Share

BAB IX : CANDU

Author: Rara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-27 20:31:40

Dengung halus dari benda silinder di genggaman Anya terasa seirama dengan detak jantungnya yang kian berpacu cepat. Di dalam kesunyian kamarnya, di hadapan cermin besar yang memantulkan setiap jengkal tubuh polosnya, Anya merasa seolah sedang melihat sosok asing. Gadis di dalam cermin itu tampak begitu rapuh, hancur, namun sepasang matanya yang sayu menyiratkan dahaga yang amat dalam akan sensasi yang baru saja dikenalkan padanya siang tadi. Logikanya berteriak bahwa ini adalah kesalahan besar,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XVI : MENAHAN GEJOLAK NAFSU II

    Proses pengecekan proyek pembangunan resort bertingkat itu menjadi sebuah siksaan neraka jahanam bagi Anya. Di bawah rintik hujan gerimis yang mulai membasahi bumi Bogor, Anya dipaksa berjalan selangkah di belakang Tama, melintasi jalanan tanah yang becek, menaiki tangga-tangga beton bangunan yang belum selesai, dan berdiri di tengah-tengah kepungan belasan pria paruh baya berseragam kontraktor dan arsitek.Setiap kali Anya melangkah, getaran dari alat di dalam dirinya bergesekan dengan dinding-dinding intimnya yang sensitif, menciptakan gelombang panas yang terus-menerus memacu adrenalin dan gairahnya. Sentuhan itu terasa sangat intens, lambat namun memberikan tekanan yang konstan tepat di titik paling peka miliknya. Anya merasakan sensasi panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kedua kakinya gemetar hebat di dalam sepatu hak tingginya."Bagaimana dengan progres area lobby utama, Pak Hadi?" tanya Tama dengan suara baritonnya yang sangat berwibawa dan tenang, seolah

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XV : MENAHAN GEJOLAK NAFSU I

    Ketika mobil mewah itu akhirnya memasuki area proyek pembangunan resort eksklusif di kawasan perbukitan Bogor, awan hitam mulai bergelayut manja di langit, membawa hawa sejuk yang menusuk tulang. Namun, hawa dingin dari luar sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana di dalam kabin mobil. Sebaliknya, udara di sekitar Anya justru terasa semakin mencekam setelah Pak Tama menepikan kendaraan di area parkir khusus direksi yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk para pekerja konstruksi.Tama tidak segera mematikan mesin mobil. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Anya. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat-lekat ke arah sekretarisnya, tidak lagi memancarkan kemarahan yang meluap-luap seperti saat menerima telepon dari ayahnya tadi, melainkan sebuah ketenangan yang jauh lebih berbahaya ketenangan seorang predator yang telah menemukan jalan keluar dari sudut yang menjepitnya."Anya," panggil Tama, suaranya terdengar sangat rendah dan berat, berge

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XIV : TEKANAN SANG BOS

    Perjalanan menuju proyek pembangunan resort di Bogor siang itu berlangsung dalam keheningan yang sangat mencekam. Di dalam kabin mobil mewah yang kedap suara, Anya duduk kaku di kursi penumpang depan, tepat di samping Pak Tama yang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi namun stabil. Amplop putih tebal yang kini tersimpan rapat di dalam tas kerjanya terasa seperti sebongkah batu besar yang terus-menerus menghimpit nuraninya. Setiap kali ia melirik ke arah tasnya, rasa bersalah dan kilasan memori tentang apa yang terjadi di ruangan rahasia tadi siang kembali berputar, membuat dadanya terasa sesak. Namun, fokus Anya teralihkan ketika ia menyadari perubahan drastis pada atmosfer di dalam mobil.Rahang pria di sebelahnya tampak mengeras dengan sangat kokoh, sepasang matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan dengan tatapan yang luar biasa dingin. Aura di sekitar Tama mendadak berubah menjadi jauh lebih pekat, kelam, dan mengintimidasi daripada biasanya. Pria itu tampak seda

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XIII : IMBALAN

    Keheningan yang pekat kembali menguasai ruangan rahasia bernuansa merah redup itu. Di atas tempat tidur besar berseprai sutra hitam, deru napas yang berkejaran perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan keheningan yang sarat akan sisa ketegangan yang mendalam. Anya masih terlentang dengan kedua tangan yang terkunci pada jeruji besi di atas kepalanya. Kulitnya yang polos tampak berkilat oleh keringat tipis, sementara matanya menatap kosong ke langit-langit ruangan yang gelap. Sensasi pelepasan dahsyat yang baru saja dilaluinya menyisakan rasa lemas yang luar biasa, berbaur dengan rasa hampa yang perlahan-lahan menggerogoti dinding kesadarannya. Tama bergerak perlahan, mengangkat tubuh tegapnya dari atas tubuh Anya. Tanpa sepatah kata pun, pria itu turun dari tempat tidur yang berderit halus. Kehangatan tubuh yang mendadak hilang itu membuat Anya refleks bergidik kedinginan, merasakan kontras yang tajam antara udara ruangan ber-AC dengan panas kulit mereka yang baru saja bersentuhan.Klik

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XII : PASRAH II

    Napas Anya berkejaran dengan dengung alat yang masih aktif di dalam dirinya. Tubuhnya yang terborgol di tiang besi berguncang pelan, sepenuhnya dikuasai oleh intensitas rangsangan ganda yang diberikan Tama dari belakang. Setiap hisapan di leher dan remasan kuat di payudaranya membuat kesadaran Anya kian menipis. Ia berada di titik di mana penolakan sudah tidak lagi memiliki arti atau kekuatan.Tama bisa merasakan kehangatan dan getaran hebat dari tubuh Anya yang menempel pada dadanya. Kilat gairah di matanya semakin menggelap, dipicu oleh kepasrahan mutlak dari wanita polos yang kini berada di bawah kendalinya. Tak berniat menahan diri lebih lama, Tama mengulurkan tangannya ke atas, memutar kunci borgol dengan cepat hingga pergelangan tangan Anya terbebas dari tiang besi yang dingin itu.Sebelum Anya sempat ambruk ke lantai karena lemas, Tama dengan sigap menyangga tubuh polos itu dengan lengan kekarnya. Dengan gerakan yang penuh dominasi, ia membalikkan tubuh Anya dan langsung mengge

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XI : PASRAH I

    Pertahanan Anya akhirnya runtuh berkeping-keping. Di bawah siksaan, tubuhnya tidak lagi mampu mematuhi perintah otaknya untuk bertahan. Dengan satu hentakan kaku yang membuat seluruh tubuhnya melengkung menempel pada dinginnya dinding kaca, Anya mencapai puncak pelepasan yang teramat hebat. Air mata kepasrahan mengalir deras, membasahi kaca di depannya saat desahan panjang yang tersengal-sengal akhirnya lolos dari bibirnya yang terluka. Ia telah gagal dalam ujian yang diberikan Tama.Napas Anya memburu pendek-pendek, tubuhnya melosot lemas dan hampir jatuh ke lantai jika tangan kekar Tama tidak segera menahan pinggangnya dari belakang. Tama mematikan alat di tangannya, lalu membalikkan tubuh lemas Anya agar menghadap ke arahnya. Tatapan mata pria itu tidak lagi sekadar dingin ada kilat gairah dan kepuasan yang pekat terpancar dari manik matanya melihat sekretarisnya tak berdaya."Kamu gagal dalam ujian pertamamu, Anya," bisik Tama dengan nada rendah yang berbahaya. "Dan kegagalan di h

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status