LOGIN"Aku lupa Susan. Maksudku, aku lupa menyimpannya di rumah. Kemarin aku habis pake untuk buat kartu keluarga baru, dan lupa menyimpannya kembali di rumah, jadinya ikut kebawa sampai sekarang!" jawab Lucky benar-benar tidak terduga. "Buat kartu keluarga...? Untuk apa...?!" seru Susan."Ya... itu sangat penting Susan. Kita kan sekarang sudah menikah dan kita akan membangun keluarga kita sendiri. Aku tentu saja tidak bisa terus mengandalkan kartu keluarga milik papaku, lagian hal ini memang penting untuk aku dan kamu ke depannya. Aku tidak bisa menunda untuk membuat kartu keluarga itu, karena bisa jadi nanti pernikahan kita yang kemarin justru dianggap tidak sah!" ucap Lucky yang mana jawaban tadi justru membuat Susan menggaruk kepala karena sungguh dia tidak mengerti apa yang sedang ingin Lucky katakan. Tentu saja Susan tahu mengenai kartu keluarga, hanya saja Susan tidak pernah menyangka jika Lucky akan membuat kartu keluarga secepat ini. Pikir Susan mungkin kartu keluarga baru bisa d
Hasrat dan libido seorang laki-laki kadang memang tidak bisa diprediksikan kapan harus bangkit dan kapan harus menahannya untuk tidak menjerumuskan mereka dalam masalah, dan hal yang sama juga sedang terjadi pada Lucky, di mana Lucky yang semakin kesulitan mengendalikan hasrat yang belakangan ini mulai terasa memenuhi imajinasi dan setiap saraf dalam tubuhnya."Aku menginginkan kamu , Susan. Sangat menginginkan kamu!" ucap Lucky dengan sangat lirih , tapi Susan hanya terlihat menarik nafasnya dalam dada, lalu mengangguk. Namun saat Lucky ingin melakukan sentuhan lebih, tiba-tiba pintu kaca mobil itu di ketuk dari arah luar, dan spontan Lucky dan Susan menoleh ke arah kaca mobil itu dan melihat dua orang laki-laki sedang menempelkan wajahnya, menajamkan indra penglihatannya untuk melihat ke arah dalam mobil dan sontak Susan menutup dadanya, menyembunyikan buah dadanya dari pandangan kedua orang itu, tapi Lucky hanya terlihat santai, seolah tidak begitu khawatir jika ada yang sedang ber
Susan dan Lucky itu ibarat api dan pemantiknya. Yang satu ceroboh dan yang satu agresif. Saat Susan melakukan kecerobohan kecil, Lucky justru mengelolanya menjadi sesuatu yang bisa memantik api hasrat dalam dirinya. Dia benar-benar tidak ingin buru-buru meredam gejolak api yang perlahan membakar dan menghanguskan perasaan damai dalam tubuhnya, terlebih lagi di sini jelas Susan lah pemantiknya, dan sekarang Susan harus menanggung konsekuensi dari apa yang dia lakukan.Entahlah... Belakangan ini Lucky sering sekali merasakan sesak itu di bawah sana, di tambah lagi Susan sering kali bertindak ceroboh hingga membangunkan HASRAT nya , dan sekarang Lucky seperti hilang kendali. Saat gestur tubuhnya berusaha dia tahan untuk tidak melakukan lebih, logika dan pikirannya justru berkata sebaliknya. Terlebih lagi saat ini Susan tidak menolak, tapi lebih ke menawarkan diri.Susan semakin kesulitan mendapatkan nafasnya, rasa sesak dan terengah-engah pun kini memenuhi pikiran Susan, terlebih lagi t
Kadang kala kita tidak tahu kapan rasa itu tiba-tiba melebur, menjelma menjadi lebih indah, dan lebih lembut, karena kadang alam bawa sadar kita tidak menyadari, jika kita sudah hanyut dalam buaian kalbu itu, dan hal yang sama juga sedang Lucky dan Susan rasakan."Menggempur...? Menggempur itu bagaimana ya maksudnya Ky?" kutip Susan dan Lucky menghentikan langkahnya. Otaknya mendadak konslet karena kepolosan Susan lagi, akan tetapi belum sempat dia mengatakan apapun untuk menjawab atau menjelaskan kalimat menggempur itu pada Susan saat tiba-tiba pandangan Susan justru terpaku pada etalase di belakang punggung Lucky."Ky...!" suaranya sangat lirih tapi syarat akan sebuah permohonan dan perlahan Lucky membalikkan badannya untuk melihat apa yang saat ini Susan lihat. "Bolehkah Susan punya yang ini satu!" Telunjuknya langsung menunjuk ke arah boneka Dora dengan ukuran besar, sama besarnya dengan tinggi badan Susan sendiri, dan Lucky kembali menghela nafas dengan sangat dalam kemudian men
Rasa kesal Adelia masih begitu kuat. Pasalnya, ini adalah kali kesekian dia menggoda dosen tampan berkaca mata tipis itu, dan baru tadi rencananya akan nyaris berhasil, tapi pada akhirnya dia gagal lagi karena dering ponsel Lucky di saku celananya."Ooh sial. Kalian tahu, gua hampir aja berhasil menggoda pak Diego, tapi kalian tahu, dia malah mendorong gua," ujar Adelia penuh emosi. Dia sedang bercerita sama cewek-cewek gengnya."Emang kek mana reaksi pak Diego...? Apa dia ...!""Dia udah nyentuh dada gua, bahkan dia tadi juga meremasnya . Gua baru bersiap untuk menggoda bibirnya, tapi tiba-tiba ponsel dia berdering, dan dia malah mendorong gua. Asem gak sih!" jawab Adelia."Sumpah demi apa lu...?!" seru temannya dan Adelia langsung mengangguk."Iya. Lu gak liat sih bagaimana reaksi dia ketika dia melihat kencing kemeja gua yang terbuka, dia sampai kesulitan menelan salivanya karena ingin menyentuh buah dadaku yang segar dan montok. Bahkan beberapa kali gua lihat dia menelan ludah den
Susan yang sedang panik tidak bisa berpikir aneh-aneh saat ini, dan iya... Pikirnya dia harus membuat petugas ke keamanan tadi berpikir jika mereka tidak ada di dalam sana, sementara Lucky, Lucky seperti menahan nafasnya sendiri agar tidak berhembus karena bisa jadi suara helaan nafasnya akan terdengar oleh petugas di luar pintu kamar mandi itu dan masalah akan segera menjemput mereka. "Kamar ini juga enggak. Hanya ada sepasang kali, dan sepertinya dia lagi BAB!" suara petugas itu terdengar berbisik dengan rekannya. "Yang ini juga kosong!" jawab petugas keamanan lainnya. "Kemana mereka. Cepet banget kaburnya!" balasnya lagi. "Sudahlah. Kita mending balik. Kita liat masalah apa yang dua orang tadi buat!" Langkah kaki kedua orang itu terdengar menjauh dari kamar mandi, itu dan kini tergantikan suara lain yang mungkin baru masuk ke kamar mandi itu. Namun Lucky dan Susan masih sama-sama diam, antisipasi jika kedua petugas keamanan itu masih belum sepenuhnya meninggalkan area kamar







