Masuk“Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu.
"Melakukan apa?” jawab Reno santai.
“Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku.
“Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?”
“Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?”
“Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku.
“Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” tanyaku masih tak percaya.
“Bastian Group punya tim investigasi sendiri, Salma. Mereka melakukan survey diam-diam pada perusahaan yang akan mengajukan kemitraan. Mungkin mereka sudah memantau perusahaan ini dan identitasmu.” Reno menerangkan begitu yakin seolah sangat paham dengan strategi perusahaan besar itu.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Yah, berkat menguping saat mengantarkan minuman dan saat melayani mereka waktu rapat,” ucap Reno dengan senyum yang tersungging miring, seperti senyum yang menyindir. Matanya juga melesat tajam ke arah Sarah. Sangat jelas sekali ingin mencomooh Sarah yang tadi menghinanya. “Sarah saja tahu bagaimana caraku mendapatkan info itu. Ya kan, Sarah?” tanya Reno dengan nada jahil. “Mungkin kamu berminat mencoba pekerjaanku sebagai pelayan hotel agar bisa mencuri informasi dari bos-bos besar itu, Sarah,” tambah Reno lagi dan ucapan itu semakin membuat Sarah kesal.
“Aku ngga sudi melakukan pekerjaan rendahan itu, dasar cowok miskin!” balas Sarah penuh emosi. Reno tak tersinggung sama sekali. Pria itu malah mengeluarkan kekehan yang … lagi-lagi terkesan jahil. Apa ini tabiat Reno? Seseorang yang sangat jahil.
“Salma, bawa pergi suami yang ngga bergunamu ini dari sini. Napasku terasa sesak dengan keberadaan dia di sini.” Maya meradang. Atmosfer ruangan kerja ayah memang terasa menegang setelah kegagalan Raffi. Ditambah kelakuan Reno yang membuat ego mereka hancur berantakan. Niat hati ingin menjatuhkanku, nyatanya Maya dan Sarahlah yang dibuat terjatuh oleh niat busuk mereka sendiri.
“Baiklah, aku akan pergi, Mama,” balasku sambil menyeringaikan senyum sungging yang membuat ekspresi wajah Maya semakin mengkerut saking emosi. Aku menoleh pada ayah yang diam saja sedari tadi. Dia seperti berada di dimensi lain dengan tatapannya yang kosong. “Ayah, segera jadwalkan rapat itu. Aku akan mendiskusikan legalitas dengan Pak Robert selaku notaris dan pengacara keluarga kita.” Aku menunggu ayah memberikan respon. Tapi laki-laki itu hanya mampu mengangguk kecil dengan ekspresi wajah yang Lelah. Seberat itukah hati ayah mengembalikan hakku? Atau jangan-jangan tekanan dari Maya yang membuat ayah dilemma.
“Ayo, Ren. Kita pergi dari sini.” Aku mengulurkan tangan pada Reno. Dia menyambutnya. Saat berjalan keluar, aku mengalungkan lengan di lengan kiri Reno yang berotot. Kami berjalan dengan mesra. Mataku tak lepas memandang Sarah yang masih dikuasai amarah. Rasanya pasti sangat-sangat kesal jika berada di posisi Sarah sekarang.
Sesampai di parkiran, tawaku pecah, aku sampai terbahak.
“Kamu lihat wajah mereka ‘kan, Ren? Ngga sampai semenit, wajah mereka berubah. Dari yang ketawa-ketawa angkuh, lansung berubah nelangsa. Aku puas banget. Bastian Group yang menunda rapat itu benar-benar menjadi kabar buruk bagi mereka,” ucapku yang tak henti-hentinya tertawa. Aku sangat puas.
“Orang berhati busuk tidak akan pernah menang, Sal.” Reno memberi dukungan. “Kamu jangan pernah gentar menghadapi mereka. Ancaman mereka terlalu remeh. Tetaplah menjadi Salma yang anggun dan tenang saat menghadapi kekacauan.”
“Wow! Menurutmu aku seorang yang anggun?” Ucapan Reno mendadak menjadi fokusku. Aku serasa dipuji.
“Kamu ngga sadar, yah?” ucapnya lagi. Reno melempar senyum, senyum yang manis dan mampu menghipnotisku berlama-lama untuk memandang wajahnya.
“Oh ya, Abis ini kita kemana?” tanyaku begitu tersadar setelah saling pandang-pandangan dalam waktu yang cukup lama.
“Bagaimana, kalau kita menikmati gelato yang ada di depan hotel Bastian? Kata orang, gelatonya enak. Kali ini, aku yang traktir.” Reno memberi saran. Makan es krim setelah kejadian yang membuat tensi darah naik tadi adalah ide yang sangat brilian. Tentu aku lansung setuju.
Soal traktir mentraktir, aku jadi teringat pada janjiku pada Reno. Aku memeriksa tas dan mengeluarkan sebuah kartu.
“Sorry, aku sampai lupa. Aku sudah mentransfer sejumlah uang ke ATM ini, dan juga sejumlah bonus. Ambillah, Ren. Kamu butuh belanja banyak baju setelah ini karena acara kita sebagai suami istri akan semakin padat,” ucapku antusias menyerahkan kartu ATM pada Reno. Lewat kartu itu, aku akan mengirimkan transferan gaji bulanan Reno sebagai suami bayaranku. Reno menerimanya dan memasukkan kartu itu ke dalam saku kemejanya.
“Mari kita makan Gelato untuk merayakan kegagalan Sarah dan Raffi ini!” seruku bersemangat saat menekan pedal gas. Aku kegirangan sampai bertingkah sedikit norak. Reno hanya tertawa kecil melihat tingkahku.
