MasukBu Sinta datang ke penthouse Bryan tanpa memberi kabar. Ia mendapati anak bungsunya duduk di balkon menatap langit Jakarta tanpa bintang yang terlihat jelas.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini, terlihat murung?” tanya Bu Sinta lembut. Ia merasakan ada sesuatu dengan putranya.Bryan menggeleng pelan, pandangannya jauh. “Enggak ada apa-apa, Ma.""Baiklah, kalau belum mau cerita dengan mama. Bry ... Nadia sudah memberikan lampu hijau untuk kembali denganmu. Kenapa sekarang,Pandangan Nadia menelusuri ruang tamu penthouse Bryan. Usai resepsi mereka berdua langsung masuk lift menuju kediaman Bryan selama ini."Sini aku bantu lepasin bajunya, pasti kamu mau segera mandi bersihkan badan, kan. Semua barang sudah dirapikan di kamar, Dia." Nadia tidak menolak bantuan yang ditawarkan pria yang sudah resmi menjadi suaminya kembali itu. Nadia langsung mandi di kamar utama, ia tersenyum simpul saat melihat ranjang yang dihias cantik sedemikian rupa. Mama mertuanya menyiapkan semuanya dengan sebaik mungkin sebagai rasa bahagia mereka bersatu kembali..“Mm … kalau kita enggak terlahir di dunia, kita ngapain, ya?”Bryan menatap wajah wanitanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang terlintas di kepala istrinya, "Enggak ada. Benar-benar kita enggak ngapa-ngapain, kayaknya.”Nadia menghela napas pendek. “Terus kenapa kita jadi lahir, ya? Kalau enggak lahir, kan enak. Kita enggak perlu pusing mikirin banyak permasala
Bryan berdiri di samping Nadia, sesekali melirik wanita itu. Hatinya menghangat melihat bagaimana mata Nadia berbinar tiap kali menatap bayi. Ada kelembutan yang tak pernah pudar dari dirinya, kelembutan seorang ibu.“Kalian bermalam di sini saja, Nay? Besok pagi baru berangkat pulang,” tawar Bu Riska, setengah berharap.Nadia menggeleng lembut. “Gampang itu, Bi … habis dari sini, kita mau ziarah ke makam nenek, ayah, ibu. Lalu mampir ke tempat Buliknya Bryan.”“Oh, begitu … ini, kalian pergi berdua. Jangan-jangan sudah resmi balikan, ya?” goda Bu Riska dengan senyum semringah.Bryan tertawa kecil. “Belum. Ponakan Bibi masih belum mau saya halalin,” jawabnya santai dan sukses mengundang gelak tawa orang-orang di ruang tamu.“Ih, kamu ini, apa sih, Yan!” Nadia mencubit lengan pria itu gemas.“Lha, bener, kan … apa yang kubilang barusan. Dari dulu, kamu yang enggan kuhalalin,” bisik Bryan tepat di telinga Nadia.Nadia mena
“Waktu Papa bilang padaku … tentang Zyan,” ucap Bryan akhirnya.Tubuh Nadia seketika menegang.“Kalian semua sudah tahu tentang Zyan?" suaranya nyaris tak terdengar. Iya, ternyata tebakan keluarganya bahwa keluarga Narendra sudah tahu siapa Zyan terbukti benar.Bryan memejamkan mata sejenak, lalu berbalik menghadap Nadia. “Papa dan mama sudah lama tahu, bahwa Zyan adalah anak kita. Aku sendiri mulai sadar saat mendonorkan darah padanya. Dan sejak itu, aku merasa seperti manusia paling berdosa di dunia ini.”Ruangan seketika terasa sunyi, hanya tersisa dengung AC yang mengisi sela-sela keheningan.Nadia menunduk. Tangannya gemetar di pangkuannya. “Jadi … selama ini, sikapmu berubah karena itu.”Bryan mengangguk. “Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Setiap kali melihat Zyan, aku ingin memeluknya, mengaku sebagai ayahnya … tapi aku juga ingat ucapan Papa, untuk menghormati keputusan kalian.”Ia melangkah mendekat. “Dan
Bu Sinta datang ke penthouse Bryan tanpa memberi kabar. Ia mendapati anak bungsunya duduk di balkon menatap langit Jakarta tanpa bintang yang terlihat jelas.“Kamu kenapa akhir-akhir ini, terlihat murung?” tanya Bu Sinta lembut. Ia merasakan ada sesuatu dengan putranya.Bryan menggeleng pelan, pandangannya jauh. “Enggak ada apa-apa, Ma.""Baiklah, kalau belum mau cerita dengan mama. Bry ... Nadia sudah memberikan lampu hijau untuk kembali denganmu. Kenapa sekarang, kamu seolah menjaga jarak dengan Nadia?” tanya Bu Sinta menatap dalam putra bungsunya itu. Ia tahu betul gejolak di hati anaknya.Bryan menunduk. Ia tak bisa berbohong pada ibunya. “Aku masih belum bisa berdamai sama diriku sendiri, Ma. Mengingat yang kulakukan dulu pada Nadia, itu membuatku merasa sesak. Aku mencintai Nadia, tapi ... kalau hidup denganku membuatnya tak bahagia. Aku juga tak menginginkan hal itu. Entah, trauma itu ... masih ia rasakan atau sudah hilang.""Bagai
Beberapa hari setelah operasi yang menegangkan itu, kondisi Zyan mulai membaik. Luka di kepalanya menutup sempurna, dan ia sudah bisa melakukan aktivitas walau pelan bisa dilakukan sendiri. Selebihnya, hasilnya sangat baik, sebuah keajaiban yang melegakan semua orang.Nadia menghela napas lega, rasa syukur membanjiri hatinya. Sejak Zyan tersadar dari ruang ICU, remaja itu sudah tak banyak bicara. Ia lebih banyak diam dan menatap jendela rumah sakit, memandangi langit di luar jendela. Bryan selalu datang, namun tak pernah benar-benar masuk ke dalam kamar. Kadang ia berdiri di balik kaca ruang perawatan, sekadar memastikan keadaan Zyan.Setiap kali Nadia secara tak sengaja memergoki bayangan pria itu, sosok tinggi yang berdiri kaku di ambang pintu. Hatinya berdesir aneh. Ia bersyukur atas kepedulian Bryan pada keluarganya. Suatu sore, dokter menyarankan agar Zyan dibawa ke Jakarta untuk menjalani terapi lanjutan dan observasi neurologi jangka panjang. Sharman mengangguk cepat, menyetu
“Siap, Pak?” tanya perawat ramah.Bryan mengangguk, menatap jarum yang akan menembus kulitnya. Saat itu, pintu ruang donor terbuka. Pak Narendra masuk, wajahnya tersenyum lega.“Bryan,” sapa Pak Narendra.Bryan terkejut. “Papa? Kenapa Papa bisa kemari?""Untuk melihat keadaan Zyan. Tadi, sebenarnya mama lihat taksi kalian waktu kami mau mau gerbang perumahan. Saat mamamu menghubungimu tadi, Papa sudah persiapan boarding.""Oh, begitu ... Papa ke ruangan ini, mau donor darah untuk Zyan juga."“Iya,” ujar Pak Narendra singkat, lalu duduk di kursi donor sebelahnya. “Darah yang diperlukan dua kantong lagi. Pas, kan?”Bryan menatap ayahnya, ada banyak pertanyaan di matanya, namun ia memilih diam. Jarum suntik menembus kulitnya, cairan merah pekat mulai mengalir ke kantong darah. Ia melirik ayahnya yang terlihat tenang, seolah ini adalah hal biasa bagi mereka berdua.Setelah proses donor selesai, Bryan dan Pak Narendr







