Beranda / Romansa / SKANDAL PEWARIS CULUN / Bab 35. Seharusnya Tidak Diantar Pulang

Share

Bab 35. Seharusnya Tidak Diantar Pulang

Penulis: irma_nur_kumala
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-01 13:11:11

Zayden melihat layar ponselnya menyala. Dia menoleh ke Misha yang ternyata tertidur di kursinya dengan kepala menunduk. Setelah memastikan Misha memang tidur,Zayden mengangkat panggilan dari seseorang.

“Bagaimana?” Ucapnya tanpa salam pembuka. “Filenya aman?”

“Aman,Pak. Saya sudah mengembalikannya.”

“Kerja bagus. Kirim email.”

“Baik,Pak.”

Panggilan ditutup. Zayden melihat waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam. Digerakkannya kepalanya ke kanan dan ke kiri yang terasa pegal, mematikan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 69. Hal Yang Tidak Bisa Dipaksakan

    Ruang sidang tidak berubah. Kayu gelap, lambang negara di dinding, pendingin ruangan yang terlalu dingin untuk emosi manusia.Yang berubah hanya satu hal: arah permainan.Zayden berdiri dari kursinya dengan gerakan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak dramatis. Jasnya rapi, map tipis di tangan kirinya.Hakim menatapnya.“Pihak pemohon?”“Yang Mulia,” kata Zayden, suaranya datar dan jelas, “kami mengajukan permohonan untuk menghadirkan psikolog pembanding independen.”Tidak ada reaksi langsung. Hanya jeda.Revan menoleh cepat ke arah kuasa hukumnya. Alisnya berkerut tipis—bukan karena kaget, tapi karena dia tahu ini akan datang, hanya tidak menyangka secepat ini.Hakim menyandarkan tubuhnya.“Alasannya?”Zayden membuka map. Tidak membaca. Ia sudah hafal isinya.“Laporan psikolog sebelumnya,” katanya, “mengandung penarikan kesimpulan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan data observasi perilaku anak.”Kuasa hukum Revan langsung berdiri.“Keberatan, Yang Mulia. Psikolog yang kami hadirkan mem

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 68. Hal - hal Yang Tidak Diucapkan

    Misha tidak langsung pulang.Dia duduk di dalam mobil cukup lama, mesin mati, jendela tertutup rapat. Suara luar teredam, seolah dunia sengaja diredam agar dia bisa mendengar pikirannya sendiri. Laporan itu terus terngiang.Keterikatan terlalu kuat.Potensi konflik loyalitas.Penyesuaian dinamika.Kata-kata yang terdengar ilmiah. Netral. Hampir sopan. Tapi masing-masing terasa seperti jari yang perlahan mencungkil sesuatu dari dadanya.Zayden tidak memaksanya bicara. Dia hanya duduk di kursi pengemudi, satu tangan bertumpu di setir, menunggu.“Aku tidak marah,” ucap Misha tiba-tiba. Suaranya datar. “Tapi aku… bingung.”Zayden menoleh. “Tentang apa?”“Bagaimana caranya mencintai anak terlalu banyak?” Misha tertawa kecil, tanpa suara. “Aku pikir itu hal yang mustahil.”Zayden tidak menjawab. Dia tahu, ini bukan pertanyaan yang perlu jawaban. Ini pengakuan.Misha menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya terpejam, tapi nafasnya tidak tenang.“Mereka tidak bilang aku salah,” lanju

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 67. Atas Nama Kepentingan Anak

    Malam itu, setelah Arsa tertidur, Misha duduk di sofa dengan selimut menutupi bahunya.Zayden membawa dua cangkir teh dan enyerahkan satu tanpa bicara.“Kalau dia menyerang lewat jalur psikologis,” kata Misha pelan, “apa yang bisa kita lakukan?”Zayden duduk di sampingnya. Jarak mereka dekat, tapi tidak saling bersentuhan.“Kita dokumentasikan segalanya,” jawabnya. “Rutinitas. Reaksi Arsa. Konsistensi kamu sebagai pengasuh.”“Itu cukup?”“Untuk bertahan,” kata Zayden jujur. “Bukan untuk menang cepat.”Misha menelan ludah.“Dia bermain kotor,” katanya. “Aku bisa merasakannya.”Zayden menoleh. “Dan kamu tidak sendirian menghadapinya.”Misha tertawa kecil. “Kamu tahu, kan… dia bisa menyeret namamu juga.”“Aku tahu.”“Kamu bisa pergi,” katanya tanpa menatap. “Ini bukan tanggung jawabmu.”Zayden tidak langsung menjawab. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap lurus ke arah Misha.“Dengar baik-baik,” katanya tegas, tapi rendah. “Aku di sini bukan karena kewajiban dan aku tidak aka

