เข้าสู่ระบบNara pernah berpikir, mungkin semua rumah tangga memang seperti ini—sunyi tapi ramai oleh luka yang tak diucapkan. Ia hanya tak menyangka, retakan itu muncul bukan karena teriakan atau pertengkaran hebat, melainkan dari hal-hal kecil yang terus dibiarkan.
Pagi itu, Nara terbangun lebih dulu seperti biasa. Jam di dinding baru menunjukkan pukul lima. Di sampingnya, pria yang secara sah menyandang status suaminya masih terlelap, punggungnya membelakangi Nara. Jarak di antara mereka hanya selebar bantal, tapi rasanya seperti dua dunia yang tak lagi bersinggungan. Nara bangun pelan, menahan desah napas. Ia tak ingin mengganggu. Entah sejak kapan ia terbiasa berhati-hati bahkan di rumahnya sendiri. Di dapur, Nara menyiapkan sarapan. Ia memasak menu sederhana—nasi goreng kesukaan suaminya. Ia masih ingat betul, dulu pria itu akan memeluknya dari belakang sambil bercanda, mencicipi masakan sebelum matang, lalu tertawa saat lidahnya kepedasan. Kini, dapur hanya berisi bunyi spatula dan kompor. Saat matahari mulai naik, suaminya akhirnya keluar kamar. Rambutnya rapi, kemeja sudah disetrika—entah oleh siapa. Ia duduk di meja makan tanpa banyak bicara, langsung mengambil ponsel. “Nasi gorengnya aku tambahin telur dua, biar lebih kenyang,” ucap Nara pelan, berusaha terdengar biasa saja. Pria itu melirik sekilas. “Hm.” Satu suku kata. Selalu itu. Tak ada pujian, tak ada kritik. Nara tak tahu mana yang lebih menyakitkan—dicela atau diabaikan. Ia duduk di seberang, menatap wajah yang dulu ia kagumi. Wajah itu kini terasa asing, dingin, seperti dinding kantor yang tak peduli siapa yang bersandar padanya. “Kamu pulang jam berapa hari ini?” tanya Nara hati-hati. “Lembur.” “Seperti kemarin?” Pria itu menghela napas, jelas terganggu. “Nara, jangan mulai. Aku capek.” Kalimat itu sederhana, tapi seperti pisau kecil yang menancap tepat di dada. Nara menunduk. Ia ingin menjelaskan bahwa ia hanya bertanya, bukan menuntut. Tapi ia sudah terlalu sering menjelaskan, dan terlalu sering dianggap berlebihan. Setelah suaminya pergi, rumah kembali sunyi. Nara membereskan meja makan, mencuci piring, lalu duduk di ruang tamu. Pandangannya jatuh pada foto pernikahan yang terpajang di dinding. Senyum mereka di foto itu terasa seperti milik dua orang lain. “Kenapa semuanya berubah?” gumamnya lirih. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari ibu mertuanya. Jangan lupa sore ini datang. Ada tamu penting. Istri harus tahu diri. Nara menutup mata sejenak. Kata istri di kalimat itu terdengar seperti beban, bukan peran yang dihargai. Sore harinya, Nara berdiri di ruang keluarga rumah mertuanya. Beberapa orang duduk berbincang—keluarga besar, kolega suaminya, dan seorang wanita berpenampilan elegan yang duduk di dekat sang ibu mertua. Wanita itu cantik, percaya diri, dan terlalu akrab. “Nara, ini rekan kerja suamimu,” kata ibu mertua sambil tersenyum tipis. “Pintar, mandiri, beda dengan sebagian perempuan yang cuma bisa di rumah.” Ucapan itu seperti tamparan. Semua mata tertuju pada Nara. Ada yang tersenyum simpul, ada yang pura-pura tak mendengar. Dan suaminya? Diam. Tak membela. Tak menegur. Nara tersenyum kaku. “Salam kenal.” Wanita itu menjabat tangannya dengan senyum penuh arti. “Aku sering dengar tentang kamu.” Entah kenapa, kalimat itu membuat Nara merasa kecil. Malam itu, mereka pulang bersama. Di dalam mobil, suasana hening. Lampu jalan memantul di kaca, menciptakan bayangan wajah Nara yang terlihat lelah. “Kamu nggak keberatan dengan omongan Mama tadi?” tanya suaminya tiba-tiba, tanpa menoleh. Nara menoleh cepat. Ada harapan kecil yang muncul. “Sedikit.” “Hm.” Pria itu kembali fokus ke jalan. “Mama memang begitu. Jangan dibawa perasaan.” Kalimat itu memadamkan harapan Nara seketika. “Kalau aku yang disakiti, aku harus selalu mengalah?” suara Nara bergetar, nyaris tak terdengar. “Kamu terlalu sensitif,” jawabnya datar. “Makanya aku bilang, jangan ribet.” Nara tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena hatinya terlalu penuh. Ia menoleh ke jendela, menyembunyikan mata yang mulai basah. Malam itu, Nara tidur membelakangi suaminya. Air matanya jatuh ke bantal tanpa suara. Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran terlintas jelas di benaknya—pikiran yang selama ini ia takutkan. Kalau aku pergi, apakah ada yang benar-benar kehilangan? Ia tak tahu jawabannya. Yang ia tahu, retakan itu sudah terlalu lebar. Dan selama ini, tak seorang pun benar-benar ingin mendengarnya.Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup
Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun
Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N
Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”







