KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK

KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK

last updateÚltima atualização : 2026-02-05
Por:  NawankWulanAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Classificações insuficientes
5Capítulos
8visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Di saat aku dan adikku berjuang membantu ibu jualan keliling, teganya bapak berselingkuh dengan adik ibuku. Bahkan mereka mengusir kami dari rumah. Ibuku hanya diam menahan sakit, tapi aku nggak bisa setabah itu. Dengan lantang kukatakan pada bapak," Kami bisa bahagia tanpamu, Pak. Jangan menyesal jika kelak bapak ditinggalkan bibi. Jangan pula merengek maaf dan meminta kami kembali!"

Ver mais

Capítulo 1

BAB 1

"Bapak belum pulang, Bu?" tanyaku pada ibu yang masih sibuk memasak di dapur. 

"Belum, Zi."

"Dari kemarin nggak pulang? Memangnya lembur lagi?" tanyaku memastikan. 

"Sepertinya begitu." Ibu menoleh lalu tersenyum tipis ke arahku. 

"Ibu nggak tanya kenapa bapak nggak pulang semalaman?"

"Bapak itu supir kepercayaan Pak Abdullah, Zi. Wajar jika sering diminta lembur dadakan atau bantu ini itu," ujar ibu menjelaskan. 

Aku menghela napas panjang. Tiap kali aku mulai bertanya tentang bapak, ibu selalu berusaha membuatku tenang dan tak berpikir macam-macam, meski dalam hatinya kuyakin muncul keraguan. Ragu akan jawabannya sendiri. 

"Hari ini ibu goreng tempe lagi? Apa bapak nggak ngasih uang belanja? Apa uang hasil jualan keripik kemarin diminta bapak buat beli rokok?" tanyaku menggebu. 

"Zi ...."

"Sudahlah, Bu. Zizi sudah dewasa. Zizi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tak perlu menutup-nutupinya lagi. Bapak memang keterlaluan." Aku berdecak kesal. 

"Jangan begitu, Zi. Kalau sudah gajian, bapak pasti ngasih ibu uang belanja. Bapak bilang gajian bulan ini telat, makanya kemarin minta duit ibu buat beli rokok sama kopi. Sisanya buat beli tempe ini," ujar ibu berusaha menghibur dan meyakinkanku, meski lagi-lagi kutahu kalau di dalam hatinya pun meragu. 

"Bulan ini telat, bulan sebelumnya, sebelumnya dan sebelumnya juga telat kan, Bu? Lantas saat ibu tanya kemana gajinya, jawabannya cuma habis. Dulu bapak selalu menyisihkan seperempat gajinya buat kita. Meski kurang setidaknya ada secuil tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, Bu. Tapi akhir-akhir ini bapak berubah drastis. Apa ibu nggak curiga?" 

"Curiga apa? Jangan berpikir macam-macam. Bapak sudah capek kerja tiap hari untuk kita, Zi. Doakan saja yang terbaik untuknya. Walau bagaimanapun dia tetap bapakmu. Jangan menyakiti hatinya."

"Kita tak boleh menyakiti hatinya, lantas apa dia bebas menyakiti hati kita, Bu?" Aku semakin kesal karena ibu selalu membela bapak tiap kali kami berdebat.  

Sebenarnya tak tega berdebat dengan ibu apalagi membuatnya menangis, tapi dadaku teramat sesak. Aku malas memendam kekesalan itu sendirian. Aku lelah. 

"Makanlah. Ajak adikmu makan sekalian. Kalau hari ini capek, istirahat saja. Nggak usah jualan. Nanti ibu titipkan ke warung saja keripik singkongnya," ujar ibu sembari menyodorkan beberapa potong tempe goreng di piring. 

"Kita harus lebih banyak bersyukur, Zi. Di luar sana banyak yang jauh lebih menderita dibandingkan kita. Sekarang kita masih bisa makan dengan kenyang meski cuma pakai lauk tempe, tapi di luar sana ada banyak orang yang kelaparan." 

"Memangnya selama ini Zizi tak pandai bersyukur, Bu?"

"Bukan begitu, tapi-- 

Ibu menghentikan kalimatnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada ibu. Aku tahu, kalimatnya ini hanya secuil pembelaannya pada bapak agar aku tak terus mengungkit tentang tanggungjawabnya sebagai kepala rumah tangga. Tapi mau sampai kapan begini? 

Sejak dulu bapak selalu menghabiskan gajinya untuk kepentingannya sendiri. Seolah untuk keluarga hanyalah sisanya saja. Namun kini perangai bapak jauh lebih menjengkelkan. Bapak tak pernah memberi uang belanja pada ibu beberapa bulan terakhir. Ada saja alasannya, tapi ibu selalu percaya dan legowo apapun yang dikatakan bapak. Dampaknya, aku dan Amy harus rela jualan keripik keliling kampung tiap pulang sekolah agar bisa membayar uang bulanan dan belanja kebutuhan harian. 

Ibu yang sakit-sakitan, bapak tak bertanggungjawab dan adikku yang masih belia kadang membuat pikiranku kemana-mana. Ingin rasanya berhenti sekolah, tapi sayang aku sudah kelas dua dan sebentar lagi naik ke kelas tiga. Tapi melihat keadaan keluarga yang serba kekurangan, sering kali membuat mood belajarku berantakan.

