แชร์

112.

ผู้เขียน: Qingcheng
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-28 07:01:41
“Cassie?”

Rexandra yang baru saja menuruni tangga pesawat seketika membelalak. Alisnya terangkat ketika melihat satu panggilan tak terjawab dari nama Cassandra di layar ponselnya.

Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis—senyum lega yang nyaris tak disadarinya.

Tanpa ragu, jemari beruratnya menekan tombol panggil ulang, menghubungi nomor gadis itu.

Tubuhnya masih berdiri di depan pesawat, dengan koper kecil yang digenggam erat di tangan kirinya, sementara tangan kanan menggenggam ponselnya.

Nada sambung berdering, tapi tak ada jawaban.

Pria itu mencoba lagi, langkahnya mulai bergerak menyeret koper menjauh dari apron bandara.

Namun tetap tak ada jawaban.

“Shit!"Umpatnya geram, berhenti mendadak, mengacak kasar rambut hitam legamnya. "Kenapa nggak bisa dihubungi?”

Perasaan tak enak tiba-tiba menyergap.

Rexandra mempercepat langkah menuju pintu keluar bandara, langsung memesan taksi, sambil terus menghubungi nomor Cassandra.

Sementara di rumah besar bergaya
Qingcheng

Guys, jangan lupa tinggalkan komen, ulasan, dan like nya, ya. Biar othor tahu siapa yang udah baca sampai bab ini. Jangan lupa vote GEM juga yaa, biar othor tambah semangat buat up nya. "-" Kira-kira sampai bab ini gimana?

| 1
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   121.

    Liora masih terpaku.Pandangan matanya turun perlahan ke arah perut Cassandra yang kini tak lagi bisa disangkal, sedikit membuncit di balik kaos longgarnya. Dadanya terasa mengempis, seperti baru saja dipukul kenyataan yang terlalu besar untuk diterima dalam satu tarikan napas.Perkataan Cassandra barusan berputar-putar di kepalanya, saling bertabrakan, menolak untuk dirangkai menjadi satu makna yang utuh. Hamil. Kata itu terlalu berat. Terlalu tiba-tiba. Terlalu sulit untuk dicerna. Liora menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha mengumpulkan ketenangan yang tersisa. Setelah detak jantungnya sedikit lebih stabil, dia mengangkat wajahnya lagi, menatap Cassandra dengan ekspresi yang jauh lebih serius.“Kak Rexa tahu?” Tanyanya pelan, tapi nadanya tajam karena menahan gemetar.Cassandra menunduk. Kepalanya menggeleng kecil.“Kak Rexa nggak tahu?” Ulangnya, suaranya naik tanpa sadar. “Cassie, kamu nggak kasih tahu dia?”Ca

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   120.

    Liora keluar dari mobil begitu mesin dimatikan. Pintu dibanting tanpa sadar, dan dia langsung berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah Cassandra yang berdiri kaku di teras rumah. Begitu jarak mereka habis, Liora langsung menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Cassie …,” Tak ada kalimat lanjutan. Hanya panggilan nama itu, lirih namun penuh rasa bersalah, cemas, dan rindu yang tertahan sebulan penuh. Cassandra tak lagi mampu menahan dirinya. Tubuhnya melemas di dalam dekapan Liora. Isaknya pecah, bahunya bergetar hebat, jemarinya mencengkram jaket Liora seolah takut jika dia akan ambruk jika tak menggenggam apapun. “Udah … udah, Cassie,” bisik Liora berulang-ulang sambil mengusap punggung Cassandra pelan, lembut. “Aku di sini. Aku nggak ke mana-mana.” Pelukannya mengencang. Liora menundukkan kepala, menyandarkan dagunya di puncak rambut Cassandra. Sementara tangannya bergerak lembut, menepuk-nepuk punggung gadis itu berusaha menenangkan badai dalam diri Cassandra yang

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   119.

