Compartir

Bab 19 Obsesi

Autor: Tri Afifah
last update Fecha de publicación: 2025-11-23 07:49:42
Langit pagi masih gelap keabu-abuan ketika mobil hitam tanpa plat berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tak terdaftar di peta mana pun. Dari luar tampak seperti gudang terbengkalai.

Pintu besi digeser perlahan. Rendi masuk lebih dulu, memeriksa area, lalu memberi kode singkat.

Dharma melangkah masuk,mantel hitamnya mengayun, ekspresinya terfokus. Begitu pintu kembali tertutup, suara mesin halus dan dengungan komputer besar memenuhi ruangan.

Di sudut, beberapa layar monitor memenuhi dindi
Tri Afifah

Adrian, kamu yakin?😔

| Me gusta
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 117 Pergilah Sayang

    Pintu ICU terbuka dengan bunyi lirih yang terasa seperti memecah sesuatu di dalam dada.Seorang dokter keluar, masker masih menutupi sebagian wajahnya. Namun sorot matanya sudah cukup untuk memberi jawaban bahkan sebelum ia bicara.Dharma yang sejak tadi berdiri kaku langsung melangkah mendekat.“Dok… bagaimana keadaannya?”Dokter itu menarik napas pendek.Ada jeda, Jeda yang terlalu lama untuk sebuah harapan.“Kami sudah melakukan yang terbaik,” ucapnya pelan. “Tapi… kondisi beliau terlalu berat.”Dunia seakan berhenti sejenak.“Pasien… tidak tertolong.”Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa belas kasihan.Aku refleks menutup mulut. Napasku tercekat.Dharma tidak bergerak, wajah dan tubuhnya tidak langsung bereaksi.Ia hanya berdiri di sana, menatap dokter itu seolah belum benar-benar memahami apa yang baru saja ia dengar.“Tidak…” gumamnya pelan.Sangat pelan.Seperti suara yang tidak sengaja keluar.“Dokter, coba lagi.”Dokter menggeleng perlahan. “Kami sudah melakukan resusitasi. L

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 116 Frustasi

    Lorong ICU kembali sunyi setelah pintu otomatis menutup rapat di depan kami. Lampu putih terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bau antiseptik menusuk hidung, membuat kepalaku semakin pening.Dharma berdiri beberapa langkah di depanku, punggungnya tegang. Ponsel sudah di tangannya sejak ranjang ibunya menghilang di balik pintu.Ia menekan layar, hendak menghubungi seseorang.Nada sambung berdering.Sekali, dua kali bahkan sampai ketiga kalinya namun tidak ada jawaban.Rahangnya mengeras. Ia menutup sambungan, lalu langsung menelepon lagi. Kali ini lebih cepat, seolah takut jarak satu detik bisa mengubah segalanya.“Angkat, Pa…” gumamnya lirih, tapi terdengar jelas di lorong yang kosong.Nada sambung itu berakhir dengan suara panggilan tidak dijawab.Dharma menurunkan ponsel perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena marah yang ditahan paksa.“Tidak mungkin dia tidak pegang ponsel,” katanya, lebih pada dirinya sendiri. Ia menggeser layar, mencoba lagi. Sudah kelima kalinya

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 115 Sadar, Ma!

    Kami akhirnya keluar dari kamar rawat inap dengan langkah pelan, seolah takut suara sepatu kami bisa membangunkan Mama Anggun. Pintu tertutup di belakang kami, meninggalkan bau obat-obatan dan bunyi monitor yang masih terngiang di kepalaku.“Minum dulu,” kata Dharma pendek. “Kau gemetar.”Aku baru sadar tanganku dingin. Leherku masih nyeri setiap kali menelan ludah. Aku mengangguk, menuruti ketika ia menuntunku menyusuri lorong menuju kantin rumah sakit.Jam sudah larut. Lampu-lampu di kantin menyala redup. Hampir semua kios tertutup dengan rolling door setengah berdebu. Kursi-kursi kosong berjajar, sunyi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan.“Seperti kota mati,” gumamku lirih.Dharma menghela napas. “Biasanya cuma satu atau dua yang masih buka malam-malam begini.”Dan benar saja. Di ujung kantin, satu kios kecil masih menyala. Lampu bohlamnya kekuningan. Di etalase kaca, hanya ada beberapa bungkus mie instan dan teko besar berisi air panas.“Maaf, Nak… cuma ada mie sama t

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 114 Kita Belum Tahu, Masalahnya

