INICIAR SESIÓNKoridor menuju ruang makan dibalut cahaya keemasan dari jendela besar. Debu-debu kecil terlihat menari di udara, seolah pagi pun ikut menyambut langkah mereka. Amel berjalan sedikit di belakang Alex. Meski jarak mereka tak lebih dari satu lengan, rasanya seperti ada garis halus yang memisahkan… sekaligus menghubungkan. Sesekali Alex menoleh, memastikan langkah Amel tidak terlalu tertinggal. Ruang makan itu luas, namun tertata sederhana. Meja panjang dari kayu tua dipenuhi piring, roti hangat, selai, buah segar, omelet yang masih mengepulkan uap, tapi semuanya tampak rapi, tidak berlebihan. “Duduklah,” ujar Alex pelan. Amel menurut. Jantungnya belum mau tenang, tapi keheningan di antara mereka jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. Alex menuangkan teh ke cangkirnya. Gerakannya tenang, lalu tanpa banyak bicara, ia juga menuangkan teh ke cangkir Amel, mendorongnya perlahan ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Amel. Alex hanya mengangguk kecil, kini mereka mulai sarapan. Ses
Pagi merayap masuk lewat celah tirai, menorehkan garis cahaya tipis di dinding kamar. Amel membuka mata perlahan. Untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Lalu bau kayu menguar, hamparan karpet tebal di bawah tempat tidur, dan lemari besar berwarna gelap yang asing baginya. Itu… bukan kamarnya. Ingatan semalam datang seperti arus balik... Alex, genggamannya, langkah cepat melewati lorong… dan pintu kamar itu yang tertutup pelan. “Jadi… aku benar tidur di sini,” bisiknya. Ada sesal yang tiba-tiba mencuat. “Lily…” Bayangan anak kecil itu sendirian di kamar membuat dadanya terasa berat. Ia bangkit buru-buru. Telapak kakinya menyentuh lantai dingin, membuatnya sedikit terlonjak. Lorong Mansion itu masih sepi. Hanya bunyi jam dinding yang terdengar jelas, tik… tak… tik… tak… Seolah setiap detik ikut mengawasinya. “Alex?” panggilnya pelan. Tidak ada jawaban. Hanya udara kosong. Amel menggigit bibirnya... setengah ragu dan cemas, lalu ia melangkah menuju dapur. Bau tumis bawang dan
Si penembak di bukit masih diam. Hujan menetes dari ujung laras, waktu berjalan perlahan… namun di dalam gudang, semuanya justru terasa semakin cepat. Alex berdiri diam di tempat. Tapi matanya... untuk pertama kalinya malam itu, tidak lagi memikirkan ruangan, senjata, atau siapa yang mengkhianati. Yang muncul justru wajah Amel dan Lily. Seketika seluruh tubuhnya menegang. “Kalau mereka berani mengincar meeting sebesar ini… berarti mereka berani menyentuh hal lain juga.” Sebuah ketakutan yang jarang ia rasakan merambat naik ke dadanya. Bukan takut pada peluru. Tapi pada kemungkinan… ada seseorang yang sudah memperhitungkan segalanya. Termasuk orang-orang yang tak seharusnya tersentuh. Termasuk Mansionnya. Alex mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Tidak. Tidak boleh ada yang mendekati Mansionku, terutama mendekati mereka. Ia menoleh cepat, menatap Joni. Tapi bukan tatapan seorang bos pada anak buahnya. Lebih mirip seseorang yang sedang mempercayakan separuh hidupnya.
Ciuman itu membuat dunia seakan menghilang, tetapi justru di tengah keheningan itulah Amel tersadar, detak jantungnya bukan hanya karena rindu, tapi juga karena takut… takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Perlahan ia menarik wajahnya, napasnya masih tersengal. “Alex…” suaranya bergetar. “Ini… kita tidak seharusnya...” Alex terdiam. Bukan karena marah, tetapi karena ia benar-benar mendengarkan. Matanya melembut, dan cengkeramannya di bahu Amel mengendur. “Aku tidak mau kamu merasa terpaksa,” ucapnya pelan. “Kalau kamu bilang berhenti… kita berhenti.” Kalimat itu membuat Amel justru makin sulit bernapas. Ada kehangatan yang berbeda di dada... bukan hanya rindu, tapi juga rasa aman yang selama ini jarang ia dapatkan. “Aku hanya… bingung,” bisiknya jujur. “Aku takut salah. Aku takut berharap terlalu jauh.” Alex menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangan mereka. “Aku juga takut,” katanya. “Tapi setiap hari aku pulang… yang terlintas di pikiranku selalu kamu. Bukan sebag
Di dalam kamar yang temaram, Amel berbaring memunggungi jendela. Hujan yang turun di luar hanya terdengar samar, tapi kegelisahan di dadanya bergema jauh lebih keras. Entah sudah berapa kali ia memejamkan mata, berharap lelah menenggelamkannya ke dalam tidur. Namun setiap kelopak itu tertutup, bayangan Alex justru muncul... jelas, dekat, seolah pria itu hanya sejauh uluran tangan. Amel menarik napas panjang, tapi dadanya tetap terasa sesak. Ia meraih ponselnya lagi, entah untuk keberapa kali malam itu. Layar yang gelap menyala, memantulkan wajahnya yang pucat dan mata yang mulai memerah. Tidak ada notifikasi pesan dan tidak ada nama Alex yang muncul disana. Hening mendadak terasa sangat kejam. Harapan kecil yang sedari tadi ia peluk erat mulai retak perlahan. Jari-jarinya bergetar saat ia menurunkan ponsel itu di dada. Pertanyaan yang sama kembali berputar-putar di kepalanya... apa Alex memikirkannya juga? Atau hanya dirinya yang terlalu berharap? Air mata yang sejak tadi dita
Hujan masih menetes pelan di atap seng ketika lampu-lampu di gudang diredupkan. Setengah ruangan tenggelam dalam bayang-bayang. Hanya cahaya dari meja tengah yang dibiarkan menyala, seolah itu adalah satu-satunya titik kendali di tengah kekacauan.Suara sepatu berlari terdengar di lorong-lorong. Anak buah Blood Brothers bergerak cepat, menutup pintu, menurunkan penghalang besi, dan mengambil posisi di balik peti-peti kargo.Marco berdiri tegap, matanya mengawasi setiap sudut ruangan. “Kita tidak bisa tinggal diam. Kalau itu penembak jitu, artinya dia sudah mengincar tempat ini sejak lama.”Alex tetap tenang, “justru karena itu,” jawabnya pelan. “Siapa pun dia… dia ingin kita terlihat panik.”Joni berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya. Matanya terus bergerak, memeriksa siapa pun yang terlihat gugup. Beberapa anak buah tampak mulai berkeringat. Tidak ada yang suka merasa jadi sasaran tembak tanpa tahu dari mana pelurunya datang.“Bos!” teriak seseorang dari lantai atas. “Kami mene