Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya

Aku Ajukan Cerai, Suamiku yang Dingin Melanggar Pantangannya

Oleh:  KaylaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Belum ada penilaian
50Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Setahun setelah pernikahan, Stephan Kurniadi tiba-tiba menjadi dingin terhadap wanita. Dia membangun aula pemujaan di vila dan selalu membawa tasbih. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba merayunya, dia tetap acuh tak acuh dan tidak terpengaruh. Suatu malam, aku berdiri di luar pintu kamar mandi dan menyaksikannya melampiaskan hasratnya pada foto wanita lain. Ternyata Stephan bukan kejam. Dia hanya kejam terhadapku. Aku menipunya untuk menandatangani surat kesepakatan cerai dan menghilang sepenuhnya dari hidupnya. Namun, aku malah mendengar kabar bahwa dia mencariku dengan gila-gilaan. Kami bertemu lagi di pernikahan pamannya. Melihatku mengenakan gaun pengantin putih, matanya memerah dan dia tidak mampu memanggilku "Bibi"!

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 

Malam ini adalah momen intim bulanan aku dengan Stephen Kurniadi. Aku tanpa sengaja mengeluarkan erangan lembut. Kemudian, mata Stephan pun menjadi dingin dan kehilangan hasratnya.

"Zayleen, kamu sudah melanggar aturan."

Dia segera bangkit, lalu mengenakan jubah mandi dan pergi ke kamar mandi.

Aku yang ditinggalkan di ranjang pun memejamkan mata dengan malu dan canggung. Semuanya berubah dari tiga tahun lalu, setelah kematian anak pertama kami.

Saat itu, dengan dalih "mendoakan arwah anak", Stephan membangun sebuah aula pemujaan di vila. Di sana, dia tidak berhenti membakar dupa dan persembahan kepada dewa.

Dia mengatakan bahwa umat beragama tidak boleh melakukan aktivitas seksual yang berlebihan. Jadi, dia membatasi hubungan suami istri maksimal sekali sebulan. Selain itu, kami tidak boleh mengeluarkan suara-suara tidak senonoh saat berhubungan intim agar tidak mencemari pendengaran dewa.

Meskipun aku baru berusia 25 tahun dan memiliki kebutuhan, aku hanya bisa menuruti keputusannya.

...

Stephan meninggalkan rumah di tengah malam. Tidak lama kemudian, aku menerima telepon dari sahabatku.

Suara Jesslyn terdengar sangat panik, "Zayleen, cepat periksa trending topic! Sugar daddy Sadie yang diekspos itu mirip banget sama Stephan!"

Begitu mengklik trending topic itu, kepalaku langsung terasa berdengung.

[ Berita Terkini! Bintang yang sedang naik daun, Sadie Surata, diduga memiliki dukungan seorang sugar daddy! Identitas sugar daddy tersebut masih menjadi misteri dan menunggu untuk diungkap! ]

Meskipun foto itu hanya menunjukkan punggung yang buram, bagaimana mungkin aku tidak mengenali suamiku? Tangan kanannya yang selalu memegang tasbih melingkari pinggang ramping Sadie. Mereka memasuki hotel bersama.

Tepat pada saat ini, dua e-mail anonim muncul di ponselku. Foto-foto beresolusi tinggi membanjiri pandanganku.

Dalam foto pertama, Stephan berlutut dengan satu lutut untuk menggendong seorang gadis kecil yang cantik. Dia membiarkan anak yang mengenakan gaun kembang itu memeluk lehernya dan mencium pipinya.

Di foto kedua, Sadie mengulurkan tangan untuk membersihkan debu dari bahu Stephan. Dia tidak menghindar dengan dingin seperti saat dia menghadapiku. Sebaliknya, bibirnya melengkung membentuk senyuman.

...

Puluhan foto itu akhirnya membuatku menyadari satu hal. Ketidakpeduliannya yang makin besar terhadapku selama tiga tahun terakhir, mungkin bukan dikarenakan keyakinannya terhadap agama, melainkan karena dia sudah berselingkuh.

