asistennya dengan tak percaya."Nggak mungkin! Gimana ini bisa terjadi?! Siapa yang lakuin?!"Seluruh ruangan gempar! Rangkaian kejadian yang
Pada hari konferensi pers, ruang acara dipadati berbagai media hingga nyaris tak ada celah kosong.Aku mengenakan setelan rok dan jas hitam yang sederhana.Yansen dan Mona berjalan masuk sambil bergandengan, bagai pihak yang sudah keluar sebagai pemenang. Mereka langsung menghampiriku.Yansen menatapku dari atas ke bawah, sudut bibirnya terangkat dengan penuh keyakinan.Nada suaranya terdengar seolah memberi belas kasihan."Wanda, kalau dari awal kamu setenang ini, semuanya nggak perlu jadi kayak sekarang. Keluarga Linarta dan kamu sendiri juga nggak perlu menanggung akibat kayak begini."Mona segera mendekat, pura-pura menopang lenganku, lalu berbisik di telingaku dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh kami berdua, "Kak, lihat aja. Pada akhirnya, semua milikmu, identitasmu, laki-lakimu, bahkan kejayaan Keluarga Linarta, sebentar lagi akan jadi milikku."Perlahan aku menarik kembali lenganku, lalu mengambil tisu antiseptik di meja dan mengelap bagian yang tadi disentuhnya den
Hatiku membeku sedingin es.Ternyata sejak dulu, dia sudah merancang dengan matang segala kebohongan ini!Dan Yansen … pria itu tahu kebenarannya!Yansen tahu betul latar belakang Mona, tahu dia berasal dari desa terpencil, tahu akulah yang membiayai hidup perempuan itu!Tapi Yansen bukan membongkarnya, malah membiarkan, bahkan mungkin ikut membantu sandiwara penyamaran ini!Para karyawan di aula yang tadinya gencar membela dan memuji-muji Mona, kini wajahnya berubah pucat pasi tak keruan, persis seperti orang yang baru saja menelan pil pahit.Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini dipenuhi amarah karena merasa dipermainkan dan kepanikan yang datang terlambat."Kita … kita semua ditipu?""Waktu itu Mona cuma bilang itu foto bersama keluarga, dia nggak pernah jelasin apa-apa. Kita aja yang mengira-ngira.""Tapi dia juga nggak membantah! Bahkan sering menyiratkan kalau Pak Jerry bersikap keras sama dia!"Mona mulai memasang wajah memelas, kembali memainkan peran sebagai korban."Semuany
Pintu utama terbuka dengan keras. Ayahku, Jerry Linarta, masuk ke ruangan diiringi sekelompok pengawal berpakaian hitam.Tatapannya yang tajam menyapu seluruh ruangan seperti elang memburu mangsa, lalu berhenti padaku yang tergeletak meringkuk di lantai. Darah merah menyala mengalir di bawah tubuhku.Dalam sekejap, dari matanya terpancar rasa tak percaya, dan amarah yang meluap.Ekspresi karyawan pria yang tadi paling lantang berteriak langsung berubah. Wajahnya segera memamerkan senyum menjilat, bercampur kecemasan yang mendalam."Pak … Pak Jerry! Kenapa Bapak ke sini?""Kebetulan sekali Bapak datang, ada yang sedang menindas putri Keluarga Linarta di sini."Ucapannya terhenti mendadak. Mengikuti arah tatapan Ayah yang nyaris membunuh, dia pun melihat kondisiku yang mengenaskan di lantai.Dia buru-buru menunjuk ke arahku, mencoba membela diri, "Se-semuanya salah Wanda! Dia yang duluan mengamuk dan mendorong Nona Mona! Padahal Nona Mona sedang hamil! Dia yang buat keributan di sini, ka
Aku sudah tidak lagi menaruh harapan pada Yansen."Aku nggak mengambilnya!"Aku langsung menepis tangan Melvin dan menunjuk ke arah pintu. "Yang harusnya pergi itu kalian! Sekarang juga, keluar dari rumahku!""Jangan bercanda. Kamu cuma gadis kampung, dari mana kamu bisa punya rumah kayak begini."Tiba-tiba, suara lembut Mona terdengar."Kak Wanda, kamu salah. Rumah ini udah lama dialihkan atas namaku sama Yansen. Lihat, sertifikatnya ada di sini."Dia mengeluarkan sebuah akta tanah berwarna merah tua dari dalam tasnya. Saat dibuka, pada bagian nama pemilik tertulis jelas "Mona Tedja"."Jadi …."Dia tersenyum, suaranya manis namun kejam."Ini rumahku. Yang seharusnya pergi itu kamu, orang luar."Guncangan hebat itu terasa seperti palu besar yang menghantam dadaku.Ternyata bukan hanya perasaan, bahkan hadiah yang kupersiapkan dengan penuh cinta untuk anakku di masa depan pun sudah lama dia serahkan pada orang lain!Tubuhku yang masih lemah akibat program bayi tabung beberapa hari terak







