Home / Romansa / SENTUHAN YANG SALAH / BAB VII : PELAJARAN PERTAMA

Share

BAB VII : PELAJARAN PERTAMA

Author: Rara
last update publish date: 2026-07-24 02:37:56

Sepuluh menit waktu istirahat yang diberikan terasa berjalan begitu cepat. Berkat sisa-sisa fokus yang dipaksakan di tengah debaran jantung yang belum sepenuhnya mereda, Anya berhasil memulihkan folder dokumen yang rusak tepat waktu. Sesi kedua rapat koordinasi berjalan tanpa gangguan teknis berarti. Selama sisa presentasi tersebut, Tama kembali menjadi sosok CEO yang dingin dan berwibawa, sementara Anya hanya menunduk, memfokuskan seluruh perhatiannya pada papan ketik demi menyembunyikan sisa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • SENTUHAN YANG SALAH   XX : KENIKMATAN II

    Sisa-sisa badai kenikmatan yang baru saja melanda di atas tempat tidur besar berseprai sutra hitam itu perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang berat di dalam suite room. Namun, atmosfer di dalam kamar mewah itu sama sekali tidak melonggar atau melunak. Ketegangan yang pekat masih menggantung di udara, seolah menegaskan bahwa permainan kekuasaan ini belum benar-benar mencapai titik akhir.Tama bergerak perlahan, mengurai tubuh tegapnya dari kungkungan tubuh Anya yang masih terengah-engah. Ia bangkit dari atas kasur tanpa memedulikan sisa-sisa keintiman yang baru saja mereka bagi, menampilkan siluet tubuhnya yang atletis, kokoh, dan penuh urat menonjol di bawah temaram lampu kamar. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dengan langkah kaki yang tenang dan penuh wibawa, ia melangkah menuju kamar mandi mewah yang dibatasi oleh dinding kaca buram di sudut ruangan.Tak lama kemudian, suara gemericik air hangat yang mengalir deras mulai terdengar memenuhi ruangan, memecah kesunyian malam

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XIX : KENIKMATAN I

    Anya tersentak hebat ketika jari telunjuk Tama yang kasar bersentuhan langsung dengan permukaan klitorisnya yang sudah meradang akibat getaran mesin selama berjam-jam. Sensasi sentuhan kulit manusia yang mentah itu terasa ribuan kali lebih intens dan mengejutkan daripada simulasi mekanis sebelumnya."Ahhh! Pak Tama... mmpff!" Anya memekik, mencoba merapatkan kedua pahanya secara refleks untuk melindungi dirinya, namun kekuatan fisik Tama jauh lebih unggul. Pria itu menggunakan lututnya sendiri untuk mengganjal paha Anya tetap terbuka lebar di atas karpet tebal kamar hotel.Tama tidak memberikan kelembutan yang biasa diberikan oleh seorang kekasih. Sentuhannya sangat menuntut, mekanis, dan penuh perhitungan untuk memberikan rangsangan maksimal sekaligus siksaan rasa sakit yang samar. Jari tengahnya yang panjang mulai mendorong masuk ke dalam liang intim Anya yang sempit, bergerak maju-mundur dengan ritme yang cepat dan menekan dinding-dinding bagian dalam yang masih perawan."Nnnghh...

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XVIII : SENTUHAN YANG MENUNTUT II

    Kamar suite itu sangat luas, berudara hangat dengan pencahayaan temaram berwarna kuning keemasan yang memberikan kesan intim sekaligus intimidatif. Kamar ini begitu mewah, namun bagi Anya, tempat ini terasa seperti sebuah altar pemujaan baru di mana ia akan mengorbankan sisa harga dirinya. Suasana di dalam kamar ini sangat kontras dengan badai hujan yang menderu keras di luar jendela kaca besar, dan juga kontras dengan badai gairah yang berkecamuk hebat di dalam rongga dadanya.Tama melangkah masuk ke tengah ruangan tanpa ketergesaan. Ia melepaskan jas abu-abu gelapnya yang sedikit basah oleh rintik hujan, melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan, lalu melemparkannya ke atas sofa kulit dengan gerakan yang sangat santai seolah ia sedang berada di rumahnya sendiri. Pria itu kemudian membalikkan tubuh tegapnya, berjalan perlahan kembali ke arah pintu masuk, dan berdiri menjulang tepat di depan Anya yang masih bersimpuh dengan tubuh yang gemetar hebat di atas karpet.Tama menatap ke

