LOGIN"Aku leader-mu. Ingat posisi kita " "Dan aku pria yang pernah kamu cium dengan penuh gairah. Ingat itu!" Misha Maheswara tidak pernah mengira bawahan culunnya bisa berkata setajam itu. Malam yang seharusnya menjadi kesalahan justru membuka jalan mereka pada skandal yang berbahaya. Saat gosip kantor semakin gencar dan identitas asli Zayden terungkap, Misha harus memilih : Mempertahankan reputasinya, atau menyerahkan diri pada pria yang seharusnya tidak pernah dia sentuh.
View MoreRuang sidang tidak berubah. Kayu gelap, lambang negara di dinding, pendingin ruangan yang terlalu dingin untuk emosi manusia.Yang berubah hanya satu hal: arah permainan.Zayden berdiri dari kursinya dengan gerakan tenang. Tidak terburu-buru. Tidak dramatis. Jasnya rapi, map tipis di tangan kirinya.Hakim menatapnya.“Pihak pemohon?”“Yang Mulia,” kata Zayden, suaranya datar dan jelas, “kami mengajukan permohonan untuk menghadirkan psikolog pembanding independen.”Tidak ada reaksi langsung. Hanya jeda.Revan menoleh cepat ke arah kuasa hukumnya. Alisnya berkerut tipis—bukan karena kaget, tapi karena dia tahu ini akan datang, hanya tidak menyangka secepat ini.Hakim menyandarkan tubuhnya.“Alasannya?”Zayden membuka map. Tidak membaca. Ia sudah hafal isinya.“Laporan psikolog sebelumnya,” katanya, “mengandung penarikan kesimpulan yang tidak sepenuhnya sejalan dengan data observasi perilaku anak.”Kuasa hukum Revan langsung berdiri.“Keberatan, Yang Mulia. Psikolog yang kami hadirkan mem
Misha tidak langsung pulang.Dia duduk di dalam mobil cukup lama, mesin mati, jendela tertutup rapat. Suara luar teredam, seolah dunia sengaja diredam agar dia bisa mendengar pikirannya sendiri. Laporan itu terus terngiang.Keterikatan terlalu kuat.Potensi konflik loyalitas.Penyesuaian dinamika.Kata-kata yang terdengar ilmiah. Netral. Hampir sopan. Tapi masing-masing terasa seperti jari yang perlahan mencungkil sesuatu dari dadanya.Zayden tidak memaksanya bicara. Dia hanya duduk di kursi pengemudi, satu tangan bertumpu di setir, menunggu.“Aku tidak marah,” ucap Misha tiba-tiba. Suaranya datar. “Tapi aku… bingung.”Zayden menoleh. “Tentang apa?”“Bagaimana caranya mencintai anak terlalu banyak?” Misha tertawa kecil, tanpa suara. “Aku pikir itu hal yang mustahil.”Zayden tidak menjawab. Dia tahu, ini bukan pertanyaan yang perlu jawaban. Ini pengakuan.Misha menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Matanya terpejam, tapi nafasnya tidak tenang.“Mereka tidak bilang aku salah,” lanju
Malam itu, setelah Arsa tertidur, Misha duduk di sofa dengan selimut menutupi bahunya.Zayden membawa dua cangkir teh dan enyerahkan satu tanpa bicara.“Kalau dia menyerang lewat jalur psikologis,” kata Misha pelan, “apa yang bisa kita lakukan?”Zayden duduk di sampingnya. Jarak mereka dekat, tapi tidak saling bersentuhan.“Kita dokumentasikan segalanya,” jawabnya. “Rutinitas. Reaksi Arsa. Konsistensi kamu sebagai pengasuh.”“Itu cukup?”“Untuk bertahan,” kata Zayden jujur. “Bukan untuk menang cepat.”Misha menelan ludah.“Dia bermain kotor,” katanya. “Aku bisa merasakannya.”Zayden menoleh. “Dan kamu tidak sendirian menghadapinya.”Misha tertawa kecil. “Kamu tahu, kan… dia bisa menyeret namamu juga.”“Aku tahu.”“Kamu bisa pergi,” katanya tanpa menatap. “Ini bukan tanggung jawabmu.”Zayden tidak langsung menjawab. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap lurus ke arah Misha.“Dengar baik-baik,” katanya tegas, tapi rendah. “Aku di sini bukan karena kewajiban dan aku tidak aka
Ruang sidang akhirnya ditutup.Ketukan palu hakim masih terngiang di kepala Revan saat dia berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan lambat. Wajahnya tetap netral—bahkan nyaris sopan—sementara di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdenyut tidak nyaman.Bukan marah.Bukan takut.Terganggu.Hakim memerintahkan jeda persidangan sambil menunggu laporan lanjutan, termasuk evaluasi psikologis anak. Itu prosedur. Revan sudah memperhitungkannya sejak awal.Yang tidak dia perhitungkan adalah isi laporan itu sendiri.“Pak Revan.”Suara pengacaranya menariknya kembali ke lorong pengadilan. Wanita itu menyerahkan satu map tipis berwarna krem. Tidak ada label mencolok. Hanya nama Arsa di sudut kanan atas.“Laporan awal dari psikolog anak yang ditunjuk pengadilan,” katanya pelan. “Baru keluar.”Revan menerima map itu. Jarinya berhenti sejenak di tepinya.“Isinya?” tanyanya singkat.Pengacaranya ragu. Itu sudah cukup menjadi jawaban.“Kita sebaiknya duduk.”Mereka masuk ke ruang konsultasi kecil. Reva
Kafe yang saat ini sedang mereka datangi pada hari ketiga pendekatan Revan pada Arsa dipilih bukan karena nyaman, melainkan karena netral. Ruang publik. Diawasi kamera. Mudah dicatat waktunya. Mudah dijadikan laporan. Misha membenci fakta bahwa hubungan seorang anak dengan orang dewasa yang menga
“Aku juga merindukanmu, tapi….” Misha melirik Arsa yang berjalan di depan mereka. “Energiku rasanya terkuras habis melihat tingkah Revan.”“Aku akan mengembalikan energimu,” balas Zayden ringan.Misha tertawa pelan. “Kamu memang tidak pantang menyerah.”Zayden tersenyum, senang bisa melihat tawa it
Misha buru-buru mendekat saat dilihatnya suasana terasa semakin tidak nyaman.“Zayden.” Misha mengambil alih Arsa dari gendongan Zayden agar tidak menimbulkan kemarahan Revan di tempat umum. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”“Ada janji makan siang dengan relasi. Kebetulan dia membawa keluarga
“Ma..”“Iya, sayang.”Misha mengelus kepala Arsa yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Setelah bermain di taman tadi, Misha mengajak Zayden untuk makan malam di apartemen dan laki-laki itu pulang tidak lama setelahnya karena dia tahu Misha membutuhkan waktu untuk berbicara secara mendalam denga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews