Share

64. WELCOME DRINK

Author: A mum to be
last update publish date: 2026-03-10 18:40:53

            Sabrina muncul di ambang pintu ruangan Kael dengan handuk kecil yang tersampir di bahunya. Tangannya masih menggenggam erat sebuah sapu, sisa dari pekerjaannya membersihkan selasar lantai eksekutif. Napasnya sedikit memburu karena terburu-buru dipanggil oleh pengawal pribadi Kael.

"Ada apa, Tuan? Ada bagian yang belum bersih ya?" tanya Sabrina bingung.

          &

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   164. KALIAN SENGAJA YA?

    Suara berat Ganda memecah keheningan pagi yang masih menyisakan sisa-sisa keintiman semalam. Ganda melangkah masuk, tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan tajam sebelum berhenti tepat di manik mata Kael. Matanya yang merah karena terjaga semalaman seolah sedang melakukan pemindaian menyeluruh, mencari-cari apakah ada sesuatu yang bergeser dari adiknya setelah malam yang panjang di unit ini. Sabrina tersentak pelan, segera merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan."Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut," jawabnya pendek. Ia bergegas mendekat, mengambil Aliz dari gendongan sang asisten dengan gerakan yang agak terburu-buru demi menutupi kecanggungannya. Aroma parfum Kael yang maskulin terasa begitu kuat melekat pada selimut yang masih tersampir di ba

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   163. DE JAVU

    Uap panas dari sup jagung masih mengepul tipis di antara mereka, membawa aroma manis yang kini terasa menyesakkan. Sabrina menunduk dalam, jemarinya meremas pinggiran mangkuk porselen putih itu. Kalimat yang dilontarkan Kael beberapa saat lalu seolah memerangkap udara, menciptakan getaran yang merambat hingga ke ulu hati. Dapur yang biasanya sunyi kini terasa penuh oleh gema masa lalu yang belum usai di antara keduanya."Supnya... hampir dingin," bisik Sabrina. Suaranya terdengar rapuh, sebuah upaya pengalihan yang gagal menyembunyikan tensi yang kian memuncak di antara mereka. "Makanlah." Kael meletakkan mangkuknya perlahan ke atas meja marmer, dentingnya terdengar tajam di keheningan malam. Matanya masih mengunci wajah Sabrina dengan intensitas yang tidak berubah, seolah mampu menembus lapisan pertahanan yang susah payah dibangun wanita itu. "Sekarang kau punya banyak cara untuk mengalihkan pembicaraan," ucapnya dengan nada rendah yang menuntut."Aku hanya ti

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   162. KENAPA PINTUNYA?

    "Kenapa pintunya tidak bisa dibuka?" Sabrina terus bergerak panik, jemarinya menekan tombol panel digital pada pintu unit apartemen Kael dengan gerakan serampangan. Suara detak mekanis yang biasanya menandakan kunci terbuka, kini justru mengeluarkan bunyi beep panjang yang menyebalkan sebagai tanda bahwa sistem sedang terkunci total. Di belakangnya, Kael ikut mengernyitkan dahi. Pria itu maju, mencoba memasukkan kode akses cadangan melalui ponselnya, namun layar pintunya tetap berkedip merah."Ini pasti ada yang salah," gumam Kael sambil berpikir keras. Ia mencoba menarik tuas manual, namun sistem keamanan gedung ini memang dirancang untuk mengunci secara otomatis jika mendeteksi adanya malfungsi pada sensor pintu. Tak lama kemudian, ponsel Sabrina

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   161. JAGUNG REBUS

    Matahari pagi menyusup di antara celah gedung pencakar langit, membiaskan cahaya keemasan pada perosotan warna-warni di taman bermain apartemen. Sabrina duduk di tepi bangku kayu, tangannya meremas pelan cangkir kopi yang mulai mendingin. Matanya tak lepas dari Aliz yang sedang sibuk memindahkan pasir ke dalam ember plastik dengan konsentrasi penuh. Aroma sabun bayi dan udara pagi yang segar setidaknya sedikit membasuh sesak di dada Sabrina pasca konfrontasi emosional dengan Ganda semalam. Namun, ketenangan itu terusik saat sesosok wanita tua muncul dari arah lobi. Nyonya Maureen tampak tertatih, tangannya yang gemetar menggenggam tongkat dengan tumpuan yang tampak goyah. Sabrina tersentak. Rasa hormat yang mengakar kuat di dirinya mengalahkan rasa takut untuk menghindar. Ia segera berdiri, menggamit tangan mungil Aliz agar mendekat."Nyonya?" sapa Sabrina sedikit kaku. Ia segera membantu Nyonya Maureen duduk di bangku taman yang lebih teduh. "Kenap

