Share

Bab 110 Orang Asing

Author: Tri Afifah
last update Last Updated: 2026-02-26 11:35:26

Mobil hitam itu melambat saat kami memasuki kompleks rumah orang tuaku. Dari balik kaca depan,aku bisa melihat lampu teras yang sudah menyala temaram, dan pintu kayu yang selalu sedikit terbuka setiap sore.Aku menghela napas lega, akhirnya kami sampai juga.

“Akhirnya parkir juga,” gumamku pelan sambil melepas sabuk pengaman. “Ibu pasti sudah menunggu dari tadi.”

Dharma hanya mengangguk. Tangannya masih memegang setir, matanya mengarah ke depan, seolah sedang menimbang sesuatu. Ia memundurkan m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 116 Frustasi

    Lorong ICU kembali sunyi setelah pintu otomatis menutup rapat di depan kami. Lampu putih terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bau antiseptik menusuk hidung, membuat kepalaku semakin pening.Dharma berdiri beberapa langkah di depanku, punggungnya tegang. Ponsel sudah di tangannya sejak ranjang ibunya menghilang di balik pintu.Ia menekan layar, hendak menghubungi seseorang.Nada sambung berdering.Sekali, dua kali bahkan sampai ketiga kalinya namun tidak ada jawaban.Rahangnya mengeras. Ia menutup sambungan, lalu langsung menelepon lagi. Kali ini lebih cepat, seolah takut jarak satu detik bisa mengubah segalanya.“Angkat, Pa…” gumamnya lirih, tapi terdengar jelas di lorong yang kosong.Nada sambung itu berakhir dengan suara panggilan tidak dijawab.Dharma menurunkan ponsel perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena marah yang ditahan paksa.“Tidak mungkin dia tidak pegang ponsel,” katanya, lebih pada dirinya sendiri. Ia menggeser layar, mencoba lagi. Sudah kelima kalinya

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 115 Sadar, Ma!

    Kami akhirnya keluar dari kamar rawat inap dengan langkah pelan, seolah takut suara sepatu kami bisa membangunkan Mama Anggun. Pintu tertutup di belakang kami, meninggalkan bau obat-obatan dan bunyi monitor yang masih terngiang di kepalaku.“Minum dulu,” kata Dharma pendek. “Kau gemetar.”Aku baru sadar tanganku dingin. Leherku masih nyeri setiap kali menelan ludah. Aku mengangguk, menuruti ketika ia menuntunku menyusuri lorong menuju kantin rumah sakit.Jam sudah larut. Lampu-lampu di kantin menyala redup. Hampir semua kios tertutup dengan rolling door setengah berdebu. Kursi-kursi kosong berjajar, sunyi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan.“Seperti kota mati,” gumamku lirih.Dharma menghela napas. “Biasanya cuma satu atau dua yang masih buka malam-malam begini.”Dan benar saja. Di ujung kantin, satu kios kecil masih menyala. Lampu bohlamnya kekuningan. Di etalase kaca, hanya ada beberapa bungkus mie instan dan teko besar berisi air panas.“Maaf, Nak… cuma ada mie sama t

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 114 Kita Belum Tahu, Masalahnya

    Dharma tidak menjawab ucapanku dengan kata-kata. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Ia meraih tombol panggil perawat di dinding dan menekannya berkali-kali, lebih keras dari yang seharusnya, seolah takut satu detik pun terlewat.“Perawat! Tolong ke kamar ini, sekarang!” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Ia tidak melepaskanku. Satu tangannya menopang bahuku, menarikku berdiri sepenuhnya, lalu memposisikan tubuhnya sedikit di depanku seperti sebuah perisai. Aku bisa merasakan punggungnya yang tegang, napasnya yang berat. Ia melakukan hal ini sengaja agar pandangan Mama Anggun tidak langsung menembus ke arahku.Namun tetap saja dari celah bahunya, aku bisa melihatnya.Mama Anggun menatapku.Matanya terbuka lebar, fokus, terlalu sadar untuk seseorang yang seharusnya lemah. Tatapan itu tajam, dingin dan begitu menusuk. Tidak ada kepanikan dalam wajahnya. Yang ada hanya amarah yang tenang dan sesuatu yang lebih mengerikan yaitu sebuah kesengajaan.Aku menggenggam baju Dharma, jari-jar

