Masuk“Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya.
“Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku.
“Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus.
Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.”
Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah.
“Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah padamu, aku sudah mendapat sial. Aku minta maaf.”
Aku membuang muka. Melempar pandanganku jauh keluar sana melewati kaca jendela gerai yang transparan.
“Aku maafkan,” jawabku singkat.
“Terima kasih. Kalau begitu, sudikah kau menerimaku kembali, Salma?” ucap Raffi yang membuat dadaku semakin bergejolak.
“Menerimamu kembali? Kamu sudah gila? Setelah kamu berkhianat, terus aku bisa melupakan begitu saja? Kamu sudah mencederai kepercayaanku. Lagi pula, bukankah kamu terang-terangan bilang kalau kamu mencintai Sarah?”
“Itu bohong, Salma. Aku hanya terbawa emosi. Aku hanya mencintaimu. Sarah itu selalu menggodaku. Sebagai pria normal, tentu aku tergoda. Mana mungkin aku mencintai perempuan murahan seperti dia.” Raffi benar-benar tidak punya pendirian. Dia sama saja dengan Sarah. Sama-sama benalu yang plin-plan.
“Tapi aku tidak mencintaimu sedikit pun, Raffi. Yang ada malah jijik. Lagian, kamu ‘kan tahu, rencana pernikahan kita cuma syarat untuk mendapatkan buku nikah saja,” balasku sengit. Tak peduli pada perasaan Raffi. Dia juga sedang berbohong. Wajar aku membalasnya dengan sikap tak acuh.
“Iya, aku tahu. Pernikahan kita memang berlandaskan ambisi bisnis. Tapi, kenapa harus dengan laki-laki pelayan hotel ini? Kenapa tidak denganku saja? Setidaknya kita selevel dan sefrekuensi,” ucap Raffi percaya diri. “Pelayan hotel ini hanya akan menjadi benalu dalam hidupmu. Dia akan memporotimu karena dia miskin. Lihat saja, dia hanya mampu membawamu ke gerai es krim kecil yang murahan ini. Dia tidak menghargaimu, Salma. Dia laki-laki mokondo!” Raffi terang-terangan menghina Reno. Reflek, tanganku terangkat. Sebuah tamparan keras kulayangkan ke wajah Raffi.
“Jangan pernah menghina suamiku!” tunjukku menukik ke wajah Raffi yang memerah karena bekas tamparan,
Ternyata tamparanku memancing amarah Raffi. Dia mencengkeram erat lenganku sampai sakit. “Ikut denganku, Salma! Tinggalkan dia! Dia sudah meracuni otakmu dan memberi pengaruh buruk. Kamu sudah diperdaya olehnya!” ucap Raffi penuh intimidasi. Aku ditarik dengan kasar agar ikut dengannya. Tubuhku terhuyung saat mengikuti langkah gusarnya.
“Lepaskan dia!” Tiba-tiba, Reno sudah menghadang di depan. Tangannya mencengkeram erat kerah kemeja Raffi. Bahkan terlihat enteng mengangkat tubuh Raffi dengan sebelah tangan saja. Tubuh Raffi terkunci.
“Kurang ajar, kamu!” Raffi melepaskanku dan mencoba melakukan perlawanan pada Reno. Tangannya bergerak ingin melayangkan tinju. Tapi sayang, serangannya lemah dan meleset. Reno melempar Raffi bagai sampah tak berharga dan dia terjerembab ke lantai.
Raffi semakin meradang. Dia bangkit untuk memberikan serangan baru. Reno bergerak gesit mengelak setiap serangan. Tinju yang dilayangkan Raffi hanya mengenai angin. Kemudian, saat serangan Raffi datang lagi, Reno menungkai kaki laki-laki itu. Lagi-lagi, Raffi terjungkal. Tubuhnya berguling ke lantai dan tertimpuk kursi.
“Aku akan melaporkan kau ke polisi dengan tindak penganiayaan!” ancam Raffi yang mencoba bangkit dari keterpurukan.
“Apakah kamu merasa teraniaya olehku?” ejek Reno. “Silakan merengek ke kantor polisi. Biar kamu semakin ditertawakan orang karena baru saja dikerjai habis-habisan. Pesanku untukmu, Rajinlah olah raga, biar jantan,” pungkas Reno.
Raffi bangkit dengan amarah yang menggelegak. Dia menunjukkan wajah sengak seolah tak mau kalah. Dia tidak melancarkan serangan lagi karena tahu setiap serangannya akan dimentahkan. Reno pasti semakin menjadi-jadi mengerjainya andai Raffi masih ngotot untuk melawan.
