Share

271. MIMPI BURUK

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-05-20 11:04:35

"Sabrina!" pekiknya dengan suara serak menahan panik.

            Kael terbangun dengan sentakan hebat dan napas yang memburu tidak beraturan di dalam keheningan kamar. Ia mendapati pelipisnya basah oleh keringat dingin, sementara dadanya berdenyut menyakitkan oleh sisa kengerian fajar yang rupanya sudah mulai menyingsing, menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka.

       &n

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   273. JAWABAN ADRIAN

    "Aku pikir itu terserah keduanya saja. Sebagai orangtua kita hanya bisa mendukung," ungkap Adrian sambil tersenyum pada Sabrina, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak membeku pasca-pertanyaan di luar dugaan barusan. Nyonya Maureen mengedarkan pandangannya pada Sabrina dan Kael secara bergantian, mengamati kediaman sejenak sebelum akhirnya ia terkekeh pelan. "Benar juga. Mungkin aku yang terlalu buru-buru. Maklum saja, aku takut malaikat maut menjemputku sebelum cucu kesayanganku ini menikah.""Grandma?" tegur Kael refleks, keningnya berkerut dalam mendengar seloroh sang nenek yang terdengar terlalu ekstrem di tengah meja makan. Semenjak perbincangan sensitif tentang pernikahan itu bergulir, atmosfer di sekitar Sabrina langsung berubah drastis. Gadis itu menjadi jauh lebih banyak diam. 

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   272. APA KAU TIDAK MALU?

    Tanpa memedulikan tatapan bingung dari semua orang yang sedang berdiri di dekat meja makan tersebut, Kael melangkah lebar memangkas jarak. Langkahnya yang tergesa-gesa itu langsung berhenti tepat di hadapan Sabrina. Sebelum gadis itu sempat menaruh cangkir porselen di tangannya, Kael langsung menarik Sabrina ke dalam pelukannya. Sangat erat, seolah ingin memastikan bahwa sang gadis nyata dan tidak menghilang ditelan kegelapan seperti di dalam mimpi buruknya tadi. Sabrina tersentak kaget, wajahnya mendadak merona merah akibat luapan emosi Kael yang begitu tiba-tiba."Kael, lepas... ada Ayah dan Nyonya Maureen!" bisik Sabrina setengah memprotes, mencoba mendorong pelan dada bidang Kael karena merasa sangat tidak nyaman ditonton oleh keluarga mereka. “Apa kau ti

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   271. MIMPI BURUK

    "Sabrina!" pekiknya dengan suara serak menahan panik. Kael terbangun dengan sentakan hebat dan napas yang memburu tidak beraturan di dalam keheningan kamar. Ia mendapati pelipisnya basah oleh keringat dingin, sementara dadanya berdenyut menyakitkan oleh sisa kengerian fajar yang rupanya sudah mulai menyingsing, menerobos masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka. Napas Kael masih memburu-buru saat matanya mengedar ke setiap sudut ruangan. Ia tak tahu entah barusan itu berada dalam pengaruh mimpi buruk atau apa, tetapi rasa takut yang mencengkeram ulu hatinya terasa begitu nyata. Terlebih saat ia meraba sisi ranjang di sebelahnya dan mendapati ruang itu kosong. Benar. Sang gadis tidak ada di sekitarnya, tidak juga terlihat di sofa tempatnya tertidur semalam. K

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   270. PERNAH TIDUR BERSAMA

    "Masih ada banyak waktu sebelum jam sebelas. Satu jam lagi. Apa kau akan duduk seperti pengawas ujian di sofa sana?" tanya Kael, memecah keheningan kamarnya yang sepi.Sabrina yang semula sibuk dengan ponselnya menatap Kael sebentar, lalu mengangguk singkat. "Iya. Aku harus memastikan kau tidak bertingkah aneh sampai jam sebelas nanti."Namun, Kael tidak menyerah begitu saja untuk menarik perhatian gadis itu. "Lagi pula memangnya kenapa kalau kau tidur di sini? Bukankah kita pernah tidur bersama?""Jangan bicara sembarangan!" sentak Sabrina dengan wajah yang sudah memerah lantaran malu. Ia menatap Kael dengan gusar dari seberang sofa."Memang begitu kenyataannya," ujar Kael dengan santai sambil membetulkan posisi duduknya di ranjang. "Bahkan kau tidur di pelukanku waktu itu. Kau lupa?""Itu tidak sengaja ya! Waktu itu keadaannya tidak kondusif," sergah Sabrina cepat, mencoba membela harga dirinya yang mulai tersudut. “Aku tidak akan bertingka

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   269. AKU TIDAK PERNAH MEMBENCIMU

    Sabrina mengusap air matanya dengan cepat, mencoba menghalau sisa-sisa sesak yang sempat menguasai dadanya. Sementara itu, Nyonya Maureen tersenyum hangat, sebuah ekspresi yang seketika mencairkan atmosfer dingin yang sempat membekukan koridor tersebut."Kalian tinggallah di sini dulu," kata Nyonya Maureen kemudian, memecah keheningan dengan nada suara yang tenang namun sarat akan perlindungan. "Kondisi di luar sana belum kondusif. Semua demi kebaikan kita bersama." Tanpa banyak kata, Adrian mengangguk pasrah. Pria paruh baya itu menyadari bahwa di bawah atap kediaman O'Shea, keselamatannya dan sang putri jauh lebih terjamin. Setelahnya, Nyonya Maureen menoleh ke arah tangan kanannya yang sejak tadi berdiri siaga. Ia menyuruh Teguh mengantarkan Adrian ke kamar tamu dan memberikan pakaian pengga

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   268. DEMI SABRINA

    "Terima kasih karena Anda tidak meneruskan dendam ini... demi cucu Anda, demi Sabrina," ucap Adrian dengan suara yang teramat parau, memecah keheningan pekat di dalam ruangan tersebut. Namun, tidak ada jawaban dari balik meja kerja. Nyonya Maureen hanya diam mematung, membiarkan keheningan malam yang dingin menelan ucapan penuh penyesalan tadi. Wanita tua itu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Sepasang matanya yang sedingin es tetap menatap lurus, mengunci figur Adrian dengan keangkuhan khas seorang O'Shea yang terluka. Diamnya Nyonya Maureen jauh lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun. Di balik dinding, air mata Sabrina luruh tanpa suara. Dadanya terasa begitu sesak, seolah dihimpit oleh beban raksasa yang tak kasatmata. Ia tahu betul sejarah kelam itu, ia tahu dosa besar apa yang telah diperbuat oleh ayahnya di

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   105. SANGAT CANTIK

    "Saya rasa urusan fitting sudah selesai, Tuan," sahut Sabrina. Suaranya datar, sedingin lantai marmer yang ia pijak. "Saya harus melepas gaun ini sebelum jadwal istirahat saya dimulai.""Belum," potong Kael pendek

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   104. AKU HANYA INGIN IKUT

    Gedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa mera

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   10. TERIMA KASIH

    Kael menatap Sabrina dengan tatapan penuh intimidasi. Pertanyaan sederhana tentang insomnia itu seolah menjadi palu yang mencoba menghantam dinding privasi yang ia bangun selama puluhan tahun. Matanya menyipit, bibirnya membentuk

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   9. GOSIP PARA PELAYAN

    Gema jamuan malam itu tidak benar-benar hilang dari kepala Sabrina. Meski piring-piring kristal telah dicuci bersih dan lampu gantung telah dipadamkan, udara di kediaman Kael terasa jauh lebih berat bagi dirinya. Setiap kali melangkah di koridor, ia bisa merasakan beberapa pasang mata m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status