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 113 Aku Takut Dharma

    Aku menarik napas panjang, lalu melepaskan genggaman tangan Dharma perlahan.“Aku keluar sebentar ya, Mas,” bisikku. “aku tadi belum sempat ngabarin Ibu.”Dharma mengangguk tanpa menoleh. Pandangannya masih terpaku pada wajah Anggun yang pucat. Aku melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara.Lorong rumah sakit terasa dingin dan terlalu terang. Bau antiseptik kembali menusuk hidungku. Aku berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berhenti di dekat bangku kosong di sisi dinding. Tanganku merogoh ponsel, jariku mulai mengetikkan kata.‘Ibu,maaf, aku belum bisa pulang sekarang.Mama Anggun masuk rumah sakit.Keadaannya belum stabil, aku harus temani Mas Dharma di sini. setelah keadaan mama Anggun stabil, aku akan pulang menjenguk ayah.’Aku menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan kirim. Dadaku terasa sesak. Entah kenapa, menulis pesan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.bahwa malam ini aku benar-benar terjebak di antara keluarga yang retak dan

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 112 n Kasihan Sekali

    Pintu kamar tempat Anggun dirawat kembali terbuka pelan.Aku refleks menoleh, dan jantungku seperti tersentak ketika melihat sosok tinggi dengan jas gelap itu berdiri di ambang pintu.Darlo Castellanos.Langkahnya cepat, seolah benar-benar diliputi kepanikan. Wajahnya tampak kusut, dasinya sedikit longgar, rambutnya tidak serapi biasanya. Begitu matanya menangkap tubuh Anggun yang terbaring lemah di ranjang, ekspresinya langsung runtuh.“Anggun…” suaranya parau.Ia melangkah mendekat, hampir tersandung karena terlalu tergesa. Tangannya gemetar saat memegang sisi ranjang.“Sayang… ya Tuhan…” Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu menunduk. Bahunya naik turun, tangisnya seketika pecah saat itu juga.Dharma berdiri kaku di sisi lain ranjang. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.Darlo meraih tangan Anggun yang tidak terinfus. Jemarinya menggenggam pergelangan yang dibalut perban.“Kenapa bisa begini…” katanya lirih, suaranya penuh kepedihan. “Siapa yang tega melakukan ini padamu?”

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 111 Sengaja Ingin Menghancurkan

    Mobil akhirnya berhenti di depan gedung rumah sakit. Bukan rumah sakit jiwa seperti yang sempat terlintas di kepalaku, tapi rumah sakit umum dengan bangunan tinggi dan lampu-lampu putih yang terasa dingin di malam hari. Begitu turun, udara antiseptik langsung menyergap hidungku.Langkah Dharma yang panjang, membuatku harus setengah berlari untuk mengikuti langkahnya.Kami melewati pintu otomatis yang terbuka dengan suara desis pelan. Suasana di dalam sunyi, hanya terdengar bunyi roda troli dan langkah sepatu perawat di lantai keramik. Dharma langsung menuju meja perawat.“Anggun Castellanos,” katanya singkat. “Di mana kamarnya?”Perawat menatap layar sebentar lalu menunjuk lorong di kanan. “Kamar 312. Kondisinya masih belum stabil.”Dadaku langsung berdegup lebih kencang.Lorong itu terasa terlalu panjang. Lampu neon di atas kepala berpendar dingin, memantulkan bayangan kami di lantai. Aku bisa merasakan ketegangan di bahu Dharma, seperti kabel yang ditarik terlalu kencang.Begitu sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status