“Awas kamu! Akan aku hancurkan hidupmu yang hina itu!” Raffi mengancam Reno. Lagaknya seperti jagoan, padahal dia hanya seorang pengecut yang cuma mampu menyerang dengan adu mulut. Seperti betina saja.
Akhirnya, Raffi pergi dari hadapan kami. Saat langkahnya mendekati pintu, aku berteriak padanya.
“Raffi, asal kamu tahu, gelato di sini benar-benar enak!” ucapku. Ucapan yang ternyata mendapatkan sambutan tepuk tangan dari karyawan gerai yang sedari tadi menonton pertunjukkan drama percekcokkan kami. Pegawai-pegawai di sini berada di pihakku dan Reno.
“Terima kasih, kak. Sudah mengatakan gelato kami enak pada laki-laki pengacau itu,” ucap salah satu seorang karyawan gerai padaku.
Setelah dari gerai Gelato, aku mengantar Reno kembali ke hotel. Dia harus kembali bekerja. Aku takut menyita waktunya dan membahayakan pekerjaan Reno sendiri. Manajernya bisa marah besar padanya.
Saat di perjalanan menuju hotel, Reno sibuk menatap layar ponsel. Dia terkekeh geli saat menatap layar ponselnya itu.
“Kamu lagi nonton apa?” tanyaku saat menyetir. Mataku fokus ke jalan. Tapi telingaku terusik oleh suara-suara yang keluar dari ponsel Reno.
“Aku merekam adegan kamu menampar Raffi. Terlihat tangguh tapi elegan,” ucap Reno memuji. Aku lansung menoleh padanya.
“Apa? Sempat-sempatnya kamu merekam? Kamu benar-benar suka merekam, yah?” balasku terkejut dengan tindakan Reno.
“Mungkin bakat terpendam,” jawabnya santai dengan mata yang masih tertuju pada layar ponsel.
“Bisa jadi kamu memang berbakat. Siapa tau passionmu adalah sebagai pembuat film,” balasku membesarkan hati Reno. Dia makin tergelak mendengar ucapanku.
“Salma,” panggilnya dengan suara yang lembut. Aku menoleh lagi ke samping ke arahnya. Tatapanku tertumbuk pada sorot mata Reno yang menatapku dengan tatapan mata teduh.
“Kenapa?” tanyaku.
“Terima kasih sudah membelaku,” ucap Reno tulus.
“Sama-sama. Kamu juga menyelamatkanku. Aku puas dengan caramu mengerjai Raffi tadi. Ternyata kamu jagoan, Ren,” pujiku lagi. Aku membuang muka dan menghadap ke depan. Ada getaran aneh yang terasa di dada. Mungkin jika aku melihat kaca, pasti aku akan melihat pipiku yang berubah merona. Bisa-bisanya Reno menjebakku dalam suasana yang mendebarkan ini. Cara menatapnya, senyumnya, dan sikap manisnya, sangat sukses membuatku tersipu.
“Kirimkan video itu padaku, aku butuh menontonnya untuk hiburan,” ucapku saat mobilku tiba di depan pintu masuk hotel. Reno mengirimkan video lewat pesan. Setelah membuat janji temu selanjutnya, Kami berdua pun berpamitan. Aku harus kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaanku sebagai manajer marketing pemasaran. Pekerjaan yang sudah dua hari aku tinggalkan karena mengurus pernikahan.
POV RENO
Salma mengantarku kembali ke hotel. Aku lansung naik ke lantai 30. Lantai di mana kamarku berada. Baru saja membuka pintu kamar, aku disambut wajah Pak Marco yang begitu tegang.
“Tuan, anda dari mana saja?” ucapnya cemas.
Aku berjalan santai menuju bar. Menuang koktail ke gelas kristal. Aku belum berminat menjawab pertanyaan Pak Marko. Aku ingin menikmati koktail ini dulu untuk menyegarkan tenggorokan.
“Tuan, mengapa anda membatalkan rapat? Siapa Salma Saraswati? Mengapa anda memasukann namanya ke dalam list undangan? Aku sampai kewalahan menjawab pertanyaan pria gila yang komplain karena namanya dihapus. Namanya Raffi, pemuda itu merepotkan sekali.” Pak Marko mencerocos panjang elbar. Mungkin dia sedang kewalahan menghadapi sekelumit pekerjaan.
“Aku tidak membatalkan rapat itu, hanya menundanya saja,” jawabku sambil bersandar duduk di sofa.