**
“Kamu benar, Ren. Gelatonya enak banget.” Aku menyendok gelatoku berulang kali. Lidahku dibuat candu untuk menikmati es krim ini.
“Iya. Sangat rekomen. Tempatnya masih baru. Gerai ini juga bermitra dengan Bastian Group,” terang Reno.
“Oh ya? Bastian Group bahkan tertarik bermitra dengan gerai es krim kecil seperti ini? Baik sekali,” pujiku.
“Misi mereka bukan mencari kaya, Salma. Bastion Group ingin memajukan semua bentuk usaha yang potensial. Terlepas apakah itu cuma UMKM atau perusahaan besar. Bastian Group melakukan itu untuk memajukan ekonomi local dan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya.”
“Wow! Keren sekali misi mereka. Kamu banyak tahu yah tentang perusahaan ini?” tanyaku seraya menyondok es krim.
Reno mengangguk-angguk dengan senyum tipis. “Tahu-tahu sedikit,” jawabnya santai.
“Seru juga yah kerjaanmu, bisa menguping info-info penting yang dibahas para bos-bos. Sepertinya, aku harus menaikkan gajimu agar mau menjadi mata-mataku nanti sebagai pekerjaan tambahan.” Ide culas terlintas di benakku.
“Kalau memang itu permintaan istriku, apa boleh buat, aku harus kerjakan,” jawab Reno tanpa beban sambil menikmati es krimnya.
Saat asyik mengobrol dan menyantap es krim, seorang pemuda asing mendekat ke arah kami.
“Tuan, maaf menggangu. Apakah anda masih ingat saya?” tanya Pemuda asing itu dengan sangat sopan pada Reno. Reno menoleh padanya.
“Oh iya, saya ingat,” jawab Reno ramah menyambut kedatangan pemuda asing itu.
“Tuan, bolehkah saya meminta seragam kerja saya kembali. Saya sangat membutuhkannya agar bisa kembali bekerja.”
“Kamu cari Pak Marko di hotel. Dia akan mengurusnya untukmu,” jawab Reno santai.
“Baik, Tuan. Ini, jas anda saya kembalikan.” Pemuda itu menyerahkan kantong kertas yang berisikan sebuah jas.
“Tak usah, untukmu saja,” balas Reno.
“Wah, terima kasih, Tuan. Terima kasih. Jasnya sangat bagus,” puji pemuda itu.
Pemuda itu akhirnya pamit dari tempat meja kami makan es krim. Reno kembali memanggilnya. “Hey, tunggu dulu,” panggil Reno. Dia mengeluarkan dompet. Mataku tertuju pada dompet cokelat kulit milik Reno yang setahuku dompet itu harganya mahal. Dompet itu keluaran brand ternama. Bisa-bisanya Reno memilikinya. “Ini, buatmu. Anggap saja sebagai uang sewa untuk seragammu.” Reno menyerahkan 5 lembar uang merah ratusan ribu pada si Pemuda.
“Jangan, Tuan, ini sudah terlalu berlebihan,” jawab Pemuda itu sungkan.
“Tak apa, ambil saja.” Reno memaksa. Pemuda itu akhirnya menerima. Wajahnya sangat berbinar menerima lembaran uang.
Setelah pemuda itu keluar gerai. Aku tak tahan untuk menjejali Reno dengan pertanyaan.
“Ini apalagi, Ren?” tanyaku tak habis pikir. Kenapa orang-orang bersikap tunduk padanya? Meski aku tahu alasan mengapa Reno selalu dipanggil dengan sebutan ‘Tuan’, tetap saja aku tak puas dengan alasan yang diberikan karena yang terlihat olehku adalah sikap-sikap yang janggal.
“Cuma soal seragam. Aku meminjam seragamnya karena seragamku kotor,” jawab Reno dengan sikap santai.
“Dan memberinya 500ribu hanya karena meminjam seragam?” selidikku.
Reno hanya mengulum senyum, dia menggaruk pelipisnya dan membuang pandangan keluar jendela, Aku seperti diacuhkan.
Belum lagi sempat mengajukan pertanyaan selanjutnya, fokusku teralihkan oleh sebuah suara yang memanggil namaku. Aku menoleh pada sumber suara. Melihat siapa yang datang berjalan mendekati meja kami, darahku lansung bergejolak.
“Mau apa dia ke sini?” Aku mengedumel. Moodku seketika hancur ulah kedatangan seseorang itu.
“Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku. "Karena aku ingin dicintai apa adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, tanpa embel-embel nama besar Papa, jabatan sebagai CEO Bastian Group, jumlah saham dan kedudukan. Aku ingin dicintai dengan tulus," jawabku penuh keyakinan. Mulut Pak Marko, sontak menganga lebar mendengar alasanku. Dia mendekat ke arahku, menempelkan punggung tangannya ke jidatku. "Tidak panas, apa jangan-jangan anda sedang mabuk?" Pak Marko malah menilaiku sedang dalam keadaan ngawur. Apa sesulit itu mempercayai alasanku? Aku juga manusia yang ingin dicinta oleh pasangannya dengan apa adanya. Bukan hal yang muluk, bukan? "Aku sedang tidak demam. Tapi memang sedang mabuk," jawabku terkekeh. Pak Marko lansung menyambar gelas kristal di tanganku. Dia membauinya dan bergumam. "C
“Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya. “Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku. “Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus. Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.” Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah. “Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah
“Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu. "Melakukan apa?” jawab Reno santai. “Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku. “Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?” “Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?” “Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku. “Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” ta
“Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu. Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal. Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami. “Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk mer
POV RENO Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma. Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda. Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini. Ras
"Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi. "Para cegil!"Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat."Cegil itu apa?""Cewek gila."Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat."Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal."Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita."Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang."







