Share

Bab 2

Di ruangan ini, suasana selalu hening. Biasanya hanya aroma kopi yang menemani setiap aktifitas pagiku di kantor ini. Namun saat ini berbeda. Ada sosok pria yang duduk tegap dengan sorot mata tajam namun terlihat datar.

Dia berasal dari desa. Namun Aku cukup salut karena dia bisa mengendarai mobil mahal keluaran terbaruku dengan baik.

Yah, dia layak di jadikan supir pribadi.

Pria ini hanya duduk diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi. Dia bahkan tidak menggubris tatapanku yang mengamati keseluruhan tubuhnya dengan detail.

Dia bahkan tidak terlihat gugup sama sekali saat berhadapan denganku. Sementara Aku duduk di hadapannya, menyilangkan kaki dengan tatapan tak luput dari wajah datar ini.

"Apa Tuan Mahesa memaksamu?" Aku bertanya datar.

"Tidak, Nyonya."

"Lantas bagaimana bisa kau terhubung denganya?"

"Saya mantan pekerjanya sewaktu di desa. Kebetulan saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Nyonya."

Hening, aku mengamatinya dengan tatapan lekat.

"Aku tidak suka pekerjaku memakai pakaian kumuh seperti itu." Aku mendelik menatap ke arah pakaian yang dia kenakan.

"Maaf ... Saya hanya punya ini, Nyonya." Dia menjawab dengan rasa bersalah. Aku hanya bisa menghela nafas.

"Baiklah. Kau sudah mengerti pekerjaanmu, bukan?"

"Sudah, Nyonya."

"Kau harus siap siaga setiap kali aku membutuhkanmu. Sekarang pergilah, akan aku hubungi jika aku sudah pulang bekerja."

"Baik, Nyonya."

Dia berdiri dan segera berlalu pergi. Seharusnya aku memberikan jadwal padanya jika saja kesibukanku selalu tepat pada waktunya. Sayangnya sejak peristiwa terkutuk itu, aku kehilangan waktu. Bahkan tidak tahu kapan harus pulang.

Entah sampai kapan jiwaku terasa sekarat. Bukankah begitu menyedihkan, saat pengkhianatan di balas dengan kerinduan tanpa arah?

Rasa sakit terus membekas, namun bodohnya rindu ini membuatku nyaris gila.

***

Pukul sembilan malam.

Aku menghubungi Danu untuk menjemputku di kantor. Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan. Dan masalah saham yang mengalami penurunan, aku memilih pulang.

Namun langkahku terhenti saat melihat orang yang membuat hidupku berantakkan. Orang yang menjadi penyebab hancurnya segala impian.

Adrian.

Mantan suamiku.

Seolah tak cukup dengan kesakitan yang pernah dia berikan, kini dia berikan lagi hantaman keras yang semakin menghujam hatiku. Meluluhlantakkan perasaan cinta dan benci yang bercampur aduk menjadi satu.

Dia datang dengan jalang yang telah merenggut segalanya dariku.

Dari jarak yang hanya beberapa kaki saja, aku menatap muak pada mereka berdua.

"Beraninya kau datang kesini, bersama jalang ini!" Desisku dengan tatapan tajam. Mataku sudah jelas memerah menatap wanita yang sangat jauh di bawah standarku.

"Jaga ucapanmu, Aliya! Dia istriku sekarang."

Aku terkekeh merendahkan. "Wow...! Selamat. Kau tidak salah dalam memilih sampah."

Wanita ini diam saja, aku rasa dia tidak punya mulut untuk menyanggah ucapanku. Atau memang dia sadar bahwa semua ucapanku benar.

Dan Adrian, jelas dia marah.

"Cukup, Aliya! Aku datang kesini bukan untuk berdebat denganmu. Tapi untuk mengambil apa yang menjadi hakku."

"Hak?" Aku berdecih pelan. "Apa yang kau inginkan, Perusahaan ini? Atau rumah yang saat ini aku tinggali? Apa kau setidak tahu malu itu, hingga berani menuntut apa yang bukan milikmu!"

"Dengar Aliya. Perusahaan ini memang milik Tuan Mahesa. Tapi apa kau lupa, bahwa aku yang membangunnya dengan kerja kerasku. Aku berhak mengambil bagian atas kerja kerasku selama ini!"

Aku menggeleng tak percaya. Senyuman sinis dan tatapan merendahkan seolah tak puas kuberikan pada orang yang tidak tahu diri ini.

