LOGIN
Dito membaca tulisan di atas, "Surat perjanjian pemutusan hubungan? Nadia, kamu masih belum memaafkan kami ....""Mengapa aku harus memaafkan kalian?"Tatapan dinginku melintas pada setiap orang di sana, "Kalian punya hak apa untuk meminta memaafkanku?""Saat kalian memukuli dan menghinaku, mengurungku, dan hampir membunuhku. Pernahkah kalian berpikir untuk meminta memaafkan dariku?!""Baik kalian tanda tangan atau nggak, akan kuanggap kalian sudah mati. Jika kalian berani menggangguku lagi di masa depan, aku bersumpah, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat Keluarga Yanuar dan Keluarga Pratama nggak memiliki kehidupan yang baik."Dengan identitas dan posisiku yang sekarang, aku bisa melakukannya.Aku adalah orang yang sudah mati sekali, tentu saja tidak akan melangkah masuk ke villa ini tanpa persiapan.Keadaan ekonomi Keluarga Yanuar dan Pratama sedang buruk. Nadin telah membuat kedua keluarga itu tak pernah tenang dengan ulahnya sendiri.Tiga tahun sudah cukup untuk menghabis
Di vila Keluarga Yanuar.Rambut Ayah beruban, tubuhnya membungkuk, seperti ia menua dua puluh tahun dalam sekejap.Kakakku yang dulunya berpostur kekar kini tampak kurus. Matanya cekung, seolah-olah ia sudah lama tidak tidur nyenyak.Rian entah kenapa juga ada di sini.Ketiganya sangat terkejut melihatku. Mundur dua langkah dan menggosok mata mereka, masih tidak percaya.Rian adalah yang pertama bereaksi, melangkah maju dan menarik tanganku. Melihat tanda lahir di pergelangan tanganku, ia terisak, "Nadia, benar-benar kamu!""Kamu ternyata masih hidup! Aku tahu kamu nggak akan tega meninggalkanku.""Mengapa kamu nggak pulang? Kamu pergi ke mana selama tiga tahun ini? Aku sangat merindukanmu ...."Dito melangkah dua langkah ke depan, matanya memerah, "Nadia, kami sangat senang kamu bisa pulang.""Kami selalu memikirkanmu selama tiga tahun ini. Mengapa kamu nggak pulang? Tahukah kamu berapa banyak air mata yang telah kami tumpahkan untukmu? Ayah bahkan dirawat di rumah sakit selama seteng
Tiga tahun kemudian.Gedung Opera Negara Cimeron.Saat juri mengumumkan pemenang medali emas adalah Nadia, aku dan Gita berpelukan dengan gembira, air mata mengalir di wajah kami.Hanya aku yang tahu kepahitan dan rasa sakit selama tiga tahun ini.Ketika pertama kali ke luar negeri, meski Gita telah mencarikan dokter terbaik untukku, mengalahkan kanker tetap bukanlah hal yang mudah.Aku ingin secepat mungkin kembali ke panggung, jadi aku melakukan semua pengobatan dengan tekun, bahkan mencoba banyak obat kanker baru.Efek samping obat-obatan tampak jelas di tubuhku.Aku mulai bertambah berat badan, rambut rontok, dan kehilangan napsu makan.Saat terburuk, aku terbaring di tempat tidur hampir sepuluh hari tanpa sadar dan tubuhku dipenuhi berbagai selang.Saat itu, kami semua mengira aku tidak akan melewatinya.Tapi aku terbangun.Sejak saat itu, kondisiku membaik hari demi hari.Hingga aku melangkah kembali ke ruang latihan tari.Aku masih merasa tidak percaya.Kata-kata dokter masih te
(Sudut Pandang Nadia)Aku baru mengetahui semua kekacauan dalam keluargaku setelahnya.Karena aku sebenarnya tidak mati.Aku diselamatkan oleh Gita, putri pemilik restoran.Gita membawaku ke rumah sakit ketika aku hampir meninggal dan membantuku mengurus pemakaman untuk menghadapi Keluarga Yanuar.Aku menginap di rumah sakit selama tujuh hari penuh sebelum akhirnya pulih."Nona Nadia, kondisi penyakit Anda sangat khusus. Selama Anda mau bekerja sama untuk pengobatan, ada kemungkinan kecil untuk sembuh ...."Suara dokter terdengar bersemangat, namun aku memotongnya, "Terima kasih, Dok, tapi nggak perlu lagi."Aku selalu sial, kemungkinan kecil untuk sembuh bagiku sama saja dengan nol.Aku tidak punya teman, bahkan keluarga dan orang yang kucintai pun membenciku dan meninggalkanku.Semua ketidakadilan, pengkhianatan, dan rasa sakit yang menyakiti akan selamanya tetap ada dalam diriku, tidak akan pernah hilang.Aku sama sekali tidak memiliki keterikatan lagi dengan dunia ini.Aku sudah cu
(Sudut Pandang Orang Ketiga)"Aku nggak percaya! Aku bahkan belum pernah melihat Nadia mengenakan gaun pengantin. Dia begitu mencintaiku, mana mungkin dia pergi meninggalkanku begitu saja?!"Suara Rian serak. Dia mencengkeram kerah Dito dan bertanya dengan marah, "Mengapa kau mengurungnya di restoran semalaman?!""Apa kau nggak tahu dia sedang sakit? Nadia itu adik kandungmu sendiri!"Kemarahan dan penyesalan yang tertahan lama dalam diri Dito, meledak menjadi sebuah pukulan keras di wajah Rian. "Apa hak kau untuk menyalahkanku?!""Kemarin dia meneleponmu. Aku dengar dia sebut sesuatu tentang rumah sakit, tetapi kau bahkan nggak bertanya! Kau paling tahu betapa Nadia menyukaimu sebegai pacarnya! Dan kau tidak merawatnya dengan baik! Aku yang seharusnya meminta pertanggungjawabanmu!"Dua pria itu mulai bergulat tanpa memikirkan citra mereka. Nadin yang awalnya merasa senang dengan situasi ini, tiba-tiba kehilangan rasa senangnya.Seharusnya perhatian mereka tertuju padanya, kenapa sekar
(Sudut Pandang Orang Ketiga)"Apa katamu? Ulangi sekali lagi!"Dito terhuyung, mencengkeram kerah pelayan dan bertanya dengan marah.Rian merebut laporan diagnosis dari tangan pelayan, melihat nama yang tertera di atasnya dan terdiam.Pelayan itu ketakutan dan menjawab dengan gemetar,"Wanita dengan kanker stadium akhir itu terkurung di restoran tadi malam, ditambah alergi, dia meninggal pagi ini. Kondisinya terlihat sangat menyakitkan ...."Ayah memegangi dadanya sambil batuk keras."Nadia? Nggak mungkin! Dia sangat tangguh, bahkan membawa sial sampai membuat ibunya meninggal baru bisa lahir. Mana mungkin dia mati?!"Rian tak sanggup lagi mendengarkan, bergegas masuk ke restoran.Dito menyusul di belakang.Mereka menggeledah setiap sudut restoran, menahan setiap pelayan dan bertanya apakah pernah melihat Nadia. Jawaban yang mereka dapatkan hampir semuanya sama.Akhirnya, Ayah mulai panik. Ia mencengkeram lengan Dito erat-erat."Dito, apa yang mereka katakan itu benar? Nadia ... sudah