"Mbak, kita makan pakai tempe lagi?" bisik Amy, adik semata wayangku yang kini berusia 12 tahun. Aminah duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. 

"Iya, Dek. Makan saja, jangan lupa baca doa. Kita harus bersyukur atas apapun dan berapapun rezeki dariNya." 

Mau nggak mau, aku mengikuti ucapan ibu demi menenangkan dan menyenangkan batin Aminah. Gadis kecil itupun mengangguk lalu mengambil dua potong tempe dan secentong nasi ke piringnya. 

Air mataku menggenang melihatnya begitu lahap makan meski dengan lauk seadanya. Amy memang termasuk anak yang penurut dan  jarang sekali protes apalagi minta ini dan itu. Dia paham betul bagaimana kondisi keluarganya. 

Sejak kanak-kanak, dia sudah sibuk membantu ibu membuat keripik singkong lalu menjajakannya keliling kampung bersamaku. Dunia kanak-kanaknya seolah tergerus oleh waktu begitu saja karena keegoisan dan kesemena-menaan bapak. 

"Dek, hari ini kamu main saja biar Mbak yang jualan. Jangan ikut Mbak terus. Kamu pasti juga pengin main sama teman-temanmu kan?" ujarku setelah melihatnya menyelesaikan makan siang dan mencuci bekas makannya. 

"Amy ikut Mbak Zizi aja jualan keripik. Amy malas main sama teman-teman."

"Kenapa? Apa ada yang membully?" 

Adik semata wayangku itu terdiam sejenak lalu tersenyum tipis menatapku. 

"Nggak kok, Mbak."

"Lantas kenapa nggak mau main sama mereka?" tanyaku lagi. Amy menghela napas lalu menunduk seketika. 

"Teman-teman selalu bawa handphone saat main bersama, Mbak. Mereka sibuk tukar cerita atau foto. Amy malas kalau mereka tanya lagi dan lagi kapan Amy punya handphone. Handphone kan nggak wajib, kenapa mereka seolah mewajibkan Amy punya handphone juga sih," gerutunya. 

Aku tahu betul bagaimana perasaan Amy saat ini karena aku pun merasakan hal yang sama. Jangankan dia yang masih sekolah dasar, aku yang sudah SMA saja tak memiliki handphone. Makanya, di sekolah pun aku jarang berbaur dengan teman-teman. Ah, sepertinya mereka yang lebih malas berbaur denganku karena perbedaan kami yang terlalu besar ini. 

"Amy pengin punya handphone?" tanyaku lirih. 

"Nggak, Mbak. Kalau ada uang, simpan saja buat beli seragam. Amy kan sudah mau lulus SD. Nanti butuh banyak biaya untuk seolah menengah. Mbak aja nggak punya handphone, masa Amy yang masih SD ini pakai handphone segala. Buat apa?" Senyum tipisnya terukir di bibir, tapi kedua matanya sedikit berkaca pertanda dia berusaha baik-baik saja. 

"Kan sering ada tugas dari sekolah, Dek. Makanya banyak yang punya handphone. Kalau Amy mau, kita bongkar celengan aja gimana? Mungkin cukup buat beli handphone yang murah."

"Jangan, Mbak. Itu kan tabungan Mbak Zizi masa buat beli handphone Amy. Soal tugas di sekolah, masih ada Nayla yang senang berbagi kabar. Jadi, buat Amy handphone itu tetap bukan barang yang wajib dibeli." Kini kedua matanya berbinar saat menatapku. Aku pun tersenyum melihatnya yang terlihat lebih legowo dibandingkan sebelumnya. 

"Mbak, jangan bilang ibu ya?" bisiknya sembari celingak-celinguk, mungkin takut jika ibu mendengar obrolan kami. 

"Iya. Memangnya kenapa?" bisikku pula. 

Wajahnya yang tadi sedikit berbinar, kini mendadak murung. 

"Kenapa? Mbak janji nggak bilang sama ibu." Amy kembali mengangguk. 

"Tadi Amy ketemu Mira. Dia pulang sekolah pakai sepeda baru." 

"Amy mau sepeda?" tanyaku lagi, mencoba memahami ceritanya, tapi jawabannya ternyata tak sesuai dugaanku. Amy menggeleng pelan. 

"Lantas?" 

"Mira bilang, sepeda itu bapak yang belikan. Dia juga bilang kalau semalam bapak menginap di rumahnya. Apa benar yang dikatakan Mira, Mbak?" tanyanya polos. 

Aku benar-benar kaget mendengar ceritanya. Firasatku selama ini ternyata benar adanya. Bapak memang memiliki hubungan lain dengan Bi Siti. Wanita berusia tiga puluh tahun yang baru lima bulanan ini berstatus single parent. 

Mungkin hatiku tak sesakit ini jika dia tak berhubungan darah dengan ibuku. Sayangnya, Bi Siti dan ibu memiliki bapak yang sama meski dilahirkan dari rahim yang berbeda.

***

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
5 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status