"Apa uangmu sudah di raup habis oleh jalang ini, Adrian? Apa sekarang kau kehabisan uang, hah!" Adrian semakin kesal. Apalagi saat mendengar kekehan renyah yang meruntuhkan harga dirinya.

"Itu bukan urusanmu, Aliya! Berhenti menghina istriku."

Aku melipat tangan di dada. Menatapnya dengan angkuh. "Kau ingin bagianmu? Tidak masalah. Asal kau buang wanita ini jauh-jauh, aku tidak keberatan memberikan berapapun itu."

Adrian semakin mengepalkan tangannya. Hal yang aku benci, dia dengan sengaja malah merangkul pinggang jalang ini tanpa memperdulikan keberadaanku. Bukankah seharusnya aku yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Kenapa malah orang lain?

Aku tersenyum miris.

"Wanitaku jauh lebih berharga dari pada hartamu itu. Aku tidak menyesal telah melepaskanmu dan memilih Seina sebagai istriku. Setidaknya dia jauh lebih mengerti bagaimana cara menghormati suaminya sendiri!"

Aku menggertakkan gigi. Tanganku terkepal dengan mata memerah menahan amarah. Adrian pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang membuat jantungku seakan terbelah. Dadaku terasa begitu sesak. Tega sekali dia membandingkan aku dengan seorang wanita yang baru dia kenal.

Hancurlah harga diriku.

Di hadapan seorang wanita yang telah berhasil merebut suamiku.

"Apa aku terlambat, Nyonya?"

Segera ku hapus air mataku saat menyadari kehadiran Danu. Dengan sedikit helaan nafas tanpa menoleh ke arahnya, aku melangkah begitu saja. Menuju mobil yang telah terparkir di depan sana.

Tanpa ku toleh, pun Danu sudah berjalan lebih cepat menyusulku. Dia segera membuka pintu tanpa aku suruh. Dan aku masuk tanpa mengucapkan satu kalimatpun.

Mobil melaju menembus jalan raya. Aku menatap ke luar jendela dengan perasaan yang masih sesak. Mengingat bagaimana bahagianya pernikahanku dengan Adrian sebelum datangnya wanita pembawa bencana itu. Air mataku menetes di sudut mata dan aku segera menyekanya. Sesekali aku tertawa lirih sembari menggelengkan kepala. Terkadang aku menyalahkan diri sendiri atas kejadian sebelumnya.

Tentu saja aku mengingat semuanya dengan jelas bagaimana Adrian mati-matian membela wanita itu seolah jauh lebih berharga dariku. Dan hal itu semakin membuat hatiku memanas. Tanganku terkepal dengan rahang yang mengeras hingga aku tak sadar mengucapkan kata perpisahan dengan begitu mudahnya. Dan membiarkan jalang itu menang.

Dan sejak itu aku menganggap lelaki berkelas seperti Adrian memiliki selera rendahan!

Aku mengusap rambutku dengan gusar. Aku mulai sadar mobil kami melaju semakin mendekat ke arah rumah. Entah mengapa, aku tidak ingin pulang saat ini. Perasaanku harus di alihkan seperti biasanya. Aku butuh pelampiasan untuk meredam nyeri yang semakin menyesakkan.

"Jangan pulang sekarang." Aku berucap datar. Ku dapati Danu menatap bingung dari kaca yang ada di dekatnya.

"Lalu kemana Nyonya?"

"Kita ke klub malam saja."

***

Malam semakin larut.

Aku masih enggan beranjak dari tempatku berpijak. Meski banyak pria hidung belang yang ingin menjamah tubuhku dan mengambil kesempatan dalam keramaian dan keadaanku yang setengah mabuk, Aku bisa melihat bagaimana kerasnya usaha Danu menyingkirkan para bajingan itu.

Pria itu tadinya hanya berdiri kikuk dalam keramaian, namun dengan gagahnya dia mampu menghalau semua bajingan yang ingin menyentuh dan merayuku.

Well... Itu mengesankan.

Aku tersenyum miring. Berjalan ke arahnya dan dengan sigap dia mendekat ke arahku. Tadinya aku ingin mengajaknya menikmati malam ini, namun gejolak di dalam perutku dan kepalaku yang seakan berputar membuatku terjerembab menabrak tubuh kokohnya dan memuntahkan isi perutku seketika.

HUEKKKK.....

Astaga, Nyonya.....!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status