“Terus, acara perjodohan itu apakah ditunda juga? Perempuan-perempuan itu menanyaiku terus?” tanya Pak Marko.
“Batalkan! Suruh perempuan-perumpuan itu berhenti menggangguku,” jawabku tegas.
“Apa alasannya, Tuan? Apa mereka kurang cantik? Apa kurang kaya? Apa anda butuh gadis dari keluarga yang lebih berkelas lagi?” Pak Marko merongrongku. Dia masih saja gusar. Aku terkekeh geli melihat sikapnya.
“Perempuan-perempuan itu matre dan tidak tahu malu. Bayangkan, dalam kencan pertama saja, mereka berani menanyakan berapa jatah saham yang akan mereka dapatkan andai menjadi istriku. Aku benar-benar ilfeel dibuatnya. Belum lagi, otak mereka semua kosong. Ngga ada yang nyambung,” jawabku mengejek.
“Terus sekarang, bagaimana? Aku harus jawab apa sama Nyonya?” tanya Pak Marko cemas. Nyonya yang dimaksud adalah Mamaku yang mencetus ide perjodohan ini. Mungkin mama terlalu banyak menonton acara 'Take me out' dan mempraktek gaya acara itu untuk mencarikanku jodoh.
“Duduklah. Aku punya berita besar untukmu, Pak Marko.” Aku berhasil menenangkan Pak Marko. Dia duduk tenang di hadapanku dan menunggu ceritaku dengan wajah antusias. "Aku sudah menemukan wanitaku?” ucapku dengan rasa bangga.
“Siapa? Apakah wanita yang bersamamu tadi pagi?” tebak Pak Marko.
“Yup, betul. Bagaimana? Cantik dan anggun, bukan?” ucapku membanggakan Salma.
“Cantik, sih. Tapi, apa anda sudah menyelidiki latar belakang perempuan itu? Jangan sampai anda terjebak. Wanita di sini, banyak akalnya. Jangan-jangan, dia juga perempuan matre seperti perempuan-perempuan yang ada di dalam daftar perjodohan. Cuma, mungkin mainnya lebih halus saja.” Pak Marko terlalu berspekulasi. Dugaannya salah besar.
“Salma bukan perempuan seperti itu,” ucapku yakin. Aku mencodongkan tubuh ke arah Pak Marko karena ingin menyampaikan hal yang jauh lebih penting. “Salma tidak tahu siapa aku.”
“Apa? Dia tidak tahu bahwa anda Tuan Muda Reno Alvin Bastian? CEO muda Bastian Group?”
“Tidak. Tidak sama sekali. Salma hanya tahu kalau aku cuma pelayan di hotel ini,” jawabku santai. Lagi-lagi aku menyeruput koktail di gelas kristal. Sementara Pak Marko kembali blingsatan. Dia menepuk jidat seolah apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang berefek fatal.
“Mengapa harus ada rahasia-rahasiaan? Kenapa anda tidak jujur saja, Tuan? Anda memang pintar sekali mencari masalah,” ucap Pak Marko dengan nada menyesal.
“Andai timbul masalah, saya punya Pak Marko untuk membereskannya.”
“Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku.
“Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku. "Karena aku ingin dicintai apa adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, tanpa embel-embel nama besar Papa, jabatan sebagai CEO Bastian Group, jumlah saham dan kedudukan. Aku ingin dicintai dengan tulus," jawabku penuh keyakinan. Mulut Pak Marko, sontak menganga lebar mendengar alasanku. Dia mendekat ke arahku, menempelkan punggung tangannya ke jidatku. "Tidak panas, apa jangan-jangan anda sedang mabuk?" Pak Marko malah menilaiku sedang dalam keadaan ngawur. Apa sesulit itu mempercayai alasanku? Aku juga manusia yang ingin dicinta oleh pasangannya dengan apa adanya. Bukan hal yang muluk, bukan? "Aku sedang tidak demam. Tapi memang sedang mabuk," jawabku terkekeh. Pak Marko lansung menyambar gelas kristal di tanganku. Dia membauinya dan bergumam. "C
“Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya. “Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku. “Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus. Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.” Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah. “Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah
“Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu. "Melakukan apa?” jawab Reno santai. “Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku. “Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?” “Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?” “Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku. “Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” ta
“Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu. Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal. Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami. “Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk mer
POV RENO Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma. Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda. Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini. Ras
"Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi. "Para cegil!"Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat."Cegil itu apa?""Cewek gila."Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat."Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal."Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita."Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang."