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   160. KAU JUGA SAMA DENGANNYA

    "Aku tahu sampai sekarang Kael masih punya perasaan padamu." Suara Ganda memecah keheningan yang menyesakkan di ruang tengah itu seperti sebuah vonis. Sabrina yang sejak tadi berusaha mengatur napasnya, tersentak. Ia yang sedang membenahi posisi duduknya seketika membeku. Binar matanya yang tadinya kosong kini mendadak berkilat tajam, menatap sang kakak dengan amarah yang dipaksakan.Ia segera mendorong kursinya ke belakang hingga menciptakan bunyi gesekan memekakkan telinga di atas lantai marmer. "Bukan urusanku," desis Sabrina tajam. Ia hendak bangkit, ingin segera melarikan diri ke dalam kamar dan mengunci diri dari tatapan Ganda yang terlalu jeli."Kau juga sama dengannya." Langkah Sabrina terhenti di udara. Ia berdiri membelakangi kakaknya dengan bahu yang menegang kaku. "Jangan sok tahu!" teriaknya parau, sebuah jeritan yang terdengar lebih seperti bentuk pembelaan diri yang putus asa daripada kemarahan murni."Ayolah, Sab. Apa yang kau tunggu?" Ganda melu

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   159. PIKIRAN YANG BERISIK

    Bunyi klik logam yang beradu saat kunci pintu berputar menjadi satu-satunya pembatas antara Sabrina dan dunia luar yang mendadak terasa mengancam. Begitu grendel terkunci rapat, seluruh kekuatan yang menyangga tungkai Sabrina menguap begitu saja. Ia membiarkan punggungnya merosot pada permukaan pintu jati yang dingin dan keras, sebuah tekstur kasar yang kini menjadi satu-satunya pegangan nyata bagi tubuhnya yang gemetar hebat. Di dalam dekapannya, Aliz bergerak gelisah."Ma... Mama?" gumam bocah itu pelan. Suaranya serak, khas anak kecil yang dipaksa bangun oleh kegelisahan orang dewasa yang menggendongnya. Sabrina tersentak, segera melonggarkan pelukannya yang tanpa sadar sempat mengerat seperti lilitan ketakutan.

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   123. AKU HARAP DIA MASIH KUAT

    "Tuan, kenapa kita ke sini lagi?" Sabrina bertanya dengan suara pelan, hampir ragu. Mereka berdiri di depan fasad bioskop yang sama dengan malam traumatis itu. Cahaya neon warna-warni menyinari wajahnya yang masih menyisaka

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   122. KE MANA SAJA KAU??

    "Jangan biarkan satu kendaraan pun keluar dari gerbang utama!" Suara Kael menggelegar di ruang kendali CCTV, memantul di dinding kedap suara yang kini terasa menyesakkan. Napasnya memburu, dasinya sudah tersampir entah di m

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   121. JANGAN BANYAK TANYA

    "Tiga kontainer di Hamburg sudah tertahan, Tuan. Bea cukai Jerman tidak akan melepasnya dalam waktu dekat." Suara serak Victor memecah keheningan fajar di lantai teratas gedung O’Shea Group. Kael tidak menyalakan lamp

  • SATU KESALAHAN MEMBAWAKU KE RUMAH CEO GALAK   120. MULAI BERBURU

    Kael melangkah keluar dari pintu jet pribadinya, disambut oleh udara lembap yang khas dan deru mesin pesawat di landasan pacu Bandara Seletar. Langkah kakinya yang tegas bergema di lantai aspal, dikelilingi oleh empat pria berpost

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status