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XVII : SENTUHAN YANG MENUNTUT I

    Rintik gerimis di perbukitan Bogor perlahan-lahan berubah menjadi hujan lebat yang menderu deras, menghantam atap beton dan membungkus balkon lantai tiga proyek resort itu dengan tirai air yang sangat tebal. Angin gunung yang berembus masuk membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menciptakan kabut tipis di sekitar koridor yang sepi. Namun, dinginnya embun malam itu sama sekali tidak mampu memadamkan api yang tengah membakar seluruh sistem saraf Anya. Tubuhnya masih bersandar lemas pada dinding beton yang kasar dan lembap, sementara getaran konstan dari alat nirkabel yang tertanam di dalam dirinya terus memompa gelombang rangsangan tanpa ampun, mengabaikan fakta bahwa ia sedang berada di tempat terbuka.Otot-otot pahanya berkedut lembut secara refleks, dan cairan alami tubuhnya kini terasa mengalir hangat, membasahi kain celana dalam hingga terasa begitu lengket, panas, dan menyiksa setiap kali ia mencoba bergeser. Setiap tarikan napasnya terasa berat dan terputus-putus. Keadaan ini b

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XVI : MENAHAN GEJOLAK NAFSU II

    Proses pengecekan proyek pembangunan resort bertingkat itu menjadi sebuah siksaan neraka jahanam bagi Anya. Di bawah rintik hujan gerimis yang mulai membasahi bumi Bogor, Anya dipaksa berjalan selangkah di belakang Tama, melintasi jalanan tanah yang becek, menaiki tangga-tangga beton bangunan yang belum selesai, dan berdiri di tengah-tengah kepungan belasan pria paruh baya berseragam kontraktor dan arsitek.Setiap kali Anya melangkah, getaran dari alat di dalam dirinya bergesekan dengan dinding-dinding intimnya yang sensitif, menciptakan gelombang panas yang terus-menerus memacu adrenalin dan gairahnya. Sentuhan itu terasa sangat intens, lambat namun memberikan tekanan yang konstan tepat di titik paling peka miliknya. Anya merasakan sensasi panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kedua kakinya gemetar hebat di dalam sepatu hak tingginya."Bagaimana dengan progres area lobby utama, Pak Hadi?" tanya Tama dengan suara baritonnya yang sangat berwibawa dan tenang, seolah

  • SENTUHAN YANG SALAH   BAB XV : MENAHAN GEJOLAK NAFSU I

    Ketika mobil mewah itu akhirnya memasuki area proyek pembangunan resort eksklusif di kawasan perbukitan Bogor, awan hitam mulai bergelayut manja di langit, membawa hawa sejuk yang menusuk tulang. Namun, hawa dingin dari luar sama sekali tidak mampu mendinginkan suasana di dalam kabin mobil. Sebaliknya, udara di sekitar Anya justru terasa semakin mencekam setelah Pak Tama menepikan kendaraan di area parkir khusus direksi yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk para pekerja konstruksi.Tama tidak segera mematikan mesin mobil. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Anya. Sepasang matanya yang tajam menatap lekat-lekat ke arah sekretarisnya, tidak lagi memancarkan kemarahan yang meluap-luap seperti saat menerima telepon dari ayahnya tadi, melainkan sebuah ketenangan yang jauh lebih berbahaya ketenangan seorang predator yang telah menemukan jalan keluar dari sudut yang menjepitnya."Anya," panggil Tama, suaranya terdengar sangat rendah dan berat, berge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status