LOGINDi saat aku dan adikku berjuang membantu ibu jualan keliling, teganya bapak berselingkuh dengan adik ibuku. Bahkan mereka mengusir kami dari rumah. Ibuku hanya diam menahan sakit, tapi aku nggak bisa setabah itu. Dengan lantang kukatakan pada bapak," Kami bisa bahagia tanpamu, Pak. Jangan menyesal jika kelak bapak ditinggalkan bibi. Jangan pula merengek maaf dan meminta kami kembali!"
View More"Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek
"Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk
Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga
Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews