Share

Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku
Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku
Author: Mugi

Bab 1

Author: Mugi
Terlahir hanya lima menit lebih lambat dari kakak kembarku, aku dianggap sebagai pembawa sial oleh keluarga yang menyebabkan kematian Ibu.

Aku tumbuh di tengah pilih kasih keluarga dan kecemburuan kakakku sejak kecil, sampai akhirnya aku didiagnosis mengidap kanker stadium akhir.

Saat aku memutuskan untuk tidak lagi berhati-hati memohon kehangatan keluarga dan memilih pergi bebas ....

Mereka yang dulu mengabadikan justru menjadi gila.

...

"Aku ada di depan pintu."

Pacarku, Rian, terdiam selama dua detik mendengar suaraku yang serak. Namun ia tidak bertanya apa pun, hanya melambaikan tangan pada pelayan agar aku dibiarkan masuk.

Kakakku, Dito, yang melihatku lebih dulu. Senyum di wajahnya langsung hilang.

"Kamu ke mana saja, Nadia? Nggak tahu hari ini adalah ulang tahun Kadin? Kamu baru datang pas pestanya mau selesai."

Bunyi dentingan sendok garpu dan piring terdengar tidak menyenangkan. Ayah mendengus dingin.

"Cuma beda lima menit dari Kadin, tapi sama sekali nggak pengertian. Datang ke restoran mewah ini dengan berantakan kusam gitu, bisa nggak kamu setidaknya berdandan?"

Aku menarik kursi dan duduk diam.

Jadi mereka ingat. Ingat bahwa aku dan Kadin lahir di hari yang sama.

Mereka hanya tidak ingin merayakan ulang tahunku.

"Aku pergi membeli hadiah ulang tahun untuk kakak, nggak sempat ganti baju."

Aku menarik sudut bibir dan menjawab dengan tenang.

Melihat aku tidak membantah seperti biasanya, mereka semua terdiam sesaat.

Suasana menjadi canggung dan hening, sangat berbeda dari pemandangan hangat yang kulihat dari luar jendela tadi.

Ayah memalingkan wajahnya dan berkata, "Selalu aja cari alasan."

Dito berdehem, mencoba meredakan suasana.

"Nadia, jangan tersinggung sama kata-kata Ayah. Waktu kamu nggak ada, yang paling sering menyebut namamu itu justru Ayah."

Aku tetap tanpa ekspresi. Dalam hati aku menertawakan diri sendiri, paling sering menyebuk saat memarahi, mungkin.

Kemudian, Dito mengambil sepotong udang dan meletakkannya di mangkuk.

"Makanlah. Udang ini diterbangkan langsung, sangat segar dan manis. Ayah sengaja menyuruh kami menyisakan untukmu. Aku ingat kamu paling suka."

Menatap daging udang itu, dadaku terasa sesak. Jantungku seakan diremas, rasa mual tak tertahan naik ke tenggorokan.

Aku alergi makanan laut.

Yang suka udang dari dulu, adalah Kadin.

Aku tertawa dingin. "Ingatan kalian sangat bagus."

Ayah membanting meja.

"Kamu pasang muka ke siapa? Emang nya salah kalau keluarga melakukan segalanya demi kebaikanmu sendiri?!"

"Dari tiga bersaudara, cuma kamu yang paling nggak pernah bikin kami tenang. Dulu menyebabkan ibumu mati, sekarang mau membuatku dan kakakmu mati karena marah?!"

Setiap kata bagaikan jarum yang menusuk ke dalam daging dan darahku, menghilang tanpa jejak.

Yang tersisa hanya rasa sakit yang mendalam, mengalir ke seluruh tubuh.

Aku menjepit daging udang itu, mengunyah dan menelannya.

Rasanya memang manis dan lezat.

Hanya saja bagiku, mendapatkan sesuatu yang enak selalu menuntut harga yang sangat mahal.

Udang seperti itu. Cinta juga sama.

"Aku sangat merindukan Ibu. Aku juga nggak pernah berniat membuat kalian marah. Aku nggak mau makan udang hanya karena aku alergi makanan laut, dan nggak satu pun dari kalian mengingatnya."

Aku mengatakannya dengan tenang, seolah sedang menceritakan kisah orang lain.

Ekspresi Ayah jelas menunjukkan sedikit ketidaknyamanan, tapi ia tetap keras kepala.

"Siapa suruh kamu punya banyak penyakit. Kalau orang lain nggak ingat, kenapa kamu sendiri nggak bilang?"

Ekspresi kakakku sedikit berubah. Ia menarik tanganku.

"Nadia, kami adalah keluargamu. Dengan keluarga nggak perlu menahan diri. Cepat, dimuntahkan udang itu!"

Rian juga langsung berdiri dan berjalan ke sampingku.

"Alergi bukan hal sepele. Nadia, cepat dimuntahkan!"

Kekhawatiran di matanya tulus. Aku tertegun sesaat.

Saat aku hendak meraih tangannya, tiba-tiba terdengar seruan kaget di samping.