    “Kamu benar-benar nggak tahu Cassie ada di mana?” Pertanyaan itu kembali terucap dari bibir Rexandra—pertanyaan yang sama, dengan nada yang nyaris tak berubah, yang dia ulangi hampir setiap hari selama sebulan penuh. Liora, yang berdiri di hadapannya dengan piyama tidurnya, sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Bahkan sebelum Rexa menyelesaikan kalimatnya, dadanya sudah terasa berat. Dengan raut penuh penyesalan, gadis itu menggeleng pelan. “Aku juga belum bisa menghubungi Cassie, Kak Rexa,” ucapnya lirih. “Kalau aku tahu dia di mana, aku pasti langsung kasih tahu Kak Rexa.” Rexandra menahan napas. Lagi-lagi jawaban yang sama. Rahangnya mengeras, matanya tampak redup karena lelah yang tak bisa dia sembunyikan. “Menurut kamu selama ini Cassie kenapa?” Tanyanya lagi, suaranya lebih rendah. “Dua bulan terakhir ini.” Liora terdiam sejenak, lalu mengangkat pandangannya, menatap Rexandra dengan sorot yang dalam dan hati-hati. “Yang aku tahu, kondisi Om Alex makin kritis,”

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   118

    | 1 bulan kemudian Cassandra berdiri membungkuk di depan closet dengan napas tersengal. Wajahnya pucat, bahunya naik-turun pelan, dan tangan kecilnya yang berkeringat dingin memegangi pinggiran closet itu agar tidak terjatuh. Baru saja dia makan sesuap nasi, tapi langsung dimuntahkan lagi. Begitulah yang terjadi sebulan ini. Sehari-harinya, setiap makanan yang masuk ke mulutnya selalu dikeluarkan begitu saja, bukan karena keinginannya, tapi karena perutnya memang menolak itu. Cassandra menunduk dalam, mengelus perutnya yang sudah terlihat lebih buncit dari terakhir kali. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu berbarengan dengan suara lembut seseorang. “Non Cassie, boleh saya masuk?” Tanya bi Marni, berdiri tegak di depan kamar yang tidak tertutup rapat itu dengan nampan di tangan. Cassandra yang mendengar suara pembantunya itu perlahan menoleh sambil menegakkan tubuh. “Masuk aja, Bi.” Sahutnya sembari melangkahkan kaki lemahnya keluar kamar mandi. Bi M

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   117.

    Cassandra berjongkok di hadapan makam Alex yang baru saja dikebumikan. Aroma tanah basah sisa hujan bercampur bunga menyeruak, memenuhi rongga hidungnya. Gadis itu menatap nisan bertuliskan Alex Harrison tanpa berkedip. Jemari gemetarnya mengusap papan itu dengan lembut, begitu hati-hati. Tak ada tangis. Tak ada air mata. Hanya isak lirih yang tertahan di tenggorokannya yang terasa kering itu. Di samping gadis itu, bi Marni setia menemani, memberi usapan pelan di punggungnya. “Non,” ucap perempuan tua itu pelan, menatap majikannya dengan penuh iba. “Ini sudah satu jam non Cassie berada disini. Sepertinya sudah mau hujan, Non.” Lanjutnya sembari mendongak, menatap langit gelap yang diselimuti awan pekat. “Sebaiknya kita segera pulang ya, Non.” Cassandra hanya diam, dengan tatapan yang tak beralih sedetikpun dari nama di papan nisan itu. Pandangannya kosong, wajahnya sudah sangat pucat, bahkan bibir merahnya sekarang tak berwarna. Dia menyandarkan kepalanya ke

  • Sentuhan Berbahaya Kakak Tiriku   116.

    Cassandra berdiri kaku di depan ranjang jenazah, menatap ayahnya yang kini terbaring tak bergerak, dengan tubuh yang tertutup seprai putih sampai dada, dan tangan yang terkulai dingin di sisi tubuh. Gadis itu menatapnya tanpa berkedip. Dadanya terasa kosong, seperti ada lubang besar yang menganga. Sakitnya bukan lagi menusuk tapi menghancurkan. Perlahan, kejam, dan tanpa ampun. Perlahan kakinya mendekat. Tangan gemetarnya menyentuh punggung tangan ayahnya yang dingin. “Pa …,” suaranya nyaris tak keluar, hanya hembusan rapuh dari bibir keringnya. “Kenapa Papa dingin banget?” Tak ada jawaban. Tenggorokannya menegang. Matanya perih, tapi air mata justru tak langsung jatuh, seolah tubuhnya menahan tangis agar tak benar-benar runtuh. Drttt! Ponsel di genggamanya bergetar. Cassandra menunduk pelan, sempat melirik layar dengan pandangan kosong. Namun begitu melihat siapa nama penelepon, sorot matanya berubah tajam. Bi Marni, yang berdiri di sampingnya, ikut melirik sekilas.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status