    Dharma tidak menjawab ucapanku dengan kata-kata. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Ia meraih tombol panggil perawat di dinding dan menekannya berkali-kali, lebih keras dari yang seharusnya, seolah takut satu detik pun terlewat.“Perawat! Tolong ke kamar ini, sekarang!” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Ia tidak melepaskanku. Satu tangannya menopang bahuku, menarikku berdiri sepenuhnya, lalu memposisikan tubuhnya sedikit di depanku seperti sebuah perisai. Aku bisa merasakan punggungnya yang tegang, napasnya yang berat. Ia melakukan hal ini sengaja agar pandangan Mama Anggun tidak langsung menembus ke arahku.Namun tetap saja dari celah bahunya, aku bisa melihatnya.Mama Anggun menatapku.Matanya terbuka lebar, fokus, terlalu sadar untuk seseorang yang seharusnya lemah. Tatapan itu tajam, dingin dan begitu menusuk. Tidak ada kepanikan dalam wajahnya. Yang ada hanya amarah yang tenang dan sesuatu yang lebih mengerikan yaitu sebuah kesengajaan.Aku menggenggam baju Dharma, jari-jar

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 113 Aku Takut Dharma

    Aku menarik napas panjang, lalu melepaskan genggaman tangan Dharma perlahan.“Aku keluar sebentar ya, Mas,” bisikku. “aku tadi belum sempat ngabarin Ibu.”Dharma mengangguk tanpa menoleh. Pandangannya masih terpaku pada wajah Anggun yang pucat. Aku melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara.Lorong rumah sakit terasa dingin dan terlalu terang. Bau antiseptik kembali menusuk hidungku. Aku berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berhenti di dekat bangku kosong di sisi dinding. Tanganku merogoh ponsel, jariku mulai mengetikkan kata.‘Ibu,maaf, aku belum bisa pulang sekarang.Mama Anggun masuk rumah sakit.Keadaannya belum stabil, aku harus temani Mas Dharma di sini. setelah keadaan mama Anggun stabil, aku akan pulang menjenguk ayah.’Aku menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan kirim. Dadaku terasa sesak. Entah kenapa, menulis pesan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.bahwa malam ini aku benar-benar terjebak di antara keluarga yang retak dan

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 112 n Kasihan Sekali

    Pintu kamar tempat Anggun dirawat kembali terbuka pelan.Aku refleks menoleh, dan jantungku seperti tersentak ketika melihat sosok tinggi dengan jas gelap itu berdiri di ambang pintu.Darlo Castellanos.Langkahnya cepat, seolah benar-benar diliputi kepanikan. Wajahnya tampak kusut, dasinya sedikit longgar, rambutnya tidak serapi biasanya. Begitu matanya menangkap tubuh Anggun yang terbaring lemah di ranjang, ekspresinya langsung runtuh.“Anggun…” suaranya parau.Ia melangkah mendekat, hampir tersandung karena terlalu tergesa. Tangannya gemetar saat memegang sisi ranjang.“Sayang… ya Tuhan…” Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu menunduk. Bahunya naik turun, tangisnya seketika pecah saat itu juga.Dharma berdiri kaku di sisi lain ranjang. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.Darlo meraih tangan Anggun yang tidak terinfus. Jemarinya menggenggam pergelangan yang dibalut perban.“Kenapa bisa begini…” katanya lirih, suaranya penuh kepedihan. “Siapa yang tega melakukan ini padamu?”

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 105 Darlo Castellanos

    Aku masih menatap matahari yang kini sudah setengah tenggelam di balik garis laut. Warna jingganya semakin dalam, seolah laut sedang menelan api perlahan-lahan. Cahaya itu memantul di permukaan air, bergerak naik turun mengikuti napas ombak.Bahuku terasa hangat karena bersandar pada Dharma. Ia tid

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 104 Matahari Tenggelam

    Sore harinya, aku dan Dharma pergi ke tempat dimana Dharma harus melakukan sesi konsultasi. Kami berjalan berdampingan menuju klinik dokter Elara. Tanganku menggenggam lengan Dharma, bisa kurasakan ketegangan samar di ototnya meski wajahnya terlihat tenang.Nama Dharma dipanggil tak lama kemudian.

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 103 Mereka Sudah Kompak

    Lampu-lampu temaram sebuah kafe di pinggiran kota memantul di permukaan meja kayu yang sedikit tergores. Musik yang pelan mengalun, tenggelam di antara suara mesin kopi dan obrolan samar para pengunjung lain. Di sudut ruangan, Adrian duduk dengan tubuh condong ke depan, kedua tangannya saling berta

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 102 Selena Castellanos

    Kesunyian di dalam mobil terasa berbeda dari kesunyian di ruangan tadi. rasanya begitu kosong.Aku menatap keluar jendela. Jalanan kecil yang sepi perlahan menjauh, digantikan barisan gedung bertingkat yang berdiri rapat. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, memantul di kaca mobil seperti garis-

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status