Rian seketika menepis tanganku, melangkah cepat menangkap Kadin yang hampir jatuh. Tangannya melingkari pinggang ramping Kadin dengan sangat akrab.

"Ada apa, Kadin? Apa kamu merasa nggak enak badan?"

Rian selalu tenang dan terkendali, jarang menunjukkan emosinya. Aku belum pernah melihatnya begitu cemas dan khawatir.

Aku menarik kembali tanganku yang menggantung di udara, merasa geli dan getir.

Kadin bersandar di dada Rian, menunjuk ke arah meja.

"Adik bilang dia menyiapkan hadiah ulang tahun untukku, jadi aku ingin membukanya dan melihatnya."

"Tapi kenapa ada darah di atasnya? Rian, Kak, Ayah ... aku takut ...."

Aku menatap lebih saksama. Di kotak kalung itu memang ada sedikit noda darah.

Mungkin tanpa sengaja tersentuh saat aku pingsan dan melukai denganku.

Ayah langsung melempar kotak itu jauh-jauh.

"Apa kamu nggak tahu Kadin takut darah?! Nadia, kamu mau mencelakai kakakmu?!"

Kalung itu adalah model terbaru musim ini. Aku menabung setahun penuh untuk membelinya.

Dito juga memandangku dengan kecewa.

"Nadia, semua orang tahu toko ini kemasannya selalu sempurna. Seberapapun nggak senangnya kamu, nggak seharusnya mengoleskan darah ke hadiah dan sengaja membuat Kadin nggak nyaman."

Rian baru saja menutup telepon ke dokter pribadinya, lalu berbalik dan memarahi.

"Nadia, jangan selalu mengandalkan statusmu sebagai adik untuk bertindak seenaknya. Minta maaf pada Kadin!"

Kadin menatapku, matanya penuh kemenangan yang sama sekali tidak ia sembunyikan.

Siapa pun yang pernah melihatku dan Kadin pasti tahu kami kembar. Tapi mereka semua memujiku karena lebih anggun dan cantik.

Ditambah lagi, aku unggul dalam segala hal yang kulakukan dan pelajari, jadi dia sudah lama iri padaku.

Kadin tampak murah hati dan lembut, tapi diam-diam selalu memanfaatkan pilih kasih Ayah dan Kakak untuk menyingkirkanku.

Sekarang, bahkan pacarku sendiri, Rian, berdiri di pihaknya.

Aku menutup luka di denganku yang masih berdarah. Seluruh tubuhku terasa dingin.

"Maaf, Kak."

"Aku yang salah, sudah membuat kalian nggak senang. Mulai sekarang ... nggak akan pernah lagi."

Aku berbicara pelan, lemah, dan patuh.

Seketika, raut jijik dan kebencian di mata mereka semua membeku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 10

    Dito membaca tulisan di atas, "Surat perjanjian pemutusan hubungan? Nadia, kamu masih belum memaafkan kami ....""Mengapa aku harus memaafkan kalian?"Tatapan dinginku melintas pada setiap orang di sana, "Kalian punya hak apa untuk meminta memaafkanku?""Saat kalian memukuli dan menghinaku, mengurungku, dan hampir membunuhku. Pernahkah kalian berpikir untuk meminta memaafkan dariku?!""Baik kalian tanda tangan atau nggak, akan kuanggap kalian sudah mati. Jika kalian berani menggangguku lagi di masa depan, aku bersumpah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Keluarga Yanuar dan Keluarga Pratama nggak memiliki kehidupan yang baik."Dengan identitas dan posisiku yang sekarang, aku bisa melakukannya.Aku adalah orang yang sudah mati sekali, tentu saja tidak akan melangkah masuk ke villa ini tanpa persiapan.Keadaan ekonomi Keluarga Yanuar dan Pratama sedang buruk. Nadin telah membuat kedua keluarga itu tak pernah tenang dengan ulahnya sendiri.Tiga tahun sudah cukup untuk menghabis

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 9

    Di vila Keluarga Yanuar.Rambut Ayah beruban, tubuhnya membungkuk, seperti ia menua dua puluh tahun dalam sekejap.Kakakku yang dulunya berpostur kekar kini tampak kurus. Matanya cekung, seolah-olah ia sudah lama tidak tidur nyenyak.Rian entah kenapa juga ada di sini.Ketiganya sangat terkejut melihatku. Mundur dua langkah dan menggosok mata mereka, masih tidak percaya.Rian adalah yang pertama bereaksi, melangkah maju dan menarik tanganku. Melihat tanda lahir di pergelangan tanganku, ia terisak, "Nadia, benar-benar kamu!""Kamu ternyata masih hidup! Aku tahu kamu nggak akan tega meninggalkanku.""Mengapa kamu nggak pulang? Kamu pergi ke mana selama tiga tahun ini? Aku sangat merindukanmu ...."Dito melangkah dua langkah ke depan, matanya memerah, "Nadia, kami sangat senang kamu bisa pulang.""Kami selalu memikirkanmu selama tiga tahun ini. Mengapa kamu nggak pulang? Tahukah kamu berapa banyak air mata yang telah kami tumpahkan untukmu? Ayah bahkan dirawat di rumah sakit selama seteng

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 8

    Tiga tahun kemudian.Gedung Opera Negara Cimeron.Saat juri mengumumkan pemenang medali emas adalah Nadia, aku dan Gita berpelukan dengan gembira, air mata mengalir di wajah kami.Hanya aku yang tahu kepahitan dan rasa sakit selama tiga tahun ini.Ketika pertama kali ke luar negeri, meski Gita telah mencarikan dokter terbaik untukku, mengalahkan kanker tetap bukanlah hal yang mudah.Aku ingin secepat mungkin kembali ke panggung, jadi aku melakukan semua pengobatan dengan tekun, bahkan mencoba banyak obat kanker baru.Efek samping obat-obatan tampak jelas di tubuhku.Aku mulai bertambah berat badan, rambut rontok, dan kehilangan napsu makan.Saat terburuk, aku terbaring di tempat tidur hampir sepuluh hari tanpa sadar dan tubuhku dipenuhi berbagai selang.Saat itu, kami semua mengira aku tidak akan melewatinya.Tapi aku terbangun.Sejak saat itu, kondisiku membaik hari demi hari.Hingga aku melangkah kembali ke ruang latihan tari.Aku masih merasa tidak percaya.Kata-kata dokter masih te

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 7

    (Sudut Pandang Nadia)Aku baru mengetahui semua kekacauan dalam keluargaku setelahnya.Karena aku sebenarnya tidak mati.Aku diselamatkan oleh Gita, putri pemilik restoran.Gita membawaku ke rumah sakit ketika aku hampir meninggal dan membantuku mengurus pemakaman untuk menghadapi Keluarga Yanuar.Aku menginap di rumah sakit selama tujuh hari penuh sebelum akhirnya pulih."Nona Nadia, kondisi penyakit Anda sangat khusus. Selama Anda mau bekerja sama untuk pengobatan, ada kemungkinan kecil untuk sembuh ...."Suara dokter terdengar bersemangat, namun aku memotongnya, "Terima kasih, Dok, tapi nggak perlu lagi."Aku selalu sial, kemungkinan kecil untuk sembuh bagiku sama saja dengan nol.Aku tidak punya teman, bahkan keluarga dan orang yang kucintai pun membenciku dan meninggalkanku.Semua ketidakadilan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang menyakiti akan selamanya tetap ada dalam diriku, tidak akan pernah hilang.Aku sama sekali tidak memiliki keterikatan lagi dengan dunia ini.Aku sudah cu

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)"Aku nggak percaya! Aku bahkan belum pernah melihat Nadia mengenakan gaun pengantin. Dia begitu mencintaiku, mana mungkin dia pergi meninggalkanku begitu saja?!"Suara Rian serak. Dia mencengkeram kerah Dito dan bertanya dengan marah, "Mengapa kau mengurungnya di restoran semalaman?!""Apa kau nggak tahu dia sedang sakit? Nadia itu adik kandungmu sendiri!"Kemarahan dan penyesalan yang tertahan lama dalam diri Dito, meledak menjadi sebuah pukulan keras di wajah Rian. "Apa hak kau untuk menyalahkanku?!""Kemarin dia meneleponmu. Aku dengar dia sebut sesuatu tentang rumah sakit, tetapi kau bahkan nggak bertanya! Kau paling tahu betapa Nadia menyukaimu sebegai pacarnya! Dan kau tidak merawatnya dengan baik! Aku yang seharusnya meminta pertanggungjawabanmu!"Dua pria itu mulai bergulat tanpa memikirkan citra mereka. Nadin yang awalnya merasa senang dengan situasi ini, tiba-tiba kehilangan rasa senangnya.Seharusnya perhatian mereka tertuju padanya, kenapa sekar

  • Saat Aku Sekarat, Keluargaku Hancur Bersamaku   Bab 5

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)"Apa katamu? Ulangi sekali lagi!"Dito terhuyung, mencengkeram kerah pelayan dan bertanya dengan marah.Rian merebut laporan diagnosis dari tangan pelayan, melihat nama yang tertera di atasnya dan terdiam.Pelayan itu ketakutan dan menjawab dengan gemetar,"Wanita dengan kanker stadium akhir itu terkurung di restoran tadi malam, ditambah alergi, dia meninggal pagi ini. Kondisinya terlihat sangat menyakitkan ...."Ayah memegangi dadanya sambil batuk keras."Nadia? Nggak mungkin! Dia sangat tangguh, bahkan membawa sial sampai membuat ibunya meninggal baru bisa lahir. Mana mungkin dia mati?!"Rian tak sanggup lagi mendengarkan, bergegas masuk ke restoran.Dito menyusul di belakang.Mereka menggeledah setiap sudut restoran, menahan setiap pelayan dan bertanya apakah pernah melihat Nadia. Jawaban yang mereka dapatkan hampir semuanya sama.Akhirnya, Ayah mulai panik. Ia mencengkeram lengan Dito erat-erat."Dito, apa yang mereka katakan itu benar? Nadia ... sudah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status