Ujung jariku menancap di telapak tanganku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan diri untuk tenang dan membuka e-mail kedua.

[ Nyonya Zayleen, kamu pilih untuk ungkapkan foto itu atau beli putus dengan harga 20 miliar? ]

[ Beli putus, dengan harga 20 miliar. ]

Setelah membalas e-mail tersebut, aku menggunakan semua uang di rekening bank untuk membeli putus foto-foto yang dapat merusak reputasi suamiku dan simpanannya. Ironisnya, uang di rekening itu sebenarnya adalah mahar yang diberikan Stephan kepadaku saat kami menikah. Sekarang, uang itu malah digunakan untuk membeli bukti perselingkuhannya.

Aku berulang kali menatap gadis kecil dalam foto-foto itu. Seandainya anak kami tidak meninggal, dia mungkin sudah seusia gadis kecil itu sekarang. Sayangnya, sebelum sempat melihat wajah anak itu, dia telah berubah menjadi abu dalam kotak kecil.

Saat itu, aku sangat terpukul. Namun, yang kudapat hanyalah sikap acuh tak acuh Stephan. "Kita bisa punya anak lagi."

Sekarang, aku baru tahu bahwa kami tidak akan bisa memiliki anak lagi.

Setelah membeli foto-foto itu, aku menelepon Jesslyn. "Kamu ada kenalan pengacara? Aku mau cerai."

Berhubung pria itu sudah ternodai, aku tidak menginginkannya lagi.

Jesslyn membantu aku mencari tahu, lalu meneleponku kembali.

Pengacara itu menyusunkan surat kesepakatan cerai. Namun, karena aku tidak mengetahui aset Stephan, pembagian asetnya tidak dapat diuraikan dengan jelas.

Aku berkata, "Kalau begitu, kirimkan surat kesepakatan cerainya dulu. Aku akan bahas pembagian harta dengannya nanti."

Bagaimanapun juga, foto-foto itu hanya seharga 20 miliar. Reputasi presdir Grup Kurniadi jauh lebih berharga dari itu. Dengan bukti ini, kenapa aku harus khawatir tentang pembagian harta?

Aku meletakkan surat kesepakatan cerai yang sudah dicetak di atas meja kopi, lalu menghubungi nomor Stephan. Panggilan itu langsung dijawab.

"Bu Zayleen, ada apa? Stephan lagi menidurkan anak."

Suara wanita yang manis dan terdengar sopan itu terasa menusuk telinga.

Sepertinya, Sadie tahu mengenai keberadaanku. Aku awalnya masih berpikir apakah Stephan berpura-pura lajang untuk menipu orang. Ternyata, wanita itu tahu dirinya adalah seorang pelakor!

Aku tidak ingin menghabiskan emosi untuk orang seperti itu dan berkata dingin, "Suruh Stephan jawab telepon."

"Maaf, anak sangat bergantung padanya. Dia lagi sibuk sekarang. Kalau ada apa-apa, kamu boleh beri tahu aku. Aku akan sampaikan kepadanya." Nada suaranya masih lembut dan halus.

Begitu Sadie selesai berbicara, terdengar suara gadis kecil dari ujung telepon, "Papa, apa aku masih akan melihatmu waktu bangun besok pagi? Papa selalu tiba-tiba hilang."

Stephan menghiburnya dengan lembut, "Tentu saja. Papa janji akan tetap ada di sini besok pagi."

Dadaku terasa sesak. Sudah berapa lama aku tidak mendengar Stephan berbicara dengan nada seperti itu?

"Bu Zayleen? Masih ada urusan lain? Kalau nggak, kami mau istirahat dulu." Kata-kata sopan Sadie terasa seperti menyembunyikan jarum.

Aku menjawab, "Ada. Suruh dia pulang dan tandatangani surat cerai!"
Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
50 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status