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 66. Laporan Yang Tidak Seharusnya ada

    Ruang sidang akhirnya ditutup.Ketukan palu hakim masih terngiang di kepala Revan saat dia berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tetap netral—bahkan nyaris sopan—sementara di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdenyut tidak nyaman.Bukan marah.Bukan takut.Terganggu.Hakim memerintahkan jeda persidangan sambil menunggu laporan lanjutan, termasuk evaluasi psikologis anak. Itu prosedur. Revan sudah memperhitungkannya sejak awal.Yang tidak dia perhitungkan adalah isi laporan itu sendiri.“Pak Revan.”Suara pengacaranya menariknya kembali ke lorong pengadilan. Wanita itu menyerahkan satu map tipis berwarna krem. Tidak ada label mencolok. Hanya nama Arsa di sudut kanan atas.“Laporan awal dari psikolog anak yang ditunjuk pengadilan,” katanya pelan. “Baru keluar.”Revan menerima map itu. Jarinya berhenti sejenak di tepinya.“Isinya?” tanyanya singkat.Pengacaranya ragu. Itu sudah cukup menjadi jawaban.“Kita sebaiknya duduk.”Mereka masuk ke ruang konsultasi kecil. Reva

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 65. Ruang Sidang Yang Dingin

    Kafe yang saat ini sedang mereka datangi pada hari ketiga pendekatan Revan pada Arsa dipilih bukan karena nyaman, melainkan karena netral. Ruang publik. Diawasi kamera. Mudah dicatat waktunya. Mudah dijadikan laporan. Misha membenci fakta bahwa hubungan seorang anak dengan orang dewasa yang mengaku ayah kandungnya kini diukur lewat meja kayu, menu minuman, dan jarak kursi yang sudah diatur sebelumnya. Arsa duduk di sampingnya, kedua kaki kecilnya tidak menyentuh lantai. Tangannya memegang gelas cokelat hangat yang bahkan belum disentuhnya. Tatapannya berkeliling, lalu berhenti pada Revan yang duduk berseberangan. Zayden mengambil kursi di sisi Misha. Diam, tenang, tapi kehadirannya seperti garis batas tak kasatmata. “Ini sesuai prosedur,” kata Revan, suaranya datar tapi berusaha terdengar bersahabat. “Tempat umum. Ada saksi. Aman.” “Aman menurut siapa?” balas Misha singkat. Revan mengabaikan nada itu. Dia mencondongkan badan sedikit ke arah Arsa. “Minumnya enak? Papa yang pilih

  • SKANDAL PEWARIS CULUN   Bab 64. Perang Di Mulai

    “Aku juga merindukanmu, tapi….” Misha melirik Arsa yang berjalan di depan mereka. “Energiku rasanya terkuras habis melihat tingkah Revan.”“Aku akan mengembalikan energimu,” balas Zayden ringan.Misha tertawa pelan. “Kamu memang tidak pantang menyerah.”Zayden tersenyum, senang bisa melihat tawa itu muncul di tengah masalah yang menekan Misha. Dia tahu, menjadi ibu tunggal yang membesarkan seorang anak—bahkan bukan anak kandungnya sendiri—membutuhkan keberanian besar dan hati yang tulus. Misha telah membuktikan bahwa ikatan darah tak berarti apa-apa tanpa ikatan cinta yang dalam.Setelah puas bermain di mall, akhirnya mereka bersiap pulang. Ketegangan sempat terjadi di pintu keluar ketika Revan bersikeras ingin mengantar Misha dan Arsa kembali ke apartemen. Namun Misha menolak. Dia sudah terlalu lelah dan tak sanggup lagi menghadapi Revan hari itu.“Kita bertemu lagi besok. Zayden yang akan mengantar kami pulang, jadi kamu bisa kembali. Besok siang kami akan ke taman dekat apartemen.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status