LOGINQueensya harus menerima hukuman karena sudah membantu calon istri Rafael kabur dari hari pernikahan mereka. Setahun kabur dengan mengganti identitas, nyatanya membuat Qey tetap ditemukan oleh Rafael dan menjadikannya pengantin pengganti. Qey tidak bisa lagi kabur, apalagi Rafael menggunakan keluarganya untuk mengancam. Meski tanpa cinta, terpaksa Qey menikah dengan Rafael meskipun sebenarnya dia masih ada perasaan pada kekasihnya. Di tengah keterpaksaan pernikahan itu, mantan calon istri Rafael datang dan tiba-tiba ingin Qey mengembalikan posisinya. Haruskah Qey mengembalikan posisi milik wanita itu, padahal hati Qey sudah nyaman bersama Rafael? Tetapi dia tidak tahu apakah Rafael masih menginginkan mantan calon istrinya atau tidak!
View MoreSuasana di ruang makan itu langsung memanas. Suara sendok yang beradu dengan piring pun terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang menekan. Qey menunduk, dadanya bergemuruh. Kata-kata "hanya pengganti" itu seperti belati yang menusuk langsung ke ulu hatinya. Dia sudah tahu keluarga Rafael tidak sepenuhnya menerimanya, tetapi mendengar sindiran seterang itu di hadapan semua orang membuat wajahnya terasa panas, nyaris terbakar malu dan kesal sekaligus Rafael yang duduk di samping Qey langsung mengangkat kepala, rahangnya mengeras. Tangannya yang tadi menggenggam lembut tangan Qey kini berubah menjadi cengkeraman protektif. Matanya yang tajam menatap lurus pada pamannya, penuh amarah yang ditahan dengan susah payah. “Ucapkan itu sekali lagi,” suara Rafael serak, dalam, namun jelas terdengar ancamannya. Pamannya tertawa kecil, nada meremehkan yang membuat suasana makin menegang. “Aku hanya bicara kenyataan, Rafael. Semua orang di sini tahu siapa yang seharusnya duduk di k
Udara di dalam mobil terasa pekat, seolah semua oksigen tertarik ke satu titik di antara Qey dan Rafael. Lampu jalan melintas seperti sapuan kuas yang mencoret-coret malam. Qey menghela napas, mencoba merangkai kembali kepingan-kepingan peristiwa yang baru saja memecah hidupnya menjadi serpihan tajam. Bisa dia rasakan tangan Rafael yang besar ada di punggungnya, menekan lembut, seolah ingin menenangkannya. “Aku tidak mau menghancurkan mereka,” Qey berbisik, suaranya parau. Matanya menatap kaca jendela, memantulkan siluet wajahnya sendiri yang kini tidak lagi utuh. "Tidak heran mereka berpikiran seperti itu, orang lain pun pasti akan berpikir kalau aku sengaja bantu Gianna pergi dan menggantikan posisinya." Rafael berdecak lalu bibirnya mengerut. Tangan kirinya meremas setir, jari-jari tersembunyi di balik kulitnya yang tebal. Ada sesuatu di mata pria itu yang membuat Qey menoleh, bukan hanya kemarahan, melainkan sesuatu yang sulit Qey terka. “Nyatanya kamu gak pernah berniat se
Suara tamparan itu menggema di aula besar rumah keluarga Lissandro. Qey terhuyung ke samping, pipinya memerah seketika. Udara seakan membeku. Semua yang ada di rumah itu membelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan istri dari Tuan Lissandro, ibu Gianna, kepada tamunya sendiri yaitu kepada Nyonya De Luca. Rafael sontak meraih bahu istrinya, menahan tubuh Qey agar tidak jatuh. Mata dinginnya menatap tajam ke arah wanita paruh baya yang berdiri dengan dada berdegup penuh emosi. Aura keangkuhan dan kebencian terpancar jelas. “Berani-beraninya kamu masuk ke rumah ini setelah merebut segalanya dari putriku!” suara ibu Gianna bergetar, antara marah, benci, sekaligus getir. Qey menatapnya dengan mata membelalak, terkejut, juga sakit hati. “Aunty, a-aku tidak merebut apa pun,” suaranya pelan, nyaris tercekat. Tangannya refleks menyentuh pipi yang terasa panas akibat tamparan itu. “Kamu pikir aku buta?” teriak ibu Gianna, menunjuk Qey dengan telunjuk gemetar. “Kamu sengaja m
Ancaman berikutnya datang dalam bentuk yang jauh lebih jelas, beberapa menit setelah Qey dan Rafael keluar dari ruangan sebuah peluru tajam menembus jendela ruang kerja itu. Para pengawal panic dan alarm dibunyikan. Seluruh rumah dikunci secara otomatis. Qey yang syok refleks menjerit, lalu langsung dibawa ke ruangan bawah tanah oleh Rafael. “Ini bukan sekadar ancaman. Ini adalah deklarasi perang,” ucap Rafael kepada salah satu pengawalnya. Dia memanggil Kenji lewat sambungan terenkripsi. Elara juga ikut dalam pembicaraan, menyarankan Rafael untuk memindahkan Qey sementara ke tempat lebih aman. Atau mungkin ke rumah mereka di Jepang, namun Rafael menolak. “Jika mereka ingin menyerangnya, mereka harus melewati aku terlebih dahulu.” Dilihatnya Qey yang masih syok, tetapi tidak menangis. Hanya diam sambil menghembuskan napas dengan pelan. “Semua akan baik-baik saja,” ucap Rafael menenangkan Qey. Perempuan itu menoleh dengan wajah datar. “Bohong! Tidak ada yang baik-baik saja
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.