Share

SHOPPING

Penulis: NawankWulan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 04:59:55

Aku masih terus mengikuti langkah Mas Hanif ke lantai satu. Ada banyak outlet pakaian dan sepatu di sana. Sesekali menoleh ke belakang, barang kali perempuan itu mengikuti kepergian kami. Ternyata kekhawatiranku tak terjadi.Sandra sudah pergi dengan segala emosi yang menyesaki hatinya.

"Kita pilih sepatu dulu ya, Ri." Mas Hanif tersenyum tipis lalu mengajakku masuk ke salah satu outlet yang ada di sana.

"Ukuran sepatu Rafqa berapa ya, Ri? Kok lupa," tanya Mas Hanif tanpa menoleh sembari memil
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
santai aja lah Riana...saatnya hidup kamu berubah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Devan Mahendra

    "Mau kemana, Ra? Makanan belum habis nih," ujar Cindy saat melihat sahabatnya itu beranjak dari kursi. Laura tak menoleh. Tatapannya masih tertuju pada Dea dan laki-laki yang mendorong motornya itu. Mereka memasuki gang kecil yang tak jauh dari toko perabot. "Kalian aja yang habisin. Aku mau nyamperin mereka," balas Laura begitu geram. Dia mengepalkan jemari-jemarinya,, seolah ada dendam membara di dadanya. "Ih, ikuuutt. Kayanya seru nih. Iya, Ra. Masa cuma kita foto doang. Kita samperin aja sekalian biar perempuan ular itu tahu diri," balas Luna sembari melipat tangan ke dada. Cindy pun ikut berdiri dan menatap ke seberang jalan, tepat di mana seorang perempuan dan laki-laki itu menjauh. Senyum Laura semakin lebar melihat support dari kedua sahabatnya. "Ayo kita kasih 'salam kenal' buat calon nyonya Hanif yang halu ini."Kedua sahabat Laura mengangguk cepat. Mereka pun menyambar tas masing-masing lalu meninggalkan cafe. Laura sengaja meninggalkan mobilnya di parkiran cafe karena

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kiriman Foto

    Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kontrakan Baru

    Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya.​"Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.​Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Balasan Menohok

    Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Pertemuan Keluarga

    Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.​Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya.​"Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. ​Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Penyelidikan

    Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk.​"Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status