INICIAR SESIÓNDi dalam ruangan NICU, Kael berdiri mematung di depan inkubator. Di balik dinding kaca itu, sesosok tubuh yang sangat mungil terbaring. Bayi laki-laki itu tampak begitu ringkih dengan kulit kemerahan, terhubung pada selang respirator dan berbagai kabel pemantau di dadanya. Alat-alat itu terpasang kuat untuk membantu paru-parunya yang belum matang sempurna. Kael perlahan memasukkan kedua tangannya melalui lubang inkubator yang sudah disterilkan. Jarinya gemetar saat mendekati jemari kecil sang putra yang berukuran mungkin tak lebih besar dari jari kelingking dirinya. Begitu kulit mereka bersentuhan, ada rasa hangat yang menjalar, meruntuhkan seluruh pertahanan Kael."Hai, ini ...Daddy." Suara Kael bergetar hebat bersamaan
"Kalau sesuatu terjadi, tolong …selamatkan anak kita." Suara Sabrina terdengar sangat lirih, terputus-putus di antara deru napasnya yang pendek dan berat di atas bangsal yang sedang didorong cepat menyusuri koridor rumah sakit. Cengkeraman jemarinya pada lengan Kael terasa begitu lemah."Tidak!" bantah Kael dengan suara putus asa. Air matanya meluncur deras memandangi wajah Sabrina yang memucat. Pria itu ikut berlari secepat mungkin di sisi ranjang demi tetap bisa menggenggam telapak tangan sang istri. “Jangan bilang begitu! Tidak boleh! Kalian berdua harus selamat!" Namun, Sabrina tidak lagi berkata apa pun. Sepasang matanya perlahan meredup dan terpejam rapat saat tim medis mendorong tubuhnya melintasi batas pintu ruang operasi. Kael yang mulai kehilangan kendali mencoba ikut merangsek masuk ke dalam ruangan steril tersebut, tetapi langkahnya langsung dihadang oleh dua perawat pria. Dokter spesialis yang memimpin tindakan menahan dada Kael dengan
Kael masih terpaku di dekat ambang pintu. Dia tidak berani melangkah lebih dekat. Rasa bersalah membuat seluruh persendiannya terasa lumpuh dan kaku. Namun, mau sampai kapan? Pada akhirnya Kael memandangi wajah Sabrina yang sembab, lalu beralih pada perut buncit istrinya itu. Hatinya sesak mendapati Sabrina harus menanggung beban duka dalam keadaan hamil besar bagini. Kael teringat bagaimana perjuangan panjang yang telah mereka lalui untuk sampai di titik ini. Tiga tahun terpisah dalam jurang kesalahpahaman yang menyiksa, saling menyakiti dalam keangkuhan, hingga akhirnya takdir melunakkan hati mereka untuk menjalani hidup bersama. Sabrina adalah poros dunianya, satu-satunya alasan Kael bertahan di tengah kejamnya ajang balas dendam di masa lalu. Namun kini, melihat kerapuhan istrinya, Kael dirayapi ketakutan luar biasa. Dia sadar bahwa cinta mereka selalu dikelilingi badai, dan kali ini, dia takut apa yang terlah terjadi a
“A.. ayah.” Bibir ganda bergetar hebat. Suaranya berganti menjadi isakan yang begitu dalam."Bang, kenapa?" desak Sabrina lagi. Suaranya merendah, namun getaran hebat di dalamnya tidak bisa disembunyikan. "Ayah... Ayah kenapa? Jangan membuatku gila ya." Ganda mematung di sisi ranjang. Kedua tangannya yang gemetar perlahan terangkat. Pertahanannya runtuh berantakan saat sepasang mata sembab sang adik menuntut kejujuran yang paling menyakitkan dalam hidup mereka. Dia tidak bisa lagi bersandiwara di hadapan darah dagingnya sendiri."Sabi..." Ganda tercekat, tenggorokannya bagai tersumbat kerikil tajam. Air matanya kembali merebak dan meluncur jatuh tanpa bisa ditahan. "Ayah... Ayah sudah tidak ada."“Ayah sudah meninggalkan kita.”
"Bukankah itu tanda gejala preeklampsia?" Tanpa menunggu persetujuan atau banyak kata lagi, Ganda langsung bangkit dari posisinya. Langkah kakinya bergerak lebar dan tergesa-gesa menghampiri sang adik, lalu dengan sigap memapah tubuh Sabrina yang tampak lemas menuju ke arah pintu keluar. Kepanikan yang sejak tadi dia tahan akibat berita kematian Adrian kini seolah menemukan pelampiasan dalam bentuk kekhawatiran yang meledak-ledak atas kondisi fisik Sabrina."Bang, jangan berlebihan!" ujar Sabrina seraya memegangi kepalanya yang terasa semakin berdenyut nyeri akibat pergerakan Ganda yang terlalu mendadak. "Aku hanya pusing biasa karena kurang tidur semenjak Kael pergi."Gladis yang berjalan cepat di sisi kiri Sabrina ikut menyela, mencoba menenangkan atmosfer yang mendadak tegang.
"Oh, ya Tuhanku!" Nyonya Maureen yang baru saja keluar dari kamarnya pagi itu langsung terisak, menangkup wajahnya yang mendadak pucat pasi. Tubuh sepuhnya tampak bergetar begitu hebat menahan syok, hingga Gladis dengan sigap langsung merangkul pundak wanita tua itu dan menuntunnya secara perlahan menuju sofa beludru di ruang tengah. Sementara itu, Ganda masih berdiri mematung dan diam seribu bahasa di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke sudut kota. Kedua tangannya mengepal begitu erat di dalam saku celana, sementara matanya masih berkaca-kaca menatap kosong ke luar gedung. Kabar buruk yang disampaikan oleh Victor melalui panggilan telepon darurat setengah jam yang lalu benar-benar meruntuhkan seluruh pertahana
"Ada apa, Ganda? Katakan langsung.”"Ini bukan lagi masalah persaingan bisnis korporat yang biasa kita hadapi, Kael. Ini jauh lebih buruk."Dahi Kael semakin berkerut rapat. "Maksudmu?""Kelompok gangster lama dan jaringan mat
“Mimpi itu terasa sangat nyata, Kael. Aku takut hilangnya cincin itu adalah awal dari sesuatu yang buruk. Aku istri yang teledor, baru dua minggu dan aku sudah menghilangkan barang sepenting itu.” 
Sabrina langsung panik setengah mati. Matanya bergerak liar memandangi tumpukan pasir putih yang basah di bawah kakinya, lalu beralih menatap aliran air yang mengalir cepat menuju celah-celah batu karang kecil. Tubuhnya mendadak b
“Kael?”“Eh, ya?” gumam Kael dengan suaranya yang terdengar gugup.“Kau kenapa sih sebenarnya?” tanya Sabrina mulai cemberut. “Kalau kau tidak mau, ya sudah. Kita istirahat saja.”







